Kepulangan Pertiwi dan Luka Lama dalam Film Terbaru Kamila Andini

oleh -55 Dilihat
oleh
Kepulangan Pertiwi dan Luka Lama dalam Film Terbaru Kamila Andini

Jakarta | Empat Musim Pertiwi menjadi karya terbaru sutradara Kamila Andini yang menghadirkan Putri Marino sebagai Pertiwi dan Arya Saloka sebagai Bisma. Film ini disebut mewakili Indonesia di ajang Oscar serta dijadwalkan siap tayang pada 2026, menjadikannya salah satu judul yang dinantikan dalam perkembangan sinema nasional. Kehadiran dua aktor tersebut turut memperkuat daya tarik proyek yang membawa tema keluarga, ingatan, dan kepulangan.

Cerita berpusat pada Pertiwi, seorang perempuan yang kembali ke tanah kelahirannya setelah dua dekade meninggalkan tempat tersebut. Kepulangan itu bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjumpaan kembali dengan ruang, orang-orang, dan pengalaman masa lalu yang selama ini tersimpan. Tanah kelahiran yang seharusnya terasa akrab justru memunculkan pergulatan emosional serta luka lama yang belum sepenuhnya pulih.

Dalam film ini, Pertiwi dihadapkan pada berbagai hal yang memaksanya meninjau ulang pilihan hidup dan hubungan dengan masa lalunya. Karakter Bisma yang diperankan Arya Saloka menjadi bagian penting dari dinamika tersebut. Interaksi keduanya diperkirakan menghadirkan lapisan konflik personal yang tidak hanya berkaitan dengan perpisahan, tetapi juga dengan perubahan manusia dan tempat setelah waktu berlalu.

Kamila Andini dikenal melalui karya-karya yang mengangkat pengalaman perempuan, persoalan keluarga, serta hubungan manusia dengan lingkungan sosial dan budaya. Melalui Empat Musim Pertiwi, pendekatan tersebut kembali terlihat dalam kisah yang menempatkan perjalanan batin tokoh utama sebagai pusat narasi. Pengumuman mengenai keterwakilan di Oscar dan rencana penayangan pada 2026 membuat film ini memperoleh perhatian lebih luas sebelum resmi dipertontonkan kepada publik.

Dengan perpaduan penyutradaraan Kamila Andini dan akting Putri Marino serta Arya Saloka, film ini menawarkan drama yang menekankan kedalaman karakter. Kisah kepulangan Pertiwi berpotensi mengajak penonton memahami bahwa kembali ke asal tidak selalu berarti menemukan ketenangan, karena masa lalu dapat hadir bersamaan dengan harapan, kehilangan, dan kebutuhan untuk berdamai.

Kepulangan Pertiwi setelah dua puluh tahun meninggalkan kampung halaman tidak serta-merta menghadirkan rasa diterima. Ia kembali bukan sebagai seseorang yang dapat begitu saja menempati ruang lama, melainkan sebagai perempuan yang membawa sejarah hidup penuh retakan. Rumah, lingkungan, dan orang-orang yang dahulu dikenalnya telah berubah. Pada saat yang sama, kepulangannya memaksa Pertiwi melihat bahwa dirinya pun tidak lagi sama seperti ketika pergi dua dekade sebelumnya.

Dua puluh tahun menjadi jarak yang panjang, tetapi waktu tidak sepenuhnya menghapus pengalaman pahit yang pernah dialaminya. Peristiwa-peristiwa yang mendorong Pertiwi pergi tetap hadir melalui ingatan, sikap orang lain, serta ketegangan yang muncul dalam perjumpaan sehari-hari. Kepulangan itu justru membuat trauma lama kembali memperoleh bentuk. Hal-hal yang tampak sederhana—sebuah percakapan, tatapan, atau tempat tertentu—dapat membuka kenangan yang selama ini berusaha ia pendam. Karena itu, perjalanan Pertiwi berlangsung di keinginan untuk memulai hidup baru dan ketidakmampuannya melepaskan masa lalu.

Film ini tidak menempatkan rumah sebagai tujuan akhir yang otomatis menyelesaikan persoalan. Bagi Pertiwi, mencari tempat untuk tinggal berarti berhadapan dengan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah ia masih memiliki ruang di tengah masyarakat yang pernah ditinggalkannya, dan apakah ia sendiri sanggup menerima bagian hidup yang selama ini ditolak. Setiap usaha untuk mendekat kembali menghadirkan kemungkinan penolakan, rasa bersalah, serta luka yang belum mendapatkan pengakuan.

Dengan demikian, kepulangan menjadi perjalanan batin yang jauh lebih rumit daripada perpindahan fisik. Pertiwi tidak hanya mencari alamat untuk kembali, tetapi juga berusaha memahami akar keterasingan yang membentuk hidupnya. Film ini menyoroti proses menghadapi masa lalu tanpa menawarkan penyelesaian yang serba cepat. Rumah, dalam pengalaman Pertiwi, baru mungkin ditemukan setelah ia berani menatap kembali pengalaman pahit dan trauma yang selama ini membayangi langkahnya.

