BEI Pasang Sasaran Pasar Rp30.000 Triliun pada 2030, Ini Jarak yang Harus Dikejar

oleh -48 Dilihat
oleh
BEI Pasang Sasaran Pasar Rp30.000 Triliun pada 2030, Ini Jarak yang Harus Dikejar

Jakarta | Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan ambisi jangka panjang untuk membawa pasar modal Indonesia masuk dalam jajaran 10 bursa terbesar di dunia. Pencapaian tersebut akan dinilai melalui dua ukuran utama, yakni kapitalisasi pasar dan nilai transaksi. Sasaran ini menunjukkan bahwa pengembangan bursa tidak hanya bertumpu pada peningkatan jumlah perusahaan tercatat, tetapi juga pada besarnya nilai perusahaan dan aktivitas perdagangan yang berlangsung di pasar.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan bahwa arah strategis tersebut ditujukan untuk membangun pasar modal yang maju, inklusif, dan berdaya saing global. Dengan visi itu, bursa diharapkan mampu memperluas akses masyarakat dan perusahaan terhadap pendanaan serta investasi, sekaligus memperkuat posisinya dalam persaingan dengan pusat-pusat pasar keuangan lain. Untuk mencapai tujuan tersebut, pertumbuhan pasar perlu ditopang oleh partisipasi investor yang lebih luas, likuiditas yang memadai, serta kepercayaan terhadap infrastruktur dan tata kelola pasar.

Dalam konferensi pers di Jakarta pada Rabu, 28 Oktober 2026, BEI menyampaikan sasaran yang ingin dicapai pada 2030. Bursa menargetkan kapitalisasi pasar mencapai Rp30.000 triliun dan rata-rata nilai transaksi harian sebesar Rp31 triliun. Kedua angka itu menjadi tolok ukur penting untuk menilai skala dan kedalaman pasar modal Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. Kapitalisasi pasar mencerminkan nilai keseluruhan saham perusahaan tercatat, sedangkan rata-rata transaksi harian menggambarkan aktivitas jual beli yang terjadi di bursa.

Target tersebut sekaligus memberi gambaran mengenai besarnya lompatan yang perlu dicapai dari kondisi pasar saat ini. Untuk mendekati sasaran, BEI perlu mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan, memperkuat daya tarik pasar bagi investor domestik maupun asing, dan mendukung semakin banyak perusahaan untuk memperoleh pendanaan melalui pasar modal. Pengembangan produk, peningkatan literasi keuangan, serta kemudahan akses bagi investor juga berperan dalam memperluas basis pasar. Namun, besarnya target tidak dengan sendirinya menjamin peringkat global tertentu. Kemajuan akan bergantung pada konsistensi pelaksanaan strategi dan kemampuan pasar menjaga likuiditas, kualitas emiten, serta perlindungan investor seiring pertumbuhannya.

Target kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) sebesar Rp30.000 triliun pada 2030 masih menuntut kenaikan yang besar dari posisi terkini. Dengan nilai pasar tercatat Rp9.092 triliun, selisih menuju sasaran tersebut mencapai sekitar Rp20.908 triliun. Artinya, kapitalisasi pasar perlu bertambah lebih dari dua kali lipat dari tingkat saat ini agar target jangka panjang itu tercapai. Besarnya jarak ini menunjukkan bahwa pencapaian sasaran tidak hanya bergantung pada pergerakan harga saham dalam waktu singkat, tetapi juga pada pertumbuhan pasar secara berkelanjutan.

Perjalanan nilai kapitalisasi pasar dalam beberapa waktu terakhir juga memperlihatkan adanya fluktuasi. Pasar pernah mencatat rekor Rp16.640 triliun pada 19 Januari 2026, tetapi kemudian mengalami perubahan dan berada di bawah capaian awal tahun tersebut. Dibandingkan rekor itu, angka Rp9.092 triliun menunjukkan penurunan yang cukup tajam. Perbedaan rekor dan posisi terkini menjadi konteks penting dalam menilai target 2030: pasar perlu memulihkan nilai yang hilang sekaligus membangun pertumbuhan tambahan untuk mendekati Rp30.000 triliun. Pergerakan pasar dapat berubah, sehingga satu angka pada titik waktu tertentu belum menggambarkan keseluruhan arah jangka panjang.

Jarak terhadap sasaran juga terlihat pada aktivitas perdagangan. Berdasarkan data perdagangan Selasa, 27 Oktober 2026, rata-rata nilai transaksi harian tercatat Rp20,46 triliun, sedangkan sasaran yang ditetapkan sebesar Rp31 triliun. Dengan demikian, masih terdapat selisih sekitar Rp10,54 triliun per hari untuk mencapai sasaran transaksi tersebut. Sebagai konteks daya saing, per Juni 2026 pasar modal Indonesia berada di peringkat ke-18 dunia berdasarkan rata-rata nilai transaksi harian dan peringkat ke-20 berdasarkan kapitalisasi pasar global. Posisi tersebut memberi gambaran mengenai skala pasar Indonesia dibandingkan bursa global, sekaligus menegaskan ruang yang masih tersedia untuk memperluas aktivitas dan meningkatkan nilai pasar. Capaian target akan memerlukan kemajuan pada kedua ukuran itu, bukan hanya kenaikan kapitalisasi pasar.

