Banjir di Trumon Tengah: Status Darurat, Pengungsian, dan Tanggul yang Roboh

oleh -1453 Dilihat
oleh
Banjir di Trumon Tengah: Status Darurat, Pengungsian, dan Tanggul yang Roboh

Kabupaten Aceh Selatan | Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan menetapkan status tanggap darurat banjir selama 14 hari menyusul genangan yang merendam Gampong Cot Bayu dan Gampong Lhok Raya, Kecamatan Trumon Tengah. Penetapan tersebut menjadi langkah resmi pemerintah daerah untuk mengoordinasikan penanganan bencana pada masa darurat, ketika warga dan wilayah terdampak membutuhkan perhatian serta dukungan yang terarah.

Bupati Aceh Selatan, Mirwan MS, menyampaikan keputusan itu pada Sabtu (31/10), di Aceh Selatan. Keputusan diambil setelah ia meninjau sejumlah titik terdampak dan mempelajari laporan kejadian banjir. Peninjauan lapangan dan telaah laporan tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk memahami situasi sebelum menetapkan langkah penanganan. Dengan status darurat berlaku selama 14 hari, penanganan dapat dipusatkan pada kebutuhan mendesak di lokasi yang terdampak banjir.

Tujuan utama penetapan status tanggap darurat ialah mempercepat penanganan bencana dan meningkatkan kesiapsiagaan pemerintah daerah. Status ini memberi kerangka bagi perangkat daerah terkait untuk menyelaraskan respons, memantau perkembangan kondisi, serta menyiapkan tindakan yang diperlukan selama masa darurat. Pemerintah daerah juga dapat menggunakan periode tersebut untuk menilai kebutuhan warga dan menentukan prioritas berdasarkan laporan serta kondisi yang ditemukan di lapangan.

Banjir yang merendam dua gampong di Trumon Tengah menuntut respons yang terkoordinasi agar dampak terhadap masyarakat dapat ditangani secara lebih cepat. Karena itu, keputusan bupati menandai dimulainya masa penanganan darurat dengan fokus pada situasi di wilayah terdampak. Pelaksanaan status selama 14 hari memberi batas waktu yang jelas bagi pemerintah daerah untuk mengintensifkan kesiapsiagaan dan mengevaluasi perkembangan keadaan. Langkah lanjutan dapat disesuaikan dengan hasil pemantauan selama periode tersebut, termasuk perubahan kondisi banjir dan kebutuhan penanganan yang muncul. Penetapan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah Kabupaten Aceh Selatan merespons kejadian banjir di Cot Bayu dan Lhok Raya secara terarah, berdasarkan peninjauan langsung serta informasi yang tersedia dalam laporan kejadian.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Selatan melaporkan bahwa 112 warga dari Gampong Cot Bayu dan Gampong Lhok Raya mengungsi akibat banjir di wilayah Trumon Tengah. Data tersebut menggambarkan jumlah warga dari kedua gampong yang meninggalkan tempat tinggal untuk sementara waktu. Genangan air di lokasi terdampak dilaporkan berkisar 30 hingga 60 sentimeter. Ketinggian air itu menjadi salah satu kondisi yang dihadapi warga saat banjir merendam kawasan permukiman.

Warga yang mengungsi menempati dua lokasi, yaitu Kompi Brimob dan rumah kerabat. BPBD menyebutkan lokasi-lokasi tersebut sebagai tempat warga mencari perlindungan sementara. Sebagian warga berada di Kompi Brimob, sementara yang lainnya tinggal di rumah anggota keluarga atau kerabat. Laporan yang tersedia tidak merinci pembagian jumlah pengungsi di kedua gampong maupun jumlah warga yang berada di masing-masing lokasi. Karena itu, angka 112 merujuk pada keseluruhan warga dari Cot Bayu dan Lhok Raya yang dilaporkan mengungsi.

Keputusan meninggalkan rumah diambil untuk menghindari kemungkinan terjadinya banjir susulan. Dengan memilih mengungsi, warga dapat berada di tempat yang dinilai lebih aman sementara kondisi banjir masih menjadi perhatian. Kewaspadaan terhadap potensi kenaikan air menjadi alasan yang disebutkan dalam laporan, tanpa keterangan bahwa banjir susulan telah terjadi. Informasi mengenai genangan 30 hingga 60 sentimeter, jumlah warga yang mengungsi, dan lokasi penampungan memberikan gambaran situasi yang dilaporkan BPBD Kabupaten Aceh Selatan. Warga dari kedua gampong tetap berada di lokasi pengungsian atau rumah kerabat hingga keadaan memungkinkan mereka kembali, namun laporan tersebut tidak mencantumkan waktu kepulangan maupun perkembangan kondisi berikutnya.

