KOTA MAKASSAR, SULAWESI SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Upaya menjaga warisan budaya tidak selalu hadir dalam bentuk pelestarian yang konvensional. Di Makassar, Sulawesi Selatan, As’ad Fadli memilih jalur fesyen dan craft melalui Ripuji Lontaratta, usaha yang didirikannya sejak 2019. Merek ini menghadirkan berbagai produk, seperti tas dan topi, dengan perpaduan desain modern serta motif khas Sulawesi Selatan, terutama aksara Lontara.
Gagasan tersebut berangkat dari keresahan As’ad ketika melihat sebagian anak muda di Kota Makassar mulai asing terhadap aksara Lontara. Padahal, pada saat yang sama, mereka menunjukkan minat yang kuat terhadap aksesori fesyen yang praktis, menarik, dan sesuai dengan perkembangan gaya hidup. Kondisi itu mendorongnya untuk memperkenalkan unsur budaya melalui benda-benda yang dekat dengan keseharian generasi muda.
Ripuji Lontaratta kemudian mengembangkan produk yang tidak hanya mengutamakan fungsi, tetapi juga membawa identitas lokal. Malebbi Totebag dan Maraja Bucket Hat menjadi contoh produk yang diminati pelanggan. Keduanya memadukan bentuk kekinian dengan sentuhan visual yang merujuk pada kekayaan budaya Sulawesi Selatan, sehingga aksara Lontara dapat hadir dalam ruang publik secara lebih akrab.
As’ad menjelaskan bahwa tujuan utama usaha tersebut adalah menghadirkan produk yang tetap sesuai dengan gaya generasi muda, sekaligus menjaga warisan budaya masyarakat Makassar. Baginya, pelestarian aksara Lontara perlu dilakukan melalui pendekatan yang relevan dengan selera dan kebiasaan anak muda. Dengan cara itu, budaya tidak hanya dikenang sebagai bagian dari masa lalu, tetapi juga dapat digunakan, dikenali, dan dibanggakan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Ripuji Lontaratta, aksara Lontara bukan sekadar ornamen untuk memperindah tampilan produk. Aksara tradisional Bugis-Makassar tersebut ditempatkan sebagai bagian penting dari identitas yang ingin dibawa dan diperkenalkan melalui fesyen. Motif, bentuk, serta unsur visual Lontara pada tas dan topi dirancang agar konsumen tidak hanya melihat produk sebagai barang pakai, tetapi juga mengenali nilai budaya yang menyertainya.
Pendekatan itu menjadi bagian dari misi budaya yang melekat pada usaha As’ad. Ia memanfaatkan medium fesyen karena tas dan topi merupakan produk yang dekat dengan aktivitas sehari-hari dan dapat digunakan oleh berbagai kalangan. Dengan demikian, pengenalan aksara Lontara tidak berlangsung melalui ruang budaya saja, melainkan hadir dalam pilihan fesyen yang dapat digunakan secara praktis. Setiap produk menjadi kesempatan untuk mempertemukan kebutuhan berpakaian dengan pesan mengenai pentingnya mengenal warisan lokal.
As’ad menjelaskan, “Kami ingin setiap produk yang dibuat tidak hanya memenuhi kebutuhan fesyen, tetapi juga menjadi media untuk mengenalkan aksara Lontara agar dikenal, dilestarikan, dan dibanggakan.” Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa rancangan produk Ripuji Lontaratta memiliki tujuan yang lebih luas daripada mengikuti selera pasar. Unsur Lontara dipilih secara sadar untuk mengingatkan konsumen bahwa aksara tersebut merupakan bagian dari identitas budaya yang patut mendapat perhatian.
Melalui tas dan topi, Ripuji Lontaratta berupaya membuat aksara Lontara tampil dalam bentuk yang relevan dengan kehidupan modern. Produk fesyen itu tetap mempertimbangkan fungsi, bentuk, dan kebutuhan pemakainya, namun pada saat yang sama membawa pesan pelestarian. Konsumen yang mengenakan atau melihatnya diharapkan memiliki ruang untuk mengenali simbol budaya lokal tersebut. Bagi As’ad, kehadiran aksara Lontara dalam setiap produk merupakan ikhtiar agar warisan budaya tidak berhenti sebagai pengetahuan masa lalu, melainkan terus diperkenalkan melalui benda yang digunakan dalam keseharian.
