JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 30 September 2026, Psikolog klinis dan keluarga, Pritta Tyas Mangestuti, menyampaikan bahwa anak-anak dan remaja perlu membekali diri dengan tiga kemampuan utama untuk menghadapi perkembangan kecerdasan buatan (AI). Ketiga kemampuan tersebut adalah berpikir kritis, rasa ingin tahu, dan komunikasi. Menurut Pritta, keterampilan ini penting agar generasi muda tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami, menilai, dan memanfaatkannya secara tepat.
Pritta menyampaikan pandangan tersebut dalam sesi diskusi di Jakarta pada Rabu. Ia menilai perkembangan AI akan semakin memengaruhi proses belajar, cara memperoleh informasi, serta interaksi anak dan remaja dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, pendampingan untuk menghadapi teknologi tidak cukup hanya dengan mengajarkan cara menggunakan perangkat atau aplikasi. Anak juga perlu memiliki kemampuan untuk menempatkan informasi yang diterima dalam konteks yang sesuai.
Berpikir kritis membantu anak menilai kebenaran, relevansi, dan kemungkinan kekeliruan dari jawaban yang dihasilkan AI. Informasi dari teknologi tersebut tidak seharusnya diterima secara mentah. Anak perlu membandingkan sumber, mengenali sudut pandang yang berbeda, serta mempertanyakan alasan di balik suatu jawaban sebelum menggunakannya.
Rasa ingin tahu berperan dalam mendorong anak untuk menggali informasi lebih jauh. Dengan sikap terbuka dan keinginan untuk memahami, mereka dapat mengajukan pertanyaan yang lebih jelas, mencari penjelasan tambahan, dan menemukan cara baru untuk menyelesaikan persoalan. Kemampuan ini juga membantu anak menggunakan AI sebagai alat belajar, bukan sebagai pengganti proses berpikir.
Sementara itu, komunikasi diperlukan agar anak mampu menyampaikan kebutuhan dan memahami batas penggunaan teknologi. Mereka perlu menjelaskan tujuan ketika berinteraksi dengan AI, berdiskusi dengan orang lain, serta meminta bantuan apabila menemukan informasi yang membingungkan atau berisiko. Perpaduan ketiga kemampuan tersebut dapat membantu anak beradaptasi secara lebih bijak dengan perubahan teknologi.
Bekal pertama yang penting bagi anak dalam menghadapi perkembangan kecerdasan buatan adalah kemampuan berpikir kritis. Kemampuan ini membantu anak tidak menerima setiap informasi sebagai kebenaran hanya karena disampaikan melalui internet, aplikasi, mesin pencari, atau sistem berbasis AI. Anak perlu dibiasakan untuk berhenti sejenak, memahami isi informasi, lalu menilai apakah informasi tersebut masuk akal, memiliki dasar yang jelas, dan sesuai dengan fakta yang telah diketahui.
Dalam praktiknya, berpikir kritis dapat dikembangkan melalui kebiasaan bertanya. Ketika menerima sebuah informasi, anak perlu didorong untuk mencari tahu siapa yang menyampaikannya, dari mana sumbernya, kapan informasi itu dibuat, serta bukti apa yang mendukungnya. Mereka juga perlu memahami bahwa jawaban yang diberikan teknologi tidak selalu benar atau lengkap. Dengan membandingkan informasi dari beberapa sumber yang tepercaya, anak dapat mengenali perbedaan fakta, pendapat, dugaan, dan informasi yang sengaja dibuat untuk memengaruhi orang lain.
Pritta menekankan bahwa anak harus mampu mengajukan pertanyaan ketika berhadapan dengan informasi. Pertanyaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan benar atau salahnya informasi, tetapi juga dengan cara memanfaatkannya. Anak perlu mempertimbangkan, “Apakah informasi ini benar?” dan “Apa yang dapat saya lakukan setelah mengetahuinya?” Pemahaman mengenai langkah berikutnya membuat proses berpikir tidak berhenti pada pemeriksaan fakta. Anak juga belajar menentukan apakah informasi itu relevan, perlu dibagikan, digunakan untuk mengambil keputusan, atau sebaiknya ditanggapi dengan hati-hati.
Orang tua dan pendidik dapat melatih kemampuan ini melalui percakapan sehari-hari, misalnya dengan mengajak anak membahas berita, iklan, video, atau jawaban dari aplikasi AI. Alih-alih langsung memberikan kesimpulan, orang dewasa dapat mengajukan pertanyaan terbuka dan memberi kesempatan kepada anak untuk menjelaskan alasannya. Dengan demikian, anak tumbuh sebagai pengguna teknologi yang aktif, waspada, dan bertanggung jawab, bukan sekadar penerima informasi.
