JAKARTA — Deretan tenda darurat masih memenuhi sejumlah titik di kawasan Pasar Jiung, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (2/6/2026) pagi. Asap memang sudah lama hilang dari lokasi, namun jejak kebakaran besar yang melanda permukiman padat penduduk itu masih terlihat jelas. Puing-puing bangunan hangus, rangka atap yang menghitam, hingga barang-barang rumah tangga yang tidak sempat diselamatkan menjadi saksi besarnya dampak kebakaran yang terjadi di kawasan tersebut.
Di tengah aktivitas penanganan pascakebakaran, sejumlah pejabat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan unsur Forkopimda turun langsung meninjau perkembangan situasi. Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno hadir bersama Wali Kota Jakarta Pusat Drs. Arifin, Dandim 0501/Jakarta Pusat Kolonel Inf Ahmad Alam Budiman, Kasdim Letkol Arm Udin Rasidi, serta sejumlah kepala dinas dan pimpinan instansi terkait lainnya.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan proses penanganan korban, distribusi bantuan logistik, serta fasilitas pengungsian berjalan sesuai kebutuhan warga yang terdampak.
Berdasarkan data terbaru yang dihimpun di lokasi, kebakaran tidak menimbulkan korban meninggal dunia. Namun, sebanyak 10 warga mengalami gangguan pernapasan akibat menghirup asap saat peristiwa berlangsung. Seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis dan dievakuasi ke Rumah Sakit Hermina.
Kesepuluh warga yang sempat mendapatkan perawatan terdiri dari lima laki-laki dan lima perempuan yang berasal dari beberapa RT di wilayah RW 04 dan RW 05 Kelurahan Kebon Kosong. Sebagian besar mengalami sesak napas akibat paparan asap tebal saat api masih berkobar dan proses evakuasi berlangsung.
Sementara itu, dampak kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih besar dibandingkan jumlah korban luka. Data sementara menunjukkan ratusan bangunan terdampak dalam kebakaran yang melanda dua wilayah administratif berbeda tersebut.
Di wilayah RT 01 hingga RT 03 RW 05, tercatat sebanyak 34 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal. Sebanyak 34 bangunan terdampak dengan total 152 jiwa harus meninggalkan rumah mereka. Dari jumlah tersebut terdapat lima warga lanjut usia, 25 balita, 11 anak usia sekolah dasar, lima pelajar SMP, dan 106 warga dewasa.
Sedangkan di wilayah RT 12 hingga RT 16 RW 04, dampak kebakaran tercatat jauh lebih luas. Sedikitnya 320 kepala keluarga terdampak dengan kerusakan mencapai sekitar 270 bangunan. Total warga yang terdampak mencapai 527 jiwa.
Komposisi korban terdampak di RW 04 didominasi kelompok usia produktif sebanyak 308 orang. Selain itu terdapat 30 lansia, 65 balita, 42 anak usia SD, 55 pelajar SMP, dan 27 pelajar SMA yang ikut kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran tersebut.
Besarnya jumlah warga terdampak membuat berbagai instansi bergerak cepat mendirikan fasilitas pengungsian. Hingga Selasa pagi, sedikitnya delapan tenda pengungsian telah berdiri di sekitar lokasi. Tenda-tenda tersebut berasal dari BPBD, Dinas Sosial, Kodim 0501/Jakarta Pusat, Yon Arhanud 10, Kepolisian, dan Baznas.
Selain tenda pengungsian, sejumlah tenda logistik dan posko pelayanan juga telah disiapkan untuk mendukung kebutuhan dasar warga. Posko kesehatan, pusat distribusi bantuan, hingga dapur lapangan menjadi titik yang terus beroperasi selama masa tanggap darurat berlangsung.
Data lapangan menunjukkan sekitar 325 warga masih bertahan di area pengungsian. Sebanyak 90 jiwa menempati tenda milik Dinas Sosial, 85 jiwa berada di tenda BPBD, sekitar 80 orang menempati tenda yang didirikan unsur TNI, sementara sisanya tersebar di tenda milik kepolisian dan Palang Merah.
Di sisi lain, kebutuhan logistik terus mengalir ke lokasi. Dinas Sosial menyalurkan sedikitnya 1.000 nasi kotak untuk memenuhi kebutuhan konsumsi para pengungsi. Distribusi dilakukan secara bertahap untuk memastikan seluruh warga memperoleh makanan selama berada di lokasi penampungan sementara.
Untuk mendukung pelayanan di lapangan, sejumlah kendaraan operasional juga diterjunkan. Korps Brimob mengirimkan beberapa kendaraan dapur lapangan beserta unit pendukung kelistrikan. Baznas turut menyiapkan fasilitas serupa guna memperkuat kapasitas pelayanan kepada warga terdampak.
Ketersediaan air bersih juga menjadi perhatian utama dalam penanganan pascakebakaran. Dua unit mobil tangki air minum dari PDAM disiagakan di lokasi guna memenuhi kebutuhan harian para pengungsi yang masih bertahan di tenda-tenda darurat.
Di tengah kesibukan penanganan, personel gabungan masih terus bekerja menyempurnakan fasilitas yang ada. Tim dari Yon Arhanud 10/F menerjunkan puluhan personel untuk membantu pendirian tenda tambahan. Upaya tersebut dilakukan mengingat kemungkinan bertambahnya kebutuhan ruang penampungan apabila proses pemulihan kawasan membutuhkan waktu lebih lama.
Hingga pemantauan dilakukan, fokus utama pemerintah dan unsur terkait masih tertuju pada pemenuhan kebutuhan dasar warga, mulai dari tempat tinggal sementara, makanan, layanan kesehatan, hingga sanitasi. Pendataan kerugian material juga terus dilakukan untuk memastikan seluruh warga terdampak dapat memperoleh bantuan sesuai kebutuhan masing-masing.
Meski aktivitas di sekitar Pasar Jiung mulai berangsur normal, ratusan warga yang kehilangan tempat tinggal masih menghadapi masa sulit. Di balik lalu lalang petugas dan distribusi bantuan yang terus berlangsung, mereka kini menanti langkah lanjutan pemerintah untuk proses pemulihan dan penanganan pascakebakaran yang lebih permanen.
Sementara itu, aparat dan pemerintah daerah memastikan seluruh kebutuhan mendesak warga akan tetap menjadi prioritas sampai kondisi di lapangan benar-benar kembali stabil.
- Perubahan Struktur DPP LIN Resmi Disahkan pada Rakernas I Surabaya
- Senkom Mitra Polri Kota Tangerang Hadiri Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Lapangan Ahmad Yani
- <a href="https://radarnkri.id/masyarakat-air-putih-turun-tangan-tambang-timah-ilegal-dikecam-dan-ditolak/”>Masyarakat Air Putih Turun Tangan: Tambang Timah Ilegal Dikecam dan Ditolak



Responses (4)