Keuchik atau Kepala Desa Lhok Raya, Rasi Riadi, menyebut robohnya tanggul Sungai Lae Soeraya sebagai pemicu banjir yang melanda wilayah tersebut. Menurut keterangannya, kerusakan pada tanggul membuat air sungai meluap, kemudian mengalir ke kawasan permukiman dan menggenangi rumah warga. Peristiwa itu berdampak langsung pada masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai, terutama ketika air masuk ke dalam rumah dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Keterangan tersebut menempatkan kondisi tanggul sebagai salah satu perhatian utama dalam penanganan banjir di Lhok Raya. Ketika penghalang di tepi sungai roboh, air dapat keluar dari alurnya dan mencapai lingkungan warga. Rasi menyampaikan bahwa bagian tanggul yang roboh memiliki panjang sekitar 210 meter. Kerusakan pada bentang tersebut menjadi persoalan yang perlu diperhatikan, mengingat luapan sungai telah menyebabkan rumah-rumah warga tergenang.

Di tengah kondisi tersebut, warga juga merasa khawatir air sungai dapat kembali naik. Kekhawatiran ini muncul karena mereka masih menghadapi dampak banjir dan mengetahui adanya bagian tanggul yang roboh. Apabila ketinggian air bertambah, warga cemas genangan dapat kembali meluas atau bertambah tinggi. Situasi ini membuat pemantauan terhadap keadaan sungai dan lingkungan sekitar menjadi penting bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang rumahnya berada dekat dengan aliran air.

Rasi berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan membangun kembali tanggul Sungai Lae Soeraya yang roboh sepanjang 210 meter. Harapan tersebut disampaikan sebagai kebutuhan warga terhadap perbaikan perlindungan di kawasan sungai, agar kerusakan tanggul yang disebut menjadi penyebab luapan dapat ditangani. Pernyataan itu merupakan harapan Rasi kepada pemerintah daerah; hal tersebut tidak dengan sendirinya memastikan bahwa pembangunan telah diputuskan atau bahwa pekerjaan sudah dimulai. Warga masih menantikan penanganan terhadap bagian tanggul yang rusak, sembari mengantisipasi kemungkinan perubahan ketinggian air sungai.

Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan menyalurkan bantuan masa panik bagi warga terdampak banjir di Kecamatan Trumon Tengah. Bantuan diserahkan oleh Mirwan di posko pengungsian Kompi Brimob, Gampong Ie Jerineh, sebagai dukungan awal untuk memenuhi kebutuhan warga selama berada di pengungsian. Penyaluran tersebut mencakup bahan pangan, perlengkapan keluarga, serta kebutuhan sehari-hari yang diperlukan oleh para pengungsi. Pemerintah daerah juga telah menyiapkan dapur umum di tenda pengungsian agar warga dapat memperoleh makanan selama masa darurat.

Ragam bantuan yang disalurkan meliputi beras, air mineral, minyak goreng, mi instan, sarden, kecap, saus, biskuit, dan makanan siap saji. Selain itu, tersedia family kit, pakaian anak-anak, selimut, kain, sarung, serta mukena. Bantuan tersebut ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar keluarga yang terdampak, termasuk kebutuhan anak-anak dan perlengkapan pribadi. Dapur umum melengkapi dukungan ini dengan penyediaan makanan di lokasi pengungsian, sehingga warga tidak perlu memenuhi seluruh kebutuhan konsumsi secara mandiri di tengah kondisi darurat.

Di samping memastikan bantuan tersalurkan, Mirwan menginstruksikan jajaran pemerintah dan satuan tugas untuk meningkatkan kewaspadaan serta kesiapsiagaan. Prakiraan curah hujan tinggi dalam beberapa hari ke depan berpotensi memicu banjir susulan, sehingga pemantauan kondisi dan kesiapan merespons keadaan perlu terus diperkuat. Warga juga diimbau tetap tenang dan mengikuti informasi serta arahan dari petugas. Mirwan meminta masyarakat tidak membeli kebutuhan pokok secara berlebihan. Imbauan tersebut penting agar persediaan barang tetap tersedia dan dapat diakses warga yang membutuhkan. Dengan kesiapsiagaan yang ditingkatkan, penyaluran bantuan dan pelayanan di posko diharapkan dapat berlangsung tertib, sementara pemerintah dan petugas tetap memperhatikan perkembangan cuaca serta kebutuhan para pengungsi.