Jakarta | Tengku Dewi menyampaikan bahwa kista yang sebelumnya didiagnosis oleh dokter kini telah hilang tanpa menjalani tindakan operasi. Kabar tersebut ia ceritakan ketika menjalani pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta Barat, pada Jumat, 30 Oktober 2026, menurut keterangan dalam bahan sumber. Pengalaman itu menjadi perhatian karena kondisi yang sempat diketahui melalui diagnosis medis tersebut tidak berakhir dengan operasi, sebagaimana ia sampaikan saat membagikan cerita tentang pemeriksaannya.
Dalam penuturan itu, Dewi menjelaskan hasil yang ia alami tanpa menyebutkan rincian tentang jenis kista maupun pemeriksaan khusus yang dilakukan. Karena informasi yang tersedia terbatas, kondisi tersebut perlu dipahami sesuai keterangannya saja: kista yang dahulu didiagnosis dokter telah hilang, dan ia tidak menjalani operasi untuk menanganinya. Tidak ada keterangan lebih lanjut mengenai kapan perubahan itu terjadi atau faktor yang mungkin berkaitan dengan hilangnya kista tersebut.
Pemeriksaan kesehatan di RS Kanker Dharmais menjadi konteks ketika kabar itu disampaikan. Kehadiran Dewi di rumah sakit tersebut pada tanggal yang disebutkan tidak dengan sendirinya menjelaskan tujuan setiap pemeriksaan yang ia jalani. Oleh sebab itu, informasi mengenai pengalamannya sebaiknya tidak diperluas menjadi dugaan tentang prosedur, temuan medis lain, ataupun langkah perawatan yang tidak dijelaskan dalam sumber. Hal yang diketahui adalah ia menceritakan bahwa kista yang pernah didiagnosis telah hilang tanpa operasi.
Kisah tersebut juga menempatkan pengalaman pribadi Dewi sebagai informasi utama, bukan sebagai pedoman medis bagi orang lain. Kondisi kesehatan setiap orang dapat berbeda, sehingga cerita tentang kista yang hilang tanpa tindakan operasi tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa semua kista akan mengalami hal serupa. Untuk memahami suatu diagnosis atau menentukan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai, seseorang tetap perlu memperoleh penjelasan dari tenaga kesehatan. Dalam keterangannya, Dewi tidak memberikan rincian tambahan mengenai diagnosis maupun pemeriksaan tersebut.
Perubahan siklus menstruasi menjadi alasan Tengku Dewi mencari pemeriksaan medis. Ia sempat mengalami masa ketika menstruasi tidak datang, sebelum kemudian menghadapi perdarahan yang berlangsung jauh lebih lama daripada biasanya. Menurut cerita yang ia sampaikan, perdarahan haid tersebut berlanjut selama lebih dari dua pekan. Kondisi itu membuatnya merasa perlu mengetahui penyebab perubahan yang terjadi, alih-alih menganggapnya sebagai gangguan sementara yang akan pulih dengan sendirinya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bagaimana perubahan pola haid dapat menjadi sinyal untuk berkonsultasi, terutama bila berlangsung tidak seperti kebiasaan seseorang. Siklus yang terlambat atau tidak datang, kemudian disusul perdarahan berkepanjangan, merupakan perubahan yang patut dibicarakan dengan tenaga kesehatan. Cerita ini tidak berarti bahwa setiap gangguan menstruasi memiliki penyebab yang sama. Pemeriksaan diperlukan untuk memahami kondisi masing-masing, terlebih ketika perubahan berlangsung lama, berulang, atau disertai keluhan lain.
Tengku Dewi juga menceritakan dugaan adanya ketidakseimbangan hormon yang mungkin berkaitan dengan gangguan menstruasi yang dialaminya. Hal tersebut merupakan dugaan yang ia sampaikan, bukan diagnosis tambahan yang dapat dipastikan hanya dari perubahan siklus. Untuk mengetahui apa yang terjadi, dokter melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dari pemeriksaan itulah kemudian diketahui adanya kista. Temuan tersebut memberi konteks medis terhadap keluhannya, tetapi tidak mengubah pentingnya membedakan cerita pribadi dari penilaian klinis dokter.
Dalam kasus ini, gangguan haid menjadi awal dari rangkaian pemeriksaan yang membantu mengidentifikasi kista. Perjalanan Tengku Dewi juga mengingatkan bahwa mencatat waktu, lama, dan pola perdarahan dapat membantu seseorang menjelaskan keluhannya saat berkonsultasi. Informasi mengenai menstruasi yang terlewat maupun perdarahan lebih dari dua pekan dapat menjadi bagian penting dalam penilaian dokter. Bila pola haid berubah secara mencolok, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan langkah pemeriksaan yang sesuai, tanpa terlebih dahulu menyimpulkan penyebabnya sendiri.
