Dari Bank Sampah ke Bioavtur: Upaya Pertamina Mengolah Minyak Jelantah

oleh -452 Dilihat
oleh
Dari Bank Sampah ke Bioavtur: Upaya Pertamina Mengolah Minyak Jelantah

Jakarta | Pertamina Patra Niaga mengembangkan pengolahan minyak jelantah rumah tangga menjadi bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau sustainable aviation fuel (SAF), yang juga dikenal sebagai bioavtur. Program ini menghubungkan pengumpulan minyak bekas dari masyarakat dengan pemanfaatannya sebagai bahan baku energi untuk sektor penerbangan. Minyak jelantah yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah dapat masuk ke rantai produksi bahan bakar, selama memenuhi kebutuhan proses pengolahan. Inisiatif tersebut menjadi salah satu upaya untuk memperluas penggunaan bahan baku alternatif dalam produksi bahan bakar, sekaligus mendukung pengembangan SAF di dalam negeri.

Pengolahan dilakukan di Green Refinery Cilacap, Jawa Tengah, menggunakan fasilitas thermal distillate hydro treating (TDHT). Pertamina menerapkan skema co-processing, yaitu minyak jelantah diproses bersama komponen bahan baku lain di dalam unit yang sama, bukan diolah secara terpisah sebagai satu-satunya bahan baku. Menurut Wakil Direktur Utama I Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman, produksi SAF tersebut telah memasuki tahap komersialisasi. Ia menyampaikan bahwa pada Oktober, produksi co-processed SAF mencapai sekitar 11 juta liter. Angka itu menunjukkan bahwa pengolahan telah bergerak melampaui tahap uji coba dan mulai berlangsung dalam skala komersial.

Dalam proses tersebut, penggunaan minyak jelantah dibatasi dengan rasio maksimal 5 persen dari total kapasitas produksi unit TDHT. Batas ini merupakan bagian dari pengaturan komposisi bahan baku dalam skema co-processing, sementara komponen lain tetap digunakan untuk memenuhi kebutuhan proses. Pendekatan tersebut juga memungkinkan perusahaan mengoptimalkan infrastruktur kilang yang telah tersedia. Dengan memanfaatkan fasilitas pengolahan yang ada, Pertamina dapat mengintegrasikan bahan baku alternatif ke dalam kegiatan produksi tanpa membangun seluruh sistem dari awal. Pengembangan bioavtur melalui fasilitas Cilacap dengan demikian memadukan pemanfaatan limbah rumah tangga, kapasitas kilang, dan produksi bahan bakar penerbangan berkelanjutan secara terencana.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengunjungi Kilang Cilacap pada Senin (26/10/2026) untuk meninjau pengolahan minyak jelantah menjadi bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau sustainable aviation fuel (SAF), yang dikenal sebagai bioavtur. Kunjungan ini menyoroti upaya mengembangkan sumber bahan baku alternatif sekaligus memperkuat teknologi pengolahan di dalam negeri. Minyak bekas memasak yang selama ini berisiko mencemari lingkungan dapat dikumpulkan dan diolah menjadi bahan bakar bernilai guna, dengan tetap memenuhi kebutuhan mutu dan proses industri penerbangan.

Peninjauan tersebut sejalan dengan komitmen Pertamina Patra Niaga untuk membangun ekosistem energi berkelanjutan. Pengembangan SAF tidak hanya bertumpu pada fasilitas kilang, tetapi juga memerlukan pasokan bahan baku yang terkelola, rantai pengumpulan yang dapat diandalkan, dan keterlibatan berbagai pihak. Dalam pandangan Taufik, inisiatif ini menghubungkan tiga unsur penting: pemanfaatan limbah, inovasi teknologi pengolahan, serta penyediaan bahan bakar berkelanjutan bagi industri penerbangan. Keterhubungan itu dapat membantu memperluas pemanfaatan minyak jelantah sekaligus mendukung langkah industri dalam mencari pilihan energi dengan dampak lingkungan lebih rendah.

Wakil Presiden menekankan bahwa pengembangan SAF perlu berjalan beriringan dengan pemberdayaan warga setempat. Minyak jelantah yang dihimpun masyarakat melalui bank sampah sebaiknya memberikan manfaat ekonomi bagi para pengumpul dan komunitas, bukan sekadar menjadi bahan baku bagi fasilitas pengolahan. Dengan sistem pengumpulan yang tertata, warga dapat berperan dalam rantai pasok, sementara hasilnya tersambung ke industri nasional. Pendekatan tersebut menjadikan bank sampah sebagai penghubung kegiatan ekonomi masyarakat dan kebutuhan energi sektor penerbangan. Keberhasilan ekosistem ini pada akhirnya bergantung pada kerja sama berkelanjutan warga, pengelola, perusahaan, dan pemerintah, serta tata kelola yang memastikan nilai dari limbah dapat dirasakan secara luas.

Pertamina Patra Niaga membangun rantai pengumpulan minyak jelantah dengan melibatkan warga dan kelompok pengelola sampah di sekitar kilang. Pendekatan ini membuat pengumpulan tidak hanya bergantung pada satu lokasi, tetapi bertumpu pada jaringan komunitas yang dekat dengan keseharian masyarakat. Melalui bank sampah binaan, warga memiliki saluran untuk menyetorkan minyak bekas memasak, sementara kelompok pengelola membantu mengoordinasikan penerimaan dan pencatatan setoran.

Tiga bank sampah yang terlibat dalam program ini adalah Beo Asri, Abhipraya, dan Cahaya Asri. Volume pengumpulan tahunan yang tercatat masing-masing mencapai 2.283 liter dari Beo Asri, 984 liter dari Abhipraya, dan 717 liter dari Cahaya Asri. Angka tersebut menunjukkan kontribusi kelompok masyarakat dalam mengumpulkan bahan baku yang sebelumnya kerap dibuang bersama limbah rumah tangga. Pertamina juga menyediakan sarana pengumpulan yang dapat diakses warga agar proses penyetoran lebih praktis.

Setoran minyak jelantah memberikan manfaat ekonomi secara langsung. Minyak yang diterima ditukar dengan uang, sehingga warga memperoleh tambahan nilai dari bahan yang biasanya dianggap tidak berguna. Skema ini dapat mendorong kebiasaan memilah dan menyimpan jelantah, sekaligus memberi insentif bagi rumah tangga untuk menyalurkannya melalui jalur yang telah disediakan. Dengan dukungan pengelola bank sampah, proses pengumpulan dapat berlangsung lebih teratur dan mudah dijangkau.

Selain melalui bank sampah, Pertamina menyediakan collection box jelantah di Pasar Amarta Kutawaru. Titik ini memberi pilihan bagi masyarakat yang ingin menyetor minyak saat beraktivitas di pasar. Setoran dapat ditukar dengan uang atau saldo e-wallet, sehingga transaksi lebih fleksibel. Perluasan lokasi dan pilihan pembayaran diharapkan memudahkan partisipasi warga serta memperkuat rantai pengumpulan di tingkat lokal.

Program ini juga berupaya mengubah cara pandang terhadap minyak jelantah. Alih-alih membuangnya ke saluran air atau lingkungan, masyarakat diajak mengelolanya secara bertanggung jawab melalui titik pengumpulan yang tersedia. Pengelolaan yang tepat membantu mengurangi potensi pencemaran, sementara penyetoran melalui jaringan komunitas membuat jelantah lebih mudah dihimpun untuk pemanfaatan berikutnya. Dengan demikian, kegiatan ini menghubungkan kepedulian lingkungan dengan manfaat ekonomi bagi warga.

Perluasan pemanfaatan bahan baku terbarukan menjadi salah satu langkah penting dalam pengembangan energi rendah karbon. Dalam upaya tersebut, Pertamina tidak hanya mengolah minyak jelantah menjadi bahan bakar penerbangan berkelanjutan, tetapi juga mendorong pemanfaatan produk yang dihasilkan ke pasar. Produk Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF) telah dipasarkan kepada sejumlah maskapai penerbangan domestik dan internasional. Perkembangan ini menunjukkan bahwa SAF mulai memperoleh ruang dalam rantai pasok penerbangan, sekaligus memperlihatkan potensi bahan bakar alternatif untuk mendukung kebutuhan sektor tersebut. Pemasaran kepada maskapai menjadi bagian dari upaya memperkenalkan bahan bakar yang berasal dari sumber terbarukan, tanpa mengabaikan kebutuhan akan standar dan keandalan dalam penggunaannya.

Di luar pengembangan SAF, minyak jelantah juga berpeluang dimanfaatkan untuk menghasilkan jenis energi lain. Pertamina Patra Niaga telah melakukan uji coba pemanfaatan minyak jelantah sebagai salah satu bahan baku green gasoline. Uji coba tersebut memperluas cakupan pemanfaatan minyak bekas, yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah rumah tangga maupun usaha kuliner. Dengan pengolahan yang tepat, minyak jelantah dapat menjadi bagian dari bahan baku energi dan memiliki nilai guna lebih tinggi. Langkah ini sekaligus membuka kemungkinan pengembangan berbagai produk berbasis bahan baku terbarukan, selain bahan bakar penerbangan. Namun, pemanfaatan dalam skala lebih luas tetap berkaitan dengan pengembangan teknologi, kesiapan rantai pasok, serta pengumpulan bahan baku yang memadai.

Pengembangan produk energi dari minyak jelantah juga menghubungkan inovasi di sektor industri dengan praktik pengelolaan limbah di tingkat masyarakat. Ketersediaan bahan baku yang terkumpul secara teratur menjadi faktor penting agar pemanfaatannya dapat berjalan berkelanjutan. Karena itu, upaya mengolah minyak jelantah tidak hanya menyangkut proses di fasilitas pengolahan, tetapi juga memerlukan keterlibatan masyarakat dalam pengumpulan dan pemilahan.

Baca juga: Keuntungan Menggunakan Oli Pertamina Enduro bagi Driver Ojol | Promo Khusus Oli Pertamina untuk Driver Ojol di Jakarta