Semarang | Eka Kurniawan, 56 tahun, akhirnya memberikan penjelasan mengenai keributan dengan warga yang dikaitkan dengan pembuangan limbah bakso di Semarang. Ia dikenal sebagai pria berbaju hitam dalam video yang beredar luas dan menjadi perhatian publik. Dalam keterangannya, Eka mengakui dirinya terpancing emosi saat terjadi perselisihan tersebut. Pengakuan itu menjadi bagian penting dari penjelasan yang disampaikan setelah video keributan ramai diperbincangkan. Namun, keterangan yang tersedia tidak memuat rincian tambahan mengenai rangkaian kejadian, sehingga persoalan ini perlu dipahami berdasarkan pernyataan yang telah disampaikan, tanpa menambahkan dugaan tentang pemicu atau situasi di luar informasi tersebut.
Eka menyampaikan keterangannya di Warung Bakso Bintang 2, sebagaimana tercantum dalam bahan sumber pada Rabu, 4 November 2026. Ia membicarakan keributan yang berhubungan dengan persoalan limbah bakso dan warga. Dalam penjelasan itu, ia menyoroti reaksinya sendiri, yakni terbawa emosi ketika perselisihan berlangsung. Pengakuan tersebut memberi gambaran mengenai sikap Eka dalam peristiwa yang videonya viral, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh latar belakang permasalahan. Informasi yang dapat dipastikan dari keterangan tersebut terbatas pada pengakuan bahwa ia terpancing emosi serta kaitan keributan dengan pembuangan limbah bakso di Semarang.
Peredaran video membuat peristiwa tersebut mendapat perhatian, sementara penjelasan Eka menjadi respons atas keributan yang dibicarakan warga. Meski demikian, rincian seperti urutan kejadian, bentuk komunikasi pihak-pihak yang terlibat, maupun penyelesaian persoalan tidak disebutkan dalam informasi yang tersedia. Karena itu, penjelasan ini sebaiknya dibaca secara proporsional: Eka mengakui terbawa emosi, dan keributan yang dimaksud berkaitan dengan pembuangan limbah bakso. Tidak ada keterangan tambahan yang dapat digunakan untuk menyimpulkan lebih jauh tentang tanggung jawab setiap pihak. Dengan tetap berpegang pada informasi tersebut, pokok keterangannya adalah pengakuan Eka mengenai emosinya dalam persoalan yang menjadi perhatian publik itu.
Menurut penuturan Eka Kurniawan, peristiwa itu bermula sekitar pukul 22.30. Saat berada di rumah, ia mendengar suasana ramai dari arah depan rumah. Suara tersebut menarik perhatiannya karena terdengar seperti ada perselisihan warga. Eka kemudian keluar untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Ia tidak ingin langsung mengambil kesimpulan sebelum memahami duduk persoalan, sehingga berusaha melihat situasi dan mendengarkan pihak-pihak yang terlibat. Pada saat itu, keributan berlangsung di lingkungan tempat tinggalnya, dekat Warung Bakso Bintang 2.
Eka menjelaskan bahwa dirinya mencoba mengambil peran sebagai penengah. Ia meminta orang-orang yang berselisih agar tidak melanjutkan keributan pada malam hari, ketika suasana lingkungan seharusnya tenang. Menurutnya, persoalan tersebut lebih baik dibicarakan dengan kepala dingin dan melalui jalur yang sesuai, bukan diselesaikan lewat adu mulut di depan rumah. Ia juga menyarankan agar masalah itu dibawa kepada pengurus RT sehingga dapat ditindaklanjuti dalam forum warga. Dengan cara tersebut, semua pihak diharapkan memperoleh kesempatan untuk menjelaskan keberatan dan mencari penyelesaian bersama.
Posisi Eka di lingkungan itu turut menjelaskan alasan ia berupaya meredakan keadaan. Ia merupakan salah satu pengurus RT dan tinggal tepat di seberang Warung Bakso Bintang 2. Rumahnya juga berada di samping rumah warga yang memprotes pembuangan limbah ke got di depan rumahnya. Karena berada dekat dengan lokasi dan mengetahui adanya keberatan tersebut, Eka keluar untuk mencari tahu persoalan serta mencegah situasi makin gaduh. Dalam keterangannya, ia menggambarkan tindakannya sebagai upaya menengahi, bukan sebagai pihak yang memulai perselisihan. Usul membawa perkara ke forum warga menjadi langkah agar persoalan limbah dapat dibahas secara terbuka, dengan melibatkan pihak terkait dan pengurus lingkungan, setelah keadaan lebih kondusif.