Kepulangan Pertiwi tidak berlangsung sebagai momen pertemuan yang hangat. Setibanya kembali di lingkungan yang pernah dikenalnya, ia berhadapan dengan sikap keluarga dan warga setempat yang enggan menerima kehadirannya. Rumah dan kampung yang semestinya menjadi tempat berlindung justru terasa seperti ruang asing. Tatapan penuh curiga, jarak dalam percakapan, serta keengganan untuk membuka kembali hubungan memperlihatkan bahwa kepulangan tersebut tidak otomatis menghapus luka lama.

Penolakan itu berkaitan erat dengan masa lalu Pertiwi yang pernah membawanya ke balik jeruji penjara. Film ini tidak menjelaskan penyebab maupun lama hukuman yang dijalaninya, tetapi fakta tersebut cukup untuk menunjukkan mengapa kehadirannya memunculkan ketegangan. Bagi orang-orang di sekitarnya, masa lalu itu menjadi beban yang sulit dipisahkan dari sosok Pertiwi saat ini. Sementara itu, ia harus menghadapi penilaian yang terus melekat, bahkan ketika berusaha menata kembali hidupnya.

Keluarga menjadi bagian penting dari konflik tersebut. Alih-alih memberikan dukungan yang dibutuhkan, mereka ikut mempertahankan jarak dan kewaspadaan. Sikap itu membuat Pertiwi tidak memiliki ruang aman untuk membicarakan pengalaman atau menyampaikan keinginannya. Hubungan yang seharusnya menjadi sumber penerimaan berubah menjadi pengingat bahwa dirinya belum sepenuhnya dianggap sebagai bagian dari lingkungan tersebut.

Di tengah penolakan warga dan keluarga, langkah Pertiwi untuk pulang terasa semakin berat. Hambatan utamanya bukan hanya persoalan tempat tinggal atau penerimaan sosial, melainkan juga trauma yang muncul ketika masa lalu terus dipertentangkan dengan harapan untuk memulai kembali. Keterasingan yang dialaminya mempertegas bahwa kepulangan tidak selalu berarti kembali ke rumah. Dalam cerita ini, pulang menjadi proses yang penuh pertarungan batin, karena Pertiwi harus menghadapi pandangan orang lain sekaligus luka yang belum terselesaikan dalam dirinya.

Di tengah penolakan yang dihadapi Pertiwi, Bisma dan Mak Ira hadir sebagai dua sosok yang masih membuka ruang bagi kepulangannya. Bisma diperankan oleh Arya Saloka, sedangkan Mak Ira dimainkan oleh Christine Hakim. Keduanya digambarkan bersedia menyambut Pertiwi ketika keluarga dan warga sekitar justru menempatkannya sebagai seseorang yang sulit diterima. Kehadiran mereka menjadi penting karena penerimaan tidak selalu datang dari lingkungan terdekat, melainkan dapat tumbuh dari pertemuan dengan orang-orang yang mampu melihat luka di balik kepulangan tersebut.

Bisma memiliki posisi khusus dalam perjalanan Pertiwi menghadapi masa lalu. Ia tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian peristiwa yang mengitari kepulangan Pertiwi, tetapi juga berperan dalam membuka kemungkinan bagi tokoh tersebut untuk berhadapan dengan pengalaman yang selama ini membentuk dirinya. Sikap Bisma memberi Pertiwi ruang untuk menjalani proses secara lebih manusiawi, tanpa terus-menerus didefinisikan oleh penolakan keluarga maupun pandangan masyarakat. Relasi yang terbangun di keduanya memperlihatkan bahwa menghadapi masa lalu memerlukan keberanian, sekaligus dukungan dari seseorang yang bersedia hadir tanpa menghakimi.

Sementara itu, Mak Ira memperkuat gambaran tentang rumah sebagai ruang yang tidak semata-mata ditentukan oleh hubungan darah. Kesediaannya menyambut Pertiwi menghadirkan kemungkinan bahwa penerimaan masih dapat ditemukan, meskipun tempat asalnya telah berubah menjadi sumber luka. Bersama Bisma, Mak Ira mempertegas pertentangan penolakan dan kesempatan untuk memulai kembali. Kedua karakter ini membuat perjalanan Pertiwi terasa semakin emosional, sebab kepulangannya bukan hanya berkaitan dengan kembali ke suatu tempat, melainkan juga dengan pencarian ruang aman untuk diakui, didengar, dan menerima dirinya sendiri.

Baca juga: Tiga Menko dan Sejumlah Tokoh Hadiri Peluncuran Buku Terbaru Bamsoet ke-38 dan Buku Perjalanan Panjang Bamsoet Karya Wartawan Senior J.Osdar | Berita Terbaru Seputar Menhub Dudy Purwagandhi