Jakarta | Kebakaran hutan dan lahan masih berlangsung di enam provinsi prioritas di Sumatra dan Kalimantan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat luas area yang masih terbakar mencapai sekitar 18 ribu hektare. Angka tersebut menunjukkan bahwa penanganan kebakaran masih menjadi perhatian di sejumlah wilayah, sementara titik-titik api dan area terdampak tersebar di beberapa provinsi. Data yang disampaikan BNPB mencakup Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat.
Enam provinsi tersebut menjadi wilayah yang tercatat masih menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Sebaran lintas provinsi itu meliputi kawasan di Sumatra maupun Kalimantan, sehingga gambaran penanganan tidak hanya merujuk pada satu daerah. Luas sekitar 18 ribu hektare merupakan catatan total area yang masih terbakar, bukan angka yang disebutkan secara terpisah untuk setiap provinsi. Karena itu, informasi tersebut memberi gambaran mengenai skala kebakaran secara keseluruhan di wilayah prioritas yang dipantau BNPB.
Catatan ini menegaskan bahwa kebakaran belum sepenuhnya padam di seluruh lokasi yang masuk dalam pemantauan. Riau, Jambi, dan Sumatra Selatan berada di Sumatra, sedangkan Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, serta Kalimantan Barat berada di Kalimantan. BNPB menyebut keenam provinsi itu dalam laporan mengenai kondisi kebakaran yang masih terjadi. Informasi mengenai luas terbakar menjadi salah satu ukuran situasi terkini, meski rincian luasan untuk masing-masing wilayah tidak disertakan dalam data yang tersedia.
Dengan demikian, perhatian terhadap kebakaran hutan dan lahan masih diperlukan di enam provinsi tersebut. Luas sekitar 18 ribu hektare yang dilaporkan masih terbakar menggambarkan pekerjaan penanganan yang belum selesai. Data ini tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebab kebakaran, tingkat dampak di setiap lokasi, maupun perkembangan kondisi dari waktu ke waktu. Untuk memahami situasi secara lebih terperinci, diperlukan keterangan tambahan mengenai persebaran area terbakar dan pembaruan resmi dari pihak terkait. Hingga informasi tersebut tersedia, catatan BNPB memberikan gambaran utama mengenai keberlanjutan kebakaran di Sumatra dan Kalimantan.
Di wilayah Sumatra, luas area yang masih terbakar tercatat mencapai 7.219 hektare. Angka tersebut merupakan bagian dari sebaran kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dilaporkan di sejumlah provinsi. Dari total itu, Sumatra Selatan menjadi penyumbang terbesar, dengan luas sekitar 5.194 hektare. Sementara itu, area terbakar di Jambi diperkirakan mencapai 2.025 hektare. Rincian tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar luasan yang tercatat di Sumatra berada di Sumatra Selatan, sedangkan Jambi menyumbang bagian lainnya.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan data itu dalam konferensi pers daring pada Kamis (22/10/2026). Ia menjelaskan bahwa BNPB tidak menerima laporan karhutla dari Riau dalam beberapa waktu terakhir. Keterangan mengenai tidak adanya laporan yang diterima tersebut perlu dipahami sesuai batas informasi yang disampaikan: hal itu bukan pernyataan bahwa kebakaran di Riau telah sepenuhnya berakhir. Tidak diterimanya laporan terkini juga tidak dengan sendirinya memastikan kondisi lapangan di seluruh wilayah provinsi tersebut.
Dengan demikian, angka 7.219 hektare merujuk pada luasan yang dilaporkan untuk Sumatra, dengan rincian utama dari Sumatra Selatan dan Jambi. Informasi BNPB mengenai Riau berkaitan dengan arus laporan dalam periode terakhir, bukan penetapan status bahwa tidak ada lagi titik kebakaran. Pembedaan data luasan, laporan yang masuk, dan kondisi aktual penting agar perkembangan karhutla dipahami secara cermat. Data dapat berubah seiring pemutakhiran laporan daerah dan penanganan di lapangan. Karena itu, keterangan yang disampaikan Berton menjadi gambaran berdasarkan informasi yang tersedia pada saat konferensi pers, bukan jaminan bahwa situasi di setiap lokasi tidak mengalami perubahan sesudahnya. Pembaca dapat merujuk pada pembaruan resmi BNPB untuk melihat apakah angka luasan maupun laporan dari tiap provinsi mengalami perubahan pada periode berikutnya.