Rasa ingin tahu merupakan keterampilan kedua yang penting ditumbuhkan pada anak agar mereka mampu menghadapi perubahan dan menyelesaikan persoalan secara mandiri. Anak yang memiliki keingintahuan tidak berhenti pada satu jawaban. Mereka terdorong untuk bertanya, mengamati, mencoba, serta mencari kemungkinan lain ketika cara pertama belum berhasil. Sikap ini membantu anak memahami bahwa sebuah masalah dapat memiliki lebih dari satu jalan keluar.
Peran orang tua diperlukan untuk menjaga dorongan tersebut tetap berkembang. Orang tua dapat memberikan ruang bagi anak untuk mengeksplorasi, tidak terburu-buru memberikan jawaban, dan mengajukan pertanyaan terbuka seperti, “Menurutmu, cara apa lagi yang bisa dicoba?” Pendampingan semacam ini mengajarkan anak untuk mencari alternatif, mempertimbangkan pilihan, dan belajar dari kesalahan. Dengan demikian, rasa ingin tahu tidak sekadar menjadi kebiasaan bertanya, tetapi berkembang menjadi kemampuan berpikir fleksibel ketika anak menghadapi situasi baru.
Keterampilan ketiga adalah komunikasi. Kemampuan ini tidak hanya berarti berani berbicara di depan orang lain atau menyampaikan pendapat dengan suara lantang. Anak juga perlu belajar menyusun gagasan, memilih informasi yang relevan, dan menuangkan isi pikiran dalam struktur yang rapi. Komunikasi yang baik membantu anak menjelaskan masalah, menyampaikan kebutuhan, mendengarkan sudut pandang orang lain, serta membangun kerja sama untuk menemukan solusi.
Orang tua dapat melatihnya melalui percakapan sehari-hari, misalnya dengan meminta anak menceritakan kembali pengalaman secara berurutan, menjelaskan alasan di balik pilihannya, atau menyampaikan pendapat beserta contohnya. Latihan sederhana tersebut membangun kejelasan berpikir sekaligus meningkatkan kepercayaan diri. Penjelasan ini disampaikan Pritta, yang merupakan pendiri portal belajar parenting daring Good Enough Parents, sebagai bagian dari bekal penting agar anak mampu beradaptasi dan memecahkan masalah di tengah perkembangan teknologi.
Artificial intelligence (AI) dapat dimanfaatkan sebagai alat belajar untuk membantu anak mengembangkan tiga bekal penting dalam menghadapi perkembangan teknologi, selama penggunaannya tetap didampingi orang tua. Pendampingan tersebut bukan berarti orang tua mengambil alih proses belajar, melainkan hadir untuk mengarahkan, berdiskusi, dan memastikan anak tetap terlibat secara aktif dalam memahami materi.
Pritta memberikan contoh penerapan AI dalam pembelajaran matematika. Anak sebaiknya mengerjakan soal secara mandiri terlebih dahulu dengan mengandalkan pemahaman dan kemampuan yang dimilikinya. Setelah itu, apabila terdapat bagian yang belum dikuasai, anak dapat memanfaatkan AI untuk memperoleh penjelasan, melihat tahapan penyelesaian, atau memahami konsep yang masih terasa sulit.
Dalam proses tersebut, orang tua dapat mendampingi anak ketika membaca dan menilai jawaban yang diberikan AI. Anak tidak hanya diarahkan untuk menerima hasil akhir, tetapi juga diajak memahami alasan di balik setiap langkah. Orang tua dan anak dapat mengeksplorasi cara penyelesaian lain yang mungkin lebih sesuai dengan tingkat pemahaman anak. Percakapan semacam ini membantu anak belajar mengajukan pertanyaan, menilai penjelasan, serta menemukan cara belajar yang paling efektif bagi dirinya.
Pemanfaatan AI dengan pola tersebut membuat teknologi berfungsi sebagai pendukung, bukan pengganti proses berpikir anak. Anak tetap berlatih menyelesaikan masalah, membangun pemahaman, dan mengembangkan kemandirian, sementara orang tua berperan menjaga agar proses belajar berlangsung terarah. Menurut Pritta, AI atau teknologi seharusnya dipandang sebagai kawan, bukan lawan. Dengan pendampingan yang tepat, AI dapat menjadi sarana yang membantu anak menumbuhkan keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi perubahan di masa depan.

