Jakarta | Pada hari pertama Jakarta Running Festival (JRF) 2026, indikator risiko panas atau wet bulb globe temperature (WBGT) sempat menunjukkan warna oranye sekitar pukul 06.30 WIB. Perubahan tersebut menjadi perhatian tim medis karena kondisi lingkungan dapat memengaruhi kemampuan tubuh pelari dalam menjaga suhu dan mempertahankan tenaga. Bagi peserta, sinyal ini menjadi pengingat untuk tidak terpaku pada target waktu atau pace yang telah direncanakan sebelum lomba.
WBGT merupakan ukuran tekanan panas yang digunakan untuk menilai beban panas yang dirasakan seseorang di lingkungan terbuka. Pengukurannya mempertimbangkan beberapa unsur, yaitu suhu udara, kelembapan, panas radiasi, serta pergerakan udara. Dengan memperhitungkan faktor-faktor tersebut, WBGT memberikan gambaran yang lebih menyeluruh tentang kondisi panas dibandingkan hanya melihat angka suhu udara. Nilainya dapat berubah mengikuti keadaan di lintasan, sehingga pemantauan secara real-time membantu petugas memahami risiko yang sedang dihadapi peserta.
Ketika indikator menunjukkan kondisi yang memerlukan kewaspadaan, tim medis dapat menggunakan informasi itu sebagai dasar untuk mengingatkan pelari agar menyesuaikan usaha. Anjuran memperlambat pace bukan berarti peserta harus mengabaikan tujuan lomba, melainkan memberi ruang bagi tubuh untuk beradaptasi dengan tekanan panas. Respons setiap orang dapat berbeda, sehingga kecepatan yang terasa terkendali bagi seorang pelari belum tentu sesuai bagi peserta lain. Memperhatikan kondisi tubuh tetap penting sepanjang berlari.
Pemantauan WBGT juga membantu penyelenggara dan tenaga medis mengantisipasi kebutuhan keselamatan di tengah kegiatan. Informasi lingkungan yang diperbarui secara langsung dapat mendukung keputusan dan komunikasi kepada peserta saat kondisi berubah. Karena itu, indikator oranye yang terlihat pada pagi hari tersebut berfungsi sebagai alarm kewaspadaan, bukan sekadar informasi cuaca. Peserta diharapkan mengikuti arahan petugas serta menilai kembali pace berdasarkan kondisi yang mereka rasakan, agar dapat menjalani lomba dengan lebih aman dan bertanggung jawab.
Cuaca lembap menjadi salah satu kondisi yang perlu diperhatikan dalam Jakarta Running Festival (JRF) 2026. Medical Director JRF, dr Andi Kurniawan, SpKO, mengatakan banyak peserta tumbang selama kegiatan dan harus mendapatkan perawatan di tenda medis. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak cuaca terhadap tubuh pelari tidak dapat diabaikan, sekalipun peserta merasa mampu melanjutkan lomba. Kelembapan dapat membuat tubuh lebih sulit melepaskan panas melalui keringat, sehingga upaya menjaga suhu tubuh terasa lebih berat saat berlari. Karena itu, peserta perlu mencermati respons tubuh dan tidak hanya berpatokan pada target waktu atau jarak yang telah direncanakan sebelum mengikuti lomba.
Menurut Andi, sejumlah pelari datang ke area medis dalam waktu bersamaan. Ia juga mengamati bahwa beberapa peserta tampak berlari dengan dorongan tinggi. Meski demikian, ia tidak menggambarkan kecepatan mereka sebagai pace yang sangat kencang. Situasi tersebut menjadi perhatian karena semangat untuk terus bergerak dapat membuat pelari kurang menyadari perubahan kondisi fisik, terutama ketika cuaca terasa lembap. Ketika banyak peserta membutuhkan bantuan pada rentang waktu yang berdekatan, petugas medis harus menangani mereka di tenda perawatan. Keterangan ini menegaskan pentingnya kewaspadaan selama lomba, baik bagi pelari maupun penyelenggara yang menyiapkan dukungan kesehatan di sepanjang acara.
Andi menyampaikan keterangan itu saat ditemui di JRF 2026, Jakarta Pusat, pada Sabtu (24/10/2026). Pengalaman peserta yang tumbang dan memerlukan perawatan menjadi pengingat bahwa pace sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tubuh dan situasi saat berlari. Pelari perlu peka terhadap sinyal fisik, mengurangi intensitas apabila merasa tidak nyaman, serta meminta bantuan petugas medis bila diperlukan. Menjaga ritme yang realistis bukan berarti mengabaikan tujuan lomba, melainkan memberi ruang bagi tubuh untuk beradaptasi dengan beban aktivitas dan cuaca. Dengan memperhatikan keadaan diri, peserta dapat mengambil keputusan lebih aman daripada memaksakan dorongan berlari. Kewaspadaan semacam ini penting terutama ketika kelembapan terasa tinggi dan layanan medis harus menangani beberapa pelari sekaligus.
