Jakarta | Hingga kini, belum ada cara yang dapat memastikan kapan gempa bumi akan terjadi. Waktu, lokasi, dan kekuatan gempa belum bisa diprediksi secara tepat, sehingga pengamatan terhadap alam tidak dapat menggantikan pemantauan geofisika. Sejumlah laporan memang mengaitkan perubahan perilaku hewan dengan gempa yang kemudian terjadi. Namun, keterkaitan dalam laporan tersebut bukan bukti bahwa hewan mampu meramalkan gempa, dan perilaku tidak biasa bukan metode prediksi yang sudah pasti.
Beberapa kisah yang kerap dibahas berasal dari luar Indonesia. Menjelang gempa Haicheng di Tiongkok pada 1975, misalnya, terdapat laporan tentang hewan ternak yang gelisah dan ular yang keluar dari tempat persembunyiannya. Kisah ini sering disebut sebagai contoh perilaku hewan sebelum gempa, tetapi para peneliti juga mencatat bahwa peringatan saat itu melibatkan beragam informasi, termasuk perubahan geologi dan laporan masyarakat. Karena itu, kejadian tersebut tidak membuktikan bahwa perilaku hewan saja dapat memberikan peringatan yang andal.
Contoh lain berasal dari Italia. Sebuah penelitian mengenai katak di kawasan L’Aquila melaporkan bahwa sebagian katak meninggalkan lokasi perkembangbiakan beberapa hari sebelum gempa besar pada 2009. Pengamatan itu menarik, tetapi penelitian tersebut tidak menetapkan perilaku katak sebagai alat untuk menentukan waktu gempa. Perubahan lingkungan, cuaca, gangguan habitat, atau faktor lain juga dapat memengaruhi aktivitas satwa. Untuk memahami penyebabnya, pengamatan perlu dilakukan secara sistematis, berulang, dan dibandingkan dengan kondisi normal serta data gempa.
Contoh-contoh tersebut terjadi di luar Indonesia dan tidak boleh dianggap sebagai peristiwa yang berlangsung di Indonesia. Cerita mengenai anjing melolong, burung berkerumun, atau ikan bergerak aneh perlu diperlakukan dengan kehati-hatian serupa: tanpa pencatatan terukur dan pembanding, hubungan sebab-akibat sulit dipastikan. Masyarakat dapat melaporkan perubahan yang terlihat, tetapi laporan itu sebaiknya menjadi bahan pengamatan ilmiah, bukan dasar untuk menyebarkan peringatan gempa. Informasi resmi dari lembaga kebencanaan dan pemantauan gempa tetap menjadi rujukan yang lebih tepat untuk kesiapsiagaan.
Peristiwa Haicheng di China pada 1975 kerap diceritakan sebagai salah satu kisah yang menghubungkan perilaku hewan dengan gempa. Menjelang gempa, warga menemukan ular mati dalam jumlah ratusan. Pada saat yang sama, berbagai hewan menunjukkan perilaku yang tidak biasa: ternak menolak masuk ke kandang, ayam berlarian, anjing menggonggong tanpa terkendali, dan kucing enggan masuk ke rumah. Rangkaian pengamatan tersebut menjadi bagian penting dari kisah yang kemudian dikaitkan dengan keputusan evakuasi di kota itu. Namun, perilaku masing-masing hewan perlu dipahami sebagai catatan dari peristiwa tersebut, bukan sebagai penjelasan tersendiri tentang penyebab gempa atau tanda yang selalu dapat dipastikan.
Pejabat mengevakuasi seluruh kota sebelum gempa bermagnitudo 7,3 mengguncang wilayah Haicheng. Gempa itu merusak 90 persen bangunan. Urutan waktunya menjadi inti kisah ini: tanda-tanda yang dilaporkan muncul lebih dahulu, evakuasi dilakukan, lalu gempa terjadi. Karena itu, Haicheng sering disebut ketika orang membahas apakah hewan dapat merasakan perubahan sebelum manusia menyadarinya. Meski demikian, kisah tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa perilaku hewan selalu dapat digunakan untuk meramalkan gempa. Rincian yang tersedia menggambarkan peristiwa tertentu—temuan ular dan perubahan perilaku beberapa jenis hewan—serta tindakan pejabat sebelum guncangan besar. Hubungan di hal-hal itu tetap menjadi pertanyaan.
Contoh lain yang disebut dalam sumber terjadi setahun sebelumnya, di San Diego Zoo Safari Park. Sekelompok gajah dilaporkan membentuk lingkaran mengelilingi dua anak gajah sebelum gempa bermagnitudo 5,2 terjadi di sana. Kisah ini berbeda dari Haicheng dalam rincian perilaku yang diamati: bukan laporan tentang banyak jenis hewan, melainkan formasi kelompok gajah yang melindungi atau mengelilingi dua anak. Peristiwa San Diego ditempatkan sebagai contoh dari tahun sebelumnya, bukan sebagai kejadian setelah Haicheng. Kedua kisah tersebut memperlihatkan mengapa perilaku hewan sebelum gempa menarik perhatian, tetapi informasi yang disampaikan tetap terbatas pada pengamatan dan urutan kejadian. Keduanya menyisakan tanda tanya tentang arti perilaku itu dan sejauh mana ia dapat memberi petunjuk yang dapat diandalkan.
