Kabupaten Bekasi | Warga Kampung Cibogo, Kelurahan Sindangmulya, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, menghadapi kesulitan memperoleh air bersih setelah sumber air di permukiman mengering. Pada 2 November 2026, seorang anak terlihat mengisi air dari saluran PDAM di kampung tersebut. Kondisi itu menunjukkan bahwa pasokan dari sumber setempat tidak lagi mencukupi kebutuhan warga, sehingga air yang tersedia melalui jaringan PDAM menjadi salah satu sumber yang dapat dimanfaatkan. Ketika sumur dan sumber air lingkungan mengering, warga harus mencari pasokan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Situasi di Cibogo berlangsung di tengah kekeringan yang meluas di sejumlah wilayah Kabupaten Bekasi.
Krisis air bersih tersebut tidak hanya menjadi persoalan satu permukiman. Kekeringan meluas di Kabupaten Bekasi, sementara sumur maupun sumber air setempat di sejumlah lokasi tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan warga. Akibatnya, keluarga terdampak harus mencari pasokan air di luar sumber yang biasanya mereka gunakan. Bagi warga Cibogo, pengambilan air dari saluran PDAM menggambarkan upaya memperoleh air ketika sumber di lingkungan mereka mengering. Peristiwa ini menegaskan pentingnya ketersediaan pasokan yang dapat dijangkau masyarakat saat kekeringan membatasi sumber air yang tersedia di permukiman.
Kesulitan memperoleh air bersih menjadi tantangan bagi keluarga yang sumber airnya bergantung pada sumur atau sumber lokal. Saat pasokan tersebut berkurang atau mengering, warga perlu mencari air dari sumber lain agar kebutuhan mereka tetap dapat dipenuhi. Gambaran seorang anak mengisi air dari saluran PDAM di Kampung Cibogo pada 2 November 2026 menjadi potret kondisi yang dihadapi warga di tengah kekeringan. Dengan meluasnya dampak kekeringan di Kabupaten Bekasi, kebutuhan terhadap pasokan air bersih semakin mendesak bagi keluarga yang sumber setempatnya tak lagi mencukupi. Warga pun harus mengandalkan akses pasokan yang masih tersedia, termasuk air dari saluran PDAM, ketika sumber air di sekitar permukiman mengering.
Keterangan warga menggambarkan kekeringan yang meluas di Kabupaten Bekasi. Wilayah terdampak disebut tersebar di 45 desa yang berada dalam 12 kecamatan. Cakupan tersebut menunjukkan bahwa persoalan air bersih tidak hanya dirasakan di satu desa atau satu kawasan tertentu, melainkan muncul di berbagai bagian kabupaten. Dalam gambaran yang disampaikan, jumlah desa terdampak itu setara dengan hampir setengah dari keseluruhan wilayah Kabupaten Bekasi.
Angka mengenai desa dan kecamatan tersebut perlu dibaca sebagai keterangan tentang persebaran wilayah, bukan sebagai rincian jumlah keluarga atau titik terdampak. Informasi itu memberikan gambaran geografis mengenai luasnya jangkauan kekeringan, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan tingkat dampak di setiap desa maupun kecamatan. Karena itu, cakupan wilayah dan jumlah warga terdampak merupakan dua jenis informasi yang berbeda dan sebaiknya tidak disamakan.
Secara terpisah, data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi yang dihimpun hingga 20 Oktober 2026 mencatat 22.381 kepala keluarga terdampak. Data BPBD tersebut tersebar di 205 titik. Angka ini menyajikan jumlah keluarga dan titik dalam pendataan, sedangkan keterangan mengenai 45 desa dan 12 kecamatan menunjukkan sebaran administratif yang disebut warga. Keduanya memberi sudut pandang berbeda tentang skala keadaan di lapangan.
Pemisahan informasi tersebut penting agar pembaca memperoleh gambaran yang cermat. Jumlah 22.381 kepala keluarga tidak perlu ditafsirkan sebagai angka yang secara langsung menjelaskan jumlah keluarga di setiap desa, sementara 205 titik tidak otomatis dapat disamakan dengan desa atau kecamatan. Demikian pula, keterangan mengenai hampir setengah wilayah kabupaten merujuk pada cakupan desa yang disebut terdampak, bukan pada perbandingan jumlah kepala keluarga. Data yang tersedia mencatat keadaan hingga tanggal pendataan, sehingga uraian ini menggambarkan cakupan yang dilaporkan pada saat itu. Tanpa rincian tambahan, tidak tepat menyimpulkan adanya perubahan angka ataupun hubungan langsung masing-masing kategori tersebut.
