Gandrung Sewu Diserbu Penonton, Banyuwangi Soroti Kapasitas Pantai Boom

oleh -107 Dilihat
oleh
Gandrung Sewu Diserbu Penonton, Banyuwangi Soroti Kapasitas Pantai Boom

Kabupaten Banyuwangi | Pertunjukan kolosal Gandrung Sewu yang digelar pada Sabtu malam, 24 Oktober, di Pantai Marina Boom, Kabupaten Banyuwangi, menarik perhatian masyarakat dalam jumlah besar. Menurut informasi pengelola kawasan, PT Menara Maritim Indonesia, sekitar 20 ribu orang memasuki kawasan pantai untuk menyaksikan acara tersebut. Angka itu menggambarkan besarnya minat publik terhadap agenda budaya yang telah menjadi salah satu daya tarik Banyuwangi. Sejak sebelum pertunjukan berlangsung, pengunjung datang dari berbagai daerah untuk melihat para penari tampil di tepi pantai.

Antusiasme penonton tidak hanya berasal dari warga Banyuwangi. Masyarakat dari berbagai kota di Indonesia juga hadir, menjadikan kawasan Pantai Marina Boom ramai pada malam penyelenggaraan. Namun, tingginya jumlah pengunjung turut membuat sebagian warga belum dapat masuk ke area pertunjukan. Mereka tidak bisa menyaksikan pementasan secara langsung dari lokasi utama, meskipun telah datang untuk mengikuti acara. Situasi tersebut menunjukkan adanya jarak besarnya minat masyarakat dan kapasitas area yang dapat menampung penonton di sekitar panggung.

Gandrung Sewu merupakan pertunjukan kolosal yang mengangkat kesenian Gandrung dan menjadi kebanggaan daerah. Pementasan ini melibatkan banyak penari dalam satu sajian, sehingga dikenal sebagai perhelatan budaya berskala besar. Acara tersebut telah memasuki tahun ke-14 sejak pertama kali diselenggarakan pada 2012. Keberlangsungannya dari tahun ke tahun memperkuat posisi Gandrung Sewu sebagai agenda yang dinantikan warga sekaligus menarik perhatian pengunjung dari luar daerah. Kehadiran puluhan ribu orang pada malam itu menjadi penanda kuatnya daya tarik pertunjukan, sekaligus memunculkan perhatian terhadap kemampuan Pantai Marina Boom mengakomodasi kerumunan. Pengalaman warga yang belum bisa masuk juga menjadi bagian penting dari gambaran penyelenggaraan, di tengah sambutan luas terhadap warisan seni Banyuwangi tersebut.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyampaikan permohonan maaf kepada warga yang belum dapat menyaksikan pertunjukan Gandrung Sewu secara langsung di Pantai Boom. Ia memahami bahwa banyak masyarakat telah datang dengan semangat dan harapan untuk menikmati penampilan tersebut dari dekat. Namun, tidak semua pengunjung dapat masuk ke arena pertunjukan. Situasi itu, menurut Ipuk, tentu mengecewakan, terutama bagi warga yang sudah meluangkan waktu untuk hadir tetapi tidak memperoleh kesempatan menonton di dalam kawasan acara. Ia menyampaikan permintaan maaf atas pengalaman yang dirasakan para pengunjung tersebut.

Ipuk juga menyampaikan terima kasih atas tingginya antusiasme masyarakat terhadap Gandrung Sewu. Kehadiran warga dalam jumlah besar menunjukkan besarnya perhatian dan dukungan terhadap seni budaya Banyuwangi, serta terhadap pertunjukan yang menjadi bagian dari agenda daerah tersebut. Ia mengakui bahwa masyarakat datang dengan semangat untuk menyaksikan acara secara langsung. Antusiasme itu menjadi hal yang dihargai, sekaligus memperlihatkan bahwa minat penonton melampaui kapasitas ruang yang tersedia. Karena itu, apresiasi kepada pengunjung disampaikan bersamaan dengan pengakuan bahwa sebagian warga belum terakomodasi di dalam arena.

Menurut Ipuk, kapasitas kawasan Pantai Boom belum sepenuhnya mampu menampung jumlah masyarakat yang hadir untuk menonton Gandrung Sewu. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengelola pelaksanaan dan mengakomodasi pengunjung, tetapi keterbatasan daya tampung tetap menjadi tantangan ketika jumlah penonton sangat tinggi. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut membuat tidak semua warga bisa masuk, bukan karena antusiasme mereka diabaikan, melainkan karena ruang yang tersedia memiliki batas. Permohonan maaf dan ucapan terima kasih itu menjadi bentuk pengakuan atas keadaan yang dialami pengunjung. Tingginya kehadiran masyarakat sekaligus menjadi perhatian dalam menilai kesiapan kawasan Pantai Boom untuk kegiatan dengan jumlah penonton besar. Kapasitas lokasi menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan ketika acara serupa diselenggarakan, agar pengalaman warga yang ingin hadir dapat dipertimbangkan dengan lebih baik.Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, dengan dukungan InJourney, menggelar Gandrung Sewu tahun ini pada malam hari dengan tema “Glow in the Dark”. Pilihan waktu dan konsep tersebut menghadirkan suasana berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya yang berlangsung pada sore hari. Pertunjukan tari kolosal ini menampilkan 1.300 penari Gandrung, yang bergerak serempak dalam rangkaian koreografi di Pantai Boom. Dalam pencahayaan malam, aksesori fosfor yang dikenakan para penari tampak menyala dan menjadi unsur visual utama pertunjukan.

