Lilin dan Poster Penuhi Menteng, Aliansi Perempuan Indonesia Desak Negara Akui Tragedi Mei 1998

oleh -21 Dilihat
oleh
Lilin dan Poster Penuhi Menteng, Aliansi Perempuan Indonesia Desak Negara Akui Tragedi Mei 1998

Jakarta | 19 Mei 2026 menjadi sore yang berbeda di depan kantor Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat. Menjelang matahari tenggelam, suara perempuan silih berganti terdengar dari pengeras suara kecil yang diarahkan ke jalan raya. Tidak ada panggung besar, tidak ada barikade panjang. Hanya sekelompok perempuan dengan poster, lilin, dan bunga yang berdiri membawa ingatan lama tentang kekerasan terhadap perempuan yang mereka nilai belum pernah benar-benar diselesaikan negara.

Aksi itu digelar oleh Aliansi Perempuan Indonesia (API) bersama sejumlah organisasi masyarakat sipil. Massa mulai berkumpul sejak sore hari dan memadati trotoar depan gedung Komnas HAM. Beberapa peserta duduk lesehan sambil menyusun poster, sebagian lainnya berbincang pelan menunggu dimulainya mimbar bebas.

Sekitar pukul 15.55 WIB, baru terlihat beberapa orang berada di lokasi. Suasana masih lengang. Kendaraan melintas normal di kawasan Menteng, sementara aparat kepolisian berjaga dari jarak tertentu. Perlahan peserta lain berdatangan membawa tas kain, poster karton, serta lilin yang disimpan di dalam kantong plastik.

Menjelang pukul 16.35 WIB, aksi mulai berjalan. Suara orasi pertama langsung menarik perhatian pengendara yang melintas di depan kantor Komnas HAM. Beberapa pengemudi motor bahkan memperlambat laju kendaraan untuk membaca tulisan-tulisan yang dipasang di pagar.

Di atas karton berwarna putih dan cokelat itu tertulis berbagai tuntutan bernada keras. “Pemerkosaan Massal Mei 1998 adalah Fakta”, “Hentikan Femisida”, hingga “Tubuh Perempuan Bukan Arena Kekerasan Negara” menjadi kalimat yang paling mencolok di antara puluhan poster lain.

Bukan sekadar demonstrasi rutin, aksi tersebut dipenuhi narasi reflektif tentang perjalanan reformasi yang kini memasuki usia 28 tahun. Massa menilai pergantian rezim tidak otomatis menghapus praktik kekerasan dan impunitas terhadap perempuan.

Dalam orasi pembuka, seorang aktivis perempuan menyebut tragedi Mei 1998 masih meninggalkan luka panjang karena negara dianggap belum sepenuhnya mengakui dan menyelesaikan kasus kekerasan seksual yang terjadi saat itu.

“Perempuan dijadikan sasaran dalam konflik, tetapi suaranya selalu dibungkam,” katanya melalui pengeras suara.

Ucapan itu langsung direspons tepuk tangan peserta aksi. Beberapa perempuan yang duduk di bagian belakang tampak mengangkat poster lebih tinggi.

Aksi API sore itu diikuti sejumlah organisasi seperti Marsinah.id, Konde.co, Mahardhika, Kabar Bumi, Institut Sarinah, GMNI, ILRC, FAMM, hingga Rahima. Mereka datang membawa isu yang berbeda-beda, namun memiliki benang merah yang sama, yakni kekerasan terhadap perempuan dan lemahnya perlindungan negara.

Tidak sedikit peserta yang mengenakan pakaian hitam sebagai simbol perlawanan dan duka. Sebagian lagi mengenakan syal merah serta membawa bunga mawar yang nantinya digunakan dalam aksi simbolik.

Suasana demonstrasi berlangsung tenang. Tidak ada dorong-dorongan maupun aksi agresif. Massa justru lebih banyak menyampaikan narasi melalui cerita, puisi, dan refleksi pengalaman perempuan dalam menghadapi kekerasan.

Salah satu pembicara menyinggung nama Marsinah, buruh perempuan yang tewas pada masa Orde Baru. Ia mengatakan hingga hari ini kasus tersebut masih menjadi simbol bagaimana negara gagal memberikan perlindungan terhadap perempuan yang memperjuangkan hak-haknya.

Menurut massa aksi, penghormatan simbolik tidak cukup jika penyelesaian hukum terhadap pelanggaran HAM berat masih mandek.

Mereka juga menyinggung langkah Presiden Prabowo Subianto yang meresmikan museum untuk mengenang Marsinah. Namun dalam pandangan peserta aksi, pembangunan museum tidak boleh berhenti pada simbol sejarah semata.

“Jangan hanya membangun monumen, tetapi kasusnya dibiarkan mengambang,” ujar salah satu orator.

Pernyataan itu kembali memancing sorakan dukungan dari peserta lainnya.

Tidak hanya bicara soal masa lalu, aksi tersebut juga membawa isu kekinian. Salah seorang perempuan buruh yang ikut dalam demonstrasi mengaku upah pekerja di tempatnya bekerja belum dibayarkan selama hampir tiga bulan.

Dengan nada emosional, ia menceritakan bagaimana perempuan buruh sering berada di posisi paling rentan. Selain menghadapi tekanan ekonomi, mereka juga minim perlindungan ketika hak-haknya dilanggar perusahaan.

