Palembang | Seorang ibu berusia 65 tahun berinisial SG menyerahkan putra kandungnya, AG, yang berusia 36 tahun, kepada polisi saat aparat menggerebek kawasan permukiman di Palembang. Peristiwa tersebut berlangsung pada Rabu (28/10/2026), ketika Satresnarkoba Polrestabes Palembang melakukan penindakan terkait dugaan transaksi dan penyalahgunaan narkoba. Penggerebekan itu berlangsung di Lorong Tangga Takat, Kecamatan Seberang Ulu II. Di tengah kegiatan aparat di sekitar rumahnya, SG memilih membawa AG keluar dan menyerahkannya langsung kepada petugas.
Menurut rangkaian peristiwa yang disampaikan, SG melihat polisi menggerebek permukiman di sekitar tempat tinggal mereka. Ia kemudian menuntun AG menuju petugas yang berada di lokasi. Tindakan tersebut membuat AG diserahkan kepada aparat ketika penggerebekan sedang berlangsung. SG tidak menunggu putranya dibawa setelah ditemukan polisi, melainkan mengambil langkah untuk menyerahkannya sendiri. Peristiwa itu menjadi bagian dari penanganan polisi terhadap lokasi yang diduga digunakan untuk kegiatan transaksi maupun penyalahgunaan narkoba.
SG meminta polisi menahan AG. Permintaan itu ia sampaikan dengan harapan putranya mendapat efek jera dan tidak kembali terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. Dengan menyerahkan AG, SG menunjukkan bahwa ia menginginkan penanganan tegas dari aparat terhadap persoalan yang dihadapi keluarganya. Ia berharap proses hukum dan penahanan dapat menjadi peringatan bagi AG, sekaligus mendorongnya berhenti dari kebiasaan yang merugikan. Namun, keputusan mengenai langkah penanganan selanjutnya berada pada pihak kepolisian sesuai pemeriksaan dan proses yang berlaku.
Penyerahan tersebut terjadi dalam konteks penggerebekan, bukan dalam laporan terpisah yang berlangsung pada waktu lain. Kehadiran polisi di lingkungan itu menjadi kesempatan bagi SG untuk membawa putranya kepada petugas. Identitas keduanya disebut menggunakan inisial, dengan SG sebagai ibu berusia 65 tahun dan AG sebagai anaknya yang berusia 36 tahun. Lokasi kejadian berada di Lorong Tangga Takat, Kecamatan Seberang Ulu II, Palembang. Peristiwa pada Rabu (28/10/2026) itu memperlihatkan harapan seorang ibu agar tindakan aparat dapat membantu menghentikan keterlibatan putranya dalam narkoba.
Keputusan SG meminta polisi menahan putranya, AG, berangkat dari pengakuannya tentang keadaan keluarga selama AG kecanduan sabu. Bagi SG, permintaan itu bukan sekadar membawa persoalan keluarga ke hadapan aparat, melainkan langkah yang diambil setelah ia merasa tidak lagi mampu menghadapi kondisi tersebut sendiri. Ia menyampaikan bahwa kecanduan AG telah berkaitan dengan hilangnya berbagai barang milik keluarga. Barang-barang itu dijual ataupun digadaikan untuk mendapatkan uang yang kemudian digunakan membeli narkoba. Pengakuan tersebut menggambarkan tekanan yang dirasakan SG saat harta keluarga terus berkurang seiring kebiasaan AG mengonsumsi sabu. Bagi SG, keadaan itu menjadi alasan kuat untuk meminta polisi mengambil tindakan terhadap putranya.
Selain barang-barang keluarga yang dijual atau digadaikan, SG mengatakan AG juga mengambil uang yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Uang tersebut, menurut pengakuannya, turut digunakan untuk membeli narkoba. Keadaan ini membuat persoalan yang dihadapi keluarga bukan hanya soal kehilangan barang, tetapi juga soal uang untuk kebutuhan pokok yang ikut diambil. SG menyebut pengambilan uang itu sebagai bagian dari situasi yang membuatnya semakin sulit menghadapi kecanduan AG. Ia mengungkapkan bahwa barang dan uang di rumah telah terdampak, sementara kebiasaan AG menggunakan sabu masih menjadi persoalan yang ia hadapi.
Salah satu barang yang disebut SG digadaikan adalah kain panjang penutup jenazah yang disimpan di rumah. Pengakuan tentang barang tersebut memperlihatkan sejauh mana barang milik keluarga telah ikut digadaikan untuk memperoleh uang membeli narkoba. SG menyebutnya bersama kehilangan barang lain dan uang kebutuhan makan sehari-hari ketika menjelaskan alasan meminta polisi menahan AG. Dari keterangannya, tampak keputusasaan seorang ibu yang merasa tidak mampu lagi menghadapi keadaan itu sendiri. Permintaan kepada polisi menjadi langkah yang ia pilih setelah berbagai barang keluarga dijual atau digadaikan, uang kebutuhan harian diambil, dan kain penutup jenazah pun digadaikan. SG menyampaikan alasan tersebut berdasarkan pengalaman keluarganya menghadapi kecanduan AG.