Menurut dr Andi, banyak peserta JRF 2026 mengalami heatstroke selama kegiatan berlangsung. Ia juga menyebut banyak peserta harus direndam dalam es. Keterangan tersebut menunjukkan bahwa kondisi panas menjadi perhatian medis dalam pelaksanaan lomba, tetapi tidak memberikan angka pasti mengenai jumlah orang yang terdampak. Karena itu, skala kejadian perlu dipahami sesuai pernyataan narasumber: banyak peserta mengalami heatstroke dan banyak yang menjalani perendaman dalam es, tanpa menyimpulkan jumlah, proporsi, atau tingkat keparahan tertentu.
Informasi mengenai heatstroke dan perendaman dalam es menjadi pengingat bahwa kondisi tubuh setiap pelari dapat berbeda saat mengikuti ajang lari. Peserta sebaiknya memperhatikan respons tubuh dan menyesuaikan pace dengan kemampuan serta keadaan yang dirasakan, selaras dengan peringatan medis dalam kegiatan ini. Namun, keterangan dr Andi yang tersedia hanya menyampaikan adanya banyak kasus heatstroke dan banyak peserta yang harus direndam dalam es. Tidak ada rincian lebih lanjut mengenai gejala yang dialami, durasi penanganan, maupun kondisi peserta setelahnya, sehingga hal-hal tersebut tidak dapat dipastikan dari informasi ini.
Dalam menyampaikan kejadian tersebut, penting untuk membedakan fakta yang disebutkan narasumber dan informasi yang belum tersedia. Tidak ada jumlah pasien yang diberikan, sehingga tidak tepat menambahkan angka atau membuat perkiraan sendiri. Demikian pula, penyebutan perendaman dalam es tidak disertai keterangan tentang tindakan medis lain ataupun alasan khusus bagi setiap peserta. Catatan ini menjaga laporan tetap proporsional sekaligus menempatkan peringatan tentang heatstroke sebagai perhatian yang relevan bagi pelari. Peserta dapat menjadikan kabar tersebut sebagai dorongan untuk tidak memaksakan kecepatan ketika tubuh menunjukkan bahwa pace perlu disesuaikan, tanpa menganggap pengalaman semua pelari sama.
dr Andi mengingatkan peserta kategori full marathon dan 10K pada hari kedua JRF 2026 agar menjadikan kondisi tubuh sebagai acuan utama selama berlari. Keinginan menyelesaikan lomba atau mencapai target waktu tidak seharusnya membuat peserta mengabaikan tanda-tanda kelelahan. Setiap pelari memiliki kemampuan dan respons tubuh yang berbeda, sehingga pace yang terasa wajar bagi orang lain belum tentu aman untuk dirinya.
Peserta diminta tidak memaksakan diri demi mengejar batas kemampuan. Selama masih mampu berpikir jernih dan merasakan perubahan kondisi tubuh, pelari dapat menyesuaikan kecepatan. Jika mulai merasa terlalu lelah atau tidak nyaman, perlambat lari. Berjalan juga merupakan pilihan yang layak bila tubuh membutuhkannya. Mengatur ulang pace bukan berarti gagal mengikuti lomba, melainkan langkah untuk memberi tubuh kesempatan merespons dan mengurangi beban fisik.
Peringatan ini penting karena terus berlari saat tubuh sudah kewalahan dapat memicu peningkatan panas tubuh. Jika kondisi tersebut berlanjut, kesadaran dapat menurun dan pelari berisiko kolaps. Karena itu, peserta sebaiknya tidak menunggu sampai tidak sanggup bergerak untuk mengambil keputusan. Memperhatikan sinyal tubuh sejak awal dan segera mengurangi intensitas dapat membantu mencegah kondisi berkembang menjadi lebih serius.
Imbauan dr Andi berlaku bagi pelari full marathon maupun 10K, tanpa memandang jarak yang ditempuh atau target masing-masing. Fokuslah pada kondisi diri sendiri, bukan pada kecepatan peserta lain. Apabila tubuh meminta jeda, jangan ragu untuk memperlambat langkah atau berjalan. Menyelesaikan lomba dengan mempertimbangkan keselamatan lebih penting daripada memaksakan pace. Peserta juga perlu tetap peka terhadap perubahan kemampuan berpikir dan sensasi tubuh sepanjang rute. Bila merasa kondisi terus memburuk, utamakan keselamatan dan cari bantuan petugas di sekitar lintasan. Dengan menyesuaikan usaha terhadap keadaan diri, pelari dapat mengambil keputusan yang lebih bijak selama mengikuti JRF.
Baca juga: Peringatan Dini Kekeringan di Jakarta: Warga Diminta Mewaspadai Krisis Air | Peringatan Dini Terhadap Kekeringan di Jakarta | Dampak Positif Pemadaman Listrik Sebagai Peringatan Hari Ozon
