BMKG Ajak Padukan Warige Sasak dengan Prakiraan Iklim untuk Menentukan Masa Tanam

oleh -839 Dilihat
oleh
BMKG Ajak Padukan Warige Sasak dengan Prakiraan Iklim untuk Menentukan Masa Tanam

Mataram | BMKG mendorong masyarakat memadukan kalender Warige Sasak dengan informasi cuaca dan iklim yang disusun berdasarkan sains serta teknologi. Perpaduan ini diharapkan membantu meningkatkan ketepatan dalam menentukan pola dan masa tanam, sehingga keputusan pertanian dapat mempertimbangkan pengetahuan yang telah hidup di masyarakat sekaligus kondisi iklim yang terukur. Dorongan tersebut disampaikan Kepala Stasiun Klimatologi NTB, Nuga Putrantijo, dalam konsultasi publik Stasiun Klimatologi NTB yang digelar secara daring dan dipantau di Mataram pada Rabu. Ajakan ini menempatkan pengetahuan lokal dan prakiraan iklim bukan sebagai dua pilihan yang saling meniadakan, melainkan sebagai sumber pertimbangan yang dapat digunakan bersama.

Warige Sasak merupakan bagian dari pengetahuan lokal yang digunakan sebagai panduan dalam membaca waktu, termasuk untuk kegiatan pertanian. Pengalaman masyarakat dan pemahaman terhadap tanda-tanda alam dapat memberi konteks yang dekat dengan kondisi setempat. Namun, keadaan cuaca dan iklim dapat berubah, sehingga kalender tradisional perlu dibaca berdampingan dengan informasi terbaru. Prakiraan berbasis pengamatan dan analisis ilmiah dapat memberi gambaran mengenai kemungkinan kondisi yang akan dihadapi. Dengan demikian, petani memiliki lebih dari satu dasar untuk menilai waktu tanam, tanpa mengabaikan nilai budaya maupun pengalaman yang diwariskan antargenerasi.

Pendekatan gabungan tersebut dapat membantu proses pengambilan keputusan menjadi lebih cermat. Informasi iklim dapat menjadi bahan pembanding bagi penanda waktu dalam Warige, sementara pengetahuan lokal membantu menempatkan prakiraan dalam konteks kebutuhan dan kebiasaan masyarakat. Pemanfaatannya tetap memerlukan pemahaman terhadap isi informasi, wilayah yang dicakup, serta rentang waktu prakiraan. Karena itu, penyampaian informasi yang mudah dipahami dan dialog dengan masyarakat menjadi bagian penting agar sumber pengetahuan tersebut dapat digunakan secara tepat. Dorongan BMKG menegaskan pentingnya keterhubungan kearifan lokal dan perkembangan ilmu pengetahuan untuk mendukung penentuan pola tanam yang lebih sesuai dengan kondisi iklim.

Warige merupakan sistem penanggalan tradisional sekaligus pengetahuan perbintangan kuno yang berkembang di tengah masyarakat Sasak di Pulau Lombok. Pengetahuan ini diwariskan lintas generasi dan membantu warga memahami perubahan waktu serta keadaan alam di sekitar mereka. Dalam penggunaannya, Warige tidak hanya berfungsi sebagai kalender untuk menandai hari atau periode tertentu, tetapi juga menjadi rujukan dalam membaca kemungkinan datangnya musim. Karena itu, sistem ini memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat yang bergantung pada pertanian dan kondisi lingkungan setempat.

Penentuan waktu dalam Warige mengandalkan pengamatan terhadap rasi bintang, benda-benda langit, dan tanda-tanda alam. Perubahan yang terlihat di langit maupun gejala di lingkungan sekitar ditafsirkan sebagai petunjuk mengenai musim dan cuaca. Bagi petani, pengetahuan tersebut dapat digunakan sebagai pedoman untuk memperkirakan kapan waktu yang sesuai untuk mulai menanam. Pengamatan yang dilakukan secara turun-temurun membentuk pemahaman lokal tentang pola alam, sehingga Warige tetap memiliki nilai budaya dan praktis bagi masyarakat Sasak. Pemanfaatannya juga menunjukkan bagaimana warga menghubungkan pengalaman sehari-hari dengan pengamatan langit dan lingkungan.

Menurut Nuga, Warige masih relevan ketika kondisi iklim berada dalam keadaan normal, karena petunjuk tradisionalnya dapat selaras dengan pola musim yang lazim. Namun, kecocokannya dapat menurun ketika iklim dipengaruhi fenomena ekstrem, seperti El Niño dan La Niña, yang mampu mengubah pola hujan serta waktu datangnya musim. Kajian yang disebut Nuga menunjukkan bahwa hanya sekitar 30 hingga 35 persen petunjuk Warige yang cocok untuk kondisi iklim ekstrem. Angka tersebut bukan berarti Warige tidak lagi berguna atau harus ditinggalkan, melainkan menunjukkan adanya keterbatasan saat pola iklim menyimpang dari keadaan normal. Dengan memahami konteks dan batas penggunaannya, pengetahuan Warige tetap dapat dihargai sebagai pedoman lokal, sambil memperhatikan perubahan kondisi iklim yang terjadi pada suatu musim.

