Jakarta | Peter Thiel, pendiri sekaligus bos Palantir Technologies, mengambil posisi yang berlawanan dengan banyak pemimpin perusahaan teknologi yang menyampaikan kekhawatiran tentang perkembangan kecerdasan buatan atau AI. Dalam rangkaian kuliah mengenai Antikristus yang berlangsung di Roma, Italia, ia menuduh sejumlah pengkritik AI memanfaatkan kecemasan publik untuk meningkatkan popularitas dan pengaruh politik mereka. Pernyataan tersebut menjadi pokok perhatian karena disampaikan oleh salah satu tokoh penting di industri teknologi yang selama ini berada dekat dengan perkembangan perangkat lunak dan sistem berbasis data.
Menurut bahan sumber, Thiel menyampaikan pandangannya pada Jumat, 9 Oktober 2026, ketika memberikan kuliah tersebut di Roma. Miliarder berusia 58 tahun itu mengarahkan kritiknya kepada figur-figur yang menempatkan risiko AI sebagai bagian dari perdebatan politik yang lebih luas. Ia menilai kekhawatiran mengenai teknologi tersebut dapat digunakan untuk membangun citra sebagai pemimpin yang mampu merespons ancaman baru, sekaligus menarik perhatian masyarakat yang merasa tidak pasti terhadap perubahan teknologi.
Dalam konteks pemberitaan ini, tuduhan Thiel mencakup mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Paus Leo XIV, yang disebut sebagai pihak yang memanfaatkan kekhawatiran terhadap AI. Fokus peristiwa ini adalah pernyataan dan tuduhan yang disampaikan Thiel selama kuliah di Roma, bukan penilaian tambahan mengenai benar atau tidaknya pandangan tersebut. Sikapnya memperlihatkan adanya perbedaan tajam sebagian pelaku industri teknologi dan tokoh publik yang menekankan potensi bahaya kecerdasan buatan. Perbedaan itu menempatkan isu AI bukan hanya sebagai persoalan teknis, melainkan juga sebagai topik yang berkaitan dengan komunikasi politik, reputasi publik, dan perdebatan mengenai masa depan masyarakat.
Peter Thiel menuduh mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Paus Leo XIV memanfaatkan kekhawatiran publik terhadap kecerdasan buatan (AI) untuk kepentingan politik atau reputasi. Menurut Thiel, AI bukan isu yang populer secara politik. Karena itu, penolakan terhadap teknologi tersebut dapat menjadi posisi yang relatif mudah digunakan untuk membangun citra, memperoleh dukungan, atau mengalihkan perhatian dari persoalan lain yang lebih sulit dihadapi.
Dalam tuduhannya terhadap Obama, Thiel menyatakan bahwa mantan presiden itu mengetahui Partai Demokrat tidak memiliki gagasan. Namun, menurut Thiel, Obama masih dapat mengambil posisi menentang AI. Sikap tersebut, dalam pandangan Thiel, memberi kesempatan bagi Obama untuk tampil sebagai tokoh yang merespons kecemasan masyarakat, meskipun isu yang diangkat tidak selalu disertai gagasan politik yang lebih luas. Pernyataan itu merupakan penilaian Thiel mengenai cara Obama dan partainya memanfaatkan isu teknologi.
Thiel juga menuduh Paus Leo XIV menggunakan isu AI untuk mengalihkan perhatian dari skandal pelecehan seksual anak yang dilakukan Gereja Katolik. Dengan mengangkat kekhawatiran mengenai perkembangan AI, kata Thiel, perhatian publik dapat diarahkan kepada risiko teknologi dan menjauh dari persoalan serius yang berkaitan dengan institusi gereja. Tuduhan tersebut menempatkan pernyataan Paus mengenai AI dalam konteks politik dan reputasi, bukan semata-mata sebagai tanggapan keagamaan atau etis terhadap perkembangan teknologi.
Inti tuduhan Thiel adalah bahwa ketakutan terhadap AI dapat dimanfaatkan oleh tokoh publik karena isu itu mudah memicu kecemasan, tetapi tidak terlalu populer sebagai agenda politik. Dalam kerangka tersebut, sikap kritis terhadap AI dianggap mampu menghasilkan dukungan atau simpati tanpa memerlukan program yang terperinci. Tuduhan terhadap Obama dan Paus Leo XIV tetap merupakan klaim Thiel; uraian itu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa keduanya sengaja menggunakan isu AI untuk tujuan tersebut.
Pemikiran Peter Thiel mengenai Antikristus perlu ditempatkan dalam konteks gagasannya yang lebih luas tentang teknologi, kekuasaan, dan arah perubahan sosial. Thiel dikenal memiliki kedekatan dengan Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance. Ia juga berulang kali menulis dan berbicara mengenai Antikristus, sebuah tema yang digunakan untuk membahas kemungkinan munculnya kekuatan politik yang mengklaim mampu menyelamatkan masyarakat dari berbagai ancaman.
