Perak Kehilangan Momentum: Tekanan Jual dan Prospek Pekan Berikutnya

oleh -99 Dilihat
oleh
Tekanan Inflasi AS Membuat Harga Perak Turun Tajam dalam Sepekan

Jakarta | Perdagangan perak dunia pada 19–23 Oktober 2026 bergerak dalam dua fase yang kontras. Pada awal pekan, harga XAG/USD mencatat kenaikan bertahap dan sempat memberi indikasi bahwa pasar dapat mempertahankan momentum positif. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan hingga akhir periode. Tekanan jual yang muncul pada dua sesi terakhir membalik arah pergerakan, mendorong harga turun tajam dan menghapus seluruh kenaikan yang sebelumnya terbentuk.

Pada Senin, perak naik 0,14% dan berakhir di US$57,09 per troy ons. Kenaikan berlanjut pada Selasa, ketika harga bertambah 1,57% menjadi US$57,98 per troy ons. Perubahan ini menempatkan harga pada level tertinggi dalam rangkaian perdagangan pekan tersebut. Meski demikian, laju penguatan mulai terhenti pada Rabu. XAG/USD turun tipis 0,02%, sebuah perubahan terbatas yang menandai pergeseran dari kenaikan menuju konsolidasi sebelum tekanan jual yang lebih besar muncul.

Pembalikan berlangsung tajam pada Kamis. Harga perak anjlok 5,94% ke US$54,53 per troy ons, sehingga kenaikan pada Senin dan Selasa terhapus dalam satu sesi. Penurunan berlanjut pada Jumat, meski dengan laju yang lebih kecil, yakni 1,16%. Pada penutupan pekan, XAG/USD berada di US$53,89 per troy ons. Posisi ini mencerminkan penurunan US$3,11, atau 5,46%, dibandingkan penutupan pekan sebelumnya di US$57,01. Dengan hasil tersebut, perak mengakhiri periode lima hari perdagangan pada tingkat penutupan terendahnya dalam pekan itu. Rangkaian pergerakan ini menunjukkan betapa cepat sentimen harga berbalik: kenaikan awal pekan tidak mampu menjadi dasar bagi penguatan yang berkelanjutan, sementara aksi jual pada Kamis dan Jumat menentukan hasil mingguan secara keseluruhan.

Perak menghadapi tekanan dari kombinasi ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran bahwa inflasi Amerika Serikat akan turun lebih lambat dari perkiraan. Ketegangan di Timur Tengah meningkatkan risiko gangguan pada jalur pengiriman energi, termasuk kemungkinan keterlambatan pasokan dan kenaikan biaya transportasi. Jika risiko tersebut mendorong harga minyak atau energi lebih tinggi, biaya produksi dan distribusi dapat kembali naik. Dampaknya, tekanan harga yang sebelumnya mulai mereda berpotensi bertahan lebih lama, sehingga perjalanan inflasi menuju sasaran bank sentral menjadi lebih sulit.

Kekhawatiran atas inflasi yang persisten dapat membuat Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau menunda pelonggaran kebijakan. Lingkungan seperti ini cenderung kurang menguntungkan bagi perak, yang tidak menghasilkan bunga maupun kupon. Ketika imbal hasil aset berbunga, terutama obligasi pemerintah, tetap menarik, investor menghadapi biaya peluang lebih besar jika memilih menyimpan logam mulia. Karena itu, perubahan ekspektasi mengenai waktu pemangkasan suku bunga dapat memengaruhi permintaan perak, bahkan ketika ketidakpastian geopolitik biasanya mendorong sebagian investor mencari aset lindung nilai.

Dolar AS yang tetap tangguh menambah hambatan bagi pasar logam mulia. Karena perak diperdagangkan secara global dalam dolar, penguatan mata uang tersebut membuat harga logam relatif lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain dan dapat membatasi minat mereka. Menjelang akhir pekan, imbal hasil obligasi AS sempat turun, sebuah perkembangan yang secara teori dapat mengurangi tekanan pada aset tanpa imbal hasil. Namun, penurunan itu belum cukup untuk menghapus kekhawatiran bahwa biaya energi akan menghambat disinflasi atau mengubah prospek suku bunga secara berarti. Selama dolar bertahan kuat dan investor tetap mengantisipasi kebijakan moneter ketat, tekanan jual pada perak dan logam mulia lain dapat berlanjut. Pergerakan imbal hasil dan dolar, bersama perkembangan energi serta inflasi, menjadi faktor penting untuk dicermati dalam menilai arah pasar pada pekan berikutnya.

