Jakarta | Global Gender Gap Report 2026 dari World Economic Forum memberikan gambaran tentang proporsi pekerja perempuan di 18 industri. Pemeringkatan tersebut disusun menggunakan rata-rata industri yang tidak tertimbang, berdasarkan data LinkedIn dari 61 negara hingga Juni 2026. Dengan demikian, setiap industri berkontribusi sebagai satu kategori dalam perhitungan, bukan diberi bobot berdasarkan ukuran tenaga kerjanya. Angka yang disajikan menunjukkan porsi perempuan di pekerja pada masing-masing industri dalam cakupan data tersebut. Hasil ini memungkinkan perbandingan lintas sektor, sekaligus menyoroti bahwa kehadiran perempuan di dunia kerja tersebar secara tidak merata.
Kesehatan dan layanan perawatan menempati posisi tertinggi, dengan perempuan mencakup 60% pekerjanya. Sebaliknya, infrastruktur berada pada posisi terbawah: hanya 24% pekerja di sektor ini adalah perempuan. Selisih kedua angka tersebut mencapai 36 poin persentase. Jarak ini menandai perbedaan besar dalam komposisi tenaga kerja sektor yang paling banyak melibatkan perempuan dan sektor yang paling sedikit melibatkan mereka. Namun, perbandingan tersebut perlu dibaca secara spesifik sebagai ukuran proporsi pekerja, bukan sebagai ukuran keseluruhan kondisi kerja atau pengalaman perempuan di tiap industri.
Karena itu, hasil pemeringkatan tidak dengan sendirinya mengukur kesetaraan upah, peluang promosi, keamanan kerja, kualitas pekerjaan, ataupun distribusi perempuan pada jabatan senior. Proporsi 60% di kesehatan dan layanan perawatan tidak membuktikan bahwa kesetaraan telah tercapai dalam semua dimensi; demikian pula angka 24% di infrastruktur tidak menjelaskan penyebab rendahnya keterwakilan. Data LinkedIn menawarkan potret berdasarkan informasi yang tersedia pada platform dan negara yang tercakup, sehingga temuan ini tidak harus mewakili setiap pekerja atau seluruh perekonomian. Meski demikian, perbedaan 36 poin persentase memberi titik awal yang jelas untuk menelaah pola partisipasi perempuan lintas industri. Pembacaan yang cermat menjaga agar angka tersebut digunakan sesuai cakupannya: menggambarkan siapa yang bekerja di sektor-sektor yang dibandingkan, bukan menyimpulkan ukuran kesetaraan lain yang tidak diukur oleh pemeringkatan ini.
Tingginya keterwakilan perempuan di sektor kesehatan dan pendidikan dapat dipahami melalui gabungan perubahan akses pendidikan dan pola pembagian kerja yang terbentuk dalam waktu lama. Di banyak negara, perempuan kini semakin banyak daripada laki-laki dalam sejumlah jenjang pendidikan tinggi, meskipun perbedaan itu bervariasi menurut bidang studi dan tingkat pendidikan. Kemajuan tersebut memperluas kumpulan calon pekerja perempuan yang memiliki kualifikasi untuk memasuki profesi kesehatan dan pendidikan. Namun, meningkatnya jumlah lulusan perempuan tidak otomatis menghapus hambatan dalam perekrutan, pembagian tugas, atau kemajuan karier. Gambaran tenaga kerja karena itu mencerminkan bukan hanya pilihan individu, tetapi juga kesempatan pendidikan dan struktur pekerjaan yang tersedia.
Perkembangan pendidikan kedokteran menunjukkan perubahan yang nyata. Association of American Medical Colleges mencatat bahwa perempuan telah membuat kemajuan berarti dalam pendidikan kedokteran dan profesi dokter. Kehadiran perempuan di mahasiswa serta dokter semakin besar, menandai perluasan akses terhadap jalur yang sebelumnya lebih didominasi laki-laki. Meski demikian, kemajuan pada tahap pendidikan dan jumlah tenaga profesional belum selalu diikuti keterwakilan yang setara dalam posisi kepemimpinan maupun jenjang karier tertinggi. Kesenjangan dapat bertahan dalam akses terhadap spesialisasi tertentu, promosi, pengakuan profesional, dan jabatan pengambil keputusan. Dengan demikian, capaian pendidikan merupakan bagian penting dari perubahan, tetapi belum menjadi ukuran lengkap bagi kesetaraan di tempat kerja.
