Bandung | Satresnarkoba Polrestabes Bandung menggerebek tempat yang diduga menjadi lokasi produksi obat keras terbatas di kawasan pergudangan Bizpark, Kota Bandung, pada Minggu (18/10) petang. Pengungkapan tersebut bermula dari penelusuran petugas terhadap aktivitas produksi obat tanpa izin. Saat penyidik mendatangi kawasan itu, mereka menemukan bukan hanya satu titik pembuatan, melainkan dua lokasi yang digunakan untuk memproduksi obat.
Penggerebekan dipimpin Kasat Narkoba Polrestabes Bandung Kompol Oliestha Ageng Wicaksana. Di salah satu lokasi, petugas mendapati empat orang sedang melakukan kegiatan produksi ketika polisi masuk. Temuan itu menunjukkan bahwa tempat tersebut digunakan untuk mengolah obat, bukan sekadar menyimpan atau mengemas barang yang telah jadi. Petugas kemudian mengamankan lokasi dan memeriksa barang-barang yang ada di dalamnya.
Dari dua lokasi tersebut, polisi menyita ratusan ribu butir tramadol dan hexymer yang disebut siap diedarkan. Selain obat jadi, petugas juga menemukan bahan baku serta peralatan yang digunakan dalam proses produksi. Barang-barang itu menjadi bagian dari bukti yang dikumpulkan untuk menelusuri kegiatan di tempat tersebut. Jumlah obat siap edar yang ditemukan memperlihatkan besarnya kapasitas produksi yang diungkap dalam penggerebekan itu.
Keberadaan bahan baku dan perlengkapan produksi di dua titik berbeda turut menjadi perhatian penyidik. Pemeriksaan terhadap para pihak yang berada di lokasi serta pendalaman atas barang bukti diperlukan untuk menjelaskan bagaimana obat diproduksi, dari mana bahan diperoleh, dan ke mana hasilnya akan disalurkan. Informasi tersebut penting untuk memetakan kemungkinan jaringan distribusi, meski rincian lebih lanjut harus didasarkan pada hasil penyidikan kepolisian.
Pengungkapan di Bizpark ini menyoroti risiko peredaran obat keras terbatas yang diproduksi secara ilegal. Tramadol dan hexymer yang telah siap edar berpotensi menjangkau masyarakat apabila tidak diamankan. Karena itu, penyitaan obat, bahan, dan alat produksi menjadi langkah awal untuk mencegah barang tersebut beredar sekaligus mendukung proses hukum. Polisi masih perlu mengembangkan temuan dari kedua lokasi agar peran setiap orang dan skala kegiatan dapat diketahui secara menyeluruh.
Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Hengki yang mendatangi lokasi penggerebekan menyampaikan perkiraan mengenai kapasitas fasilitas tersebut. Penilaian itu didasarkan pada alat-alat produksi yang ditemukan di dalam gudang, bukan pada jumlah obat yang terbukti telah dibuat. Dari peralatan yang ada, pabrik ilegal itu diperkirakan mampu mencetak hingga 8 juta butir obat dalam sehari. Angka tersebut menggambarkan potensi kapasitas mesin apabila seluruh perangkat digunakan, sehingga tidak dapat langsung dibaca sebagai angka produksi harian yang benar-benar terjadi. Keterangan ini memberi gambaran tentang skala operasi yang diduga berlangsung di lokasi, sekaligus menjadi salah satu aspek yang diperiksa lebih lanjut oleh petugas.
Perkiraan jutaan butir per hari menunjukkan bahwa alat yang tersedia dinilai memiliki kemampuan produksi besar. Namun, kapasitas potensial berbeda dari volume aktual. Untuk memastikan berapa banyak produk yang sempat dibuat, aparat perlu mengaitkan temuan mesin dengan barang bukti, catatan kegiatan, bahan yang tersedia, serta hasil pemeriksaan lain. Karena itu, angka hingga 8 juta butir disampaikan Kapolda sebagai perkiraan berdasarkan perangkat yang ditemukan, bukan kesimpulan final mengenai jumlah obat yang telah beredar. Pembedaan ini penting agar informasi tentang pengungkapan pabrik tetap akurat dan tidak menimbulkan anggapan bahwa seluruh kapasitas tersebut telah dimanfaatkan setiap hari.
Hengki juga menjelaskan bahwa sasaran distribusi yang diduga tidak terbatas di wilayah Jawa Barat. Jangkauan yang dituju disebut mencakup pasar di luar daerah, termasuk Jakarta. Informasi mengenai tujuan penyaluran tersebut mengindikasikan bahwa penyelidikan tidak hanya berfokus pada proses produksi di gudang, tetapi juga pada jalur distribusi dan pihak-pihak yang mungkin terlibat. Meski demikian, keterangan mengenai wilayah tujuan itu tetap merupakan bagian dari informasi awal yang disampaikan dalam penanganan perkara. Aparat perlu menelusuri bukti transaksi, komunikasi, pengiriman, dan keterkaitan antarpihak untuk memastikan bagaimana produk direncanakan disalurkan. Dengan demikian, dugaan kapasitas besar dan jangkauan lintas daerah menjadi dua hal yang saling terkait dalam mengungkap skala kegiatan, sementara angka produksi aktual dan peredaran pastinya masih memerlukan pembuktian lebih lanjut.
