Karhutla Mengancam Habitat dan Keselamatan Satwa Liar

oleh -117 Dilihat
oleh
Karhutla Mengancam Habitat dan Keselamatan Satwa Liar

Yogyakarta | Kebakaran hutan dan lahan yang berulang di Indonesia tidak hanya merusak vegetasi dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Asap yang ditimbulkannya juga dapat mengancam kesehatan manusia serta membatasi aktivitas sehari-hari. Di balik dampak yang tampak tersebut, terdapat ancaman serius terhadap keanekaragaman hayati. Habitat satwa liar dapat terbakar, menyusut, atau terputus, sehingga ruang untuk mencari makan, berlindung, dan berkembang biak semakin terbatas. Karena itu, karhutla perlu dipahami bukan semata sebagai persoalan vegetasi dan kualitas udara, melainkan juga sebagai krisis ekologis yang langsung memengaruhi kehidupan satwa. Penanganan yang efektif perlu memasukkan perlindungan habitat sebagai sasaran utama sejak tahap pencegahan dan kesiapsiagaan.

Saat kebakaran terjadi, satwa dapat terjebak di tengah api atau terpaksa meninggalkan wilayah yang selama ini menjadi tempat hidupnya. Asap pekat berisiko mengganggu pernapasan dan orientasi, sementara hilangnya tutupan vegetasi mengurangi perlindungan dari cuaca maupun pemangsa. Satwa yang melarikan diri mungkin bergerak ke kawasan lain untuk mencari makanan dan tempat berlindung. Perpindahan ini dapat meningkatkan persaingan dengan satwa setempat dan memperbesar kemungkinan konflik dengan manusia, terutama ketika satwa memasuki area permukiman atau lahan pertanian. Dampaknya tidak selalu berakhir ketika api padam. Kerusakan sumber pakan, tempat bersarang, dan jalur pergerakan dapat menghambat pemulihan populasi serta mengubah hubungan antarspesies dalam ekosistem.

Oleh sebab itu, upaya mengatasi karhutla perlu berjalan seiring dengan perlindungan satwa dan habitatnya. Pencegahan sejak dini menjadi perhatian utama, termasuk kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, pengelolaan lahan yang bertanggung jawab, serta kesiapan merespons titik api sebelum meluas. Pemantauan kawasan dan informasi yang dapat diakses oleh pihak terkait juga mendukung tindakan lebih cepat. Ketika kebakaran berlangsung, penanganan perlu mempertimbangkan keselamatan petugas, masyarakat, dan satwa, serta menghindari tindakan yang semakin merusak habitat. Setelah api terkendali, pemulihan vegetasi dan kondisi kawasan penting agar satwa memiliki kembali sumber pakan, perlindungan, dan ruang hidup. Dengan demikian, keberhasilan penanganan tidak hanya diukur dari padamnya api atau berkurangnya asap, tetapi juga dari terjaganya fungsi ekosistem dan peluang satwa liar untuk bertahan.

Dalam UGM Podcast yang disiarkan Kamis (15/10), Raden Wisnu Nurcahyo, Guru Besar Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Hewan UGM sekaligus pemerhati satwa liar, menjelaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membawa dampak langsung terhadap keberlangsungan hidup satwa. Api tidak hanya merusak kawasan yang tampak terbakar, tetapi juga menghilangkan ruang yang diperlukan satwa untuk berlindung, tinggal, dan mencari kebutuhan hidupnya. Ketika habitat rusak, satwa kehilangan lingkungan yang selama ini menyediakan tempat bernaung serta kondisi yang mendukung aktivitas sehari-hari.

Salah satu persoalan utama yang disoroti Wisnu adalah ketersediaan pakan. Satwa yang kehilangan habitat akan kesulitan menemukan makanan karena tumbuhan dan sumber pakan lain di kawasan terdampak ikut musnah atau tidak lagi dapat dijangkau. Kondisi tersebut dapat memaksa satwa berpindah ke wilayah lain untuk mencari makanan, sementara kawasan di sekitarnya belum tentu mampu menyediakan kebutuhan yang cukup. Perpindahan itu juga dapat meningkatkan risiko satwa berhadapan dengan manusia. Dengan demikian, dampak kebakaran tidak berhenti ketika api padam; kerusakan sumber pakan dapat terus memengaruhi satwa setelah kejadian berlangsung.

Wisnu juga menyoroti hilangnya tanaman tertentu yang dimanfaatkan satwa untuk perilaku pengobatan mandiri. Sebagian satwa diketahui menggunakan tumbuhan di lingkungan alaminya sebagai bagian dari perilaku yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan. Ketika kebakaran memusnahkan tanaman tersebut, pilihan yang tersedia bagi satwa untuk melakukan perilaku itu turut berkurang. Kerusakan vegetasi karenanya tidak hanya mengurangi jumlah pakan, tetapi dapat menghilangkan sumber daya lain yang memiliki fungsi penting bagi satwa.