Perubahan konsep itu memberi pengalaman yang tidak sama bagi penonton dibandingkan pertunjukan sore. Aksesori bercahaya mempertegas gerak dan formasi para penari, sekaligus membuat penampilan mudah terlihat dalam suasana gelap. Tema “Glow in the Dark” juga memberi karakter tersendiri pada acara budaya yang selama ini dikenal melalui kekuatan tari, musik, busana, dan keterlibatan banyak penampil. Meski demikian, daya tarik utama tetap bertumpu pada Gandrung sebagai tradisi Banyuwangi, sementara efek cahaya memperkaya cara tradisi tersebut disajikan kepada khalayak.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyampaikan perbandingan dengan pelaksanaan sebelumnya yang digelar pada sore hari. Menurutnya, pertunjukan malam dengan konsep bercahaya menjadi pembaruan dalam penyelenggaraan Gandrung Sewu. Konsep tersebut disebut menarik perhatian puluhan ribu masyarakat untuk datang ke Banyuwangi dan menyaksikan acara secara langsung. Kehadiran penonton dalam jumlah besar menunjukkan besarnya minat publik terhadap pertunjukan budaya yang dikemas dengan pendekatan berbeda, sekaligus menempatkan Pantai Boom sebagai ruang pertemuan seni pertunjukan dan masyarakat.

Kolaborasi pemerintah daerah dan InJourney mendukung pelaksanaan acara berskala besar ini, dengan para penari sebagai pusat perhatian di panggung terbuka. Perpaduan tarian massal dan aksesori fosfor menjadi ciri yang membedakan edisi malam tersebut dari penampilan terdahulu. Bagi penonton, suasana gelap bukan sekadar latar, melainkan bagian dari rancangan visual yang membuat gerak penari dan formasi kelompok tampil mencolok. Gandrung Sewu pun menawarkan pengalaman budaya yang memadukan tradisi lokal dengan pengemasan pertunjukan yang baru, menarik pengunjung dari berbagai daerah untuk hadir di Banyuwangi.

Untuk mendukung pertunjukan gratis Gandrung Sewu, panitia menyiapkan total 7.300 kursi bagi penonton. Jumlah tersebut mencakup 1.300 kursi yang diperuntukkan bagi orang tua atau wali para penampil, sementara kursi lainnya disediakan bagi masyarakat umum. Pembagian tempat duduk ini menjadi bagian dari upaya mengatur arus pengunjung dan memberi ruang bagi keluarga yang datang untuk menyaksikan penampil. Dengan fasilitas tersebut, penonton diharapkan dapat menikmati pertunjukan dengan lebih tertib. Namun, tingginya minat masyarakat tetap menjadi tantangan, terutama ketika jumlah pengunjung yang hadir melebihi daya tampung dan fasilitas yang tersedia di kawasan Pantai Boom.

Panitia juga memasang layar LED di dua titik di area pertunjukan. Kehadiran layar tersebut memungkinkan pengunjung yang berada di lokasi itu menyaksikan jalannya acara, termasuk ketika pandangan langsung ke panggung terbatas karena jarak atau kepadatan. Fasilitas ini melengkapi tempat duduk yang disediakan dan menjadi salah satu cara untuk menjangkau penonton di beberapa bagian area. Meski demikian, layar tambahan tidak serta-merta menghilangkan persoalan kapasitas. Pengaturan posisi penonton, akses menuju titik layar, serta kelancaran pergerakan di sekitarnya tetap perlu diperhatikan agar fasilitas dapat digunakan dengan nyaman dan tidak menghambat jalur keluar-masuk.

Berbagai fasilitas tersebut menjadi bahan penting dalam menilai kesiapan penyelenggaraan berikutnya. Ipuk menyampaikan bahwa pengalaman selama acara dan masukan masyarakat akan menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan kenyamanan penonton pada penyelenggaraan mendatang. Evaluasi dapat mencakup kebutuhan jumlah kursi, penataan untuk keluarga penampil dan pengunjung umum, serta penempatan layar agar bisa dimanfaatkan secara lebih baik. Pada saat yang sama, rencana perbaikan perlu disesuaikan dengan kapasitas Pantai Boom, bukan hanya dengan besarnya minat masyarakat untuk hadir.