Jakarta | Proyek LNG Abadi di Blok Masela ditargetkan mulai beroperasi paling lambat pada akhir 2030. Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan target tersebut sebagai bagian dari upaya mempercepat pelaksanaan proyek strategis di sektor gas bumi. Menurutnya, jadwal itu sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar pengembangan proyek Abadi Masela dipercepat. Dengan demikian, batas akhir 2030 menjadi patokan waktu yang diharapkan dapat dijaga dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek, bukan jadwal yang perlu dilampaui jauh.
Djoko menjelaskan bahwa operasi pada 2029 akan menjadi hasil yang baik. Namun, apabila proyek baru dapat beroperasi pada 2030, jadwal tersebut juga dinilai masih sesuai dengan harapan. Penilaian ini menunjukkan adanya ruang dalam sasaran waktu, sekaligus menegaskan bahwa percepatan tetap menjadi perhatian. Akhir 2030 dipandang sebagai batas yang diharapkan tidak bergeser terlalu jauh, sementara opsi beroperasi lebih awal tetap terbuka dan dianggap positif. Pernyataan itu memberikan gambaran mengenai rentang waktu yang dipertimbangkan pemerintah dan SKK Migas untuk memulai operasi LNG Abadi.
Target tersebut disampaikan Djoko dalam sambutannya pada acara Inpex FEED Completion Ceremony di The Ritz-Carlton Jakarta Pacific Place, Selasa (27/10). Dalam kesempatan itu, ia mengaitkan jadwal operasi dengan arahan Presiden untuk mempercepat proyek. Penyelesaian tahap FEED menjadi konteks acara yang dihadiri para pemangku kepentingan proyek, sedangkan sasaran operasi menjadi salah satu hal penting yang disoroti dalam sambutan kepala SKK Migas. Dengan menyebut 2029 sebagai opsi yang baik dan 2030 sebagai jadwal yang tetap sesuai, Djoko menekankan pentingnya menjaga target agar proyek dapat mulai beroperasi selambat-lambatnya pada penghujung 2030. Kejelasan sasaran tersebut menjadi acuan bagi pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan proyek, sambil tetap mengupayakan kemungkinan operasi lebih dini. SKK Migas menyampaikan bahwa dorongan percepatan tersebut mengikuti arahan Presiden, dengan harapan jadwal proyek tetap berada dalam rentang yang telah disebutkan dan tidak mundur jauh melewati batas akhir yang dituju.
Pengelola Blok Masela menargetkan penyelesaian penandatanganan perjanjian jual beli gas (PJBG) dengan sejumlah pembeli dalam negeri sebagai bagian dari persiapan pengembangan proyek. Djoko menyampaikan bahwa penandatanganan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Forum Ekonomi, Keuangan, dan Komersial Hulu Minyak dan Gas Bumi (Forek Hulu Migas) tahun ini. Rencana itu masih berupa agenda yang akan dituntaskan, sehingga PJBG belum dapat dinyatakan telah ditandatangani. Proses ini menjadi salah satu langkah penting untuk menghubungkan rencana produksi gas dari Blok Masela dengan kebutuhan konsumen domestik.
Alokasi gas untuk pasar dalam negeri telah memperoleh persetujuan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia. Gas yang disalurkan melalui pipa dialokasikan untuk PT Pupuk Indonesia, sedangkan gas alam cair atau LNG diperuntukkan bagi PT PLN dan PT PGN. Pembagian tersebut mencerminkan rencana pemanfaatan hasil produksi bagi beberapa sektor, termasuk kebutuhan bahan baku industri pupuk serta pasokan energi dan gas. Rincian alokasi ini menjadi dasar bagi para pihak dalam membahas pengaturan jual beli, termasuk volume, jadwal penyerahan, dan ketentuan komersial yang perlu disepakati.
Penuntasan PJBG diharapkan memberikan kepastian mengenai pihak-pihak yang akan membeli gas hasil produksi Blok Masela. Kepastian pembeli dapat mendukung perencanaan pengembangan proyek, penyusunan skema penyaluran, dan koordinasi pengelola, pemerintah, serta calon pembeli. Namun, kepastian tersebut tetap bergantung pada penyelesaian pembahasan dan penandatanganan dokumen oleh pihak terkait. Dengan jadwal yang diarahkan pada Forek Hulu Migas tahun ini, pengelola berupaya mendorong kesepakatan tanpa mengabaikan proses yang harus dilalui. Setelah PJBG ditandatangani, para pihak akan memiliki landasan komersial yang lebih jelas untuk menindaklanjuti pemanfaatan gas sesuai alokasi yang telah disetujui. Langkah ini juga mendukung upaya memastikan produksi Blok Masela terserap oleh pengguna domestik ketika proyek mulai beroperasi, sekaligus memberi gambaran yang lebih terukur bagi perencanaan pasokan jangka panjang.
