Jakarta (02/05/26) – Panglima Komando Armada (Koarmada) III Laksamana Muda TNI Dato Rusman SN menyoroti dampak eskalasi konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel terhadap stabilitas global dan kepentingan nasional Indonesia. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) di Lounge Room Matjan Tutul, Markas Komando Armada RI, Jakarta, (01/05/26).
FGD yang mengangkat tema “Eskalasi Konflik Iran–Amerika Serikat–Israel: Implikasi Geopolitik terhadap Ketahanan Ekonomi, Pertahanan, Strategi Keamanan Nasional dan Diplomasi Indonesia” ini menjadi forum strategis untuk membahas dinamika global yang kian kompleks. Konflik di kawasan Timur Tengah dinilai berpotensi berkembang menjadi krisis multidimensional yang berdampak luas, tidak hanya pada aspek keamanan, tetapi juga ekonomi dan stabilitas kawasan.
Dalam forum tersebut, Panglima menegaskan bahwa Indonesia tidak bisa bersikap pasif terhadap perkembangan situasi global. Menurutnya, eskalasi konflik berpotensi memengaruhi jalur perdagangan internasional, stabilitas energi, serta keamanan maritim yang menjadi kepentingan vital Indonesia sebagai negara kepulauan.
“Dinamika global saat ini menuntut kesiapan dan respons yang adaptif. Kita harus mampu mengantisipasi dampaknya terhadap kepentingan nasional, khususnya di bidang pertahanan dan keamanan maritim,” ujarnya.
Ia menambahkan, salah satu langkah strategis yang perlu terus diperkuat adalah modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI. Namun, modernisasi tersebut bukan soal ganti alat baru, melainkan transformasi dalam sistem pertahanan.
Menurutnya, konsep network centric warfare menjadi kunci dalam membangun kekuatan pertahanan modern yang terintegrasi. Selain itu, penggunaan alutsista berteknologi tinggi (high specification), serta pengembangan teknologi otonom dan hibrida juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan efektivitas operasi.
Panglima juga menekankan pentingnya efisiensi anggaran melalui pemanfaatan teknologi pengawasan yang. Dengan demikian, kemampuan controling, deteksi dini dan respons terhadap potensi ancaman dapat meningkat secara signifikan.
Rekomendasi tersebut, lanjutnya, diharapkan dapat memperkuat peran TNI Angkatan Laut dalam menjaga kedaulatan maritim, mengamankan jalur perdagangan nasional, serta melindungi kepentingan Indonesia di laut yang semakin strategis di tengah dinamika geopolitik global.
FGD tersebut juga menghadirkan sejumlah narasumber lain, di antaranya Laksamana Madya TNI Ir. Supo Dwi Diantara, Laksamana Pertama TNI Salim, serta Andi Wijayanto. Diskusi diikuti berbagai unsur strategis sebagai bagian dari upaya merumuskan langkah antisipatif menghadapi perkembangan situasi global yang dinamis.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi TNI Angkatan Laut dalam memberikan masukan strategis bagi pengambilan kebijakan nasional, khususnya di bidang pertahanan dan keamanan, di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
(Tim Dispen Koarmada III/red)








