Pelabuhan Tanjung Priok Fokus Modernisasi, TKBM Diminta Tetap Profesional dan Solid

oleh -38 Dilihat
oleh
Pelabuhan Tanjung Priok Fokus Modernisasi, TKBM Diminta Tetap Profesional dan Solid

Jakarta | Suasana kawasan wisata Putri Duyung Cottage Ancol, Jakarta Utara, Kamis pagi 21 Mei 2026, tampak berbeda dibanding hari biasa. Sejak pukul 07.30 WIB, puluhan kendaraan mulai memasuki area lokasi kegiatan. Para pekerja bongkar muat, pengurus koperasi, pejabat kementerian hingga perwakilan perusahaan pelabuhan terlihat berdatangan menuju ruang pertemuan yang menjadi lokasi Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Karya Sejahtera Tenaga Kerja Bongkar Muat (KS TKBM) Pelabuhan Tanjung Priok Tahun Buku 2025.

Di balik suasana formal agenda tahunan koperasi tersebut, pembahasan yang muncul ternyata jauh lebih besar dibanding sekadar laporan keuangan organisasi. Forum itu berubah menjadi ruang konsolidasi besar antara pekerja pelabuhan, pemerintah, otoritas pelabuhan, pengusaha hingga serikat pekerja dalam membahas masa depan TKBM di tengah arus digitalisasi industri kepelabuhanan nasional.

Tema yang diangkat dalam RAT kali ini cukup tegas, yakni “Akselerasi Digitalisasi untuk Mewujudkan TKBM yang Profesional, Kompeten, dan Sejahtera.” Tema itu langsung menjadi pembahasan utama sejak acara dimulai pukul 08.00 WIB.

Di dalam ruangan, ratusan peserta tampak memenuhi kursi yang telah disiapkan panitia. Sebagian besar peserta berasal dari unsur pekerja bongkar muat Pelabuhan Tanjung Priok, kepala regu kerja, mandor lapangan hingga jajaran pengurus koperasi. Hadir pula perwakilan Kementerian Koperasi RI, KSOP Utama Tanjung Priok, Pelindo Regional 2, unsur kepolisian, pemerintah daerah hingga asosiasi pengusaha bongkar muat.

Ketua Panitia RAT, M. Saiful Islam, membuka kegiatan dengan suasana penuh semangat. Ia beberapa kali memimpin yel-yel yang langsung disambut lantang oleh peserta di dalam ruangan.

“Hidup TKBM!” teriak Saiful.

“Hidup!” jawab peserta serempak.

Yel-yel itu kembali berlanjut dengan pekikan “TKBM Profesional”, “Koperasi Solid dan Sejahtera”, hingga “Pelabuhan Tanjung Priok Sukses” yang menggema di dalam ruang acara.

Di balik suasana penuh semangat itu, panitia juga tampak serius menjaga situasi tetap kondusif. Salah satu strategi yang cukup mencuri perhatian adalah pengumuman doorprize ibadah umrah yang baru akan diundi setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai. Langkah itu dinilai efektif membuat peserta bertahan mengikuti acara hingga akhir.

Ketua Koperasi KS TKBM Pelabuhan Tanjung Priok, Asep Slamet, dalam sambutannya langsung menyinggung isu yang selama ini menjadi kekhawatiran sebagian pekerja, yakni digitalisasi sistem kerja di pelabuhan.

Ia menegaskan bahwa modernisasi sistem tidak dimaksudkan untuk mengurangi tenaga kerja manusia ataupun menghapus peran pekerja bongkar muat di lapangan. Menurutnya, digitalisasi justru dibutuhkan agar pelayanan operasional pelabuhan menjadi lebih cepat, efisien dan transparan.

“Digitalisasi bukan untuk menggantikan pekerja. Justru untuk memperkuat sistem kerja supaya lebih baik,” ujar Asep di hadapan peserta RAT.

Menurutnya, dunia kepelabuhanan saat ini bergerak sangat cepat mengikuti perkembangan teknologi dan sistem logistik global. Jika koperasi tidak ikut bertransformasi, maka organisasi pekerja akan tertinggal dalam persaingan industri.

Ia juga menegaskan bahwa koperasi membuka ruang kritik dan masukan dari seluruh anggota maupun mitra kerja sebagai bagian evaluasi menuju tata kelola yang lebih profesional.

Pernyataan tersebut langsung mendapat perhatian peserta, terutama para pekerja yang selama ini khawatir modernisasi sistem akan berdampak pada berkurangnya tenaga kerja lapangan.

Selain soal digitalisasi, pembahasan lain yang cukup dominan dalam RAT adalah persoalan keselamatan kerja. Hampir seluruh narasumber yang hadir menyinggung pentingnya penerapan standar keamanan di kawasan pelabuhan.

Perwakilan Serikat Pekerja TKBM Pelabuhan Tanjung Priok, Suherdi, mengatakan bahwa pelabuhan bukan hanya tempat bekerja, tetapi juga menjadi ruang kehidupan bagi ribuan pekerja bongkar muat dan keluarganya.

“Pelabuhan ini rumah kita bersama. Karena itu harus dijaga,” katanya.

Ia meminta seluruh pihak memperhatikan standar keselamatan kerja secara serius, mulai dari penyediaan alat pelindung diri, pengawasan alat operasional hingga fasilitas pendukung bagi pekerja.

Menurutnya, target Zero Accident tidak akan tercapai apabila pekerja masih menghadapi kondisi kerja yang tidak aman di lapangan.

Selain itu, Suherdi juga mengingatkan pentingnya penyelesaian persoalan melalui komunikasi dan musyawarah agar stabilitas kerja di pelabuhan tetap terjaga.

