Dari Curhatan Instagram ke Layar Lebar, Samuel Ray Bahas Perjalanan Kerja dalam Lagi Probation

oleh
oleh
Dari Curhatan Instagram ke Layar Lebar, Samuel Ray Bahas Perjalanan Kerja dalam Lagi Probation

Jakarta | KapanLagi Book Club mengadakan diskusi bertajuk “Adulting: Lagi Probation – Kerja Ngejar Apa Sih?” bersama Samuel Ray, penulis sekaligus praktisi sumber daya manusia. Acara tersebut berlangsung di kantor KapanLagi Youniverse (KLY), Jakarta. Melalui tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, pertemuan ini mengangkat berbagai pertanyaan yang kerap muncul ketika seseorang mulai memasuki dunia kerja. Bukan hanya soal memperoleh pekerjaan, diskusi juga menyoroti proses beradaptasi dengan lingkungan profesional dan memahami arti bekerja bagi diri sendiri.

Topik awal karier menjadi relevan bagi banyak anak muda karena perjalanan menuju pekerjaan pertama sering disertai ketidakpastian. Ada yang masih mencari kesempatan yang sesuai, berusaha memenuhi harapan perusahaan, atau mencoba mengenali kemampuan dan minatnya. Setelah diterima bekerja, masa probation pun menghadirkan tantangan tersendiri. Pada tahap tersebut, karyawan baru perlu menyesuaikan diri dengan tanggung jawab, ritme kerja, serta budaya di tempat kerja, sambil menunjukkan bahwa mereka dapat menjalankan peran yang dipercayakan.

Namun, pembicaraan tidak berhenti pada cara bertahan atau mencapai target di kantor. Pertanyaan “kerja ngejar apa sih?” membuka ruang untuk mempertimbangkan tujuan yang lebih luas: apa yang diharapkan seseorang dari pekerjaannya, dan bagaimana pekerjaan itu berhubungan dengan kehidupan yang ingin dibangun. Pertanyaan semacam ini dapat muncul pada awal perjalanan karier maupun ketika seseorang mulai menilai kembali pilihannya. Dengan menghadirkan Samuel Ray, diskusi KapanLagi Book Club menghubungkan pengalaman profesional dan tema dalam Lagi Probation dengan kegelisahan yang nyata di kalangan anak muda. Acara ini menjadi wadah untuk membahas proses bertumbuh di dunia kerja tanpa menganggap bahwa setiap orang harus memiliki jawaban yang sama tentang kesuksesan atau arah karier.

Asal-usul Lagi Probation: Menikmati Perjalanan Mencari Kerja berangkat dari kebiasaan Samuel Ray berbagi pengetahuan tentang sumber daya manusia dan dunia kerja. Pada 2019, ia aktif membuka sesi tanya jawab melalui Instagram Story. Kanal tersebut memberinya ruang untuk menjawab pertanyaan pengikut secara langsung, mulai dari hal-hal yang berkaitan dengan proses melamar pekerjaan hingga pengalaman menghadapi lingkungan profesional. Interaksi yang awalnya berlangsung singkat di media sosial itu kemudian memperlihatkan bahwa banyak orang membutuhkan penjelasan yang lebih terbuka mengenai urusan kerja dan peran HRD.

Di balik pertanyaan-pertanyaan tersebut, para pengikut juga menyampaikan berbagai curhatan tentang pencarian kerja, proses seleksi, masa percobaan, serta tantangan ketika mulai bekerja. Cerita-cerita itu bukan sekadar bahan percakapan di Instagram, melainkan gambaran keresahan yang kerap dialami pencari kerja dan karyawan. Samuel kemudian mengolah pengalaman serta respons tersebut menjadi tulisan yang dapat dibaca lebih luas. Dengan demikian, buku ini tumbuh dari percakapan seorang praktisi HR dan orang-orang yang ingin memahami dunia kerja, bukan dari pembahasan teori semata. Topik yang muncul sehari-hari menjadi pintu masuk untuk menyampaikan informasi secara lebih dekat dan mudah dipahami.

Sebagai praktisi HR, Samuel juga membawa tujuan untuk mengikis anggapan bahwa sosok HRD selalu menakutkan atau hanya hadir untuk menilai kandidat dan karyawan. Melalui tulisan, ia berupaya menunjukkan sisi manusiawi di balik fungsi HR serta membantu pembaca memahami proses kerja dari sudut pandang yang lebih utuh. Setelah bermula dari sesi tanya jawab dan curhatan pengikut pada 2019, kumpulan gagasan itu berkembang menjadi naskah yang diterbitkan Gramedia pada 2020 dengan judul Lagi Probation: Menikmati Perjalanan Mencari Kerja. Perjalanan dari Instagram ke buku ini memperluas jangkauan percakapan tersebut, sekaligus menawarkan bekal bagi pembaca yang sedang mencari pekerjaan maupun menjalani tahap awal karier.

