Kota Solo | Kapolresta Surakarta AKBP Condro Sasongko, yang akrab disapa Mbah Con, menghabiskan waktu bersama sekelompok anak sekolah dasar di Kota Solo pada Rabu, 21 Oktober. Pertemuan itu berlangsung dalam suasana santai dan terasa dekat sejak awal. Mbah Con tidak berdiri untuk memberi arahan dari kejauhan, melainkan duduk sejajar dengan anak-anak. Posisi tersebut membuat mereka dapat berbincang dengan nyaman, tanpa kesan bahwa ada jarak seorang pejabat kepolisian dan anak-anak yang ditemuinya.
Obrolan berjalan ringan, diselingi canda yang membuat suasana semakin hidup. Sesekali, Mbah Con melontarkan gurauan dan anak-anak pun tertawa menanggapinya. Percakapan berlangsung tanpa suasana resmi atau kaku; perhatian tertuju pada interaksi yang sederhana dan akrab. Anak-anak tampak leluasa mengikuti obrolan, sementara Mbah Con menyimak dan merespons mereka dengan santai. Momen seperti ini memberi kesempatan kepada anak-anak untuk berbicara secara langsung, bukan hanya mendengarkan pesan dari orang dewasa.
Kedekatan itu terlihat dari cara Mbah Con menempatkan diri di tengah kelompok, menyapa anak-anak dengan ramah, dan membangun komunikasi melalui percakapan sehari-hari. Tidak ada jarak yang mencolok ataupun suasana yang membuat pertemuan terasa seperti acara seremonial. Canda menjadi penghubung, mencairkan suasana, serta membantu anak-anak merasa nyaman berada di dekatnya. Dari luar, pertemuan tersebut tampak sederhana, tetapi menunjukkan bahwa komunikasi dengan anak-anak dapat dibangun melalui sikap terbuka dan perhatian yang tulus.
Suasana akrab di Solo itu menjadi inti perjumpaan Mbah Con dengan para siswa. Duduk sejajar, berbincang santai, dan tertawa bersama membuat pertemuan terasa lebih setara. Anak-anak dapat menikmati momen tersebut tanpa tekanan, sementara kehadiran Mbah Con terasa mudah didekati. Interaksi yang hangat ini memperlihatkan pendekatan yang tidak mengandalkan jarak maupun suasana formal untuk menjalin kedekatan. Di tengah canda, percakapan sederhana mereka menghadirkan momen kebersamaan yang berkesan bagi anak-anak yang hadir.
Di tengah canda dan obrolan santai, Mbah Con menyampaikan pesan yang lebih dalam daripada sekadar percakapan ringan. Ia menyisipkan edukasi melalui bahasa sederhana, sehingga nilai-nilai yang dibicarakan dapat dipahami anak-anak tanpa penjelasan yang rumit. Cara bertutur yang akrab membuat nasihat hadir sebagai bagian alami dari obrolan, bukan sebagai ceramah panjang yang terasa jauh dari keseharian. Suasana ringan itu menjadi jembatan untuk menyampaikan hal-hal penting tentang sikap dan kebiasaan baik.
Salah satu pesan yang disampaikan adalah ajakan untuk rajin belajar. Belajar dipandang sebagai kebiasaan yang perlu dijaga, bukan hanya kegiatan yang dilakukan ketika ada kewajiban tertentu. Dengan ungkapan yang mudah dicerna, Mbah Con mengingatkan pentingnya kesungguhan dalam menuntut ilmu dan memperhatikan pelajaran. Pesan tersebut menempatkan usaha belajar sebagai bekal untuk tumbuh dan menjalani kehidupan. Penyampaiannya yang sederhana membantu gagasan itu terasa jelas, tanpa perlu istilah khusus atau uraian yang berbelit-belit.
Mbah Con juga menekankan pentingnya menghormati orang tua dan guru, serta hidup rukun dengan teman. Ketiga pesan itu berkaitan dengan cara anak-anak membangun hubungan baik di rumah, dalam proses belajar, dan di lingkungan pertemanan. Menghormati orang tua dan guru menunjukkan sikap menghargai orang yang mendampingi serta membimbing, sementara kerukunan dengan teman mengajak untuk menjaga hubungan dengan sesama. Melalui canda dan obrolan yang santai, nilai-nilai tersebut disampaikan dengan nada yang ringan, tetapi tetap bermakna. Pendekatan ini membuat nasihat lebih mudah diterima karena disampaikan secara sederhana dan dekat dengan percakapan sehari-hari, tanpa mengurangi inti pesan tentang belajar, hormat, dan kerukunan.
