Urutan Kericuhan Malioboro Setelah Aksi Sumpah Pemuda Berakhir

oleh -153 Dilihat
oleh
Urutan Kericuhan Malioboro Setelah Aksi Sumpah Pemuda Berakhir

Serang | Kericuhan di kawasan Malioboro terjadi setelah demonstrasi mahasiswa dan pemuda untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda berakhir pada Rabu, 28 Oktober 2026. Peristiwa tersebut perlu dibedakan dari kegiatan penyampaian aspirasi yang berlangsung sebelumnya di Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Berdasarkan keterangan kepolisian, aksi di lokasi itu berjalan tertib dan damai. Dengan demikian, kericuhan bukan terjadi ketika para peserta masih menyampaikan aspirasi, melainkan muncul setelah rangkaian demonstrasi selesai dan massa meninggalkan lokasi.

Kabid Humas Polda DIY Kombes Pol Ihsan menyampaikan bahwa aksi di Titik Nol Kilometer berlangsung tanpa gangguan selama peserta menyampaikan tuntutan mereka. Para mahasiswa dan pemuda berkumpul untuk memperingati Sumpah Pemuda sekaligus menyuarakan aspirasi. Kepolisian menyebut kegiatan tersebut berjalan tertib, sehingga suasana aksi di titik itu tetap terkendali. Keterangan ini memberi gambaran mengenai kondisi demonstrasi sebelum munculnya kericuhan di kawasan Malioboro, serta menegaskan bahwa dua peristiwa tersebut berlangsung pada tahap waktu yang berbeda.

Setelah aksi selesai, massa membubarkan diri sekitar pukul 17.30 WIB. Waktu pembubaran itu menjadi penanda penting dalam urutan kejadian: demonstrasi damai telah berakhir lebih dahulu, kemudian kericuhan terjadi di kawasan Malioboro. Pernyataan tersebut tidak menyamakan kericuhan dengan jalannya aksi di Titik Nol Kilometer. Pemisahan kronologi ini penting agar informasi mengenai peringatan Hari Sumpah Pemuda disampaikan secara tepat, termasuk keterangan bahwa kegiatan penyampaian aspirasi berlangsung tertib dan damai hingga peserta mulai membubarkan diri pada sore hari.

Menurut Ihsan, keadaan di kawasan Malioboro berubah setelah aksi Sumpah Pemuda berakhir. Dari sisi barat Malioboro, sekelompok orang yang identitasnya belum diketahui datang dan kemudian bergerak menuju Gedung DPRD DIY serta Jalan Perwakilan. Pergerakan kelompok tersebut menjadi bagian dari urutan peristiwa yang terjadi setelah kegiatan aksi selesai. Ihsan menyebut kedatangan mereka sebagai titik ketika situasi mulai berubah, tetapi keterangan itu tidak dengan sendirinya menjelaskan siapa mereka atau apa tujuan khusus kedatangan mereka. Informasi yang tersedia hanya menerangkan arah kedatangan dan jalur pergerakan kelompok itu, sehingga rincian lain perlu diperlakukan secara hati-hati dan tidak ditambahkan sebagai kepastian.

Sebelum bertindak, kelompok tersebut tidak menyampaikan orasi. Dengan demikian, menurut keterangan Ihsan, tidak ada penyampaian pidato atau seruan yang mendahului tindakan mereka. Urutan ini penting dicatat tanpa menarik kesimpulan lebih jauh mengenai alasan mereka datang atau maksud dari tindakan yang kemudian terjadi. Tidak tersedianya orasi sebelum tindakan juga tidak cukup untuk memastikan apakah kelompok itu berkaitan dengan kegiatan sebelumnya. Keterangan mengenai waktu, lokasi, dan tindakan dapat membantu menggambarkan kronologi, tetapi tidak otomatis membuktikan identitas maupun afiliasi orang-orang yang terlibat. Karena itu, penyebutan kelompok tak dikenal lebih sesuai dengan batas informasi yang disampaikan.

Kedatangan dari sisi barat dan pergerakan menuju Gedung DPRD DIY serta Jalan Perwakilan merupakan rincian yang disampaikan Ihsan tentang perubahan situasi pascaaksi. Namun, sumber tidak menetapkan apakah orang-orang tersebut merupakan peserta demonstrasi, bagian dari kelompok lain, atau pihak yang tidak berkaitan dengan aksi Sumpah Pemuda. Hubungan mereka dengan para demonstran tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan arah kedatangan atau keberadaan mereka di kawasan yang sama. Dalam menyusun kronologi, pembedaan fakta yang dilaporkan dan dugaan menjadi penting agar pembaca tidak menerima atribusi yang belum terverifikasi. Oleh sebab itu, kelompok tersebut tetap disebut sebagai orang-orang yang identitas dan afiliasinya belum diketahui.