Sejarah pekerjaan juga membantu menjelaskan komposisi sektor-sektor tersebut. Mengajar dan merawat orang lain telah lama diasosiasikan dengan perempuan di banyak masyarakat, sejalan dengan anggapan bahwa perempuan memiliki tanggung jawab utama atas pengasuhan. Asosiasi sosial ini dapat memengaruhi keputusan perekrutan, gambaran tentang pekerjaan yang dianggap sesuai bagi perempuan, serta ekspektasi mengenai jalur karier dan upah. Ketika sektor perawatan dan pendidikan berkembang, pola lama tersebut ikut membentuk siapa yang melamar dan siapa yang diterima, meskipun kondisi serta norma berubah dari waktu ke waktu. Dampaknya bukan berarti semua perempuan memilih pekerjaan yang sama, melainkan bahwa pilihan dan peluang berlangsung dalam lingkungan yang memiliki sejarah tertentu. Memahami gabungan kemajuan pendidikan dan warisan pola kerja membantu menjelaskan keterwakilan perempuan yang tinggi, sekaligus menunjukkan mengapa kesetaraan kepemimpinan masih memerlukan perhatian.Berbeda dari sektor perawatan yang memiliki keterwakilan perempuan lebih tinggi, pekerjaan di infrastruktur, pertambangan, manufaktur, dan transportasi masih sangat didominasi laki-laki. Ketimpangan ini terlihat pada bidang-bidang yang mencakup pekerjaan teknis dan lapangan, tempat perempuan lebih jarang hadir. Pola tersebut menunjukkan bahwa peluang kerja tidak tersebar merata antar sektor. Karena itu, gambaran kesenjangan gender di dunia kerja perlu melihat bukan hanya jumlah perempuan yang bekerja secara keseluruhan, tetapi juga sektor dan jenis pekerjaan tempat mereka dapat masuk serta berkembang. Dominasi laki-laki di industri tersebut berkaitan dengan hambatan yang dapat muncul sejak seseorang mulai mempertimbangkan jalur pendidikan dan pekerjaan.
Salah satu faktor yang disebut adalah jalur magang tradisional, yang dapat membentuk siapa yang memperoleh akses awal ke pekerjaan teknis. Ketika pola perekrutan dan pembelajaran di tempat kerja terus mengikuti jalur yang sejak lama didominasi laki-laki, perempuan berpotensi menghadapi ruang masuk yang lebih sempit. Stereotip mengenai pekerjaan juga berpengaruh: anggapan bahwa pekerjaan teknis atau lapangan lebih cocok bagi laki-laki dapat membatasi persepsi tentang kemampuan dan pilihan karier perempuan. Di samping itu, budaya tempat kerja menentukan pengalaman sehari-hari setelah seseorang diterima. Ketiga faktor ini membantu menjelaskan mengapa ketimpangan dapat bertahan, meskipun perempuan tersedia untuk mengisi posisi di sektor-sektor tersebut.
Temuan studi McKinsey mengenai pertambangan memperlihatkan bahwa hambatan tidak berhenti pada tahap masuk kerja. Perempuan yang bekerja di sektor itu melaporkan terbatasnya peluang promosi dan budaya kerja yang eksklusif. Dengan demikian, keberadaan perempuan dalam pekerjaan tidak otomatis berarti mereka memiliki akses yang setara terhadap perkembangan karier atau lingkungan kerja yang inklusif. Pengalaman tersebut juga menghubungkan persoalan keterwakilan dengan kondisi internal organisasi, bukan hanya dengan keputusan perekrutan. Perekrutan perempuan saja tidak cukup untuk mengatasi kesenjangan gender di sektor teknis dan lapangan apabila peluang promosi tetap terbatas dan budaya kerja masih dirasakan eksklusif. Temuan ini menegaskan bahwa ukuran keterwakilan perlu dibaca bersama pengalaman kerja yang dilaporkan perempuan.
Di tengah perubahan kebutuhan tenaga kerja, pekerjaan terampil teknis atau skilled trades mulai menarik perhatian generasi pekerja yang lebih muda. Pekerjaan seperti ini mengandalkan keterampilan praktis, pelatihan khusus, dan kemampuan menjalankan tugas teknis di lapangan. Ketertarikan tersebut menunjukkan bahwa sebagian anak muda mempertimbangkan jalur karier di luar pekerjaan yang biasanya diasosiasikan dengan gelar akademik. Namun, minat yang tumbuh ini tidak dengan sendirinya menjelaskan siapa saja yang dapat mengakses pekerjaan tersebut atau bagaimana komposisi pekerjanya terbentuk.
Salah satu daya tarik yang disebut adalah keamanan kerja. Bagi pencari kerja muda, peluang untuk memperoleh pekerjaan yang relatif stabil dapat menjadi pertimbangan penting saat memilih jalur pelatihan dan karier. Kebutuhan akan tenaga terampil di bidang teknis juga membuat pekerjaan ini tampak relevan bagi mereka yang ingin membangun kemampuan yang dapat digunakan secara langsung. Selain itu, skilled trades menawarkan pilihan selain menempuh pendidikan tinggi yang biayanya dapat menjadi beban besar. Jalur tersebut dapat dipandang sebagai cara memperoleh keterampilan kerja tanpa harus terlebih dahulu mengambil pendidikan tinggi yang mahal, meskipun setiap jalur tetap memiliki tuntutan dan persyaratan tersendiri.
Perhatian baru terhadap pekerjaan teknis.
Baca juga: Penguatan Konektivitas di Papua Melalui Infrastruktur | Pertemuan Ilmiah Internasional: Mengatasi Kesenjangan dalam Manajemen Nyeri di Indonesia