AKBP Condro memandang anak-anak sebagai generasi penerus yang kelak akan membawa harapan bagi masa depan. Karena itu, tumbuh kembang mereka perlu menjadi perhatian bersama. Anak-anak diharapkan dapat tumbuh sehat, memiliki tubuh yang kuat, berkembang menjadi pribadi yang cerdas, serta menjalani masa kanak-kanak dengan bahagia. Harapan tersebut bukan sekadar cita-cita, melainkan pengingat bahwa setiap anak membutuhkan lingkungan yang mendukung agar potensi dan kepercayaan dirinya dapat berkembang dengan baik.
Dalam pandangan AKBP Condro, peran orang tua sangat penting untuk memenuhi kebutuhan anak akan perhatian, kasih sayang, dan bimbingan. Kehadiran orang tua yang mendengarkan, mendampingi, serta memberi arahan dengan penuh kepedulian dapat membantu anak memahami dirinya dan belajar menghadapi berbagai keadaan. Bimbingan yang diberikan secara konsisten juga menjadi bagian dari proses membentuk sikap dan kebiasaan positif. Anak-anak perlu merasa aman dan dihargai, sehingga mereka dapat bertumbuh dengan keyakinan serta memiliki ruang untuk belajar.
AKBP Condro juga menyampaikan bahwa polisi memiliki tugas untuk memberi perhatian, kasih sayang, dan bimbingan kepada anak-anak. Pernyataan ini menegaskan pentingnya kepedulian dalam mendampingi mereka, tanpa menggeser tanggung jawab orang tua maupun memperluas makna pesan yang disampaikan. Perhatian dari orang dewasa, baik di rumah maupun melalui peran kepolisian, diharapkan mendukung anak dalam menjalani masa tumbuh kembangnya. Dengan dukungan dan arahan yang tepat, anak-anak diharapkan kelak menjadi generasi yang membanggakan. Harapan tersebut berangkat dari kepedulian terhadap kebutuhan mereka untuk tumbuh sehat, kuat, cerdas, dan bahagia. Pesan AKBP Condro mengajak orang dewasa untuk memandang pendampingan anak sebagai bagian penting dari usaha menyiapkan masa depan yang lebih baik, dimulai dengan perhatian dan kasih sayang dalam keseharian.
Pertemuan Mbah Con dengan anak-anak Solo berlangsung tanpa suasana resmi seperti yang kerap dibayangkan ketika seseorang berhadapan dengan polisi. Ia memilih memulai dari obrolan ringan dan candaan, bukan dari ceramah panjang atau sikap yang berjarak. Cara ini membuat anak-anak lebih mudah merasa nyaman, berani merespons, dan terlibat dalam percakapan. Bagi Mbah Con, kedekatan tersebut penting agar pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik.
Dengan memasuki dunia anak-anak melalui bahasa yang akrab bagi mereka, Mbah Con berusaha membangun hubungan sebelum menyampaikan nasihat. Candaan bukan berarti mengabaikan pesan atau mengurangi keseriusan tugasnya. Sebaliknya, suasana yang menyenangkan dapat menjadi pintu untuk berbicara tentang sikap, pilihan, dan pentingnya tumbuh menjadi pribadi yang tangguh. Anak-anak pun dapat mendengarkan tanpa merasa sedang diadili atau dipaksa mengikuti suasana yang terlalu formal.
Ia ingin anak-anak merasa senang saat bertemu polisi, bukan cemas atau takut. Dalam pandangannya, rasa takut dapat membuat jarak, sedangkan interaksi yang ramah membuka kesempatan bagi anak untuk bertanya dan mengenal sosok polisi secara lebih dekat. Polisi tidak semestinya hanya hadir dalam bayangan sebagai penegak aturan yang harus dijauhi. Anak-anak juga perlu melihat polisi sebagai sahabat yang siap mendampingi, memberi arahan, dan membantu ketika diperlukan.
Pendekatan tersebut mencerminkan keyakinan bahwa komunikasi dengan anak perlu disesuaikan dengan usia dan pengalaman mereka. Nasihat akan lebih bermakna ketika disampaikan dengan empati, kesabaran, dan perhatian, tanpa menghilangkan batas maupun tanggung jawab. Melalui canda, Mbah Con membangun suasana akrab; melalui obrolan, ia memberi ruang bagi anak-anak untuk merasa didengar. Perjumpaan sederhana pun dapat menjadi kesempatan untuk menanamkan keberanian, rasa percaya, dan pemahaman bahwa mereka memiliki tempat untuk mencari bantuan.
Momen ini sekaligus memperlihatkan sisi humanis Condro, yang dikenal dekat dengan warga Solo, baik saat berada di lapangan maupun ketika berinteraksi melalui media sosial. Kedekatan itu bukan sekadar soal tampil ramah, melainkan upaya menunjukkan bahwa kehadiran polisi ditujukan bagi semua kalangan.
Baca juga: Penyelidikan Kematian Perempuan di Serang: Dari Bunuh Diri Menjadi Kasus Pembunuhan | Kapal Induk Giuseppe Garibaldi Berganti Nama Menjadi KRI Sriwijaya
5 kunjungan