Cibarusah disebut sebagai wilayah yang mengalami dampak kekeringan paling berat di Kabupaten Bekasi. Berdasarkan keterangan yang dirujuk, terdapat 60 titik kekeringan yang tersebar di seluruh desa di kecamatan tersebut. Desa-desa yang terdampak meliputi Ridomanah, Ridhogalih, Cibarusah Kota, Cibarusah Jaya, Sindangmulya, Wibawamulya, dan Sirnajati. Sebaran ini menunjukkan bahwa kesulitan memperoleh air bersih bukan hanya terjadi di satu lingkungan, melainkan menjangkau berbagai bagian Cibarusah.
Kondisi geografis turut menjadi salah satu faktor yang disebut dalam penjelasan mengenai persoalan tersebut. Cibarusah berada di dataran yang lebih tinggi dibandingkan kecamatan lain di Kabupaten Bekasi. Wilayah ini juga kerap menghadapi kesulitan air setiap musim kemarau. Ketika curah hujan berkurang dan sumber air menyusut, warga harus berhadapan dengan keterbatasan pasokan untuk kebutuhan sehari-hari. Situasi itu dapat berulang dari tahun ke tahun, sehingga kekeringan menjadi masalah yang perlu diantisipasi, bukan sekadar gangguan sesaat.
Upaya mengandalkan sumur bor pun tidak selalu menyelesaikan persoalan. Sumber menyebut sumur bor milik warga dapat mencapai kedalaman puluhan meter, tetapi kedalaman tersebut tidak menjamin tersedianya air bersih. Artinya, keberadaan sarana pengambilan air belum tentu cukup ketika kondisi sumber bawah tanah tidak mendukung. Warga tetap berisiko mengalami kekurangan pasokan, terutama saat musim kemarau berlangsung dan kebutuhan air meningkat.
Selain desa-desa di Cibarusah, Medalkrisna dilaporkan mengalami 17 titik kekeringan. Sumber juga mencantumkan angka 44 titik untuk seluruh desa di wilayah yang disebut sebagai kecamatan paling selatan. Namun, nama kecamatan yang dimaksud tidak dijelaskan secara jelas. Karena itu, angka tersebut perlu disampaikan sesuai batas informasi yang tersedia, tanpa mengaitkannya dengan nama wilayah tertentu. Keterangan ini memperlihatkan adanya titik terdampak di luar Cibarusah, meski rincian wilayah untuk angka 44 tersebut masih belum dapat dipastikan dari informasi yang disebutkan.
Persebaran kekeringan juga tercatat di Kecamatan Serangbaru. Berdasarkan keterangan sumber, kondisi tersebut ditemukan pada 42 titik yang tersebar di seluruh desa di kecamatan itu. Jumlah titik yang tercatat menunjukkan bahwa dampak kekeringan tidak hanya berada di satu desa, tetapi menjangkau berbagai wilayah desa di Serangbaru.
Dari sebaran tersebut, Desa Jayamulya menjadi wilayah dengan jumlah titik terdampak paling banyak. Kekeringan di desa ini tercatat pada 14 titik, atau sepertiga dari keseluruhan 42 titik yang dilaporkan di Serangbaru. Angka itu menempatkan Jayamulya sebagai lokasi dengan dampak terparah di kecamatan tersebut berdasarkan jumlah titik yang disebutkan dalam keterangan.
Di luar Jayamulya, titik-titik kekeringan lainnya tersebar di desa-desa lain di Serangbaru. Informasi yang tersedia menyebut cakupan seluruh desa dan jumlah keseluruhan titik, tetapi tidak merinci nama desa lain maupun jumlah titik di masing-masing lokasi. Karena itu, gambaran sebaran dapat dinyatakan pada tingkat kecamatan dan desa yang disebut secara khusus, tanpa menambahkan rincian lokasi yang tidak tercantum.
Keterangan mengenai kondisi di Serangbaru disampaikan bersamaan dengan perkiraan bahwa puncak musim kemarau masih berlangsung hingga periode September–November. Perkiraan tersebut merujuk pada rentang waktu yang disebut sumber, bukan kepastian mengenai tanggal berakhirnya kemarau. Tidak ada tahun yang dinyatakan dalam keterangan itu, sehingga rentang September–November disampaikan tanpa mencantumkan tahun tertentu.
Dengan demikian, data yang disebut mencakup 42 titik kekeringan di seluruh desa Serangbaru, dengan jumlah terbanyak di Jayamulya, yakni 14 titik. Sementara itu, puncak kemarau diperkirakan masih berlangsung dalam periode September–November. Kedua informasi tersebut menggambarkan sebaran titik yang tercatat dan rentang musim yang diperkirakan, tanpa memberikan rincian tambahan mengenai titik lainnya atau perkembangan setelah periode tersebut.
Baca juga: Buru Strike di Laut Tidore,Puluhan Pemancing Ramaikan HUT TNI ke-81 | Krisis Air Bersih Akibat El Nino di Tigaraksa | Menghadapi Krisis Air Bersih di Jawa Timur: Seruan Sang Guru
41 kunjungan