BEI menetapkan sasaran tambahan untuk memperluas pasar modal Indonesia hingga 2030, yakni mencapai 1.100 perusahaan tercatat dan 35 juta investor pasar modal. Kedua target tersebut menggambarkan dua sisi pengembangan yang berbeda: penambahan pilihan instrumen melalui perusahaan yang melantai di bursa, serta perluasan partisipasi masyarakat sebagai investor. Pencapaiannya membutuhkan upaya berkelanjutan dari bursa, calon emiten, pelaku pasar, dan berbagai pihak terkait.

Untuk perusahaan tercatat, statistik BEI menunjukkan jumlah saat ini sebanyak 963 perusahaan. Dibandingkan dengan sasaran 1.100 perusahaan pada 2030, terdapat selisih 137 perusahaan yang perlu dikejar. Angka tersebut merupakan jarak kondisi yang tercatat dalam statistik dan target yang dinyatakan, bukan perkiraan mengenai jumlah perusahaan yang akan melakukan pencatatan pada setiap tahun. Perkembangan menuju sasaran itu akan bergantung pada kesiapan perusahaan dan minat untuk menghimpun dana melalui pasar modal.

Komposisi yang tercantum dalam bahan statistik meliputi 271 perusahaan di Papan Utama, 500 di Papan Pengembangan, dan 41 di Papan Akselerasi. Rincian ini menunjukkan perusahaan berada pada papan pencatatan yang berbeda. Namun, jumlah pada tiga papan tersebut tidak mencakup keseluruhan angka 963 perusahaan tercatat. Karena itu, rincian yang tersedia perlu dibaca sesuai angka yang disebutkan, tanpa menganggapnya sebagai komposisi lengkap atau menyimpulkan kategori bagi perusahaan lainnya.

Di sisi investor, sasaran BEI adalah 35 juta orang pada 2030. Angka ini menjadi tolok ukur untuk memperluas basis investor, tetapi bahan yang tersedia tidak mencantumkan jumlah investor saat ini. Dengan demikian, jarak yang harus ditempuh menuju target investor tidak dapat dihitung dari data tersebut. Kedua sasaran ini memberikan gambaran skala ambisi BEI: pasar diharapkan memiliki lebih banyak perusahaan tercatat sekaligus menjangkau masyarakat yang lebih luas. Pemantauan berkala terhadap perkembangan perusahaan dan investor akan membantu publik melihat kemajuan menuju 2030 secara terukur, dengan membedakan target, statistik terkini, dan rincian yang memang tersedia.

Untuk memperkuat pertumbuhan dan daya saing pasar modal, BEI menyusun strategy house yang menjadi kerangka bagi arah pengembangan bisnisnya. Kerangka tersebut terdiri atas empat pilar bisnis yang didukung lima enabler. Susunan ini menempatkan strategi, kegiatan utama, dan faktor pendukung dalam satu landasan, sehingga berbagai upaya pengembangan pasar dapat direncanakan secara terarah. Dengan pendekatan tersebut, BEI menghubungkan sasaran jangka panjang dengan inisiatif yang dapat dijalankan untuk memperkuat pasar modal. Empat pilar dan lima enabler itu menjadi pijakan dalam merancang program, bukan sekadar daftar kegiatan yang berdiri sendiri.

Jeffrey menyebut tiga kelompok inisiatif flagship yang menjadi bagian dari agenda tersebut. Kelompok pertama berfokus pada penguatan likuiditas dan akses pasar, termasuk upaya agar aktivitas perdagangan dan partisipasi dapat berkembang. Kelompok kedua diarahkan pada perluasan fundraising dan pembentukan modal, dengan tujuan membuka ruang pendanaan yang lebih luas bagi perusahaan. Kelompok ketiga mencakup pengembangan produk dan infrastruktur baru. Ketiga kelompok ini mewakili bidang-bidang yang dinilai penting untuk membangun pasar yang lebih dalam, memperluas pilihan pendanaan, serta mendukung kebutuhan pelaku pasar melalui produk dan layanan yang relevan. Inisiatif tersebut ditempatkan dalam kerangka strategi BEI yang lebih luas.

Tujuan yang dinyatakan untuk inisiatif flagship itu meliputi pendalaman pasar dan peningkatan likuiditas, perluasan sumber pendanaan bagi perusahaan, serta penyediaan produk dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan pelaku pasar.