Jakarta | Rupiah melemah pada perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026, ketika pelaku pasar menantikan keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Mata uang Indonesia tersebut turun 0,14% ke Rp18.170 per dolar AS. Pergerakan ini menempatkan rupiah di bawah tekanan menjelang pengumuman penting dari bank sentral Amerika Serikat, yang menjadi perhatian investor di pasar keuangan global.
Tekanan tidak hanya dialami rupiah. Mayoritas mata uang Asia yang dipantau juga bergerak di zona merah pada hari itu: tujuh dari sepuluh mata uang melemah, sementara dua menguat dan satu lainnya stagnan. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa pelemahan rupiah berlangsung di tengah kecenderungan regional yang secara umum tertekan, meskipun sejumlah mata uang masih mampu mencatat penguatan.
Posisi rupiah pada Rp18.170 per dolar AS juga semakin dekat dengan level terlemah intraday sepanjang masa, yaitu Rp18.190 per dolar AS. Selisihnya tinggal Rp20, tetapi level tersebut belum tercapai dalam perdagangan yang dimaksud. Karena itu, pergerakan rupiah menuju batas tersebut menjadi perhatian, terutama saat pasar menunggu kepastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Keputusan The Fed berpotensi menjadi salah satu faktor penting yang dicermati pelaku pasar dalam menilai arah dolar AS dan mata uang lain. Menjelang pengumuman, ketidakpastian mengenai suku bunga dapat mendorong investor berhati-hati dalam mengambil posisi. Pergerakan kurs pada sesi ini mencerminkan sikap tersebut, tanpa memastikan bagaimana reaksi pasar setelah keputusan diumumkan.
Bagi rupiah, perhatian pasar tertuju pada perkembangan nilai tukar dan jaraknya terhadap rekor pelemahan intraday. Sementara itu, perbandingan dengan mata uang Asia lain memperlihatkan bahwa tekanan bersifat luas, tetapi tidak seragam. Dua mata uang yang menguat dan satu yang stagnan menunjukkan bahwa respons di kawasan tetap beragam. Data perdagangan Rabu ini menggambarkan posisi rupiah sebelum keputusan The Fed, bukan hasil pergerakan setelah keputusan tersebut.
Pergerakan mata uang Asia menunjukkan tekanan terhadap rupiah berlangsung dalam situasi yang beragam, bukan sebagai pelemahan seragam di seluruh kawasan. Won Korea Selatan mencatat penurunan paling dalam, yakni 0,92% hingga berada di KRW1.338,5 per dolar AS. Besarnya koreksi ini membuat won menjadi mata uang dengan kinerja terlemah di sejumlah mata uang regional yang dipantau. Sementara itu, rupiah juga tertekan menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve, sedangkan ringgit Malaysia bergerak ke arah berlawanan.
Sejumlah mata uang lain turut melemah, tetapi dengan penurunan yang lebih terbatas. Peso Filipina terkoreksi 0,19%, diikuti baht Thailand yang turun 0,12%. Dolar Singapura melemah 0,05%, sementara dong Vietnam turun 0,03%. Yuan China mencatat koreksi paling tipis di kelompok tersebut, sebesar 0,02%. Rentang perubahan ini memperlihatkan bahwa tekanan di pasar valas regional tidak memiliki intensitas yang sama. Perbedaan besaran pelemahan dapat menjadi konteks penting ketika membandingkan posisi rupiah dengan mata uang negara-negara lain di Asia.
Di sisi penguatan, ringgit Malaysia naik 0,12% dan menjadi mata uang dengan apresiasi tertinggi dalam daftar tersebut. Dolar Taiwan juga menguat tipis 0,02%, sedangkan yen Jepang stagnan di JPY157,94 per dolar AS. Dengan demikian, pergerakan mata uang kawasan terbagi pelemahan yang dipimpin won, penguatan yang dipimpin ringgit, serta mata uang yang nyaris tidak berubah. Gambaran ini menegaskan pentingnya melihat kinerja rupiah dalam konteks regional, sekaligus membedakan faktor yang memengaruhi tiap mata uang. Menjelang keputusan The Fed, pelaku pasar dapat mencermati perubahan sentimen terhadap dolar AS dan respons masing-masing mata uang, tanpa menganggap arah pergerakan seluruh negara akan selalu sama. Data pergerakan harian memberi gambaran posisi relatif, tetapi belum dengan sendirinya menunjukkan perubahan tren jangka panjang. Karena itu, perbandingan dengan mata uang Asia lainnya membantu menempatkan pelemahan rupiah dalam perspektif yang lebih luas.Menjelang pengumuman keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed), pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam menentukan posisi. Ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter AS membuat pergerakan dolar menjadi salah satu perhatian utama, terutama bagi mata uang negara berkembang di Asia. Investor menimbang apakah bank sentral akan mempertahankan suku bunga, memberi sinyal perubahan kebijakan, atau menegaskan bahwa penurunan suku bunga belum akan segera dilakukan. Sikap tersebut dapat memengaruhi arus modal dan permintaan terhadap aset berdenominasi dolar.