Kepastian pembeli gas menjadi salah satu faktor penting dalam tahapan persiapan Proyek LNG Abadi Masela. Sebelum konsorsium dapat menetapkan keputusan investasi akhir atau final investment decision (FID), terdapat sejumlah persyaratan yang perlu dituntaskan, termasuk kepastian bahwa gas yang akan diproduksi memiliki pihak yang siap menyerapnya. Dengan demikian, pembahasan mengenai pembeli dan penjualan gas tidak terpisah dari proses menuju keputusan investasi.
Djoko menjelaskan bahwa kepastian penyerapan gas merupakan salah satu persyaratan bagi konsorsium pengelola Masela untuk menyelesaikan proses menuju FID. Konsorsium tersebut terdiri atas Inpex, Pertamina, dan Searah. Ketiga anggota konsorsium perlu memastikan berbagai prasyarat proyek, termasuk aspek komersial terkait penjualan gas, sebelum keputusan investasi dapat ditetapkan sesuai tahapan yang direncanakan.
Dalam konteks itu, Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) memiliki peran utama. Djoko menyebut PJBG sebagai persyaratan utama yang perlu diselesaikan, disetujui, atau ditandatangani konsorsium untuk menuntaskan proses menuju FID. Perjanjian tersebut menjadi bagian dari kepastian penyerapan, sekaligus memberi dasar bagi para pihak untuk menilai aspek komersial proyek sebelum menyetujui komitmen investasi. Penjelasan itu menempatkan PJBG sebagai salah satu unsur yang berkaitan langsung dengan kesiapan konsorsium melangkah ke keputusan akhir.
FID proyek ini ditargetkan pada Januari 2027. Karena itu, pemenuhan persyaratan penjualan gas menjadi bagian dari rangkaian pekerjaan yang perlu berjalan seiring dengan persiapan investasi. Kepastian pembeli bukan berarti seluruh proses proyek otomatis selesai, tetapi merupakan prasyarat yang disebut Djoko dalam tahapan menuju keputusan tersebut. Konsorsium harus menyelesaikan ketentuan terkait PJBG agar dapat menuntaskan dan menyepakati FID. Perkembangan pembahasan perjanjian ini karenanya dapat menjadi salah satu penanda penting kemajuan persiapan proyek, tanpa mengubah sasaran waktu FID yang telah ditetapkan. Hubungan penyerapan gas dan keputusan investasi menunjukkan bahwa kesiapan komersial menjadi bagian dari pertimbangan sebelum proyek bergerak ke tahap pembangunan berikutnya.
Proyek LNG Abadi Masela dirancang sebagai pengembangan gas berskala besar dengan kebutuhan investasi sekitar US$22 miliar. Nilai tersebut mencerminkan cakupan fasilitas yang perlu dibangun untuk mengolah gas dari lapangan, memproduksi gas alam cair (LNG), serta menyalurkan sebagian gas melalui jaringan pipa. Angka investasi dan kapasitas produksi ini merupakan bagian dari rancangan proyek, bukan gambaran kegiatan produksi yang telah berjalan. Karena itu, skala tersebut memberi konteks mengenai besarnya pekerjaan dan infrastruktur yang harus disiapkan sebelum target operasi pada akhir 2030 dapat dicapai.
Dalam rencana pengelola, Lapangan Abadi akan menghasilkan gas bumi sebesar 1.380 juta kaki kubik standar per hari, atau MMSCFD. Gas tersebut direncanakan diolah menjadi LNG sebanyak 9,5 juta ton per tahun. Kapasitas ini menempatkan fasilitas pengolahan LNG sebagai unsur utama rancangan proyek, sementara tahapan pengembangan harus mencakup pembangunan sarana produksi dan pemrosesan yang sesuai dengan target tersebut. Besarnya kapasitas juga menunjukkan bahwa proyek disiapkan untuk memasok energi dalam volume besar setelah fasilitas selesai dan beroperasi.
Selain produksi LNG, rancangan Abadi Masela mencakup penyaluran 100 MMSCFD gas melalui jaringan pipa. Proyek juga ditargetkan menghasilkan kondensat sekitar 35.000 barel per hari sebagai produk lain dari pengembangan lapangan. Dengan demikian, rencana produksinya menggabungkan tiga keluaran: LNG untuk pengiriman, gas pipa untuk penyaluran langsung, dan kondensat. Seluruh angka itu merupakan target desain yang menjadi dasar perencanaan fasilitas serta kebutuhan investasi, bukan hasil produksi aktual saat ini. Realisasinya akan bergantung pada penyelesaian pengembangan, kesiapan infrastruktur, dan dimulainya operasi sesuai jadwal.
