Iwan Setiawan Menjadi Pangkostrad, dari Ekspedisi Everest hingga Puncak Karier TNI AD

oleh -399 Dilihat
oleh
Iwan Setiawan Ditunjuk sebagai Pangkostrad, Maruli Sebut Rotasi Jabatan TNI Hal Biasa

7 Oktober 2026 — Letjen TNI Iwan Setiawan ditunjuk sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad), menggantikan Letjen TNI Mohammad Fadjar. Pergantian tersebut menandai penugasan baru bagi Iwan di salah satu posisi strategis dalam struktur TNI Angkatan Darat.

Kepastian mengenai pergantian itu dibenarkan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak saat ditemui di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Ketika dikonfirmasi mengenai penunjukan Iwan sebagai Pangkostrad, Maruli memberikan jawaban singkat, “Iya, sudah. Pak Iwan.” Pernyataan tersebut menguatkan informasi mengenai perubahan kepemimpinan di tubuh Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat.

Sebelum menerima mandat sebagai Pangkostrad, Iwan menjabat Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri (Danpussenif) TNI AD sejak Januari 2025. Ia menduduki jabatan itu setelah menggantikan Letjen TNI Teguh Muji Angkasa. Sebagai Danpussenif, Iwan bertanggung jawab terhadap pembinaan dan pengembangan kecabangan infanteri, termasuk peningkatan kemampuan personel serta kesiapan satuan.

Penunjukan tersebut menempatkan Iwan pada jenjang kepemimpinan yang lebih tinggi di lingkungan TNI AD. Pangkostrad memiliki peran penting dalam membina kesiapan operasional satuan-satuan Kostrad yang menjadi kekuatan strategis Angkatan Darat. Pergantian ini juga menjadi bagian dari dinamika rotasi dan penyegaran jabatan perwira tinggi, yang bertujuan memastikan kesinambungan kepemimpinan serta kesiapan organisasi dalam menjalankan tugas pertahanan negara.

Dengan pengalaman di berbagai penugasan dan posisi komando, Iwan kini menghadapi tanggung jawab untuk memimpin Kostrad sekaligus menjaga kesiapan pasukan dalam menghadapi tantangan keamanan yang terus berkembang. Penugasan terbaru ini menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan kariernya di TNI AD.

Jauh sebelum menyandang pangkat letnan jenderal dan dipercaya memegang jabatan strategis di TNI Angkatan Darat, Iwan Setiawan telah mencatat prestasi penting di dunia pendakian. Pada 1997, ketika masih berpangkat letnan satu dan berusia 29 tahun, ia menjadi bagian dari Tim Ekspedisi Everest yang digagas Prabowo Subianto. Ekspedisi tersebut bermula setelah Kopassus membuka seleksi bagi puluhan personel untuk memilih prajurit yang memiliki kemampuan fisik, mental, serta ketahanan menghadapi lingkungan ekstrem.

Persiapan ekspedisi dilakukan secara bertahap dan terukur. Setelah melewati proses seleksi, para peserta menjalani latihan di Gunung Gede dan Gunung Pangrango, Jawa Barat. Kedua gunung itu menjadi medan awal untuk menguji daya tahan, teknik pendakian, kerja sama, serta kemampuan bertahan dalam kondisi alam yang menantang. Tahap berikutnya berlangsung di Nepal, tempat para prajurit beradaptasi dengan medan pegunungan Himalaya dan ketinggian ekstrem. Latihan tersebut penting untuk mempersiapkan tubuh dan pikiran menghadapi suhu rendah, kadar oksigen yang menipis, serta jalur pendakian yang jauh lebih berat.

Dalam perjalanan menuju puncak, Iwan dipercaya memimpin tim dari sisi selatan. Peran itu menuntut kepemimpinan, pengambilan keputusan, dan koordinasi yang cermat di tengah risiko pendakian. Pada 1997, Iwan bersama Pratu Asmujiono dan Sersan Misirin berhasil mencapai puncak Gunung Everest, gunung tertinggi di dunia. Di titik tertinggi tersebut, mereka mengibarkan bendera Merah Putih sebagai simbol keberhasilan sekaligus kebanggaan nasional.

Keberhasilan Iwan menaklukkan Everest menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah prajurit Indonesia. Prestasi itu menunjukkan bahwa kemampuan kepemimpinan dan ketangguhan yang kemudian menandai perjalanan kariernya telah terbentuk sejak usia muda, melalui latihan panjang, disiplin, serta keberanian menghadapi tantangan dengan tingkat kesulitan tertinggi.

Iwan Setiawan merupakan lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 1992 dari kecabangan infanteri. Pendidikan tersebut menjadi fondasi awal bagi perjalanan panjangnya di lingkungan TNI Angkatan Darat. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia menjalani penugasan di Kopassus, satuan yang dikenal memiliki tuntutan tinggi dalam aspek kemampuan tempur, kepemimpinan, serta kesiapan operasional.