“Kami tetap bekerja setiap hari, tetapi gaji tidak dibayar. Kami menuntut keadilan,” ucapnya.

Beberapa peserta tampak menundukkan kepala saat mendengar cerita tersebut. Ada pula yang mendekat dan memeluk perempuan itu setelah ia selesai berbicara.

Selain isu buruh, situasi di Papua turut menjadi perhatian dalam aksi tersebut. Massa menilai operasi keamanan yang terus berlangsung di wilayah itu membuat perempuan berada dalam situasi rentan.

Salah satu aktivis menyebut perempuan dan anak-anak sering menjadi kelompok yang paling terdampak ketika konflik bersenjata terjadi. Mereka kehilangan ruang aman, menghadapi trauma, hingga hidup dalam tekanan berkepanjangan.

Dalam orasi lain, peserta juga menyinggung film dokumenter “Pesta Babi” yang disebut membuka perhatian publik terhadap situasi sosial di Papua.

Menurut mereka, pola kekerasan negara terhadap perempuan tidak pernah benar-benar putus sejak masa reformasi hingga sekarang. Hanya bentuk dan lokasinya yang berubah.

Di tengah jalannya aksi, beberapa peserta terlihat sibuk menempelkan poster tambahan di pagar depan Komnas HAM. Tulisan seperti “Penyangkalan adalah Kekerasan Kedua” dan “Akui Pemerkosaan Massal Mei 1998” menjadi pusat perhatian warga yang melintas.

Sore mulai berubah menjadi malam ketika massa memasuki agenda aksi simbolik. Tepat sekitar pukul 17.30 WIB, lilin-lilin mulai dinyalakan satu per satu. Cahaya kecil itu kemudian disusun di atas trotoar bersama bunga yang dibawa peserta sejak awal aksi.

Momen tersebut mengubah suasana demonstrasi menjadi lebih hening dan emosional. Tidak ada lagi teriakan keras. Massa berdiri melingkar sambil menundukkan kepala.

Beberapa peserta tampak menyeka air mata ketika doa dibacakan bergantian untuk para korban kekerasan terhadap perempuan.

Tabur bunga kemudian dilakukan di atas poster yang telah dibentangkan di depan pagar Komnas HAM. Aksi itu disebut sebagai simbol duka sekaligus pengingat bahwa masih banyak kasus kekerasan terhadap perempuan yang belum memperoleh kejelasan hukum.

“Reformasi belum selesai selama perempuan masih hidup dalam rasa takut,” kata seorang peserta di sela aksi doa bersama.

Kalimat itu terdengar lirih, tetapi cukup membuat suasana menjadi semakin sunyi.

Sekitar pukul 17.38 WIB, massa mulai membacakan pernyataan sikap secara bergantian. Isi tuntutan mereka menekankan pentingnya pengungkapan kasus pelanggaran HAM berat, penghentian impunitas, serta perlindungan nyata terhadap perempuan di berbagai sektor.

Mereka juga mendesak negara mengakui tragedi pemerkosaan massal Mei 1998 sebagai bagian dari sejarah bangsa yang tidak boleh dihapus ataupun diputarbalikkan.

Pernyataan sikap tersebut diterima langsung oleh Maria Ulfa Ansor selaku perwakilan Komnas HAM Perempuan. Ia terlihat berdiri di depan peserta aksi sambil mendengarkan seluruh tuntutan yang disampaikan.

Setelah pembacaan tuntutan selesai, dokumen pernyataan sikap kemudian diserahkan secara simbolis sekitar pukul 17.50 WIB. Penyerahan dilakukan sederhana, tanpa seremoni panjang.

Aparat kepolisian yang berjaga di sekitar lokasi terlihat tetap memantau jalannya aksi. Meski berlangsung di area publik dan berada di jam padat lalu lintas, situasi tetap berjalan tertib.

Tidak ada penutupan jalan maupun insiden yang mengganggu jalannya demonstrasi. Warga yang melintas juga terlihat cukup tertib menyaksikan aksi dari pinggir jalan.

Menjelang akhir kegiatan, massa melakukan foto bersama di depan kantor Komnas HAM. Poster dan lilin masih tetap dibawa saat dokumentasi berlangsung.

Lampu kendaraan yang melintas di Jalan Latuharhary menjadi latar suasana malam di penghujung aksi. Beberapa peserta masih terlihat berbincang kecil sambil membereskan perlengkapan demonstrasi.

Tepat pukul 18.00 WIB, koordinator lapangan menyatakan aksi selesai. Massa kemudian membubarkan diri secara bertahap meninggalkan kawasan Menteng.

Sebagian peserta memilih berjalan kaki menuju halte bus terdekat, sementara lainnya berkumpul sejenak di trotoar sambil berdiskusi ringan mengenai agenda lanjutan.

Meski berlangsung singkat, aksi tersebut meninggalkan pesan kuat mengenai perjuangan perempuan yang hingga kini masih terus berlangsung. Bagi mereka, reformasi bukan sekadar pergantian kekuasaan politik, tetapi soal keberanian negara menghadapi sejarah dan memberikan keadilan kepada korban.

Di depan gedung Komnas HAM malam itu, lilin memang perlahan padam. Namun suara-suara perempuan yang menggema sejak sore seolah belum benar-benar selesai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *