Tito Karnavian Tinjau Tanggul dan Salurkan Bantuan bagi Warga Terdampak Banjir di Pidie Jaya

oleh
oleh
Tito Karnavian Tinjau Tanggul dan Salurkan Bantuan bagi Warga Terdampak Banjir di Pidie Jaya

Kabupaten Pidie Jaya. Peninjauan | Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian mengunjungi Kabupaten Pidie Jaya dalam kapasitasnya sebagai Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi pascabencana Sumatera. Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung kondisi wilayah yang kembali terdampak banjir susulan sekaligus memetakan kebutuhan penanganan di lapangan. Pemeriksaan langsung dinilai penting agar upaya pemulihan dapat disesuaikan dengan kerusakan yang terjadi dan kebutuhan warga, terutama di sekitar aliran sungai serta kawasan pertanian.

Salah satu lokasi yang ditinjau ialah tanggul Sungai Krueng Meureudu di Desa Dayah Usen. Tito bersama rombongan menyusuri kawasan tanggul untuk mengamati situasi dan kondisi struktur pelindung sungai setelah banjir susulan. Dalam peninjauan itu, ia berdialog dengan Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera I, Asyari, guna memperoleh penjelasan mengenai keadaan tanggul serta langkah penanganan yang perlu diperhatikan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengumpulan informasi langsung untuk memahami dampak banjir dan mengidentifikasi kebutuhan rehabilitasi maupun rekonstruksi di Pidie Jaya.

Rombongan juga meninjau tanggul Sungai Alue Keutapang dan lahan sawah di Desa Beuringen. Sawah yang sebelumnya digunakan untuk bercocok tanam dilaporkan mengalami kerusakan berat akibat banjir, sehingga kini ditanami jagung. Kondisi tersebut memperlihatkan dampak bencana terhadap lahan pertanian dan perubahan pemanfaatannya setelah kerusakan. Dengan melihat lokasi tanggul dan area persawahan secara langsung, Tito dapat memperoleh gambaran lebih menyeluruh mengenai kerusakan infrastruktur serta pengaruhnya terhadap kegiatan warga. Hasil pengamatan dan dialog di lapangan menjadi masukan untuk menentukan bentuk penanganan yang dibutuhkan setelah banjir susulan, termasuk perhatian terhadap perlindungan kawasan sungai dan pemulihan lahan terdampak. Peninjauan ini juga membantu menghubungkan kondisi fisik di lokasi dengan prioritas rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di kabupaten tersebut.

Tito Karnavian menyebut banjir susulan sebagai salah satu kendala utama dalam mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Sumatera. Upaya pemulihan yang sedang berjalan dapat kembali terganggu ketika hujan deras memicu kenaikan air dan genangan di wilayah terdampak. Kondisi ini membuat pekerjaan yang telah dilakukan tidak selalu bertahan, sehingga pemerintah dan warga perlu menghadapi dampak yang muncul berulang kali. Tito menyampaikan keterangan tersebut saat berbicara di Desa Alue Keutapang, Kabupaten Pidie Jaya, pada Selasa, 3 November 2026. Dalam kunjungan itu, ia meninjau kondisi tanggul dan menyalurkan bantuan bagi warga terdampak banjir. Ia menjelaskan bahwa proses pemulihan harus mempertimbangkan risiko banjir kembali, bukan hanya kebutuhan memperbaiki kerusakan yang sudah tercatat.

Salah satu dampak yang disebutkan Tito adalah kerusakan kembali pada infrastruktur yang sebelumnya telah diperbaiki. Jembatan dan jalan yang sempat ditangani dapat kembali terdampak ketika banjir susulan terjadi. Akibatnya, pekerjaan rehabilitasi yang sudah dilakukan perlu ditinjau lagi, sementara akses masyarakat berpotensi terganggu. Permukiman yang sebelumnya telah dibersihkan dari sisa bencana juga dapat kembali tertutup lumpur. Situasi tersebut menambah beban warga serta membuat proses pembersihan harus dilakukan berulang. Tito menekankan bahwa kondisi semacam ini menjadi tantangan dalam mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Sumatera. Penanganan tidak hanya berkaitan dengan membangun kembali fasilitas yang rusak, tetapi juga menghadapi kemungkinan kerusakan berulang selama cuaca masih mendukung terjadinya banjir.

Tito turut menyoroti curah hujan yang masih tinggi di sejumlah kawasan Sumatera. Menurut keterangannya, hujan dengan intensitas tinggi masih terjadi di Aceh, wilayah barat dan timur Sumatera Utara, serta Sumatera Barat. Ia menyatakan kondisi tersebut bahkan dijumpai ketika wilayah-wilayah itu seharusnya memasuki musim kemarau. Curah hujan yang tetap tinggi dapat meningkatkan risiko banjir susulan dan memperpanjang masa pemulihan bagi masyarakat terdampak. Dengan demikian, pekerjaan perbaikan jalan, jembatan, tanggul, maupun pembersihan permukiman perlu berlangsung di tengah ancaman cuaca yang belum mereda. Pernyataan Tito di Alue Keutapang menggambarkan bahwa rehabilitasi dan rekonstruksi memerlukan waktu serta penyesuaian terhadap kondisi lapangan, sebab kerusakan baru dapat muncul sebelum pemulihan sebelumnya benar-benar tuntas.

Hasil peninjauan Tito Karnavian di Pidie Jaya menunjukkan bahwa pembangunan tanggul diperlukan untuk mengurangi risiko banjir kembali mengancam permukiman yang berada di sekitar sungai. Tanggul dapat menjadi bagian dari perlindungan kawasan, terutama ketika debit air meningkat dan sungai meluap. Karena itu, kebutuhan infrastruktur tersebut perlu diperhatikan dalam upaya penanganan pascabencana, dengan mempertimbangkan kondisi aliran sungai dan lingkungan di sekitarnya. Langkah ini diharapkan membantu melindungi warga serta mendukung pemulihan wilayah terdampak. Peninjauan lapangan juga menjadi dasar untuk mengenali kebutuhan penanganan yang perlu ditindaklanjuti secara terarah.

Selain pembangunan tanggul, pengerukan sungai dibutuhkan untuk menangani sedimentasi yang muncul setelah bencana Sumatera pada November 2025. Material yang mengendap dapat mengurangi kapasitas aliran sungai, sehingga penanganan sedimentasi menjadi perhatian dalam mengurangi ancaman banjir di kawasan permukiman. Data Satgas mencatat sedimentasi terjadi pada 137 sungai yang tersebar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Panjang sungai yang terdampak beragam, sehingga kebutuhan pengerukan tidak sama di setiap lokasi. Pendataan dan penilaian kondisi sungai diperlukan agar pekerjaan dapat disesuaikan dengan tingkat sedimentasi serta kebutuhan masing-masing daerah.

Tito menjelaskan bahwa pengerukan tidak harus hanya mengandalkan Kementerian Pekerjaan Umum dan TNI. Pemerintah juga dapat membuka ruang kerja sama dengan pihak ketiga untuk membantu pelaksanaan pekerjaan tersebut. Skema kemitraan itu dapat dirancang dengan mekanisme yang saling menguntungkan, sembari memperhatikan ketentuan dan kebutuhan penanganan di lapangan. Pendekatan tersebut memberi pilihan tambahan untuk mempercepat penanganan sungai yang mengalami pendangkalan, tanpa mengabaikan koordinasi antarpihak. Dengan kombinasi pembangunan tanggul, pengerukan, dan kerja sama yang terukur, upaya mengurangi risiko banjir dapat diarahkan pada kebutuhan nyata warga. Pelaksanaan selanjutnya perlu bertumpu pada data kondisi sungai dan prioritas wilayah terdampak.

Tito Karnavian menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya menangani dampak bencana banjir di Pidie Jaya, termasuk kondisi yang muncul akibat banjir susulan. Penanganan tidak hanya diarahkan pada kebutuhan mendesak warga terdampak, tetapi juga pada pencarian solusi agar kejadian serupa tidak terus berulang. Upaya tersebut memerlukan koordinasi lintas pemerintah dan dukungan sarana yang memadai, terutama untuk mempercepat penanganan genangan serta membantu masyarakat kembali menjalani aktivitas sehari-hari. Pemerintah juga terus memantau kondisi lapangan agar bantuan dapat disalurkan sesuai kebutuhan dan perkembangan situasi.

Dalam kunjungan itu, Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) menyerahkan satu kendaraan water supply multifungsi. Kendaraan tersebut diharapkan dapat mendukung kebutuhan pelayanan air bagi warga dalam situasi darurat. Selain itu, sembilan unit pompa air disalurkan untuk Kabupaten Bireuen, Pidie Jaya, dan Aceh Utara guna membantu mengurangi genangan. Bantuan tunai masing-masing sebesar Rp200 juta juga diberikan kepada Desa Dayah Usen dan Desa Alue Keutapang. Dukungan tersebut ditujukan untuk membantu penanganan kebutuhan warga dan pemulihan di tingkat desa. Kementerian Sosial turut memberikan paket sembako serta logistik darurat bagi masyarakat yang terdampak banjir. Beragam bantuan ini melengkapi langkah penanganan di lapangan, sekaligus membantu pemerintah daerah memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat selama situasi bencana belum sepenuhnya pulih.

Bupati Pidie Jaya, Sibral Malasyi, menyampaikan terima kasih atas kunjungan Tito dan perhatian pemerintah terhadap kondisi warganya. Menurutnya, kehadiran tersebut menjadi wujud nyata kehadiran negara di tengah masyarakat yang menghadapi bencana. Ia juga membenarkan bahwa banjir susulan berdampak pada sejumlah permukiman, terutama kawasan yang berada dekat sungai.

Baca juga: Kepedulian Tak Pernah Surut, Lanud Sjamsudin Noor Kembali Salurkan Air Bersih bagi Warga | Wakapolsek Cikupa AKP Susanto Dampingi Jajaran Polresta Tangerang Salurkan Bantuan Air Bersih | Bantuan Air Bersih PHE OSES Menjangkau Warga Pulau Kelapa di Tengah Kekeringan

433 kunjungan