Kota Paling Tidak Layak Huni | Global Liveability Index 2026 yang dirilis Economist Intelligence Unit (EIU) membandingkan kelayakan huni di 173 kota di berbagai negara. Indeks ini dirancang untuk memberi gambaran terukur mengenai kondisi perkotaan, terutama sejauh mana lingkungan kota mendukung kehidupan sehari-hari. Penilaian menggunakan lima indikator utama: stabilitas, layanan kesehatan, budaya dan lingkungan, pendidikan, serta infrastruktur. Setiap kategori mencakup sejumlah aspek yang membantu menggambarkan mutu dan ketersediaan layanan, keamanan, dan kondisi yang dihadapi warga.
Stabilitas menilai risiko gangguan seperti konflik, kejahatan, atau kerusuhan, sedangkan layanan kesehatan mempertimbangkan akses dan mutu fasilitas medis. Kategori budaya dan lingkungan melihat faktor yang membentuk kehidupan sosial serta kondisi sekitar, termasuk kegiatan budaya dan risiko lingkungan. Pendidikan menilai ketersediaan serta kualitas layanan pendidikan, sementara infrastruktur mencakup kebutuhan dasar dan konektivitas, seperti transportasi, energi, dan jaringan komunikasi. Kelima indikator tersebut disusun menjadi kerangka perbandingan untuk menilai kota dengan metode yang konsisten. Hasilnya membantu pembaca mengenali pola dan perbedaan antarkota, tetapi tidak menggantikan penilaian rinci terhadap keadaan setempat.
Skor indeks tidak sepenuhnya mewakili pengalaman setiap penduduk. Kondisi dapat berbeda antarwilayah dalam satu kota, dan pengalaman seseorang juga dipengaruhi oleh pendapatan, kebutuhan pribadi, akses terhadap layanan, serta keadaan lingkungan tempat tinggalnya. Karena itu, peringkat sebaiknya dipahami sebagai gambaran komparatif berdasarkan indikator yang digunakan, bukan ukuran mutlak tentang kualitas hidup semua warga. Daftar tujuh kota dengan nilai terbawah memperlihatkan bahwa tantangan kelayakan huni memiliki latar yang beragam. Di sejumlah tempat, konflik atau ketidakstabilan politik dapat mengganggu keamanan dan kegiatan ekonomi. Kota lain menghadapi kemacetan, keterbatasan infrastruktur, atau tekanan berat pada layanan publik. Berbagai persoalan tersebut dapat saling berkaitan: konflik dan krisis politik, misalnya, dapat membatasi pemeliharaan fasilitas, sementara pertumbuhan kebutuhan penduduk memberi beban tambahan pada transportasi, kesehatan, dan layanan dasar. Dengan memahami indikator serta batasannya, pembaca dapat menafsirkan posisi kota-kota tersebut secara lebih cermat dan melihat tantangan yang mendasari hasil indeks, tanpa menganggap satu skor sebagai gambaran lengkap kehidupan di kota itu.
Damaskus, ibu kota Suriah, menempati posisi terbawah dalam Indeks Kelayakan Huni 2026 sebagai kota paling tidak layak huni. Peringkat ini mencerminkan dampak konflik berkepanjangan terhadap kondisi yang diperlukan untuk menjalani kehidupan sehari-hari secara aman dan stabil. Ketika keamanan terus terganggu, warga menghadapi ketidakpastian dalam beraktivitas, mengakses kebutuhan dasar, dan merencanakan masa depan. Situasi tersebut juga membatasi kemampuan kota untuk memulihkan layanan dan mendukung kesejahteraan penduduk secara konsisten.
Tekanan konflik terasa pada berbagai aspek kehidupan perkotaan. Layanan kesehatan dapat menghadapi kendala dalam menyediakan perawatan yang memadai dan mudah dijangkau, sementara kerusakan atau gangguan pada infrastruktur berpotensi menghambat mobilitas serta akses terhadap layanan penting. Pelayanan publik pun sulit berjalan dengan lancar ketika sumber daya dan kondisi keamanan tidak mendukung. Gabungan persoalan ini membuat lingkungan sehari-hari kurang aman dan mengurangi kapasitas kota untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Penilaian rendah Damaskus dalam indeks tersebut karena itu berkaitan dengan tantangan yang saling berhubungan, bukan hanya satu masalah tunggal.
Tripoli, ibu kota Libya, berada di posisi kedua dalam daftar kota dengan tantangan kelayakan huni terberat. Selama bertahun-tahun, ketidakstabilan politik dan persoalan keamanan telah memengaruhi kehidupan kota. Ketidakpastian dapat menyulitkan berlangsungnya kegiatan sehari-hari, sedangkan situasi keamanan yang berubah-ubah turut membatasi rasa aman warga. Pada saat yang sama, tekanan terhadap infrastruktur dan layanan publik dapat mengurangi keandalan fasilitas yang dibutuhkan masyarakat, mulai dari akses layanan dasar hingga kelancaran aktivitas perkotaan.