Sejumlah teori mencoba menjelaskan mengapa sebagian hewan tampak berubah perilaku sebelum gempa, tetapi belum ada mekanisme yang terbukti dapat menerangkan semua pengamatan. Salah satu dugaan berangkat dari tekanan ekstrem yang terbentuk ketika batuan di bawah permukaan bumi mengalami perubahan sebelum patahan bergerak. Tekanan tersebut, menurut hipotesis tertentu, mungkin memengaruhi sifat listrik atau magnetik batuan dan menghasilkan perubahan elektromagnetik. Jika perubahan itu merambat hingga dekat permukaan, hewan yang peka terhadap rangsangan lingkungan barangkali dapat mendeteksinya lebih dahulu daripada manusia.
Gagasan ini sering dikaitkan dengan kemampuan sejumlah spesies menangkap isyarat yang tidak mudah disadari manusia. Namun, belum jelas apakah medan elektromagnetik yang mungkin muncul cukup kuat, konsisten, dan dapat dibedakan dari variasi alamiah sehari-hari. Hewan juga memiliki kepekaan yang berbeda-beda, sehingga respons satu spesies belum tentu dialami atau ditafsirkan sama oleh spesies lain. Untuk menguji teori tersebut, diperlukan pengukuran lingkungan yang berlangsung sebelum, selama, dan setelah gempa, disertai pengamatan perilaku yang terkontrol. Tanpa data semacam itu, hubungan perubahan elektromagnetik dan kegelisahan hewan masih berupa dugaan.
Teori lain menyoroti getaran berfrekuensi rendah yang mungkin ditimbulkan oleh tekanan, pergeseran, atau patahan batuan. Getaran ini dapat terjadi sebelum guncangan utama dan mungkin merambat melalui tanah, air, atau struktur tertentu. Sebagian hewan diduga mampu merasakan getaran yang berada di luar jangkauan pendengaran manusia, atau menangkapnya melalui kaki dan bagian tubuh lain. Jika benar terjadi, rangsangan tersebut dapat memicu perilaku seperti gelisah, berpindah tempat, atau bersuara lebih sering. Meski demikian, sumber getaran alami lain juga dapat menghasilkan respons serupa.
Karena itu, perubahan elektromagnetik maupun getaran berfrekuensi rendah sebaiknya dipahami sebagai kemungkinan, bukan penjelasan ilmiah yang telah dipastikan. Perilaku hewan dipengaruhi pula oleh cuaca, suara, kondisi habitat, dan gangguan manusia. Pengamatan yang terdokumentasi secara sistematis dapat membantu menilai apakah pola tertentu berulang dan berhubungan dengan aktivitas seismik. Sampai bukti yang kuat tersedia, perilaku hewan belum dapat diandalkan sebagai alat peringatan gempa, meskipun tetap menjadi topik penelitian yang menarik.
Selain getaran dan suara, sejumlah peneliti mempertimbangkan kemungkinan bahwa proses menjelang gempa mengubah komposisi kimia lingkungan. Pergerakan batuan dan tekanan pada kerak bumi mungkin memengaruhi air tanah atau udara, sehingga zat tertentu muncul, berkurang, atau berpindah ke permukaan. Hidrogen yang terlarut dalam air dan ozon di daratan merupakan contoh senyawa yang dibahas dalam berbagai hipotesis. Jika perubahan konsentrasinya terjadi sebelum guncangan, hewan dengan indera penciuman atau reseptor kimia yang peka mungkin dapat mendeteksinya lebih awal daripada manusia. Namun, gagasan ini masih memerlukan pengujian terkontrol untuk memastikan sumber perubahan, pola kemunculan, serta respons hewan yang konsisten.
Laporan mengenai karbon monoksida juga kerap digunakan untuk menunjukkan kemungkinan adanya sinyal kimia. Sebuah sumber menyebut lonjakan gas tersebut beberapa hari sebelum gempa di Gujarat, India, pada 2021. Pengamatan semacam itu menarik karena menunjukkan bahwa perubahan lingkungan dapat dicatat sebelum peristiwa seismik, tetapi hubungan waktu saja belum membuktikan bahwa gas tersebut berasal dari proses gempa atau menyebabkan perilaku tertentu pada hewan. Karbon monoksida dapat berubah akibat beragam faktor, termasuk aktivitas manusia dan kondisi cuaca.
Baca juga: Petunjuk Akses Transportasi Umum Menuju Pestapora 2026
390 kunjungan