Penanganan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalimantan berfokus pada tiga provinsi, yaitu Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat. Berdasarkan data yang disampaikan Berton SP Panjaitan, total area yang masih terbakar di ketiga provinsi tersebut mencapai sekitar 11.202 hektare. Angka ini merupakan bagian dari catatan luasan karhutla yang masih terbakar di sejumlah provinsi, dengan rincian berbeda untuk setiap wilayah di Kalimantan.
Kalimantan Tengah mencatat area terbakar paling luas di tiga provinsi tersebut, yakni 7.938 hektare. Sementara itu, luas lahan yang masih terbakar di Kalimantan Selatan tercatat 1.974 hektare. Adapun di Kalimantan Barat, area yang masih terbakar mencapai 1.290 hektare. Seluruh angka tersebut merujuk pada data yang disampaikan Berton SP Panjaitan, sehingga memberikan gambaran perbandingan luasan di masing-masing provinsi.
Jika dijumlahkan, luas di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat mencapai sekitar 11.202 hektare. Besaran di Kalimantan Tengah menjadi komponen terbesar dalam total tersebut, disusul Kalimantan Selatan, kemudian Kalimantan Barat. Rincian ini menunjukkan sebaran angka luasan yang dicatat pada ketiga provinsi, tanpa mengubah fakta bahwa setiap provinsi memiliki jumlah area terbakar tersendiri dalam laporan yang disampaikan.
Dengan demikian, data untuk wilayah Kalimantan mencakup tiga angka utama: 7.938 hektare di Kalimantan Tengah, 1.974 hektare di Kalimantan Selatan, dan 1.290 hektare di Kalimantan Barat. Total sekitar 11.202 hektare itu disampaikan oleh Berton SP Panjaitan sebagai luas lahan yang masih terbakar di ketiga provinsi. Penyebutan angka per wilayah membantu memperjelas kontribusi masing-masing provinsi terhadap jumlah keseluruhan area terbakar di Kalimantan.
Penanganan kebakaran hutan dan lahan di enam provinsi dilakukan melalui operasi satuan tugas darat dan udara. Pembagian upaya tersebut mencakup pengerahan personel untuk pemadaman dan patroli di lapangan, serta dukungan operasi udara di wilayah yang menghadapi kebakaran. Langkah yang dijalankan meliputi pemadaman langsung oleh tim darat, pengeboman air atau water bombing, pemantauan melalui patroli, dan operasi modifikasi cuaca (OMC). BNPB mencatat pengerahan personel dan alutsista secara terpisah untuk wilayah Sumatra dan Kalimantan.
Di Sumatra, sebanyak 33.106 personel dikerahkan untuk menangani karhutla di Sumatra Selatan, Jambi, dan Riau. Operasi darat mencakup upaya pemadaman di lokasi kebakaran serta patroli untuk memantau kondisi wilayah. Dukungan dari udara dilakukan melalui water bombing, sementara OMC juga disebut sebagai bagian dari langkah penanganan. Untuk mendukung operasi di tiga provinsi tersebut, total 17 unit alat utama sistem persenjataan (alutsista) dikerahkan. Rincian ini menggambarkan keterlibatan unsur personel dan sarana dalam rangkaian tugas di wilayah Sumatra, tanpa mengubah pembagian provinsi yang menjadi cakupan operasi.
Sementara itu, di Kalimantan, sebanyak 38.772 personel ditugaskan untuk wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah. Selain penanganan oleh personel di darat, operasi udara menjadi bagian dari upaya di tiga provinsi tersebut. Sedikitnya 34 unit alutsista dikerahkan melalui operasi udara. Pengerahan ini melengkapi penugasan personel dalam penanganan karhutla di Kalimantan, dengan kegiatan yang mencakup operasi darat maupun dukungan dari udara. Dengan demikian, catatan penanganan di enam provinsi memuat jumlah personel untuk masing-masing kawasan serta jumlah alutsista yang dilibatkan dalam operasi terkait.
Baca juga: Cegah Karhutla, Mabes TNI Gandeng Tokoh Masyarakat Palaran | Babinsa Koramil 0908-02/Muara Badak Bersama Tim Gabungan Padamkan Karhutla Di Wilayah Binaan | Lanud Sjamsudin Noor Kerahkan Tangki Portable dan Gambut Injection di Kawasan Ring I Bandara Sjamsudin Noor Atasi Titik Api Karhutla
0 kunjungan