Dalam pandangan yang dikaitkan dengannya, Antikristus tidak selalu dipahami sebagai figur tertentu atau tokoh religius secara harfiah. Istilah tersebut dapat merujuk pada suatu sistem pemerintahan global yang memperoleh kewenangan besar dengan mengeksploitasi ketakutan publik terhadap teknologi, bencana, dan perubahan iklim. Sistem semacam itu, menurut kerangka pemikiran tersebut, dapat tampil sebagai solusi atas krisis, tetapi sekaligus memperluas pengawasan, membatasi kebebasan, dan memusatkan pengambilan keputusan pada lembaga yang semakin kuat.
Kerangka inilah yang berkaitan dengan kritik Thiel terhadap penggunaan isu kecerdasan buatan atau AI. Ia memandang bahwa kekhawatiran mengenai AI dapat dimanfaatkan untuk mendorong kebijakan yang memperbesar kontrol pemerintah atau institusi global. Dalam pembacaan tersebut, perdebatan mengenai keselamatan teknologi tidak hanya menyangkut risiko teknis, tetapi juga siapa yang berwenang menentukan batas penggunaan, mengatur inovasi, dan menetapkan tindakan yang dianggap perlu demi melindungi masyarakat.
Pandangan itu kemudian menjadi latar bagi tuduhannya terhadap Barack Obama dan Paus Leo XIV, yang disebut memanfaatkan kekhawatiran terhadap AI. Namun, tuduhan tersebut merupakan penilaian dan interpretasi politik Thiel, bukan fakta yang telah terbukti. Kedekatannya dengan Vance serta gagasannya mengenai Antikristus membantu menjelaskan cara ia membaca isu tersebut, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan adanya koordinasi atau niat tertentu dari pihak-pihak yang ia kritik. Karena itu, hubungan pernyataan Thiel, isu AI, dan konsep sistem kekuasaan global perlu disajikan sebagai bagian dari pandangannya, bukan sebagai kesimpulan faktual yang sudah terverifikasi.
Latar belakang tuduhan Peter Thiel dapat dibandingkan dengan sejumlah pernyataan sebelumnya mengenai risiko dan dampak perkembangan kecerdasan buatan (AI). Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama disebut pernah mendorong Partai Demokrat untuk menyusun rencana yang lebih komprehensif dalam menghadapi teknologi tersebut. Dorongan itu menunjukkan bahwa AI telah dipandang sebagai isu yang memerlukan perhatian politik, bukan hanya sebagai perkembangan teknologi yang berada di ranah perusahaan dan peneliti.
Paus Leo XIV juga menempatkan AI sebagai tema penting dalam ensiklik pertamanya, Magnifice Humanitas, yang bermakna “Kemanusiaan yang Agung”. Dalam dokumen tersebut, ia menyampaikan kekhawatiran bahwa AI dapat memperluas penyebaran informasi yang salah dan mendorong konflik. Perkembangan teknologi itu juga dinilai berisiko membawa dunia menuju perang yang berlangsung lebih lama. Kekhawatiran tersebut menempatkan penggunaan AI dalam kaitannya dengan keamanan, kehidupan sosial, serta tanggung jawab manusia dalam mengelola informasi.
Paus Leo XIV menyerukan agar kepemilikan data tidak hanya berada di tangan perusahaan swasta. Menurut seruan itu, pengelolaan data perlu memperhatikan kepentingan masyarakat secara lebih luas. Ia juga menekankan perlunya kebijakan yang dapat melindungi hak-hak pekerja dan anak-anak dari berbagai risiko yang muncul akibat penggunaan AI. Perlindungan tersebut mencakup perhatian terhadap perubahan di tempat kerja serta dampak teknologi terhadap kelompok yang lebih rentan.
Dalam perkembangan terbaru, Paus Leo XIV menyerukan persatuan para seniman untuk menjaga kreativitas. Kerja sama Gereja Katolik dengan para seniman diarahkan untuk melindungi hal-hal yang dipandang sebagai ciri khas manusia di tengah perkembangan AI. Seruan itu menyoroti pentingnya mempertahankan kreativitas dan ekspresi manusia ketika teknologi semakin mampu menghasilkan serta menyebarkan berbagai bentuk karya. Pernyataan Obama dan Paus tersebut menjadi latar yang berbeda untuk memahami perdebatan mengenai perhatian politik, sosial, dan keagamaan terhadap AI.
Baca juga: Maaf Abah Setu atas Kontroversi yang Melibatkan Pernyataan Terhadap Nabi Muhammad SAW | Dampak Biaya Kelebihan Bagasi Juicy Luicy Terhadap Penampilan di Batam | Penyelesaian Kasus Wuling di Surabaya: Komitmen Terhadap Konsumen