Samuel Ray mengumumkan bahwa bukunya, Lagi Probation: Kerja Ngejar Apa Sih?, akan diadaptasi menjadi film layar lebar. Film tersebut dijadwalkan tayang pada 12 November 2026. Kabar ini menandai babak baru bagi kisah yang sebelumnya dikenal melalui buku dan pengalaman Samuel dalam membicarakan kehidupan kerja. Bagi peserta diskusi, pengumuman itu juga disertai kesempatan istimewa: mereka dapat menyaksikan cuplikan trailer secara eksklusif. Cuplikan tersebut memberi gambaran awal mengenai peralihan cerita dari halaman buku ke layar, tanpa mengungkap seluruh perjalanan yang akan disajikan dalam film.

Adaptasi ini tidak sekadar memindahkan isi buku secara langsung. Film menghadirkan pengembangan karakter serta konflik baru, sehingga pengalaman menontonnya memiliki ruang cerita yang berbeda. Perubahan tersebut membuka kesempatan untuk mengeksplorasi dinamika tokoh dan tantangan yang mereka hadapi dalam bentuk yang sesuai dengan penceritaan layar lebar. Meski demikian, arah baru itu tetap berangkat dari kegelisahan yang dekat dengan banyak orang: bagaimana menghadapi ketidakpastian, tekanan, dan kegagalan dalam perjalanan karier. Perbedaan buku dan film menjadi bagian dari proses adaptasi, sementara perhatian terhadap pengalaman kerja tetap menjadi landasan kisahnya.

Pesan optimistis tentang kegagalan menjadi benang merah yang dipertahankan. Dalam cerita ini, kegagalan karier tidak digambarkan sebagai akhir dari segalanya, melainkan sebagai pengalaman yang dapat dihadapi dan menjadi titik untuk melangkah kembali. Semangat untuk bangkit menjadi inti perjalanan, menyampaikan bahwa perubahan arah atau hambatan tidak serta-merta menghapus kemungkinan untuk menemukan jalan berikutnya. Pesan tersebut relevan bagi pembaca maupun penonton yang pernah merasa tertinggal atau meragukan pilihan profesionalnya. Dengan konflik dan pengembangan karakter yang berbeda dari buku, film Lagi Probation: Kerja Ngejar Apa Sih? tetap membawa gagasan bahwa proses bekerja bukan hanya soal mencapai tujuan, tetapi juga tentang belajar dari masa sulit. Penonton dapat menantikan bagaimana gagasan itu hadir dalam cerita layar lebar saat film dijadwalkan tayang pada November 2026.

Di luar pembahasan mengenai buku Lagi Probation, rangkaian acara juga memberi ruang bagi peserta untuk terlibat secara langsung. Mereka mengikuti dua sesi interaktif yang menghadirkan suasana berbeda dari diskusi utama. Dalam sesi-sesi tersebut, peserta dan Samuel Ray berbagi dalam suasana hangat serta personal. Momen ini membuat acara terasa sebagai pertemuan yang memberi kesempatan kepada para hadirin untuk berpartisipasi, bukan sekadar menyimak percakapan dari awal hingga akhir.

Kehangatan suasana menjadi bagian penting dari keseluruhan kegiatan. Peserta dapat mengikuti rangkaian acara bersama penulis dan sesama pencinta buku dalam suasana yang akrab. Dua sesi interaktif tersebut menjadi bagian dari pengalaman berkumpul yang melengkapi pembahasan buku, tanpa menggeser perhatian dari kesempatan untuk berbagi dan berinteraksi. Karena rincian isi sesi tidak menjadi bagian dari informasi yang disampaikan, fokusnya tetap pada keterlibatan peserta dan suasana personal yang menyertai acara.

Setelah rangkaian diskusi dan sesi interaktif selesai, acara ditutup dengan penandatanganan buku oleh Samuel Ray. Para peserta kemudian berkesempatan mengabadikan momen melalui foto bersama. Penutupan ini memberi ruang bagi hadirin untuk membawa pulang kenangan dari pertemuan tersebut, sekaligus menandai akhir acara dengan interaksi langsung bersama penulis. Bagi peserta, kesempatan bertemu, berbagi, dan memperoleh tanda tangan menjadi bagian dari pengalaman yang melengkapi kegiatan.

Acara seperti ini mencerminkan peran KapanLagi Book Club dalam menyediakan ruang bagi pencinta buku untuk berkumpul dan berdiskusi. Melalui pertemuan yang menghadirkan penulis serta topik yang dekat dengan keseharian, komunitas dapat bertukar pandangan dalam suasana yang terbuka. Kegiatan tersebut juga memberi peluang untuk memperluas jejaring dengan orang-orang yang memiliki minat serupa. Dengan demikian, Book Club bukan hanya menjadi tempat membicarakan bacaan, tetapi juga wadah untuk membangun koneksi dan menikmati percakapan yang relevan dengan pengalaman sehari-hari.

Baca juga: Hatta Rajasa Jadi Wakil Ketua Wantimpres, Ini Perjalanan Kariernya

38 kunjungan