Kabupaten Deli Serdang | Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan memasuki musim hujan, termasuk menghadapi potensi banjir pesisir atau rob. Warga yang tinggal di kawasan pantai diminta memperhatikan informasi cuaca dan peringatan dini, serta menyiapkan langkah perlindungan bagi keluarga dan barang penting. Kesiapsiagaan diperlukan karena ancaman rob dapat terjadi bersamaan dengan hujan lebat maupun cuaca ekstrem, sehingga dampaknya berpotensi mengganggu aktivitas dan akses di wilayah pesisir.
Potensi peningkatan pasang air laut dipengaruhi sejumlah faktor, lain fase bulan purnama pada 26 Oktober 2026 dan fase perigee pada 29 Oktober 2026. Perigee merupakan kondisi ketika posisi bulan berada relatif dekat dengan bumi. Selain kedua fenomena tersebut, dinamika oseanografi juga dapat memengaruhi tinggi muka air laut dan kondisi pasang. Perpaduan faktor-faktor itu menjadi alasan warga di kawasan yang berpotensi terdampak perlu memantau perkembangan situasi, terutama pada periode yang telah diinformasikan.
BNPB menyebut potensi ancaman mencakup wilayah pesisir di 15 provinsi, yaitu Sumatra Utara, Sumatra Barat, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, dan Maluku. Cakupan wilayah tersebut disampaikan oleh Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan. Masyarakat di wilayah pesisir yang disebutkan perlu mengenali lokasi aman dan jalur evakuasi setempat, serta mengikuti arahan pemerintah daerah dan petugas apabila kondisi memburuk.
Arahan kesiapsiagaan dan peringatan dini diterbitkan melalui surat Direktur Peringatan Dini BNPB bernomor B-79/BNPB/PDIN/BP.03.02/10/2026, tertanggal 22 Oktober 2026. Informasi resmi tersebut menjadi acuan bagi pemerintah daerah dan masyarakat dalam mengantisipasi kemungkinan rob. Warga disarankan memastikan saluran komunikasi tetap berfungsi, mengamankan dokumen dan kebutuhan darurat, serta tidak mengabaikan peringatan yang disampaikan melalui kanal resmi. Pemantauan berkala penting dilakukan karena kondisi laut dan cuaca dapat berubah, sementara waktu serta dampak genangan di setiap kawasan pesisir bisa berbeda.
Menghadapi potensi banjir rob, warga pesisir perlu menyesuaikan kegiatan dengan kondisi pasang laut dan informasi cuaca terkini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama aparat setempat dapat mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di pantai, terutama saat pasang maksimum. Hindari area yang berisiko tergenang atau diterjang gelombang, dan jangan mendekati tanggul maupun muara ketika kondisi laut memburuk. Langkah sederhana ini membantu mengurangi paparan terhadap arus kuat, genangan, dan bahaya lain yang dapat muncul secara mendadak.
Nelayan sebaiknya menunda melaut apabila gelombang tinggi atau cuaca buruk berpotensi membahayakan keselamatan. Keputusan berangkat perlu mempertimbangkan peringatan resmi, bukan hanya keadaan laut yang terlihat dari daratan. Perahu, mesin, jaring, dan barang bernilai lainnya perlu dipindahkan atau diikat di lokasi yang lebih aman agar tidak terseret arus maupun rusak akibat genangan. Warga juga dapat menjaga dokumen penting dan kebutuhan dasar di tempat yang mudah dijangkau, serta mengetahui jalur menuju lokasi aman apabila evakuasi diperlukan.
Pemerintah daerah perlu mengoptimalkan pemantauan prakiraan dan peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), lalu menyampaikan pembaruan secara cepat melalui kanal yang digunakan masyarakat. Pemeriksaan kesiapan tempat pengungsian juga penting, termasuk akses, kapasitas, air bersih, sanitasi, dan kebutuhan kelompok rentan. Di kawasan pesisir, petugas perlu membersihkan saluran drainase agar aliran air tidak tersumbat, serta memeriksa dan mengamankan tanggul pantai untuk mengenali kerusakan yang dapat memperbesar dampak pasang.