BMKG menegaskan bahwa upaya memperkenalkan informasi prakiraan cuaca dan iklim bukan dimaksudkan untuk mengesampingkan Warige Sasak. Tradisi tersebut merupakan bagian dari pengetahuan lokal yang telah digunakan masyarakat dalam menentukan waktu dan kegiatan pertanian. Menurut Nuga, kearifan lokal tetap memiliki arti penting dalam pengambilan keputusan, terutama karena setiap wilayah memiliki kondisi geografis dan topografi yang berbeda. Perbedaan itu dapat memengaruhi karakter iklim setempat sekaligus membentuk pola pertanian tradisional yang berkembang dari pengalaman masyarakat.

Karena itu, pendekatan yang didorong BMKG adalah membuka ruang diskusi dan kolaborasi dengan pihak-pihak yang menggunakan Warige. Dialog tersebut dapat membantu para pihak memahami dasar, cakupan, dan cara penerapan pengetahuan tradisional, sekaligus membandingkannya dengan informasi cuaca dan iklim yang dihasilkan melalui sains serta teknologi. Penyelarasan bukan berarti mengganti satu acuan dengan acuan lain secara sepihak. Sebaliknya, proses ini memberi kesempatan untuk melihat bagaimana pengalaman lokal dan data meteorologi dapat saling melengkapi ketika masyarakat mempertimbangkan masa tanam.

Nuga juga menekankan pentingnya memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai pilihan acuan yang tersedia, sehingga keputusan tidak hanya bertumpu pada Warige. Informasi iklim dapat menjadi tambahan pertimbangan, terutama ketika kondisi cuaca berubah atau ketika pola musim tidak sepenuhnya sesuai dengan pengalaman sebelumnya. Dengan memahami pilihan tersebut, petani dapat menilai informasi yang relevan bagi wilayah dan kebutuhan mereka sendiri. Keputusan akhir tetap perlu mempertimbangkan keadaan setempat, termasuk karakter lahan, lingkungan, dan kebiasaan pertanian yang telah berlangsung. Kolaborasi yang terbuka diharapkan membangun pemahaman bersama: Warige tetap dihargai sebagai warisan pengetahuan, sementara prakiraan berbasis sains dapat digunakan sebagai sumber informasi pendamping. Dengan demikian, masyarakat memiliki ruang untuk memadukan berbagai sumber pengetahuan secara lebih sadar, sesuai konteks, dan bermanfaat dalam merencanakan kegiatan pertanian.

Memadukan Warige dengan prakiraan cuaca dan iklim dapat menjadi bahan pertimbangan praktis bagi petani saat menentukan waktu tanam. Kalender tradisional menyediakan pengetahuan lokal yang diwariskan, sementara informasi BMKG dapat membantu petani memperhatikan kondisi dan kecenderungan iklim. Keduanya dapat dipertimbangkan bersama, bukan ditempatkan sebagai pilihan yang saling meniadakan. Dengan begitu, keputusan masa tanam dapat merujuk pada Warige sekaligus memperhitungkan informasi tentang cuaca dan iklim yang tersedia. Pendekatan ini memberi ruang bagi petani untuk menilai keadaan musim secara lebih menyeluruh sebelum menetapkan waktu untuk mulai menanam.

Prakiraan juga dapat menjadi bahan untuk mengantisipasi perubahan musim. Petani dapat mempertimbangkan informasi tersebut ketika menyesuaikan pemahaman atas penanda waktu dalam kalender Warige dengan kondisi yang diperkirakan. Perpaduan itu tidak berarti bahwa kalender tradisional selalu sama dengan prakiraan, atau bahwa satu sumber informasi dapat memastikan keadaan yang akan terjadi. Sebaliknya, keduanya menjadi rujukan yang dapat dibahas bersama dalam proses pengambilan keputusan. Informasi iklim membantu memberi konteks mengenai kemungkinan perubahan, sedangkan pengetahuan lokal tetap menjadi bagian dari pertimbangan masyarakat. Dengan cara ini, petani memiliki bahan untuk memperhitungkan ketidakpastian musim saat merencanakan kegiatan tanam.

Upaya memanfaatkan Warige sekaligus berkaitan dengan pelestarian pengetahuan tersebut. Di Lombok, Warige masih dijaga oleh tokoh adat, dan musyawarah adat Sangkep Warige menjadi salah satu jalur untuk mempertahankannya. Musyawarah ini juga digunakan untuk menentukan waktu pelaksanaan tradisi menangkap cacing laut nyale, yang nama ilmiahnya Palola viridis. Praktik tersebut menunjukkan bahwa Warige hadir dalam kehidupan adat, bukan hanya sebagai penanda bagi kegiatan pertanian. Karena itu, pembicaraan tentang penggunaannya bersama prakiraan cuaca dan iklim dapat berjalan seiring dengan penghargaan terhadap peran tokoh adat dan forum musyawarah. Pengetahuan tradisional tetap dirawat, sementara informasi BMKG dapat turut dipertimbangkan sesuai kebutuhan masyarakat dalam menentukan masa tanam dan membaca perubahan musim.