Jakarta | Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memproyeksikan nilai ekspor produk hilirisasi Indonesia dapat mencapai sekitar US miliar pada 2026. Dengan asumsi kurs Rp17.994 per dolar AS, nilai tersebut setara dengan kurang lebih Rp899,70 triliun. Proyeksi ini menggambarkan potensi peningkatan ekspor dari produk yang telah melalui pengolahan lebih lanjut di dalam negeri, bukan semata-mata penjualan bahan mentah. Angka tersebut merupakan perkiraan yang bergantung pada perkembangan produksi, permintaan pasar, serta realisasi kapasitas industri terkait.
Ruang lingkup proyeksi DEN mencakup sejumlah produk hilirisasi, terutama hasil pengolahan nikel dan aluminium, serta komponen baterai litium. Pengembangan rantai produksi di sektor-sektor tersebut dinilai dapat memperbesar nilai tambah yang tercatat dalam ekspor. Namun, nilai gabungan sekitar US$50 miliar itu perlu dipahami sebagai sasaran atau potensi pada 2026, bukan angka ekspor yang telah terealisasi. Kinerja aktualnya akan dipengaruhi lain oleh kesiapan fasilitas pengolahan, pasokan bahan baku, investasi, dan kondisi perdagangan global.
Sebagai pembanding, nilai ekspor produk hilirisasi pada 2024 disebut berada di sekitar US$34,5 miliar, atau setara Rp620,79 triliun dengan asumsi kurs yang sama. Dengan demikian, proyeksi 2026 menunjukkan kemungkinan kenaikan sekitar US$15,5 miliar, setara kurang lebih Rp278,86 triliun. Jika dibandingkan dengan basis 2024, nilai yang diproyeksikan itu hampir 45 persen lebih tinggi. Perbandingan ini memberi gambaran skala pertumbuhan yang diharapkan dalam rentang dua tahun, meskipun persentase akhirnya dapat berubah mengikuti hasil ekspor tahunan.
Angka dan perkiraan tersebut disampaikan oleh DEN, termasuk melalui anggota DEN Septian Hario Seto. Penyebutan sumber penting karena proyeksi merupakan penilaian lembaga, sementara realisasi akan diketahui setelah data perdagangan 2026 tersedia. Oleh sebab itu, capaian menuju Rp899,70 triliun dapat dipantau dengan melihat perkembangan ekspor produk nikel, aluminium, dan komponen baterai litium, serta kontribusi masing-masing kelompok terhadap total. Perbandingan dengan 2024 menyediakan titik awal untuk menilai apakah ekspansi hilirisasi benar-benar mendorong peningkatan nilai ekspor sesuai perkiraan DEN.
Seto menilai perkembangan industri hilirisasi Indonesia kini bergerak melampaui pengolahan nikel. Nikel tetap menjadi bagian penting dari agenda peningkatan nilai tambah, tetapi cakupan kegiatan industri semakin beragam. Perluasan ini mencerminkan upaya mengolah lebih banyak sumber daya dan bahan baku di dalam negeri sebelum dipasarkan, sehingga peluang ekonomi tidak hanya bergantung pada satu komoditas. Dengan bertambahnya jenis produk yang dihasilkan, struktur ekspor nasional berpotensi menjadi lebih beragam dan memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Salah satu bidang yang berkembang adalah industri aluminium. Pengolahan dan produksi aluminium dapat memperluas rangkaian produk domestik, sekaligus menyediakan bahan bagi berbagai kegiatan manufaktur. Di samping itu, produksi komponen baterai litium menunjukkan bahwa hilirisasi juga merambah produk yang terkait dengan rantai pasok teknologi dan kendaraan listrik. Kedua perkembangan tersebut menjadi contoh perubahan dari ekspor bahan mentah menuju produk yang telah melalui proses pengolahan atau manufaktur. Namun, skala produksi, kapasitas industri, dan kemampuan menembus pasar ekspor tetap menjadi faktor yang menentukan besarnya kontribusi.
Jika kapasitas produksi terus tumbuh dan permintaan pasar dapat dijangkau, aluminium serta komponen baterai litium berpotensi menambah nilai ekspor Indonesia. Penjualan produk bernilai tambah ke luar negeri juga dapat menjadi sumber tambahan devisa, melengkapi penerimaan dari komoditas yang selama ini lebih menonjol. Potensi tersebut perlu dipahami sebagai peluang, bukan hasil yang telah dipastikan terealisasi. Besarnya dampak pada ekspor akan bergantung pada kemampuan pelaku industri menjaga mutu, membangun rantai pasok, dan memenuhi kebutuhan pembeli. Karena itu, perluasan hilirisasi di luar nikel dapat memperkuat prospek ekspor nasional, sementara hasil akhirnya tetap bergantung pada perkembangan industri dan realisasi perdagangan pada periode mendatang.