BPBD bersama perangkat daerah terkait hendaknya memastikan personel, sarana komunikasi, transportasi, dan logistik evakuasi tersedia serta siap digunakan. Rencana peringatan dan evakuasi perlu dipahami oleh warga, termasuk siapa yang dihubungi dan ke mana harus bergerak bila situasi memburuk. BNPB menegaskan bahwa koordinasi pemerintah daerah, BPBD, dan masyarakat merupakan bagian penting dari upaya pengurangan risiko. Pertukaran informasi yang jelas, pembagian tugas, dan kesiapsiagaan bersama dapat membantu menekan dampak bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan bahwa kejadian bencana hidrometeorologi basah meningkat di berbagai wilayah Indonesia hingga akhir Oktober 2026. Berdasarkan data Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB per Jumat, 30 Oktober 2026, jumlah kejadian bencana yang tercatat mencapai 2.247. Angka tersebut mencerminkan rangkaian dampak cuaca dan kondisi lingkungan yang masih perlu diwaspadai, terutama di daerah yang mengalami hujan dengan intensitas tinggi. BNPB terus memantau perkembangan kejadian di sejumlah wilayah, sekaligus mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan informasi resmi dan arahan pemerintah daerah.
Dalam pembaruan tersebut, terdapat tambahan enam kejadian banjir di Sumatra Utara dan Aceh, serta dua kejadian cuaca ekstrem di Kalimantan Selatan dan Jawa Timur. Dampak banjir paling signifikan yang dilaporkan terjadi di Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara. Sebanyak 7.615 kepala keluarga (KK) terdampak, sementara 7.327 rumah dilaporkan terendam. Di Kota Medan, banjir berdampak pada 2.405 KK. Data ini menunjukkan besarnya paparan warga dan permukiman terhadap genangan, sehingga kesiapsiagaan, pemantauan kondisi sekitar, dan koordinasi penanganan menjadi penting selama cuaca basah berlangsung. Warga di wilayah terdampak juga perlu mengikuti perkembangan informasi mengenai kondisi banjir serta arahan petugas setempat.
Potensi hujan lebat hingga sangat lebat masih dapat terjadi di Aceh, yang berstatus siaga, serta di sebagian besar wilayah Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. BNPB menyebut dampak tidak langsung bibit Siklon Tropis 91B di Laut Andaman sebagai salah satu konteks yang perlu diperhatikan dalam kondisi cuaca tersebut. Potensi hujan dapat meningkatkan risiko banjir maupun gangguan lain, khususnya di kawasan rawan dan permukiman yang berada dekat aliran air. Masyarakat diimbau tetap terhadap perubahan cuaca, menghindari area yang berpotensi terdampak, dan menyiapkan langkah keselamatan sesuai arahan pihak berwenang. Pemantauan berkelanjutan terhadap prakiraan cuaca dan informasi kebencanaan resmi dapat membantu warga mengambil keputusan lebih dini apabila kondisi memburuk.
Selain ancaman rob, BNPB mengingatkan warga agar meningkatkan kesiapsiagaan terhadap banjir dan bahaya hidrometeorologi lainnya. Upaya pencegahan dapat dimulai dari lingkungan sekitar, lain dengan bergotong royong membersihkan saluran air agar aliran tidak tersumbat. Warga juga dapat melakukan susur sungai untuk mengenali kondisi dan potensi bahaya, tetapi kegiatan ini harus berada di bawah pengawasan petugas BPBD. Pemantauan tanpa pendampingan petugas berisiko membahayakan keselamatan, terutama ketika debit air meningkat atau cuaca berubah. Kesiapsiagaan bersama membantu warga mengetahui kondisi wilayah dan mengurangi risiko saat bencana terjadi.
Setiap keluarga perlu mengenali jalur evakuasi yang aman serta mengetahui lokasi tujuan evakuasi sebelum banjir datang. Infrastruktur bendungan di sekitar wilayah juga perlu diperiksa untuk memastikan kondisinya terpantau dan potensi masalah dapat diketahui lebih awal. BNPB turut mengimbau warga menyiapkan tas siaga bencana yang berisi kebutuhan darurat untuk sekurang-kurangnya tiga hari. Perlengkapan tersebut sebaiknya disimpan di tempat yang mudah dijangkau sehingga dapat dibawa ketika evakuasi diperlukan. Persiapan sejak dini memberi warga waktu untuk bergerak dengan tertib, tanpa harus mengumpulkan kebutuhan pokok saat keadaan sudah mendesak. Pastikan anggota keluarga mengetahui letak tas dan memahami rencana berkumpul jika terpisah.
Untuk menghadapi angin kencang atau puting beliung, warga dianjurkan memperkuat struktur atap rumah dan memangkas ranting pohon yang rimbun di sekitar permukiman maupun ruang publik.
Baca juga: Peserta Pemilih Pilkades Bekasi Tinggi di Tengah Cuaca Ekstrem | Produksi Toyota Veloz Hybrid Meningkat Signifikan Hingga 2026
0 kunjungan