Kabupaten Bekasi | Kementerian Sosial menyelenggarakan Anugerah Jurnalistik Sekolah Rakyat 2026 di Sekolah Rakyat Menengah Atas Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada Sabtu. Ajang ini menjadi ruang apresiasi bagi karya jurnalistik yang mengangkat program Sekolah Rakyat serta peran pers dalam menyampaikan informasi mengenai pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. Penyelenggaraan penghargaan di lingkungan sekolah tersebut juga menempatkan program pendidikan sebagai pokok perhatian dalam kegiatan apresiasi terhadap insan media.
Dalam ajang tersebut, pewarta Lembaga Kantor Berita Nasional meraih tiga penghargaan pada kategori lomba dan satu penghargaan khusus life achievement. Capaian itu mencakup pengakuan atas karya yang diikutsertakan dalam kompetisi sekaligus penghormatan khusus atas perjalanan dan kontribusi jurnalistik. Empat penghargaan tersebut menunjukkan luasnya bentuk apresiasi yang diberikan, mulai dari karya dalam kategori lomba hingga penghargaan yang menyoroti dedikasi seorang insan pers sepanjang kiprahnya.
Anugerah ini bertujuan menghormati dedikasi, konsistensi, dan kontribusi insan pers dalam mengawal serta mendokumentasikan program pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. Liputan jurnalistik dapat merekam pelaksanaan program, menyampaikan informasi kepada masyarakat, dan menghadirkan perhatian publik terhadap upaya pendidikan yang ditujukan bagi kelompok tersebut. Karena itu, penghargaan tidak hanya menjadi pengakuan atas karya yang dihasilkan, tetapi juga atas peran pers dalam menjaga perhatian terhadap keberlangsungan program dan pengalaman para penerimanya. Melalui dokumentasi yang dilakukan secara konsisten, kerja jurnalistik turut menyediakan catatan mengenai program Sekolah Rakyat dan perkembangannya. Pemberian apresiasi di Bekasi sekaligus menegaskan pentingnya kontribusi pewarta dalam melaporkan isu pendidikan secara berkelanjutan. Penghargaan kepada pewarta LKBN menjadi bagian dari pengakuan terhadap karya dan pengabdian yang selaras dengan tujuan tersebut.
Penghargaan untuk karya video dan foto jurnalistik menjadi bagian dari apresiasi terhadap peliputan mengenai Sekolah Rakyat. Dalam kategori video jurnalistik, Tim feature TV meraih juara kedua melalui karya “Meraih Asa”. Pengakuan tersebut menempatkan karya tim sebagai salah satu hasil yang mendapat perhatian dalam kompetisi, sekaligus menunjukkan kontribusi liputan audiovisual dalam mengangkat cerita tentang pendidikan dan kehidupan para siswa Sekolah Rakyat.
Judul “Meraih Asa” menggambarkan harapan sebagai tema utama karya tersebut. Melalui format video, kisah yang diangkat dapat disampaikan dengan perpaduan gambar dan suara, sehingga audiens memperoleh pengalaman yang berbeda dari membaca laporan tertulis. Raihan juara kedua ini menjadi pencapaian bagi Tim feature TV. Informasi mengenai penghargaan tersebut juga memperlihatkan bahwa karya jurnalistik tentang Sekolah Rakyat hadir dalam beragam bentuk, dengan pendekatan dan kekuatan penyampaian masing-masing.
Pada kategori foto jurnalistik, Andry Denisah dari Biro Sulawesi Tenggara memperoleh juara kedua lewat karya “Kemensos Luluskan Siswa Sekolah Rakyat di Tahun Pertama”. Karya itu mengangkat momen kelulusan siswa pada tahun pertama Sekolah Rakyat, sebagaimana tercermin dalam judulnya. Peringkat tersebut menjadi apresiasi bagi Andry Denisah dan Biro Sulawesi Tenggara atas karya yang disertakan dalam kategori foto jurnalistik.
Sementara itu, Muhammad Iqbal dari Redaksi Foto Jakarta meraih juara ketiga dengan karya “Hari Pertama Masuk Sekolah Rakyat”. Judul tersebut menyoroti awal pengalaman siswa ketika memasuki Sekolah Rakyat. Bersama karya Andry Denisah, foto ini menghadirkan dua sudut waktu yang berbeda: hari pertama masuk sekolah dan kelulusan pada tahun pertama. Keduanya memperoleh pengakuan melalui peringkat masing-masing, yakni juara kedua dan ketiga. Hasil kategori video dan foto ini mencatat nama pembuat, asal redaksi atau biro, judul karya, serta capaian yang diraih, sekaligus menegaskan peran dokumentasi visual dalam menyampaikan berbagai momen terkait Sekolah Rakyat kepada publik.
Penghargaan khusus life achievement diberikan kepada Muhammad Bagus Khoirunnas, pewarta foto Biro Banten, dalam ajang apresiasi karya jurnalistik tentang Sekolah Rakyat di Bekasi. Penghormatan tersebut diberikan atas perjalanan panjangnya di dunia jurnalistik, sekaligus menandai dedikasi dan konsistensi yang ia jaga selama berkarya. Pengakuan ini menempatkan pengalaman serta komitmen seorang pewarta sebagai bagian penting dari kontribusi pers dalam merekam berbagai peristiwa dan kehidupan masyarakat.
Bagus menerima apresiasi tersebut melalui karya berjudul “Cahaya Tawa di Balik Asrama Sekolah Rakyat”. Judul itu menghadirkan perhatian pada kehidupan di lingkungan asrama Sekolah Rakyat, sebagaimana direkam dalam karya jurnalistiknya. Melalui foto dan narasi visual, pewarta foto dapat menyampaikan suasana serta sisi kemanusiaan dari sebuah cerita kepada publik. Karya tersebut menjadi penanda atas kiprah Bagus, sekaligus bagian dari penghargaan yang diberikan dalam kegiatan di Bekasi.
Piala dan sertifikat diserahkan langsung oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf dan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Manusia Muhaimin Iskandar. Penyerahan oleh kedua pejabat itu menjadi momen utama dalam pemberian penghargaan khusus tersebut. Kehadiran mereka juga menegaskan bahwa pengakuan diberikan secara langsung kepada penerima, bersama karya yang menjadi dasar apresiasi. Piala dan sertifikat menjadi bentuk resmi penghormatan atas perjalanan profesional Bagus sebagai pewarta foto.
Penghargaan life achievement berbeda dari apresiasi yang hanya menyoroti satu hasil kerja. Pengakuan ini memberi perhatian pada proses panjang, ketekunan, dan konsistensi yang menyertai perjalanan seorang jurnalis. Bagi Bagus, penghormatan tersebut berkaitan dengan dedikasinya di dunia jurnalistik dan kiprahnya sebagai pewarta foto Biro Banten. Sementara itu, “Cahaya Tawa di Balik Asrama Sekolah Rakyat” menjadi karya yang disebut dalam pemberian apresiasi di Bekasi. Pencapaian ini menambah catatan penting dalam perjalanan jurnalistiknya dan menjadi pengakuan atas kontribusi yang telah ia berikan selama bertahun-tahun.
Dalam konferensi pers selepas kegiatan, Saifullah Yusuf menyampaikan bahwa karya jurnalistik yang dihasilkan para peserta dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan Sekolah Rakyat. Menurut penjelasannya, tulisan dan karya tersebut memiliki arti karena mengangkat pengalaman serta kondisi yang berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan di Sekolah Rakyat. Apresiasi terhadap karya itu juga menunjukkan bahwa kegiatan jurnalistik para peserta dipandang sebagai bagian yang dapat memberi masukan bagi pengembangan program. Saifullah turut menegaskan peran wartawan dalam kemajuan penyelenggaraan Sekolah Rakyat. Peran tersebut, sebagaimana ia sampaikan, hadir melalui perhatian dan keterlibatan pers dalam menyampaikan berbagai hal mengenai program. Dengan demikian, karya jurnalistik dan peran wartawan sama-sama ditempatkan sebagai unsur yang dapat mendukung perkembangan Sekolah Rakyat, tanpa mengabaikan pengalaman orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Saifullah juga menjelaskan latar belakang siswa yang mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat. Para siswa itu berasal dari keluarga prasejahtera. Selain itu, terdapat anak-anak yang membutuhkan pendampingan khusus, serta sebagian anak yang berada dalam kondisi rentan karena menjadi korban kekerasan. Penjelasan tersebut menggambarkan beragam kebutuhan yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan pendidikan. Latar belakang siswa bukan sekadar keterangan mengenai siapa yang belajar di sekolah tersebut, tetapi menjadi bagian dari pertimbangan dalam memahami pendekatan yang dibutuhkan. Dalam menyampaikan hal ini, Saifullah menguraikan kondisi anak-anak tanpa mengubah fokus pada kebutuhan mereka. Setiap kelompok memiliki keadaan yang perlu ditangani secara sesuai, terutama ketika mereka memerlukan dukungan khusus atau menghadapi kerentanan akibat kekerasan. Karena itu, penyelenggaraan Sekolah Rakyat dikaitkan dengan perhatian terhadap keadaan siswa dan bentuk dukungan yang dapat diberikan.
Adapun pendekatan pengelolaan Sekolah Rakyat yang disebutkan Saifullah mencakup edukasi, rehabilitasi, dan pemberdayaan. Ketiganya menjadi kerangka untuk menangani kebutuhan siswa dengan latar belakang yang telah dijelaskan. Edukasi berkaitan dengan proses pendidikan, sedangkan rehabilitasi dan pemberdayaan merupakan pendekatan lain yang turut disebut dalam pengelolaan program.
Baca juga: Kodim 1505/Tidore Raih Juara III Lomba Karya Jurnalistik Kategori Media Sosial TMMD Ke-129