Menurut keterangan kepolisian, situasi di sekitar gedung memanas ketika sekelompok orang diduga melakukan provokasi dengan melempar petasan, kembang api, dan batu. Lemparan tersebut diarahkan kepada petugas parkir serta personel kepolisian yang berada di sekitar lokasi. Tindakan itu membuat keributan yang terjadi setelah aksi Sumpah Pemuda berakhir semakin sulit dikendalikan dan mendorong petugas yang berjaga untuk turun tangan.

Personel kepolisian yang berada di sekitar gedung sempat keluar untuk melerai keributan. Upaya tersebut dilakukan ketika lemparan mulai mengganggu keadaan di lokasi dan menimbulkan risiko bagi orang-orang di sekitarnya. Namun, menurut polisi, kelompok tersebut memberikan perlawanan. Alih-alih mereda, situasi kembali memanas setelah batu, petasan, dan kembang api kembali dilemparkan ke arah petugas.

Rangkaian tindakan itu membuat upaya untuk menghentikan keributan menghadapi hambatan. Petugas yang semula berusaha melerai harus menghadapi lemparan berulang dari kelompok tersebut. Dalam keterangan yang disampaikan, polisi juga menyebut adanya pembakaran sejumlah barang di sekitar lokasi. Tidak dijelaskan lebih lanjut jenis barang yang dibakar maupun jumlahnya, sehingga keterangan tersebut hanya menggambarkan bahwa pembakaran turut terjadi dalam rangkaian kericuhan.

Pelemparan dan pembakaran itu menjadi bagian penting dari kronologi karena menunjukkan bagaimana keadaan berubah dari keributan menjadi situasi yang lebih tegang. Petugas parkir dan personel kepolisian disebut menjadi sasaran lemparan, sementara upaya melerai justru dihadapkan pada perlawanan. Setelah kelompok itu kembali melempar batu, petasan, dan kembang api, serta sejumlah barang di sekitar lokasi dibakar, ketegangan di sekitar gedung semakin meningkat.

Keterangan polisi tersebut menjelaskan tindakan yang diduga dilakukan kelompok itu, tetapi tidak merinci identitas mereka ataupun motifnya. Karena itu, uraian mengenai provokasi, perlawanan, dan pembakaran perlu dipahami sebagai informasi berdasarkan keterangan kepolisian. Rangkaian tersebut memberi gambaran tentang faktor-faktor yang memanaskan keadaan setelah aksi selesai, tanpa menambahkan rincian yang tidak disebutkan mengenai barang yang terbakar atau dampak lain di lokasi.

Setelah kelompok tersebut kembali melakukan pelemparan, personel yang berada di sekitar gedung DPRD DIY mundur masuk ke dalam bangunan. Situasi itu mendorong aparat kepolisian mengambil langkah untuk mengendalikan kerumunan dan mencegah massa terus bergerak di koridor Malioboro. Polisi kemudian dikerahkan untuk mendorong kelompok tersebut menjauh dari kawasan itu, dengan arah pergerakan menuju Tugu Jogja. Upaya pemukulan mundur tersebut menjadi bagian dari penanganan setelah aksi Sumpah Pemuda berakhir dan kericuhan kembali terjadi.

Pergerakan massa dari koridor Malioboro menuju Tugu Jogja berlangsung sebagai langkah aparat untuk menjaga jarak kerumunan dan gedung DPRD DIY. Langkah itu juga dimaksudkan untuk meredakan keadaan di sekitar lokasi, setelah personel sebelumnya berlindung di dalam gedung akibat adanya pelemparan. Dalam situasi yang masih berubah, polisi berupaya mengarahkan massa menjauh dari titik kericuhan. Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa penanganan aparat berfokus pada pengendalian pergerakan massa, bukan sekadar menjaga area gedung.

Ihsan menilai kelompok yang terlibat diduga memanfaatkan situasi setelah demonstrasi berakhir untuk memicu kericuhan. Ia juga menyebut kemungkinan adanya penyusup di tengah massa mahasiswa, tetapi hal itu disampaikan sebagai dugaan, bukan kepastian. Menurut Ihsan, sebagian besar kelompok tersebut datang dari arah barat dan langsung menuju gedung DPRD DIY. Keterangan itu memberi konteks mengenai kemungkinan asal dan tujuan kelompok, namun tidak dengan sendirinya memastikan identitas ataupun motif setiap orang yang berada di lokasi. Karena itu, dugaan tersebut perlu dibedakan dari urutan kejadian yang terlihat, yakni pelemparan berulang, mundurnya personel ke dalam gedung, lalu pengerahan polisi untuk mendorong massa ke arah Tugu Jogja.

Baca juga: Aksi Buruh di Jakarta Hari Ini: Update Waktu Berakhir | Kebakaran Bangunan Hamzah Batik di Malioboro: Kronologi dan Penanganannya | Kebakaran Melanda Pusat Perbelanjaan Batik di Malioboro