Hengki menjelaskan bahwa pengungkapan kasus ini bermula dari penangkapan seorang tersangka di rest area KM 125 Tol Purbaleunyi, pada Jumat (16/10) sekitar pukul 18.00 WIB. Saat itu, petugas menemukan 600 ribu butir hexymer yang dibawa tersangka. Obat tersebut rencananya akan dibawa ke Jakarta. Penangkapan di jalan tol itu menjadi titik awal bagi penyidik untuk menelusuri asal barang dan pihak-pihak lain yang diduga terlibat dalam peredarannya.
Setelah penangkapan tersebut, polisi melakukan pengembangan pada Sabtu hingga Minggu. Penelusuran mengarah ke kawasan pergudangan Bizpark Kopo, Bandung. Di kompleks pergudangan yang sama, petugas mendatangi tiga tempat kejadian perkara (TKP) yang lokasinya berdekatan. Pemeriksaan di sejumlah lokasi itu dilakukan untuk mengungkap hubungan barang bukti yang ditemukan di tol dan aktivitas yang berlangsung di gudang-gudang tersebut.
Rangkaian pengembangan itu kemudian berujung pada penangkapan empat orang tambahan. Hengki menyebut keempatnya berinisial P, R, MF, dan F. Dengan demikian, jumlah tersangka dalam perkara ini menjadi lima orang, termasuk satu tersangka yang lebih dahulu ditangkap di jalan tol. Keterangan tersebut menggambarkan bahwa penyidikan tidak berhenti pada pengungkapan pengiriman, tetapi dilanjutkan dengan penelusuran terhadap lokasi yang diduga berkaitan dengan penyimpanan atau produksi obat.
Pengungkapan bertahap tersebut juga memperlihatkan pentingnya tindak lanjut setelah penemuan barang bukti dalam jumlah besar. Informasi dari penangkapan awal menjadi dasar bagi petugas untuk bergerak ke beberapa lokasi di Bizpark Kopo dan mengidentifikasi tersangka lain. Dalam penyampaian Hengki, urutan waktu penangkapan dan pengembangan lokasi menjadi bagian penting dari kronologi perkara: satu tersangka diamankan lebih dahulu, lalu empat orang lainnya ditangkap setelah polisi memeriksa tiga TKP yang saling berdekatan.
Hingga tahap pengungkapan yang disampaikan itu, informasi mengenai para tersangka terbatas pada jumlah dan inisial yang disebutkan. Karena itu, kronologi ini tidak menambahkan identitas lain. Fokus penyidik adalah menghubungkan penangkapan di Tol Purbaleunyi dengan temuan di kawasan pergudangan, sekaligus mendalami dugaan peran masing-masing pihak berdasarkan hasil pemeriksaan dan bukti yang telah diamankan.
Pengungkapan gudang obat ilegal di Bandung tidak hanya menunjukkan skala produksi yang besar, tetapi juga mengungkap pembagian tugas di para tersangka. Berdasarkan keterangan kepolisian, setiap orang diduga menjalankan peran berbeda dalam rangkaian kegiatan tersebut. Ada tersangka yang bertugas membeli bahan dan kebutuhan produksi, sementara pihak lain meracik atau mengolah bahan menjadi obat keras ilegal. Sejumlah orang juga berperan sebagai pengantar barang, sedangkan koordinator mengatur pengiriman berdasarkan pesanan yang diterima.
Pembagian peran itu menjadi bagian penting dalam penyidikan karena dapat membantu polisi menyusun alur kerja jaringan, dari pengadaan bahan hingga obat sampai kepada pemesan. Pesanan diduga menjadi dasar pengaturan pengiriman, sehingga penyidik perlu menelusuri siapa yang menghubungi koordinator, bagaimana transaksi dilakukan, serta ke mana barang didistribusikan. Informasi tersebut masih diperiksa dan belum seluruhnya diungkapkan kepada publik.
Di dalam gudang, petugas menemukan berbagai barang bukti yang mengindikasikan adanya kegiatan produksi dan administrasi penjualan. Barang yang disita lain bahan baku prekursor dengan jumlah mencapai berton-ton, yang disimpan dalam puluhan drum berwarna cokelat. Polisi juga menemukan mesin cetak pemanas, puluhan telepon seluler, sebuah laptop yang berisi data penjualan, serta buku rekening.
Baca juga: Penggerebekan Besar Narkotika Di Bekasi: 18 Kilogram Sabu dan Ribuan Butir Ekstasi Disita | Menemukan Tempat Nobar Terbaik Persija vs Persib di Bandung | Duel Epic: Persija Jakarta vs Persib Bandung di Gelora Bung Karno
