Asap Karhutla dan Suhu Tinggi Membayangi Sumatera Selatan

oleh -11 Dilihat
oleh
Asap Karhutla dan Suhu Tinggi Membayangi Sumatera Selatan

Palembang | Kualitas udara di Palembang masih berada pada level berbahaya akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut terlihat dari hasil pemantauan kualitas udara di Stasiun Talang Betutu pada Selasa, 13 Oktober 2026. Dalam rentang waktu pukul 00.00 hingga 09.00 WIB, konsentrasi partikel halus PM2.5 tercatat berada pada kisaran 185,3 hingga 453,5 mikrogram per meter kubik.

Angka itu menunjukkan adanya pencemaran udara yang sangat tinggi. PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan berisiko mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak, lanjut usia, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung. Ketika konsentrasinya meningkat secara signifikan, masyarakat perlu mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menghindari paparan asap secara langsung.

Data pemantauan tersebut tercermin dalam indeks standar pencemar udara (ISPU) yang menempatkan kualitas udara Palembang pada kategori berbahaya. Kategori ini menandakan bahwa kondisi udara dapat berdampak serius terhadap kesehatan masyarakat secara luas, bukan hanya kelompok yang rentan. Warga disarankan memperhatikan informasi resmi mengenai kualitas udara dan menggunakan pelindung pernapasan yang sesuai apabila harus beraktivitas di luar rumah.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, menyebut tingginya konsentrasi PM2.5 berkaitan dengan masih banyaknya kejadian karhutla. Asap dari titik-titik kebakaran dapat terbawa angin dan menumpuk di wilayah perkotaan, khususnya ketika kondisi atmosfer tidak mendukung penyebaran polutan. Situasi ini membuat kualitas udara Palembang tetap memburuk dan memerlukan perhatian bersama, baik melalui pemantauan berkelanjutan maupun penanganan sumber kebakaran di lapangan.

Gangguan asap yang menyelimuti Palembang berasal dari aktivitas kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Berdasarkan keterangan Wandayantolis, kebakaran hutan dan lahan masih banyak terjadi, terutama di Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Kabupaten Ogan Ilir. Kondisi tersebut menjadi sumber asap yang pergerakannya perlu terus dipantau, khususnya ketika arah angin membawa massa udara dari wilayah kebakaran menuju kawasan perkotaan.

Arah angin berperan dalam membawa asap dari Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir ke Palembang. Ketika pola angin bergerak menuju kota, asap dari wilayah tersebut dapat menyelimuti Palembang. Dengan demikian, kondisi udara di Palembang tidak hanya dipengaruhi oleh keadaan di dalam wilayah kota, tetapi juga oleh perkembangan kebakaran hutan dan lahan di daerah sekitarnya. Perubahan arah dan kecepatan angin turut menentukan seberapa jauh asap bergerak serta seberapa kuat keberadaannya terlihat di Palembang.

Wandayantolis menyampaikan bahwa konsentrasi PM2.5 di Palembang masih berada dalam level berbahaya. Informasi ini menunjukkan bahwa gangguan asap masih menjadi persoalan yang perlu diperhatikan dalam pemantauan kondisi udara. Selama kebakaran hutan dan lahan masih banyak terjadi di Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir, potensi masuknya asap ke Palembang tetap ada, terutama apabila arah angin kembali mengarah ke kota. Pemantauan terhadap sumber kebakaran, pergerakan angin, dan kadar PM2.5 menjadi bagian penting untuk menggambarkan perkembangan situasi asap di Palembang secara berkala.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi Sumatera Selatan memasuki puncak suhu maksimum utama pada Oktober 2026. Pada periode tersebut, suhu tertinggi diperkirakan dapat mencapai 37 derajat Celsius, terutama di wilayah yang memiliki kerawanan tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi panas dan kering berpotensi mempercepat pengeringan vegetasi, lahan gambut, serta bahan bakar permukaan sehingga kewaspadaan perlu ditingkatkan.

Sebaran suhu diperkirakan tidak seragam di seluruh wilayah. Ogan Komering Ilir dan Banyuasin diprediksi mengalami suhu sekitar 35–37 derajat Celsius. Kedua daerah tersebut perlu mendapat perhatian karena sebagian wilayahnya memiliki lahan luas yang rentan mengalami kekeringan dan kebakaran. Sementara itu, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, Muara Enim, dan Palembang diperkirakan berada pada kisaran 25–35 derajat Celsius. Perbedaan suhu dapat dipengaruhi oleh kondisi tutupan lahan, kepadatan perkotaan, kelembapan, serta karakter geografis setempat.

Wilayah dataran tinggi seperti Pagaralam memiliki rentang suhu yang lebih lebar, yakni sekitar 15–36 derajat Celsius. Suhu minimum yang lebih rendah berkaitan dengan ketinggian wilayah, sedangkan suhu siang hari tetap dapat meningkat ketika langit cerah dan radiasi Matahari kuat. Karena itu, daerah yang relatif sejuk tidak sepenuhnya terbebas dari dampak cuaca panas.

Kenaikan suhu tersebut berkaitan dengan gerak semu tahunan Matahari yang telah melintasi ekuator dan bergerak menuju belahan bumi selatan. Posisi ini meningkatkan penerimaan energi Matahari di kawasan selatan, termasuk Sumatera Selatan. Namun, puncak suhu tidak selalu berlangsung tepat bersamaan dengan periode penyinaran maksimum. Fenomena ini dikenal sebagai thermal lag, yaitu jeda waktu ketika permukaan bumi memerlukan beberapa minggu untuk menyerap, menyimpan, dan merespons energi Matahari. Akibatnya, suhu maksimum dapat muncul setelah periode penyinaran terkuat berlalu, sehingga Oktober menjadi periode yang perlu diantisipasi secara serius.

Kondisi kemarau yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Sumatera Selatan perlu diikuti dengan kewaspadaan lebih tinggi terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan. Asap yang muncul di beberapa area juga tetap menjadi perhatian karena dapat mengganggu jarak pandang, kualitas udara, serta kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan.

Suhu udara yang tinggi menyebabkan proses pengeringan berlangsung lebih cepat. Pada saat yang sama, kelembapan tanah yang rendah membuat lahan kehilangan cadangan air dan menjadi lebih mudah terbakar. Vegetasi, rerumputan, semak, serta sisa tanaman yang mengering dapat berperan sebagai bahan bakar alami. Berdasarkan keterangan narasumber, api yang menyulut lahan dalam kondisi tersebut dapat berkembang lebih cepat, terutama apabila dipengaruhi angin, sehingga menghasilkan kepulan asap yang lebih luas dan sulit dikendalikan.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak membakar lahan, kebun, maupun sampah, termasuk dengan alasan membersihkan area secara cepat. Sumber api seperti puntung rokok, korek, bara pembakaran, dan peralatan yang menghasilkan panas sebaiknya dijauhkan dari lahan kering atau kawasan yang mudah terbakar. Pengawasan juga perlu ditingkatkan di sekitar permukiman, perkebunan, dan area terbuka yang memiliki banyak vegetasi kering.

Selain mencegah kebakaran, warga perlu menjaga kondisi tubuh selama cuaca sangat panas. Aktivitas fisik berat sebaiknya dikurangi, ditunda, atau dilakukan pada waktu yang lebih sejuk. Kebutuhan air minum harus dicukupi secara teratur untuk mencegah dehidrasi. Apabila menemukan titik api atau asap yang tidak biasa, masyarakat diharapkan segera melaporkannya kepada aparat atau petugas terkait agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Hercules TNI AU Mendarat di Lanud Sjamsudin Noor Bawa Kekuatan Baru dari Kemhan RI, Penanganan Karhutla Kalimantan Selatan Kian Diperkuat | TNI Salurkan Dukungan Peralatan Penanganan Karhutla ke Kalimantan Tengah