PDIP Buka Sekolah Partai untuk Dekati Generasi Z Jelang Pemilu 2029

oleh -77 Dilihat
oleh
PDIP Buka Sekolah Partai untuk Dekati Generasi Z Jelang Pemilu 2029

Jakarta | PDI Perjuangan meluncurkan program Muda-Mudi Sekolah Partai di Jakarta pada Rabu, 21 Oktober 2026. Program ini ditujukan untuk memperluas jangkauan pendidikan politik kepada generasi Z, termasuk kalangan muda yang selama ini mungkin belum memiliki akses langsung ke kegiatan pembelajaran politik partai. Peluncuran tersebut menjadi bagian dari upaya partai mendekati pemilih muda menjelang Pemilu 2029.

Melalui program ini, Sekolah Partai ingin membuka kesempatan yang lebih luas bagi generasi muda untuk mengenal pendidikan politik. Selama ini, sekolah partai kerap dipersepsikan sebagai ruang yang terbatas bagi kader internal atau kelompok tertentu. Muda-Mudi Sekolah Partai diperkenalkan untuk mengubah kesan tersebut dengan menghadirkan akses yang lebih terbuka, sehingga anak muda dapat terlibat dan memperoleh pemahaman politik melalui kegiatan pendidikan yang disediakan partai.

Komarudin Watubun, Kepala Sekolah Partai sekaligus Ketua DPP PDIP Bidang Kehormatan, menyatakan bahwa Sekolah Partai kini membuka diri agar jangkauannya lebih luas. Pernyataan itu menegaskan arah program: pendidikan politik tidak hanya ditujukan kepada kalangan yang sudah berada di dalam organisasi, tetapi juga hendak menjangkau masyarakat muda di luar lingkup tersebut. Dengan demikian, Muda-Mudi Sekolah Partai menjadi salah satu jalur bagi PDIP untuk memperkenalkan proses pembelajaran politik kepada generasi Z.

Peluncuran program di Jakarta berlangsung menjelang periode menuju Pemilu 2029, ketika perhatian terhadap pemilih muda semakin penting bagi partai politik. Namun, inti kegiatan ini tidak semata-mata soal mendekati pemilih, melainkan juga memperluas akses terhadap pendidikan politik yang sebelumnya dianggap eksklusif. Dengan membuka ruang belajar bagi generasi Z, PDIP menyampaikan upaya untuk menjadikan Sekolah Partai lebih inklusif dan menjangkau kelompok yang lebih beragam. Program Muda-Mudi diharapkan mempertemukan anak muda dengan pendidikan politik secara lebih terbuka, sekaligus memberi mereka kesempatan memahami peran dan proses politik sebelum pemilu mendatang.Komarudin menilai minat generasi muda terhadap politik penting untuk terus tumbuh. Generasi muda, termasuk peserta yang mengikuti pendidikan politik, akan memegang peran dalam menentukan masa depan Indonesia. Karena itu, ruang untuk mengenal politik dan memahami kehidupan kebangsaan perlu dibuka tanpa menjadikan keikutsertaan sebagai kewajiban untuk memilih jalan politik tertentu. Pendidikan ini memberi kesempatan bagi anak muda untuk belajar dan membentuk pemahaman mereka sendiri.

Keikutsertaan dalam sekolah partai tidak berarti peserta harus menjadi kader PDIP atau bergabung dengan sayap partai. Komarudin menegaskan bahwa mengikuti kegiatan pendidikan tersebut tidak serta-merta mengikat peserta pada keanggotaan maupun aktivitas organisasi partai. Peserta dapat mengikuti materi dan memperoleh pengetahuan tanpa harus mengambil keputusan untuk bergabung. Dengan demikian, sekolah partai menjadi ruang pembelajaran, bukan persyaratan atau jalur wajib menuju status kader.

Setelah mengikuti pendidikan, peserta tetap bebas menentukan apakah mereka tertarik untuk masuk PDIP. Pilihan itu berada pada masing-masing peserta, sesuai dengan minat dan keputusan mereka sendiri. Bagi Komarudin, pendidikan politik juga memiliki tujuan yang lebih luas, yakni membantu generasi muda memahami sejarah bangsa. Pemahaman tersebut menjadi bagian dari materi yang dapat mereka pelajari dalam kegiatan ini, berdampingan dengan pengenalan terhadap politik. Dengan pendekatan tersebut, peserta memperoleh ruang untuk menambah wawasan tentang bangsa dan politik, sekaligus mempertahankan kebebasan untuk menentukan keterlibatan mereka di kemudian hari. Tidak ada keharusan untuk mengubah pengalaman belajar itu menjadi keanggotaan partai ataupun bergabung dengan sayap organisasi. Penekanan pada kebebasan memilih sejalan dengan pandangan bahwa anak muda perlu memiliki minat terhadap politik, sementara keputusan tentang afiliasi tetap menjadi hak masing-masing peserta. Sekolah partai, dalam kerangka yang disampaikan Komarudin, membuka kesempatan belajar bagi generasi muda tanpa menetapkan pilihan politik mereka setelah kegiatan berakhir. Hal yang ditekankan adalah pentingnya pendidikan dan pemahaman sejarah, serta ruang bagi peserta untuk mempertimbangkan sendiri langkah berikutnya.Dalam materi Sekolah Partai, Komarudin menempatkan sejarah perjuangan bangsa sebagai salah satu pokok pembelajaran bagi peserta muda. Kurikulum akan mengulas perjalanan bangsa, termasuk gagasan dan perjuangan yang digagas Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Pembahasan sejarah tersebut diharapkan memberi konteks tentang terbentuknya Indonesia dan berbagai keputusan penting yang mengiringi proses kebangsaan. Dengan mengenali latar belakang itu, generasi muda dapat melihat bahwa kehidupan bernegara tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan terbentuk melalui perjalanan panjang, pemikiran, dan perjuangan banyak pihak.