Prospek aktivitas manufaktur menjadi faktor tambahan yang dapat menekan harga perak pada pekan berikutnya. Logam ini digunakan dalam sektor elektronik, pembuatan panel surya, serta beragam produk industri, mulai dari komponen listrik hingga peralatan khusus. Karena itu, perubahan perkiraan produksi dan pesanan pabrik dapat memengaruhi penilaian pasar terhadap kebutuhan perak. Jika indikator menunjukkan ekspansi manufaktur melambat atau perusahaan menunda investasi, pelaku pasar mungkin memperkirakan konsumsi industri melemah. Kondisi tersebut berpotensi membatasi permintaan fisik dan menambah tekanan jual, terutama ketika minat terhadap aset berisiko turut berkurang. Sebaliknya, data yang lebih kuat dapat mendukung prospek penggunaan industri, meski belum tentu mengimbangi faktor lain seperti arah dolar dan kebijakan moneter. Hubungan ini membuat perak peka terhadap perkiraan pertumbuhan ekonomi, bukan hanya terhadap perubahan permintaan investasi atau pergerakan harga logam mulia lainnya.

Perhatian pasar juga tertuju pada pertemuan Federal Reserve yang dijadwalkan berlangsung pada 27–28 Oktober. Pelaku pasar cenderung memperkirakan bank sentral mempertahankan suku bunga pada pertemuan tersebut. Namun, perkiraan itu tidak menghapus kemungkinan pengetatan lanjutan pada waktu berikutnya. Inflasi yang bertahan tinggi atau data ekonomi yang tetap kuat dapat menjaga ekspektasi bahwa suku bunga perlu dinaikkan lagi. Prospek tersebut dapat menopang imbal hasil aset berbunga dan dolar, sehingga meningkatkan biaya peluang memegang perak yang tidak memberikan imbal hasil. Akibatnya, meskipun keputusan suku bunga diperkirakan tidak berubah, komunikasi kebijakan dan penilaian investor terhadap jalur suku bunga mendatang tetap berpotensi memengaruhi perdagangan. Perubahan ekspektasi tersebut dapat memicu pergerakan harga sebelum maupun setelah pengumuman resmi.

Pernyataan Federal Reserve mengenai inflasi dan prospek ekonomi akan menjadi petunjuk penting bagi arah pasar. Jika bank sentral menegaskan bahwa tekanan harga belum terkendali dan kenaikan suku bunga tambahan mungkin diperlukan, pemulihan perak dapat tertahan. Sinyal kebijakan yang lebih ketat biasanya memperkuat perhatian pada imbal hasil dan dolar, dua faktor yang dapat membatasi daya tarik logam mulia. Sebaliknya, jika para pejabat lebih menyoroti risiko perlambatan pertumbuhan atau pelemahan kegiatan ekonomi, pasar mungkin menilai ruang pengetatan semakin terbatas. Pergeseran ekspektasi semacam itu berpotensi mengurangi tekanan pada perak, meskipun kekhawatiran atas manufaktur tetap menjadi penyeimbang. Dengan demikian, respons harga pekan berikutnya dapat bergantung pada bagaimana investor menimbang risiko inflasi terhadap risiko perlambatan, serta menghubungkannya dengan permintaan industri dan arah kebijakan moneter.

Penutupan perak pada Jumat di US$53,89 berada di bawah seluruh acuan teknikal jangka pendek yang dipantau. Harga tersebut lebih rendah daripada rata-rata lima hari di US$56,29, rata-rata 10 hari di US$57,13, serta rata-rata 20 hari di US$58,92. Posisi di bawah ketiga rata-rata itu menunjukkan bahwa momentum harga masih lemah dan tekanan jual belum mereda. Pergerakan terakhir juga telah melewati penutupan US$55,64 pada 14 Oktober, sehingga level tersebut kini menjadi area penting untuk menilai kekuatan pemulihan. Sebelumnya, perak sempat rebound hingga US$57,98, tetapi gagal mempertahankan kenaikan tersebut. Kegagalan itu menegaskan bahwa pembeli belum mampu mengubah arah pergerakan secara meyakinkan.

Untuk pekan 26–30 Oktober 2026, bias perdagangan perak masih bearish, dengan US$53,89 sebagai titik pantau awal. Respons harga di sekitar level penutupan Jumat dapat memberi petunjuk mengenai apakah tekanan jual berlanjut atau mulai mereda. Apabila penutupan berikutnya terus berada lebih rendah, risiko penurunan lanjutan dapat meningkat. Dalam kondisi tersebut, pelaku pasar dapat mencermati apakah penjual tetap menguasai pergerakan dan apakah harga mampu menemukan dukungan baru.

Baca juga: Kehilangan Seorang Seniman: Susilo Nugroho Meninggal Dunia