Paparan Wisnu menunjukkan bahwa menilai dampak karhutla perlu mencakup lebih dari luas lahan yang terbakar. Kehilangan tempat berlindung, habitat, pakan, dan tanaman yang digunakan dalam perilaku pengobatan mandiri saling berkaitan dengan keselamatan satwa liar. Pemulihan kawasan juga perlu memperhatikan kembalinya sumber daya yang dibutuhkan satwa, termasuk tumbuhan yang menjadi bagian dari lingkungan hidupnya. Tanpa habitat dan pakan yang memadai, satwa akan menghadapi kesulitan untuk bertahan dan menjalankan perilaku alaminya di kawasan tersebut.

Asap tebal dari kebakaran hutan dan lahan dapat berdampak langsung pada kondisi fisik satwa liar. Partikel dan gas yang terkandung di dalamnya berisiko mengiritasi saluran pernapasan, membuat satwa sulit bernapas, serta mengganggu kemampuan mereka untuk bergerak dan mencari makan. Dampaknya dapat terasa lebih berat bagi satwa yang berada dekat titik api atau terjebak di kawasan dengan kualitas udara yang buruk. Hewan yang biasanya mengandalkan penciuman untuk menemukan makanan, mengenali bahaya, atau berkomunikasi juga dapat mengalami gangguan ketika udara dipenuhi asap. Dalam situasi seperti ini, upaya menjauh dari api menjadi semakin sulit, terutama bagi individu yang terluka, masih muda, atau bergerak lambat.

Bahaya tidak selalu tampak setelah kobaran api mereda. Bara dapat bertahan di bawah lapisan tanah, serasah, atau akar yang terbakar, sehingga permukaan hutan terlihat aman padahal masih menyimpan panas. Satwa yang melintasi area tersebut berisiko menginjak bagian yang membara dan mengalami luka bakar pada kaki atau bagian tubuh lain. Cedera semacam itu dapat mengurangi kemampuan mereka untuk berjalan, melarikan diri, maupun mencari sumber makanan. Bara tersembunyi juga berpotensi menyulut kembali kebakaran, sehingga ancaman bagi satwa dan habitat dapat berlangsung lebih lama daripada yang terlihat dari kejauhan. Karena itu, wilayah yang baru terdampak kebakaran tetap dapat membahayakan satwa meskipun tidak lagi memperlihatkan api besar.

Penilaian terhadap dampak kebakaran juga menghadapi kendala karena banyak bagian hutan sulit dijangkau petugas. Satwa yang mati di bagian dalam kawasan mungkin tidak ditemukan, terutama jika lokasi tertutup vegetasi, akses terputus, atau kondisi masih berbahaya untuk dimasuki. Oleh sebab itu, jumlah kematian satwa liar diperkirakan dapat lebih besar daripada yang tercatat melalui pengamatan langsung, tetapi perkiraan tersebut tidak dapat dipastikan tanpa pemeriksaan lapangan yang memadai. Ketiadaan temuan bangkai bukan berarti tidak ada korban. Pemantauan perlu dilakukan secara hati-hati dan berkelanjutan, dengan mempertimbangkan keselamatan petugas serta penggunaan metode yang sesuai untuk menjangkau habitat terdampak. Informasi yang lebih lengkap dapat membantu menjelaskan risiko yang dihadapi satwa dan mendukung perlindungan setelah kebakaran.

Kerusakan ekosistem akibat kebakaran hutan dan lahan tidak berhenti pada hilangnya pepohonan atau perubahan bentang alam. Api dapat menghanguskan tutupan vegetasi yang menjadi tempat berlindung sekaligus sumber pakan bagi satwa liar. Ketika area tersebut terbakar atau kualitasnya menurun, satwa kehilangan akses terhadap buah, biji, dedaunan, serangga, dan hewan kecil yang sebelumnya tersedia. Kerusakan juga dapat memutus jalur pergerakan serta mengurangi ruang aman untuk beristirahat, bersarang, atau membesarkan anak. Dampaknya berbeda menurut jenis satwa dan tingkat kerusakan habitat, tetapi perubahan ketersediaan pakan dan tempat berlindung dapat mendorong mereka mencari lingkungan lain. Perpindahan ini merupakan respons terhadap tekanan ekologis dan berkurangnya sumber daya di habitat asal.

Dalam pencarian makanan dan ruang hidup, sebagian satwa dapat bergerak ke kawasan yang masih menyediakan vegetasi atau sumber pakan. Jika kawasan tersebut berada dekat permukiman maupun lahan pertanian, satwa mungkin memasuki lingkungan yang digunakan manusia. Kebun, ladang, atau tempat penyimpanan hasil panen dapat tampak sebagai sumber makanan yang mudah dijangkau ketika pakan alami sulit ditemukan.

Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Antisipasi Dampak Kabut Asap Karhutla, Babinsa Koramil 0908-01/Loktuan Bagikan Masker kepada Warga | Tak Hanya Logistik, Hercules TNI AU Bawa Dukungan Kesehatan dan Peralatan Untuk Menopang Perjuangan Pasukan Karhutla Kalsel