Kota Bangun | Museum Nelayan Pesut di Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengenalkan keberadaan pesut Mahakam. Museum ini dikembangkan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat nelayan agar pengetahuan mengenai lingkungan perairan, sumber daya ikan, dan cara penangkapan yang tepat dapat dipahami secara lebih luas. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya Desa Pela untuk membangun kesadaran bahwa kegiatan perikanan perlu dilakukan dengan memperhatikan keberlanjutan ekosistem.
Melalui berbagai informasi dan materi edukasi yang tersedia, pengunjung dapat mempelajari teknik penangkapan ikan yang ramah lingkungan. Pengetahuan tersebut mencakup penggunaan alat tangkap yang tidak merusak habitat, penghindaran terhadap praktik yang dapat membahayakan biota air, serta pentingnya mematuhi ketentuan mengenai ukuran ikan dan wilayah penangkapan. Edukasi ini juga dapat membantu nelayan memahami hubungan kesehatan sungai, kelestarian habitat pesut, dan keberlangsungan hasil tangkapan dalam jangka panjang.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Pela, Alimin, menjelaskan bahwa fungsi utama museum adalah memberikan edukasi kepada masyarakat nelayan mengenai cara menangkap ikan yang baik dan tidak merusak lingkungan. Menurutnya, museum tersebut diarahkan untuk menambah pemahaman nelayan sehingga pengelolaan perikanan tangkap dapat dilakukan secara berkelanjutan. Pernyataan itu menegaskan bahwa museum bukan semata-mata destinasi wisata, melainkan juga media pembelajaran yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat setempat.
Peran edukatif tersebut penting karena keberlanjutan perikanan tidak hanya bergantung pada aturan, tetapi juga pada kesediaan nelayan menerapkan pengetahuan dalam aktivitas sehari-hari. Dengan mendorong praktik penangkapan yang lebih bertanggung jawab, Museum Nelayan Pesut turut memperkuat upaya perlindungan ekosistem perairan dan menjaga sumber penghidupan masyarakat. Dalam jangka panjang, pemahaman yang dibangun melalui museum diharapkan dapat mendukung keseimbangan kebutuhan ekonomi nelayan, kelestarian lingkungan, dan perlindungan pesut sebagai satwa penting di kawasan tersebut.
Pendirian museum ini berangkat dari keprihatinan terhadap praktik penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan di kawasan perairan Danau Semayang pada masa lalu. Saat itu, aktivitas penangkapan ikan ilegal masih marak dan dilakukan dengan berbagai cara yang merusak ekosistem. Salah satu metode yang menjadi perhatian adalah penggunaan setrum untuk melumpuhkan ikan. Cara tersebut tidak hanya mengancam keberlangsungan populasi ikan, tetapi juga berpotensi merusak organisme air lain serta mengganggu keseimbangan lingkungan danau.
Kondisi tersebut mendorong munculnya gagasan untuk membangun sebuah ruang edukasi yang dapat merekam kehidupan nelayan sekaligus menyampaikan pentingnya menjaga sumber daya perairan. Museum didirikan untuk mengingatkan masyarakat mengenai dampak buruk praktik penangkapan ikan ilegal dan mendorong perubahan menuju kegiatan perikanan yang lebih bertanggung jawab. Kehadirannya juga menjadi sarana untuk memperkenalkan pengetahuan, pengalaman, serta nilai-nilai yang berkembang dalam kehidupan masyarakat nelayan di sekitar Danau Semayang.
Bangunan museum mulai didirikan pada 2020. Proses pengembangannya memperoleh dukungan penuh serta bantuan kemitraan dari jajaran manajemen Pertamina Hulu Mahakam. Dukungan tersebut berperan penting dalam membantu penyediaan sarana dan penguatan fungsi museum sebagai tempat pembelajaran bagi masyarakat, generasi muda, dan pengunjung. Kemitraan ini menunjukkan bahwa upaya pelestarian lingkungan dan kebudayaan lokal memerlukan keterlibatan berbagai pihak, termasuk perusahaan, pemerintah, serta komunitas setempat.
Alimin menjelaskan bahwa sebelum dikenal dengan nama Museum Nelayan Pesut, tempat tersebut lebih dahulu dikenal masyarakat dengan sebutan Museum Nelayan. Nama awal itu mencerminkan fokus utamanya terhadap kehidupan, aktivitas, dan pengetahuan masyarakat nelayan. Seiring berkembangnya gagasan pelestarian lingkungan serta perhatian terhadap keberadaan pesut, identitas museum kemudian semakin dikaitkan dengan upaya perlindungan ekosistem perairan. Dengan demikian, museum tidak hanya menyimpan cerita masa lalu, tetapi juga berfungsi sebagai pengingat agar praktik penangkapan ikan dilakukan secara legal, selektif, dan berkelanjutan.
Museum Nelayan Pesut di Pela menyajikan informasi kelautan dan perikanan secara bertahap melalui pembagian ruang berdasarkan lantai. Penataan tersebut membuat pengunjung dapat mengenali kehidupan nelayan, memahami keberadaan pesut Mahakam, serta melihat hubungan pelestarian lingkungan dan penghidupan masyarakat desa.
Lantai bawah menampilkan beragam alat tangkap tradisional yang pernah digunakan nelayan setempat. Koleksi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai benda pamer, tetapi juga menjadi sumber informasi mengenai teknik penangkapan ikan yang berkembang di wilayah Pela. Setiap alat telah dilengkapi teknologi kode batang sehingga pengunjung dapat mengakses keterangan tambahan mengenai nama, fungsi, bahan, serta cara penggunaannya. Penyajian interaktif ini membantu generasi muda memahami warisan pengetahuan nelayan secara lebih menarik.
Di lantai satu, pengunjung dapat melihat piagam penghargaan yang mencerminkan kontribusi masyarakat dan pengelola dalam menjaga lingkungan. Ruangan ini juga memuat materi mengenai pesut Mahakam, termasuk karakteristik satwa, habitat, ancaman, dan upaya rehabilitasinya. Salah satu daya tariknya adalah patung pesut Mahakam berbahan serat kelapa, bantuan Pertamina. Patung tersebut membantu pengunjung mengenali bentuk tubuh pesut secara langsung, terutama bagi mereka yang belum pernah melihat satwa ikonik Sungai Mahakam itu. Lantai yang sama menyediakan tempat penjualan cenderamata hasil karya UMKM lokal, sehingga kunjungan turut mendukung kegiatan ekonomi warga.
Lantai dua dimanfaatkan sebagai perpustakaan edukatif bagi warga Desa Pela dan wisatawan. Koleksi bacaan di ruang ini dapat digunakan untuk memperluas pengetahuan tentang perikanan, sungai, keanekaragaman hayati, dan konservasi. Secara rutin, pengelola bersama tim penyuluh dari dinas terkait juga menyosialisasikan larangan penggunaan alat tangkap ilegal kepada pengunjung. Edukasi tersebut menjelaskan dampak alat yang merusak ekosistem serta mendorong praktik penangkapan ikan yang lebih bertanggung jawab. Melalui fasilitas dan kegiatan itu, museum berperan sebagai pusat pembelajaran sekaligus ruang penguatan kesadaran konservasi masyarakat.
Pengelola Museum Nelayan Pesut di Pela menempatkan konservasi ekosistem perairan sungai sebagai bagian penting dari keberadaan museum. Sungai bukan hanya ruang untuk menangkap ikan, melainkan sumber kehidupan yang menopang masyarakat, keanekaragaman hayati, dan keberlangsungan budaya nelayan. Karena itu, informasi mengenai kualitas air, habitat ikan, penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan, serta dampak pencemaran disampaikan kepada pengunjung melalui koleksi dan kegiatan edukasi. Perhatian khusus juga diberikan kepada pesut Mahakam, mamalia air tawar langka yang menjadi penanda kesehatan ekosistem sungai sekaligus kekayaan alam yang perlu dilindungi bersama.
Alimin menyampaikan bahwa fasilitas edukasi di museum dinilai efektif dalam memengaruhi cara berpikir dan perilaku nelayan tradisional. Penyampaian pengetahuan melalui benda-benda yang dekat dengan kehidupan nelayan membuat pesan konservasi lebih mudah dipahami dan diterapkan. Nelayan diajak mengenali pentingnya menjaga daerah pemijahan, menghindari penangkapan pesut secara tidak sengaja, serta menggunakan metode penangkapan yang tidak merusak habitat. Pendekatan tersebut diharapkan mendorong pengelolaan sumber daya perikanan secara berkelanjutan, sehingga kebutuhan ekonomi masyarakat dapat berjalan seimbang dengan perlindungan lingkungan. Perubahan perilaku juga berperan dalam menjaga ketersediaan ikan bagi generasi berikutnya.
Seiring meningkatnya jumlah koleksi, pengelola merencanakan perluasan bangunan museum. Penambahan ruang diperlukan untuk menyimpan peralatan nelayan, dokumentasi sejarah, informasi mengenai pesut Mahakam, dan materi pembelajaran tentang ekosistem sungai secara lebih layak. Pengembangan ini memperkuat peran museum sebagai pusat edukasi lingkungan yang terbuka bagi warga, pelajar, peneliti, dan wisatawan. Pada saat yang sama, museum berkembang sebagai salah satu daya tarik ekowisata berbasis masyarakat di Desa Pela. Kunjungan wisatawan dapat memperkenalkan kehidupan nelayan dan keunikan alam setempat, sekaligus membuka peluang ekonomi melalui pemanduan, produk lokal, serta layanan masyarakat tanpa mengabaikan prinsip kelestarian perairan.
Baca juga: Pengawasan Ketat OJK terhadap Praktik Judi Online | Pengungkapan Praktik Live Streaming Pornografi di TikTok dan Tevi | Penangkapan Pengedar Sabu di Kota Serang