Selain sejarah, peserta akan memperoleh pemahaman mengenai Pancasila sebagai dasar negara. Materi ini mencakup arti nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa serta relevansinya bagi penyelenggaraan negara. Komarudin juga menekankan pentingnya kesadaran untuk menjaga dan menaati konstitusi. Pemahaman terhadap aturan dasar negara dinilai perlu agar kader mengetahui batas, tanggung jawab, dan prinsip yang harus menjadi pegangan ketika terlibat dalam kehidupan politik maupun pelayanan publik. Pendidikan tersebut tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga mendorong sikap yang menghormati kesepakatan kebangsaan.

Rangkaian materi sejarah, Pancasila, dan konstitusi dimaksudkan untuk menunjukkan kepada generasi muda bahwa setiap proses kebangsaan memiliki asal-usul serta tahapan. Pemahaman itu diharapkan membantu peserta menilai persoalan masa kini dengan lebih utuh, bukan sekadar melihatnya sebagai keadaan yang sudah ada. Komarudin berharap pembekalan tersebut dapat menjadi bekal apabila peserta kelak dipercaya memegang jabatan publik, termasuk sebagai presiden atau wakil presiden. Namun, kesiapan untuk mengemban jabatan seperti itu tidak dapat dipaksakan. Menurutnya, pendidikan dapat membuka wawasan dan menumbuhkan tanggung jawab, sementara kesiapan pribadi tumbuh melalui proses dan kesediaan masing-masing individu. Karena itu, sekolah partai diarahkan untuk membangun dasar pemahaman, bukan menjanjikan atau menentukan posisi peserta di masa depan. Dengan bekal tersebut, generasi muda diharapkan mampu memahami tanggung jawab kebangsaan sebelum mengambil peran lebih besar dalam pemerintahan maupun masyarakat.

Sekretaris Sekolah Partai PDIP, Nida Zidny Paradhisa, menjelaskan bahwa peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut telah melalui proses seleksi ketat. Panitia menerima ribuan pendaftar yang lebih dahulu mengisi formulir secara daring. Karena jumlah peminat jauh lebih besar daripada kuota yang tersedia, setiap pendaftar harus melewati pemeriksaan sebelum dipilih sebagai peserta. Proses ini, menurut Nida, menjadi bagian penting untuk memastikan peserta yang hadir sesuai dengan kebutuhan kegiatan dan dapat mengikuti rangkaian acara.

Tahap verifikasi mencakup pemeriksaan data melalui kartu tanda mahasiswa dan kartu tanda penduduk. Panitia juga meninjau rekam jejak pendaftar di media sosial sebagai bagian dari pertimbangan seleksi. Setelah seluruh informasi diperiksa, panitia memilih ratusan peserta dari ribuan orang yang mendaftar. Dengan mekanisme tersebut, proses penerimaan tidak hanya bertumpu pada formulir daring, tetapi juga mempertimbangkan kelengkapan data dan jejak publik para calon peserta. Nida menyampaikan bahwa seleksi dilakukan sebelum peserta ditetapkan dan hadir dalam kegiatan.

Nida mengatakan kegiatan ini bertujuan memperkenalkan PDIP secara lebih dekat kepada generasi muda. Ia berharap peserta memperoleh gambaran langsung mengenai partai dan kehidupan politik, bukan hanya mengenalnya dari pemberitaan atau kontestasi elektoral. Pengenalan tersebut sekaligus membuka ruang bagi anak muda untuk memahami bahwa politik memiliki cakupan yang lebih luas daripada pemilu dan kemenangan. Dalam pandangan Nida, kegiatan pendidikan politik dapat membantu masyarakat memahami peran partai serta isu-isu yang berpengaruh terhadap kehidupan bersama.

Ia juga menekankan bahwa politik memuat amanah untuk mengedukasi masyarakat dan menjaga kewarasan demokrasi. Pesan itu menjadi bagian dari tujuan kegiatan, yakni mendorong pemahaman yang lebih utuh mengenai tanggung jawab politik.

Baca juga: Dirlantas Polda Papua Barat Daya Gelar Lomba Mural, Rangkul Generasi Muda dalam Semarak HUT Lalu Lintas ke-71