Di tengah pemantauan terhadap mata uang kawasan, indeks dolar AS atau DXY naik 0,08% ke 102,405. Kenaikan itu terjadi setelah indeks tersebut menguat 0,30% pada perdagangan sebelumnya. Dengan pergerakan tersebut, DXY bertahan di sekitar level tertinggi dalam dua pekan. Posisi yang relatif kuat ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap dolar masih terjaga menjelang keputusan The Fed, meskipun pasar menanti petunjuk baru dari bank sentral AS.
Dolar yang bertahan kuat dapat menambah tekanan pada mata uang Asia, termasuk rupiah. Ketika investor memilih aset yang dianggap lebih menarik atau aman, permintaan terhadap dolar berpotensi meningkat, sementara mata uang regional menghadapi tantangan untuk mempertahankan nilainya. Besarnya dampak tetap dipengaruhi oleh perkembangan domestik dan sentimen risiko global, tetapi arah DXY menjadi salah satu indikator yang dicermati pasar dalam membaca tekanan eksternal terhadap rupiah.
Selain pergerakan indeks dolar, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun masih berada pada tingkat tinggi, sekitar 4,9967%. Imbal hasil yang tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar karena investor memperoleh potensi imbal hasil yang lebih besar dari instrumen AS. Kondisi ini turut mendukung permintaan terhadap dolar dan dapat membatasi ruang penguatan mata uang lain, terutama menjelang keputusan kebijakan yang berpotensi mengubah ekspektasi pasar.
Karena itu, perhatian investor tertuju pada pernyataan The Fed, bukan hanya pada keputusan suku bunganya. Petunjuk mengenai inflasi, kondisi ekonomi, serta kemungkinan perubahan kebijakan pada pertemuan berikutnya dapat menggerakkan DXY dan imbal hasil obligasi AS. Sampai kejelasan tersebut tersedia, dolar yang bertahan di dekat level tertinggi dua pekan dan imbal hasil yang tinggi menjadi latar penting bagi pergerakan rupiah serta mata uang Asia lainnya.
Perhatian investor tertuju pada hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC), yang akan memberi gambaran terbaru mengenai arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Keputusan suku bunga kali ini dipandang penting bukan hanya karena dampaknya terhadap biaya pinjaman, tetapi juga karena pernyataan bank sentral dapat mengubah penilaian pasar terhadap langkah-langkah berikutnya. Di tengah tekanan pada rupiah dan penguatan ringgit, pelaku pasar mencermati setiap petunjuk yang dapat memengaruhi pergerakan dolar AS dan mata uang regional.
Pasar hampir sepenuhnya memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,75%–4,00%. Berdasarkan data CME FedWatch, peluang suku bunga ditahan pada pertemuan tersebut berada di sekitar 91%. Tingginya probabilitas itu menunjukkan bahwa keputusan untuk tidak mengubah bunga telah banyak diperhitungkan oleh investor. Karena itu, pengumuman hasil rapat saja mungkin tidak menjadi satu-satunya penentu reaksi pasar. Perhatian lebih besar dapat tertuju pada nada komunikasi para pejabat dan petunjuk mengenai bagaimana mereka menilai kondisi ekonomi serta inflasi.
Fokus pun bergeser pada kemungkinan perubahan kebijakan pada pertemuan berikutnya, terutama peluang kenaikan suku bunga pada Desember. Chris Weston, kepala riset Pepperstone Group, menyampaikan bahwa The Fed tidak harus menaikkan bunga pada hari keputusan untuk menggerakkan pasar.
Baca juga: Dua Pemain Muda Perkuat Garudayaksa FC Menjelang BRI Super League