Hasil pemeriksaan menjadi pengalaman yang sulit dilupakan bagi Tengku Dewi. Ia mengaku syok ketika mengetahui bahwa dirinya didiagnosis memiliki kista, sebab kondisi tersebut merupakan diagnosis pertama yang pernah ia terima sepanjang hidupnya. Sebelumnya, ia tidak pernah mengalami situasi serupa atau membayangkan akan mendengar kabar seperti itu setelah menjalani pemeriksaan. Karena itulah, hasil tersebut terasa mengejutkan dan memerlukan waktu untuk dipahami.
Tengku Dewi pernah membagikan pengalaman tersebut melalui media sosial pribadinya. Lewat unggahan itu, ia menceritakan keterkejutannya saat mengetahui hasil pemeriksaan dan mengungkapkan bahwa kista baru pertama kali ditemukan dalam dirinya. Cerita tersebut memberi gambaran mengenai respons awalnya ketika menerima informasi medis yang tidak ia duga. Diagnosis itu menjadi titik yang membuatnya menyadari pentingnya memperhatikan kondisi tubuh dan mencari penjelasan lebih lanjut dari pemeriksaan.
Reaksi syok tersebut menunjukkan bahwa kabar mengenai kondisi kesehatan dapat terasa sangat berbeda ketika seseorang belum pernah mengalaminya sebelumnya. Dalam kasus Tengku Dewi, kata kista bukan sesuatu yang pernah menjadi bagian dari pengalaman diagnosisnya, sehingga hasil pemeriksaan itu memunculkan keterkejutan. Ia kemudian memilih untuk berbagi cerita secara terbuka kepada pengikutnya, tanpa mengubah inti pengalaman yang ia sampaikan: bahwa dirinya baru pertama kali didiagnosis memiliki kista dan merasa syok ketika mengetahuinya.
Pengungkapan itu juga menjadi bagian dari cerita tentang perjalanan kesehatannya yang bermula dari gangguan haid dan berlanjut pada pemeriksaan. Bagi Tengku Dewi, kabar pertama tersebut tentu menjadi momen yang membekas, terutama karena ia tidak memiliki pengalaman sebelumnya sebagai pembanding. Dengan membagikan kisahnya di media sosial, ia menyampaikan bagaimana hasil pemeriksaan itu diterima olehnya pada saat itu. Cerita tersebut menjelaskan reaksi pribadinya terhadap diagnosis, bukan menambahkan dugaan mengenai penyebab atau rincian medis lain yang tidak ia sampaikan.
Pengalaman menghadapi kista membuat Tengku Dewi semakin memperhatikan hubungan keseharian dan kondisi tubuhnya. Ia menilai kelelahan serta tekanan dari rutinitas pekerjaan dapat berpengaruh terhadap kestabilan hormon. Kesibukan sebagai ibu yang juga bekerja menambah banyak hal yang perlu dijalani dalam satu waktu, sehingga menjaga keseimbangan di tengah berbagai tanggung jawab menjadi perhatian tersendiri baginya. Pengalaman tersebut juga mengingatkannya bahwa perubahan pada tubuh, termasuk gangguan haid yang menjadi awal pemeriksaan, tidak sebaiknya diabaikan begitu saja.
Tengku Dewi berupaya membenahi pola hidupnya dengan lebih disiplin. Langkah itu menjadi bagian dari usahanya untuk memberi perhatian lebih pada kesehatan, sekaligus menjalani hari-hari dengan kesadaran yang lebih baik terhadap kondisi diri. Ia tidak hanya memandang pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang telah berlalu, tetapi juga sebagai pengingat untuk lebih peka terhadap apa yang dirasakan tubuh. Dari situ, ia terdorong untuk melakukan deteksi dini dengan lebih rutin dan memeriksa kondisi kesehatannya secara berkala. Baginya, kebiasaan memeriksakan diri dapat membantu seseorang mengetahui keadaan tubuhnya, alih-alih menunggu sampai muncul keluhan yang mengganggu.
Perubahan perhatian itu tumbuh dari pengalaman pribadi, mulai dari gangguan haid hingga pemeriksaan yang mengungkap adanya kista. Tengku Dewi pun menyampaikan pesan agar perempuan lebih peduli terhadap kesehatan diri dan rajin memeriksakan diri. Ia berharap perempuan tidak menomorduakan kondisi tubuh di tengah pekerjaan, urusan keluarga, dan berbagai kesibukan lainnya. Pengalaman sebagai ibu bekerja membuatnya memahami bahwa waktu dan energi kerap terbagi untuk banyak tanggung jawab, tetapi perhatian kepada diri sendiri tetap penting. Dengan lebih peka dan rutin melakukan pemeriksaan, perempuan dapat mengambil langkah untuk mengetahui kondisi kesehatannya. Pesan tersebut menjadi pengingat yang ia bawa setelah melalui pengalaman ini: mengenali perubahan pada tubuh dan menyediakan perhatian bagi kesehatan merupakan bagian dari kepedulian terhadap diri sendiri.
Baca juga: Pemeriksaan Tujuh Anggota Polisi Terkait Tawuran Maut di Makassar | Pemeriksaan Internal di Lapas Cibinong: Lima Pejabat Dinonaktifkan