Dalam penilaian EIU, faktor-faktor tersebut berpengaruh terhadap kualitas hidup yang dapat ditawarkan Tripoli. Kelayakan huni tidak hanya ditentukan oleh keberadaan fasilitas, tetapi juga oleh kemampuan penduduk untuk mengaksesnya secara konsisten dalam kondisi yang aman. Ketika tata kelola menghadapi ketidakpastian dan layanan publik berada di bawah tekanan, kebutuhan sehari-hari menjadi lebih sulit dipenuhi. Posisi Tripoli menunjukkan bagaimana persoalan politik, keamanan, serta kondisi infrastruktur dan pelayanan dapat berkelindan. Bersama Damaskus, kota ini menggambarkan beratnya tantangan yang dihadapi pusat-pusat perkotaan yang terdampak konflik dan ketidakstabilan berkepanjangan.Dhaka menempati posisi ketiga dalam daftar kota dengan tantangan kelayakan huni terberat. Ibu kota Bangladesh ini mengalami urbanisasi yang cepat, disertai pertumbuhan penduduk dan peningkatan aktivitas perkotaan yang terus menambah tekanan terhadap infrastruktur. Jalan, transportasi umum, perumahan, serta jaringan layanan dasar harus melayani kebutuhan yang semakin besar di ruang kota yang padat. Salah satu dampak yang paling terasa ialah kemacetan, yang memperpanjang waktu perjalanan dan menghambat pergerakan pekerja maupun distribusi barang. Kepadatan dan beban pada layanan perkotaan juga menunjukkan betapa pentingnya perencanaan jangka panjang, investasi infrastruktur, dan pengelolaan pertumbuhan agar kebutuhan penduduk dapat dipenuhi secara lebih konsisten.
Di posisi keempat, Karachi menghadapi persoalan perkotaan yang dipengaruhi oleh kepadatan penduduk sekaligus skala aktivitas ekonominya. Sebagai pusat ekonomi penting Pakistan, kota ini perlu menjaga stabilitas serta memastikan infrastruktur mampu menopang kegiatan usaha dan kehidupan sehari-hari. Tekanan terhadap transportasi, pasokan layanan dasar, dan fasilitas publik menjadi semakin nyata ketika kebutuhan masyarakat tumbuh lebih cepat daripada kapasitas yang tersedia. Layanan kesehatan juga menjadi perhatian, sebab penyediaan fasilitas yang memadai dan mudah dijangkau harus menjangkau populasi yang besar. Tantangan Karachi bukan hanya membangun sarana baru, melainkan juga memelihara sistem yang ada dan memastikan layanan penting dapat berfungsi secara andal bagi warga di berbagai kawasan.
Aljir berada di urutan kelima, dengan penilaian yang relatif rendah pada sejumlah indikator kelayakan huni. Keterbatasan infrastruktur menjadi salah satu aspek yang membatasi kinerja kota, sementara indikator budaya dan lingkungan turut memengaruhi gambaran keseluruhan. Posisi berikutnya, Lagos, memperlihatkan tantangan serupa dalam skala metropolitan yang sangat besar. Kota ini merupakan pusat keuangan Nigeria dan salah satu kota terbesar di Afrika, sehingga menampung kegiatan ekonomi dan mobilitas penduduk yang intensif. Namun, kemacetan, infrastruktur yang terbatas, serta kebutuhan layanan kesehatan yang terus meningkat menjadi kendala penting. Pertumbuhan Lagos menghadirkan peluang ekonomi, tetapi juga menuntut perencanaan dan penyediaan layanan yang sebanding dengan besarnya populasi serta peran kota tersebut.
Kyiv, ibu kota Ukraina, menempati urutan ketujuh dalam daftar terbawah Global Liveability Index 2026. Posisi ini menggambarkan beratnya kondisi yang dihadapi kota tersebut, terutama akibat perang yang masih berlangsung. Dalam penilaian kelayakan huni, konflik dapat mengganggu stabilitas, meningkatkan risiko bagi warga, serta memengaruhi kepastian dalam menjalani kegiatan sehari-hari. Karena itu, situasi keamanan tetap menjadi tantangan besar bagi masyarakat Kyiv dan menjadi faktor utama yang membebani penilaian stabilitas kota.
Meski demikian, gambaran kehidupan perkotaan tidak sepenuhnya terdiri atas kemunduran. Beberapa aspek kehidupan di Kyiv menunjukkan perbaikan, menandakan adanya upaya untuk mempertahankan fungsi kota dan mendukung kebutuhan penduduk di tengah keadaan sulit. Perkembangan semacam itu penting, tetapi belum menghapus dampak perang maupun kekhawatiran yang menyertai kondisi keamanan. Bagi warga, keberlanjutan layanan dan kegiatan sehari-hari tetap berkaitan erat dengan perubahan situasi. Dengan demikian, perbaikan pada sejumlah aspek perlu dipahami bersama risiko yang masih ada, bukan sebagai tanda bahwa tantangan utama telah berakhir.
Pola dalam daftar terbawah juga memperlihatkan bahwa tekanan terhadap kelayakan huni muncul dari sumber yang berbeda.
Baca juga: Wisuda ke-42 Politeknik Negeri Jakarta: Pencapaian dan Tantangan Lulusan | Tantangan Persipura Jayapura Tanpa Suporter: Bima Ragil Harapkan Kebangkitan Tim | Kenaikan Harga Daging Ayam: Pedagang Makanan Kecil di Depok Hadapi Tantangan