Eka Kurniawan menegaskan bahwa dirinya bukan pemilik Warung Bakso Bintang 2 dan tidak bekerja sebagai karyawan di tempat tersebut. Penegasan itu disampaikan untuk menjelaskan posisinya dalam keributan yang menjadi perhatian publik. Ia menyatakan tidak memiliki hubungan sebagai pemilik ataupun pekerja warung bakso tersebut. Dengan demikian, keterangannya mengenai peristiwa itu berangkat dari pengalamannya sendiri dalam percakapan yang kemudian memicu ketegangan, bukan dari kedudukannya sebagai bagian dari usaha. Pernyataan ini penting untuk membedakan identitas Eka dari pihak yang menjalankan warung, sekaligus memberi konteks mengenai keterlibatannya dalam kejadian yang dibicarakan. Penjelasan tersebut disampaikan sebagai keterangan Eka tentang dirinya.
Menurut penuturan Eka, percakapan itu mulai membuatnya tersulut ketika orang yang diajak bicara mempertanyakan apakah harus menggunakan bahasa hewan atau binatang. Eka menjelaskan bahwa ucapan tersebut menjadi bagian dari situasi yang ia alami dan membuatnya merasa terpancing. Keterangan itu menunjukkan hal yang, menurut Eka, menjadi pemicu emosional dalam percakapan tersebut. Ia tidak menyampaikan dirinya sebagai pemilik atau karyawan warung, melainkan menerangkan alasan dirinya bereaksi setelah mendengar pertanyaan itu. Uraian mengenai percakapan disampaikan berdasarkan sudut pandangnya sendiri, sehingga pemicu tersebut dapat dipahami sebagai penjelasan Eka mengenai respons yang ia rasakan saat itu.
Eka juga menyebut bahwa dirinya merasa terpancing karena ia lebih tua. Faktor usia itu ia kaitkan dengan reaksinya terhadap pertanyaan yang disampaikan oleh lawan bicaranya. Dalam keterangannya, ia menjelaskan bahwa situasi tersebut membuatnya tersulut, serta menyebut usia sebagai alasan yang berkaitan dengan perasaannya ketika percakapan berlangsung. Penjelasan ini tidak mengubah penegasannya bahwa ia bukan pemilik maupun karyawan Warung Bakso Bintang 2. Kedua hal itu merupakan bagian dari keterangan Eka: ia tidak bekerja atau memiliki warung tersebut, dan ia merasa terpancing oleh pertanyaan mengenai bahasa hewan atau binatang karena dirinya lebih tua. Uraian ini menyajikan penuturan Eka tanpa menambahkan penilaian terhadap pihak lain.Menurut penjelasan Eka Kurniawan, cairan yang terlihat mengalir menuju got dalam rekaman yang beredar bukanlah limbah produksi bakso, melainkan air bekas mencuci piring. Ia menyamakan cairan tersebut dengan air cucian piring yang dihasilkan rumah tangga setelah peralatan makan dibersihkan. Dengan demikian, menurut Eka, aktivitas yang terekam berkaitan dengan pencucian peralatan warung, bukan pembuangan bahan baku atau sisa adonan bakso. Penjelasan ini merupakan keterangan dari Eka mengenai kondisi di tempat usahanya, bukan hasil pemeriksaan independen yang disebutkan dalam pernyataannya.
Eka juga mengatakan bahwa pihak warung menggunakan mikroba anti-bau sebelum membuang air bekas pencucian tersebut. Menurut keterangannya, mikroba itu dipakai untuk membantu mengurangi bau pada cairan yang akan dialirkan ke saluran. Ia menyatakan bahwa air tersebut kemudian disiram menggunakan sedikitnya lima galon air bersih. Langkah itu, sebagaimana dijelaskan Eka, dilakukan sebelum cairan masuk ke got. Rangkaian pengolahan dan pembilasan tersebut menjadi bagian dari pembelaannya atas sorotan publik terhadap praktik pembuangan air dari warung. Namun, seluruh uraian mengenai penggunaan mikroba, tujuan penanganannya, serta jumlah air pembilas berasal dari keterangan Eka.
Dalam pandangan Eka, persoalan yang sebenarnya tidak seperti yang tampak dalam video viral. Ia menilai rekaman yang tersebar di media sosial telah dipotong-potong, sehingga konteks kegiatan di warung tidak terlihat secara utuh. Menurutnya, potongan video itu dapat menimbulkan kesan berbeda dari kejadian yang ia jelaskan, yakni pembuangan air bekas mencuci piring setelah diberi mikroba anti-bau dan dibilas dengan air bersih. Keterangan tersebut menjelaskan versi Eka atas keributan yang muncul, tetapi tidak dengan sendirinya memastikan isi maupun konteks rekaman secara independen. Karena itu, klaim mengenai jenis cairan, proses pengolahan, penggunaan sedikitnya lima galon air, dan cara pembuangannya perlu dipahami sebagai penjelasan Eka, sementara penilaiannya terhadap video juga merupakan pandangannya sendiri.
Baca juga: Sopir Truk Jelaskan Kepanikan Setelah Tabrak Pasutri di Tol Jogja-Solo | Bapenda DKI Jelaskan Dua Skema Pemungutan Pajak Daerah Jakarta
630 kunjungan