Hal senada disampaikan Executive General Manager Pelindo Regional 2 Tanjung Priok, Yandri Trisaputra. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa keberhasilan koperasi tidak hanya dilihat dari besarnya keuntungan organisasi, tetapi sejauh mana manfaatnya benar-benar dirasakan anggota.

Ia mengingatkan bahwa pekerja bongkar muat memiliki posisi strategis dalam rantai logistik nasional. Karena itu, profesionalisme dan keselamatan kerja menjadi hal mutlak yang tidak bisa diabaikan.

Yandri bahkan memberikan perhatian khusus terkait pentingnya budaya safety di lingkungan pelabuhan. Ia meminta pekerja segera melaporkan kondisi tidak aman atau potensi bahaya sekecil apa pun demi mencegah kecelakaan kerja.

“Keselamatan kerja harus menjadi prioritas utama,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPW APBMI DKI Jakarta, Kapten H. Suwondo, menilai keberadaan Koperasi KS TKBM selama ini memiliki peran penting dalam menjaga kelancaran operasional bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok.

Ia juga mengapresiasi sinergi antara Pelindo, KSOP dan seluruh unsur kepelabuhanan yang dinilai berhasil menjaga kelancaran arus logistik, terutama saat periode libur Idul Fitri 1447 Hijriah.

Menurutnya, stabilitas operasional pelabuhan tidak akan tercapai tanpa kerja sama yang solid antara pekerja, pengusaha dan otoritas pelabuhan.

Di sisi lain, Kepala KSOP Utama Tanjung Priok, Capt. Heru Susanto, membuka arahannya dengan gaya santai menggunakan pantun yang langsung disambut tepuk tangan peserta.

Meski tampil cair, pesan yang disampaikannya cukup serius. Ia menegaskan bahwa koperasi TKBM merupakan bagian penting dalam ekosistem pelabuhan nasional.

Menurutnya, kelancaran arus bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok sangat bergantung pada kualitas kerja dan profesionalisme TKBM di lapangan.

“TKBM adalah bagian vital pelabuhan. Perannya tidak bisa dipisahkan,” kata Heru.

Ia meminta seluruh anggota koperasi, pengurus dan pengawas bersama-sama membawa organisasi menuju sistem yang lebih modern, transparan dan akuntabel.

Dalam forum tersebut, isu kesejahteraan pekerja juga menjadi perhatian pemerintah pusat. Sekretaris Kementerian Koperasi RI, Ahmad Zabadi, menegaskan bahwa TKBM bukan sekadar pekerja biasa, melainkan bagian pemilik sah koperasi yang memiliki hak perlindungan dan kesejahteraan.

Ia mengingatkan pentingnya pemenuhan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan bagi seluruh pekerja bongkar muat di pelabuhan.

Selain itu, Ahmad Zabadi juga menyinggung persoalan keberlanjutan kesejahteraan anggota yang memasuki usia purna tugas. Menurutnya, koperasi harus mulai memikirkan skema perlindungan bagi pekerja setelah tidak lagi aktif bekerja di lapangan.

“Pekerja tidak boleh kehilangan perlindungan setelah pensiun,” tegasnya.

Pemerintah, kata dia, saat ini juga sedang mendorong penguatan regulasi lintas sektor agar pengelolaan dan perlindungan TKBM semakin memiliki kepastian hukum yang kuat.

Sementara itu, perwakilan Sudin Tenaga Kerja Jakarta Utara, Erly Fridawaty, mengingatkan pentingnya hubungan industrial yang harmonis antara pekerja, koperasi dan perusahaan.

Ia meminta seluruh pihak menjaga keseimbangan antara perjuangan aspirasi pekerja dengan keberlangsungan dunia usaha agar stabilitas sektor logistik tetap terjaga.

Di sela kegiatan, beberapa peserta terlihat aktif berdiskusi mengenai tantangan kerja di pelabuhan yang semakin kompleks. Ada yang membahas sistem digital, ada pula yang menyoroti kebutuhan fasilitas pekerja di lapangan.

Meski berlangsung cukup panjang hingga menjelang siang, suasana RAT tetap berjalan kondusif. Tidak terlihat adanya ketegangan berarti antar peserta maupun antar kelompok pekerja.

Puncak kegiatan berlangsung ketika Kepala KSOP Utama Tanjung Priok menyerahkan palu sidang secara simbolis kepada Ketua Koperasi sebagai tanda resmi dimulainya pengesahan agenda RAT Tahun Buku 2025.

Momentum itu sekaligus menjadi simbol kuat bahwa seluruh unsur kepelabuhanan mulai bergerak menuju sistem kerja yang lebih modern dan terintegrasi.

Sekitar pukul 11.13 WIB, rangkaian RAT resmi ditutup. Namun sejumlah peserta masih terlihat bertahan di area lokasi sambil berdiskusi kecil membahas masa depan TKBM dan perubahan sistem kerja di pelabuhan.

Secara umum, pelaksanaan RAT kali ini memperlihatkan bahwa isu digitalisasi tidak lagi dipandang sebagai ancaman mutlak bagi pekerja bongkar muat. Sebaliknya, transformasi sistem justru mulai diarahkan sebagai langkah memperkuat transparansi, profesionalisme dan perlindungan pekerja di tengah perubahan industri logistik nasional yang semakin kompetitif.

Di tengah dinamika arus perdagangan global, Pelabuhan Tanjung Priok bukan hanya menjadi pusat aktivitas ekonomi, tetapi juga ruang hidup ribuan pekerja yang menggantungkan masa depannya pada stabilitas pelabuhan. Karena itu, pembahasan dalam RAT kali ini tidak hanya soal koperasi, melainkan juga tentang bagaimana menjaga keseimbangan antara modernisasi industri dan kesejahteraan pekerja di lapangan.

Response (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *