KH Syukron Ma’mun Wafat, Jejak Dakwah dan Pesantren Daarul Rahman

oleh
oleh
KH Syukron Ma’mun Wafat, Jejak Dakwah dan Pesantren Daarul Rahman

Jakarta | KH Syukron Ma’mun meninggal dunia pada Minggu. Kabar wafatnya menjadi perhatian bagi masyarakat, terutama mereka yang mengenal kiprah beliau sebagai ulama Indonesia dan pengasuh lembaga pendidikan Islam. Sebelum meninggal, KH Syukron Ma’mun sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan. Informasi yang tersedia menyebutkan bahwa perawatan tersebut berkaitan dengan gangguan jantung yang dialaminya sejak pekan sebelumnya.

Perawatan di rumah sakit itu berlangsung sebelum kabar wafat disampaikan. Namun, tidak terdapat keterangan lebih lanjut mengenai tanggal masuk, lama perawatan, maupun rincian kondisi medis lainnya. Karena itu, informasi tentang keadaan beliau sebelum meninggal perlu disampaikan sesuai keterangan yang telah tersedia, tanpa menambahkan dugaan atau detail yang belum dipastikan.

KH Syukron Ma’mun dikenal sebagai ulama Indonesia sekaligus pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman di Jakarta Selatan. Peran tersebut menempatkannya sebagai sosok yang terkait erat dengan kehidupan pesantren dan pendidikan Islam di kawasan tersebut. Nama beliau juga melekat pada perjalanan lembaga yang didirikannya dan diasuhnya.

Kabar wafat seorang ulama biasanya membawa perhatian pada perjalanan hidup dan pengabdiannya. Dalam hal KH Syukron Ma’mun, informasi awal yang dapat disampaikan mencakup kabar meninggal dunia pada Minggu, perawatan di Rumah Sakit Pondok Indah, serta gangguan jantung yang telah dialami sejak pekan sebelumnya. Keterangan tersebut memberikan gambaran singkat tentang kondisi beliau menjelang wafat, sekaligus mengenalkan kedudukannya sebagai pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman.

Dengan menyampaikan fakta-fakta tersebut secara cermat, publik dapat memperoleh informasi dasar tanpa mencampurkannya dengan hal yang belum terkonfirmasi. Sosok KH Syukron Ma’mun dikenang melalui perannya sebagai ulama dan pengasuh pesantren, sementara kabar wafatnya menjadi penanda berakhirnya perjalanan hidup beliau. Keterangan mengenai perawatan sebelum meninggal tetap terbatas pada informasi yang ada: beliau dirawat di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan, setelah mengalami gangguan jantung sejak pekan sebelumnya.

Setelah disalatkan, jenazah KH Syukron Ma’mun dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Daarul Rahman. Urutan tersebut menjadi informasi utama mengenai prosesi pemakaman: jenazah terlebih dahulu disalatkan, kemudian dibawa untuk dimakamkan di lingkungan pesantren. Dengan demikian, lokasi pemakaman yang disebutkan adalah kompleks Daarul Rahman, bukan tempat lain yang tidak tercantum dalam keterangan tersebut.

Pondok Pesantren Daarul Rahman berada di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Penyebutan lokasi ini memberi kejelasan mengenai tempat peristirahatan terakhir KH Syukron Ma’mun sekaligus menghubungkan prosesi pemakaman dengan lingkungan pesantren yang disebut dalam pemberitaan. Informasi mengenai pemakaman dapat disampaikan secara ringkas melalui dua hal yang terkonfirmasi, yakni urutan setelah salat jenazah dan lokasi pemakaman di kompleks pesantren tersebut.

Keterangan yang tersedia tidak merinci waktu pelaksanaan pemakaman, jumlah orang yang hadir, ataupun suasana di lokasi. Karena itu, hal-hal tersebut tidak perlu ditambahkan sebagai bagian dari uraian. Menyampaikan detail yang terkonfirmasi saja membantu menjaga akurasi informasi tentang wafatnya KH Syukron Ma’mun. Pokok informasinya tetap jelas: setelah disalatkan, jenazah dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Lokasi dan urutan peristiwa itu menjadi inti kabar mengenai pemakaman beliau, tanpa perlu memperluasnya dengan gambaran yang tidak didukung keterangan.

Julukan KH Syukron Ma’mun sebagai “Singa Mimbar” menggambarkan sosoknya sebagai pendakwah yang dikenal tegas ketika menyampaikan ajaran Islam. Sebutan tersebut merujuk pada keberanian dan kekuatan ekspresi dakwahnya di hadapan jamaah. Kata “singa” menghadirkan kesan berwibawa, sedangkan “mimbar” menandai ruang penyampaian pesan keagamaan. Dalam konteks ini, julukan itu menjadi cara untuk menggambarkan karakter tutur yang lugas dan bersemangat. Gaya tersebut membuat penyampaian pesan keislaman terasa kuat dan penuh keteguhan. Pokok penting dari sebutan itu terletak pada corak dakwahnya yang berapi-api, bukan pada gambaran tentang hal-hal lain yang tidak menjadi bagian dari keterangan mengenai dirinya.

Gaya dakwah yang berapi-api menunjukkan kesungguhan KH Syukron Ma’mun dalam menyampaikan pesan agama. Ketegasan menjadi ciri yang melekat pada cara ia berdakwah, sementara semangatnya tampak dalam penyampaian yang penuh energi. Julukan “Singa Mimbar” membantu publik mengenali corak tersebut secara ringkas, tanpa perlu menambahkan kisah atau contoh tertentu. Dalam memahami julukan ini, penting membedakan ketegasan penyampaian dari isi prinsip yang ia pegang. Keduanya merupakan sisi yang saling terkait dalam gambaran tentang dakwahnya: cara menyampaikan pesan tampil kuat, sementara landasan keagamaannya tetap jelas. Sebutan itu dengan demikian mencerminkan karakter dakwah, bukan alasan untuk mengaitkannya dengan pernyataan atau peristiwa yang tidak tercatat.

Di tengah gaya penyampaian yang tegas tersebut, KH Syukron Ma’mun konsisten memegang prinsip Ahlussunnah wal Jamaah. Konsistensi ini menjadi landasan penting dalam memahami jejak dakwahnya. Semangat di mimbar tidak mengubah prinsip yang menjadi pegangan, melainkan hadir bersama komitmen terhadap ajaran yang dianutnya. Karena itu, julukan “Singa Mimbar” dapat dibaca sebagai gambaran tentang cara berdakwah yang berani dan berapi-api, sedangkan Ahlussunnah wal Jamaah menjelaskan prinsip yang secara konsisten ia pegang. Kedua hal tersebut memberi gambaran yang seimbang mengenai dirinya: tegas dalam penyampaian dan teguh pada landasan keagamaan. Dengan menyebut keduanya secara proporsional, pembahasan tetap berfokus pada karakter dakwah serta prinsip yang melekat pada KH Syukron Ma’mun.

Jejak dakwah KH Syukron Ma’mun tidak hanya tercatat melalui pengajaran dan pembinaan umat, tetapi juga melalui kiprahnya dalam membangun lembaga pendidikan Islam. Salah satu wujudnya adalah Pondok Pesantren Daarul Rahman, yang didirikan bersama KH Antung Ghozali BA, KH Masyhuri Baedlowi, dan KH Abdul Kadir Rahman. Pendirian pesantren ini menjadi bagian dari upaya menyediakan pendidikan berbasis keislaman yang terarah bagi generasi muda, sekaligus memperkuat tradisi pengajaran agama di tengah masyarakat.

Daarul Rahman berdiri di Jagakarsa, Jakarta Selatan, di atas tanah wakaf dengan luas kurang lebih 7.800 meter persegi. Pemanfaatan tanah wakaf tersebut menjadi landasan bagi perkembangan kegiatan pendidikan dan kehidupan pesantren. Di lingkungan itu, para santri menjalani proses belajar yang menggabungkan pendidikan agama dengan pembinaan keseharian. Kiprah para pendiri, termasuk KH Syukron Ma’mun, turut membentuk arah dan identitas lembaga ini sebagai pesantren yang berfokus pada pendidikan serta pengembangan ilmu keislaman.

Dalam hal kelembagaan, Pondok Pesantren Daarul Rahman berstatus swasta penuh. Pesantren ini tidak terikat pada organisasi tertentu maupun partai politik, sehingga penyelenggaraan dan pengembangan pendidikannya berada dalam lingkup lembaga pesantren sendiri. Status tersebut menjelaskan posisi Daarul Rahman sebagai institusi yang berdiri secara mandiri, tanpa afiliasi organisatoris atau politik. Kementerian Agama mengakui Daarul Rahman sebagai pesantren mu’adalah. Pengakuan ini mencakup penyetaraan ijazah untuk jenjang tsanawiyah dan aliyah, sehingga pendidikan yang ditempuh santri pada kedua tingkat tersebut memperoleh kesetaraan sesuai ketentuan yang berlaku.

5 kunjungan