Karier Iwan di Kopassus berkembang secara bertahap melalui sejumlah posisi penting. Ia pernah dipercaya sebagai Danunit Grup 2/Parako Kopassus, kemudian menjabat Dansubtim 5/2/13 Grup 1/Parako Kopassus dan Dantim 5/2/13 Grup 1/Parako Kopassus. Pengalamannya berlanjut ketika ia menduduki posisi Danki 1/13 Grup 1/Parako Kopassus. Rangkaian penugasan tersebut memperlihatkan proses pembentukan pengalaman lapangan dan tanggung jawab kepemimpinan sejak tingkat unit hingga kompi.

Dalam perkembangan berikutnya, Iwan menempati jabatan Palat Sima Denma Grup 1/Parako Kopassus dan Kasi 2/Operasi Grup 1/Parako Kopassus. Ia juga dipercaya sebagai Wadan Yon 12 Grup 1/Kopassus, Dansekomando Pusdikpassus, Danyon 22/Grup 2/Kopassus, serta Wadan Grup 2/Parako Kopassus. Beragam jabatan itu memperluas pengalamannya, tidak hanya dalam pelaksanaan operasi, tetapi juga dalam pembinaan personel dan pendidikan pasukan.

Setelah cukup lama berkiprah di Kopassus, Iwan mulai menerima penugasan di luar satuan tersebut. Pada 2012, ia menjabat Danbrigif 22/Ota Manasa, kemudian ditugaskan sebagai Asops Kasdam IV/Diponegoro pada 2013. Pengalamannya juga mencakup kepemimpinan di Pusdikpassus dan jabatan Danrindam Jaya. Selanjutnya, ia dipercaya memimpin Korem 052/Wijayakrama sebagai Danrem. Tahapan penugasan ini menjadi bagian penting dalam memperluas cakupan pengabdiannya, dari satuan khusus menuju tanggung jawab kewilayahan dan pembinaan institusi TNI AD.

Perjalanan karier Iwan Setiawan menuju jabatan Pangkostrad berlangsung melalui sejumlah penugasan strategis di lingkungan TNI Angkatan Darat. Pada 2020, ia dipercaya menjadi Komandan Korem (Danrem) 173/Praja Vira Braja. Penugasan tersebut memperlihatkan kepercayaan terhadap pengalaman dan kapasitasnya dalam memimpin satuan kewilayahan, khususnya di wilayah yang memiliki tantangan geografis serta dinamika keamanan yang kompleks.

Setahun kemudian, Iwan mendapat amanah sebagai Waaslat KSAD bidang Kermamil pada 2021. Jabatan ini berkaitan dengan pembinaan latihan dan kesiapan militer, sehingga memperkuat rekam jejaknya dalam aspek pengembangan kemampuan prajurit. Kariernya kembali bersentuhan langsung dengan Korps Baret Merah ketika ia ditunjuk sebagai Komandan Jenderal Kopassus pada 2022. Saat menduduki jabatan tersebut, Iwan menyandang pangkat mayor jenderal.

Setelah memimpin Kopassus, Iwan melanjutkan pengabdian melalui penugasan di wilayah Kalimantan. Ia memimpin Kodam XII/Tanjungpura dan resmi menjabat Pangdam XII/Tanjungpura pada April 2023. Dalam jabatan itu, ia menggantikan Mayjen TNI Sulaiman Agusto. Tugas sebagai panglima kodam menuntut kemampuan mengelola pembinaan teritorial, menjaga stabilitas wilayah, serta mengoordinasikan berbagai unsur pertahanan dan keamanan di daerah.

Setelah menyelesaikan tugas di Kodam XII/Tanjungpura, Iwan dipercaya mengemban tanggung jawab pembinaan kecabangan infanteri. Pada Januari 2025, ia ditunjuk sebagai Danpussenif TNI AD, jabatan yang mencakup penyelenggaraan pendidikan, pelatihan, dan pembinaan prajurit infanteri. Peran tersebut menjadi bagian penting dalam menyiapkan sumber daya manusia TNI AD yang profesional dan memiliki kesiapan operasional.

Hingga pertengahan 2026, Iwan masih menjalankan tugas sebagai Danpussenif sebelum kemudian ditunjuk menjadi Pangkostrad. Rangkaian jabatan itu menunjukkan perkembangan karier yang bertahap, mulai dari kepemimpinan kewilayahan, pembinaan latihan, komando satuan khusus, kepemimpinan kodam, hingga pembinaan kecabangan infanteri. Pengalaman tersebut menjadi landasan bagi kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk memimpin Kostrad.