Perkembangan operasional Ripuji Lontaratta menunjukkan bahwa usaha fesyen berbasis aksara Lontara ini terus bertumbuh. Dalam menjalankan kegiatan sehari-hari, As’ad kini didukung oleh lima tenaga kerja yang membantu proses produksi dan pelayanan usaha. Produk Ripuji Lontaratta dipasarkan melalui gerai offline, media sosial, kanal business to business, pameran, serta berbagai event. Pemanfaatan beragam kanal tersebut membuat produk lebih mudah dikenal oleh masyarakat dengan latar belakang dan kebutuhan yang beragam.
Jangkauan pasar Ripuji Lontaratta juga tidak lagi terbatas di Makassar. Produk yang ditawarkan telah menjangkau konsumen dari berbagai kota, bahkan hingga antarpulau. Perluasan ini menunjukkan adanya minat terhadap fesyen yang memadukan fungsi penggunaan sehari-hari dengan pengenalan aksara dan identitas budaya lokal. Kehadiran di pameran dan event turut membuka peluang pertemuan langsung dengan calon konsumen, sementara media sosial membantu memperkenalkan produk kepada masyarakat yang berada jauh dari gerai.
Dalam perjalanannya, As’ad menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah pembatalan pesanan custom secara tiba-tiba, yang dapat memengaruhi proses kerja karena produk dibuat berdasarkan permintaan tertentu. Ia juga menghadapi persaingan usaha yang kurang sehat. Berbagai pengalaman tersebut tidak dipandang semata-mata sebagai hambatan, melainkan dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki proses bisnis dan mencari solusi yang lebih tepat. Dengan cara itu, Ripuji Lontaratta berupaya meningkatkan kesiapan dalam melayani konsumen dan menjalankan kegiatan usaha secara berkelanjutan.
Dalam operasional transaksi, Ripuji Lontaratta turut memanfaatkan QRIS BRI. Metode pembayaran digital ini memudahkan konsumen karena transaksi dapat dilakukan secara praktis melalui perangkat yang mereka gunakan. Kehadiran QRIS BRI melengkapi saluran penjualan yang telah dikembangkan, baik melalui gerai maupun berbagai kegiatan pemasaran, sekaligus mendukung pengalaman berbelanja yang lebih sederhana bagi pelanggan.
Hubungan Ripuji Lontaratta dengan LinkUMKM by BRI bermula dari kunjungan As’ad ke Rumah BUMN Makassar. Dari kunjungan tersebut, As’ad mengenal berbagai pelatihan dan program yang tersedia untuk mendukung perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah. Keterlibatan itu kemudian membantu Ripuji Lontaratta memperkuat sejumlah aspek penting dalam pengelolaan bisnis, khususnya legalitas usaha dan manajemen sumber daya manusia.
Bagi As’ad, pengetahuan yang diperoleh melalui pelatihan LinkUMKM by BRI memberikan bekal untuk mengatur usaha secara lebih terarah. Ia juga mendapatkan pemahaman mengenai cara mengelola tim, membagi pekerjaan, serta membangun pola kerja yang dapat meningkatkan produktivitas. Pengetahuan tersebut menjadi bagian dari upaya Ripuji Lontaratta dalam mengembangkan kegiatan usaha fesyen berbasis aksara Lontara dengan pengelolaan yang lebih tertata.
M. Candra Utama, Senior Executive Vice President Micro Business Empowerment BRI, menyampaikan bahwa pemberdayaan UMKM perlu dilakukan secara menyeluruh. Dukungan bagi pelaku usaha tidak hanya berkaitan dengan permodalan, tetapi juga mencakup peningkatan kapasitas manajemen, pemenuhan legalitas, penguatan pemasaran, digitalisasi, serta kemampuan membaca peluang pasar. Berbagai aspek tersebut diperlukan agar pelaku UMKM memiliki pengetahuan dan kesiapan untuk mengelola serta mengembangkan usahanya.
Menurut Candra, LinkUMKM by BRI hadir sebagai platform yang membantu pelaku usaha belajar, beradaptasi, dan berkembang. Melalui platform tersebut, pelaku UMKM dapat memperoleh akses terhadap pengetahuan dan program yang mendukung penguatan kapasitas bisnis sesuai kebutuhan usaha mereka. LinkUMKM by BRI menjadi bagian dari ekosistem pemberdayaan UMKM BRI. Hingga September 2026, platform tersebut telah dimanfaatkan oleh 17,6 juta pelaku UMKM.