Produk aluminium menjadi salah satu komoditas yang diperkirakan berkontribusi besar terhadap peningkatan ekspor hasil hilirisasi Indonesia. Dewan Energi Nasional (DEN) memproyeksikan nilai ekspor aluminium pada 2026 mencapai sekitar US$7,2 miliar, setara Rp129,53 triliun. Angka tersebut menggambarkan potensi penjualan produk olahan ke pasar luar negeri setelah kapasitas pengolahan domestik berkembang. Proyeksi ini merupakan perkiraan berdasarkan kondisi dan rencana yang menjadi acuan saat ini, sehingga berbeda dari nilai ekspor yang sudah terealisasi maupun peluang tambahan yang masih bergantung pada keputusan investasi ke depan.
Sebagai pembanding, nilai ekspor aluminium pada 2024 tercatat sekitar US$3,5 miliar atau Rp62,97 triliun. Dengan demikian, proyeksi DEN untuk 2026 berada pada tingkat lebih dari dua kali lipat nilai 2024. Kenaikan yang diperkirakan ini menunjukkan besarnya ruang pertumbuhan apabila industri mampu meningkatkan produksi dan memperluas penjualan produk bernilai tambah. Perbandingan tersebut tetap perlu dibaca sebagai gambaran proyeksi, bukan kepastian bahwa nilai ekspor akan meningkat dengan besaran yang sama. Realisasinya akan dipengaruhi oleh perkembangan kapasitas produksi, kesiapan fasilitas, permintaan pasar, serta faktor lain yang memengaruhi perdagangan aluminium.
Di luar proyeksi tersebut, Seto memperkirakan ekspor aluminium berpeluang melampaui US$10 miliar, atau sekitar Rp179,91 triliun, seiring bertambahnya investasi pada smelter baru di Indonesia. Perkiraan ini menggambarkan skenario dengan dukungan tambahan kapasitas pengolahan, bukan angka dasar yang sama dengan proyeksi DEN. Penambahan smelter dapat memperbesar kemampuan industri untuk mengolah bahan baku menjadi produk aluminium yang siap dipasarkan, tetapi dampaknya bergantung pada keputusan investasi dan pelaksanaan proyek. Karena itu, peluang ekspor di atas US$10 miliar sebaiknya dipahami sebagai potensi yang dapat terbuka apabila investasi baru benar-benar terealisasi dan fasilitasnya beroperasi. Pembedaan proyeksi 2026 dan peluang bersyarat ini penting untuk menilai perkembangan hilirisasi secara proporsional.
Indonesia mulai memperluas kegiatan industrinya ke produksi komponen baterai litium, termasuk anoda dan katoda. Perkembangan ini menandai pergeseran dari sekadar mengolah bahan mentah menuju pembuatan bagian yang memiliki fungsi langsung dalam rantai pasok baterai. Anoda dan katoda merupakan komponen penting yang menentukan kinerja sel baterai, sehingga kemampuan memproduksinya dapat memperkuat posisi industri nasional dalam ekosistem kendaraan listrik dan penyimpanan energi. Pengembangan tersebut berjalan seiring dengan pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian yang mendukung kebutuhan industri.
Salah satu hal yang disoroti Seto adalah keberadaan fasilitas pemurnian litium di Indonesia, meskipun negara ini tidak memiliki sumber daya litium sendiri. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa industrialisasi tidak selalu harus bertumpu pada ketersediaan bahan tambang di dalam negeri. Bahan baku dapat diperoleh melalui rantai pasok, kemudian diproses menjadi material atau komponen yang dibutuhkan oleh industri. Dengan demikian, nilai ekonomi juga dapat tercipta melalui penguasaan teknologi, kegiatan pemurnian, produksi, dan keterhubungan antarfasilitas.
Menurut Seto, kegiatan industrialisasi dapat mencakup pengolahan bahan yang sumber daya alamnya tidak tersedia di dalam negeri. Hal itu menjadi bagian dari pembentukan ekosistem industri yang lebih lengkap, bukan semata-mata kegiatan yang mengikuti lokasi tambang. Keberadaan fasilitas pengolahan litium bersama produksi anoda dan katoda memperlihatkan bagaimana berbagai tahapan dapat dikembangkan untuk menopang manufaktur. Penguatan rantai tersebut berpotensi memperluas peluang bagi industri terkait, sekaligus meningkatkan bagian nilai tambah yang dihasilkan di Indonesia.
Seto menyampaikan kajian mengenai hilirisasi kepada Presiden Prabowo Subianto. Dalam pemaparannya, perkembangan pengolahan nikel dan aluminium serta produksi komponen baterai ditempatkan dalam konteks peningkatan ekspor produk bernilai tambah.