Selama ini, keluarga mengaku merasa tidak berdaya menghadapi perilaku AG. Situasi tersebut membuat SG berharap putranya dapat segera pulih dari ketergantungan narkoba dan kembali menjalani kehidupan yang lebih baik. Permasalahan yang mereka hadapi bukan hanya menyangkut penggunaan sabu, tetapi juga dampaknya terhadap hubungan AG dengan orang-orang terdekat. SG menyampaikan bahwa keluarga telah berhadapan dengan perilaku yang sulit ditangani, terutama ketika AG meminta uang untuk membeli narkoba. Dalam keadaan seperti itu, keluarga merasa kesulitan mencari cara untuk menghentikan keadaan agar tidak terus berulang.
Menurut SG, AG kerap mengamuk ketika permintaan uangnya untuk membeli narkoba tidak dipenuhi. Ia juga disebut menganiaya anggota keluarga dalam situasi tersebut. Perilaku itu menimbulkan kekhawatiran bagi keluarga, yang merasa tidak berdaya menghadapi kemarahan dan tindakan AG. SG menggambarkan persoalan tersebut sebagai beban yang harus dihadapi keluarga, sementara penggunaan narkoba disebut terus memengaruhi sikap putranya. Meski demikian, harapan SG tetap tertuju pada pemulihan AG, agar ia dapat meninggalkan narkoba dan tidak lagi melakukan tindakan yang menyakiti orang-orang di sekitarnya.
SG juga mengkhawatirkan keadaan rumah tangga AG. Putranya telah beristri dan memiliki empat anak. Menurut SG, AG disebut tidak menafkahi istri dan anak-anaknya karena terus menggunakan narkoba. Kondisi itu membuat perhatian SG tidak hanya tertuju pada keselamatan anggota keluarga yang menghadapi perilaku AG, tetapi juga pada kebutuhan anak-anak yang bergantung kepada ayah mereka. Empat anak tersebut menjadi bagian penting dari kekhawatiran SG, sebab ia berharap AG kembali menjalankan tanggung jawabnya sebagai suami dan ayah. Penggunaan narkoba, menurut keterangan SG, telah menghalangi AG untuk memenuhi tanggung jawab itu.
Permohonan SG agar putranya ditahan disampaikan di tengah harapan agar AG memperoleh kesempatan untuk pulih. Ia ingin putranya berhenti menggunakan narkoba, memperbaiki perilakunya, serta kembali memikirkan keluarga dan anak-anaknya. Harapan tersebut tidak menghapus kekhawatiran keluarga terhadap amukan dan penganiayaan yang disebut terjadi saat permintaan uang tidak dipenuhi. Namun, SG tetap menginginkan kesembuhan AG dan perubahan yang memungkinkan putranya kembali bertanggung jawab. Bagi keluarga, pemulihan itu penting agar AG dapat membangun hubungan yang lebih aman dengan orang-orang terdekat dan memenuhi kebutuhan empat anaknya.
Kasatresnarkoba Polrestabes Palembang, Kompol M. Burhanudin Yusuf Hanafiah, mengapresiasi keputusan SG yang menyerahkan putranya, AG, kepada polisi. Menurutnya, langkah tersebut dapat membantu penanganan persoalan yang dihadapi keluarga sekaligus memberi kesempatan bagi petugas untuk memeriksa kondisi AG secara lebih menyeluruh. Polisi kini meminta keterangan dan melakukan pemeriksaan terhadap AG guna mengetahui tingkat ketergantungannya terhadap sabu. Pemeriksaan itu diperlukan agar petugas dapat memastikan apakah AG termasuk pemakai berat dan menentukan tindak lanjut yang sesuai. Yusuf Hanafiah menyampaikan bahwa pemeriksaan masih berlangsung, sehingga tingkat kecanduan AG belum dapat dipastikan. Penanganan berikutnya akan mempertimbangkan hasil pemeriksaan dan fakta yang ditemukan selama proses berjalan.
Dalam operasi di kawasan tersebut, polisi juga mengamankan lima orang lain yang masing-masing berinisial U, M, S, A, dan H. Berdasarkan keterangan kepolisian, kelimanya dinyatakan positif metamfetamin setelah menjalani tes urine. Hasil tersebut menjadi bagian dari pemeriksaan awal, sementara penyidik tetap perlu menelusuri peran setiap orang dan hubungan mereka dengan dugaan peredaran narkotika di lokasi. Polisi turut mengamankan sejumlah barang bukti, yaitu alat hisap sabu atau bong serta satu paket kecil sabu.
