Satu Titik Api Masih Terdeteksi dalam Karhutla di Gunung Lawu

oleh -464 Dilihat
oleh
Satu Titik Api Masih Terdeteksi dalam Karhutla di Gunung Lawu

Kabupaten Karanganyar. Meski | Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Lawu mulai terkendali setelah upaya penanganan dilakukan oleh tim gabungan. Namun, kondisi tersebut belum berarti seluruh api telah padam. Pemantauan terbaru masih menemukan satu titik api aktif di atas Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Karena itu, penanganan di lokasi tersebut tetap memerlukan perhatian dan kewaspadaan, terutama bagi petugas yang bekerja di sekitar area terdampak.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan bahwa titik api yang tersisa itu berada di wilayah atas Gondosuli. Informasi tersebut menjadi dasar bagi tim gabungan untuk melanjutkan pemantauan sekaligus memastikan area yang telah ditangani tidak kembali menyala. Situasi kebakaran yang mulai terkendali perlu dibaca secara hati-hati: berkurangnya titik api merupakan perkembangan positif, tetapi keberadaan satu titik aktif menunjukkan bahwa pekerjaan pemadaman belum selesai. Pemeriksaan lapangan tetap dibutuhkan untuk memahami kondisi di sekitar titik tersebut dan menjangkau bagian kawasan yang sulit terlihat dari pos pemantauan.

Ahmad Luthfi mengimbau seluruh unsur yang terlibat agar tetap bersiaga di pos masing-masing. Ia juga meminta tim melakukan penyisiran secara menyeluruh, sehingga titik api yang tersisa maupun potensi kemunculan api baru dapat diketahui sedini mungkin. Kesiapsiagaan ini penting untuk menjaga koordinasi dan mempercepat respons apabila kondisi berubah. Petugas perlu terus memantau perkembangan di lapangan, berkomunikasi antartim, serta memastikan setiap area yang menjadi tanggung jawabnya diperiksa dengan cermat. Dengan demikian, upaya pengendalian dapat berlanjut berdasarkan kondisi aktual, bukan hanya pada laporan bahwa kebakaran telah berkurang. Selama titik api aktif masih terdeteksi, kawasan Gunung Lawu belum dapat dinyatakan sepenuhnya aman. Pemantauan dan penyisiran perlu diteruskan sampai petugas memastikan tidak ada lagi api yang tersisa di lokasi terdampak.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Karanganyar, Sugiharto, menyampaikan bahwa kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Lawu sempat dinyatakan padam sepenuhnya pada Minggu (25/10/2026). Kondisi tersebut menjadi perkembangan penting dalam penanganan kebakaran, tetapi pemantauan tetap dilakukan untuk memastikan tidak ada bara atau nyala api yang tersisa di area terdampak.

Pada Senin pagi, petugas kembali menemukan satu titik api di atas kawasan Gondosuli. Temuan ini menunjukkan bahwa situasi belum sepenuhnya aman, meskipun api sebelumnya telah padam. Pemantauan lanjutan diperlukan untuk mengetahui keadaan titik tersebut dan memastikan api tidak meluas kembali ke bagian lain kawasan hutan.

Sugiharto menjelaskan bahwa kondisi lahan menjadi salah satu kendala dalam upaya pemadaman. Sebagian permukaan tanah tertutup ilalang yang tebal, dengan ketinggian mencapai sekitar 30 sentimeter. Lapisan vegetasi tersebut membuat penanganan di lapangan lebih sulit dibandingkan area dengan permukaan terbuka, sehingga petugas perlu bekerja secara lebih cermat.

Di sejumlah bagian, karakter tanah disebut menyerupai lahan gambut. Kondisi ini memerlukan perhatian khusus karena penanganan api tidak cukup hanya berfokus pada nyala yang tampak di permukaan. Petugas perlu memastikan area yang tertutup ilalang dapat ditangani dengan tepat, sekaligus memeriksa kemungkinan adanya bara yang masih bertahan di bawah atau di vegetasi.

Karena itu, pemadaman titik api baru membutuhkan upaya ekstra serta penanganan khusus, menyesuaikan keadaan lahan di sekitar lokasi. Temuan tersebut menjadi alasan pemantauan tetap penting setelah kebakaran sempat padam. Sementara itu, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan polisi. Informasi yang tersedia belum menetapkan faktor pemicu, sehingga kronologi penemuan titik api perlu dibedakan dari kesimpulan mengenai asal kebakaran.

Penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Lawu dilakukan melalui operasi pemadaman udara atau water bombing. Hingga tahap ini, helikopter telah melakukan penyiraman sebanyak 34 kali. Setiap penyiraman membawa dan menjatuhkan sekitar 2.000 liter air, sehingga total air yang telah digunakan mencapai 68.000 liter. Upaya tersebut menjadi bagian dari penanganan titik api yang masih terdeteksi di area pegunungan, dengan dukungan udara untuk menjangkau lokasi yang sulit ditangani secara langsung dari darat. Jumlah penyiraman dan volume air itu menunjukkan skala upaya yang telah ditempuh, meskipun perkembangan kondisi kebakaran tetap perlu dipantau secara berkala.

Ahmad Luthfi menyampaikan rencana untuk menambah satu sorti penerbangan helikopter BNPB yang berangkat dari Lanud Adi Soemarmo. Rencana itu disampaikan setelah ia berkoordinasi dengan bupati dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Koordinasi tersebut menjadi dasar untuk menyelaraskan langkah penanganan berikutnya, termasuk dukungan pemadaman melalui udara. Sorti tambahan diharapkan dapat digunakan untuk kembali menyiram area yang masih membutuhkan penanganan. Namun, pelaksanaannya tidak ditetapkan secara terpisah dari situasi lapangan, karena penerbangan dan penyiraman harus mempertimbangkan keselamatan serta efektivitas operasi di kawasan Gunung Lawu.

Kelanjutan operasi water bombing akan bergantung pada kondisi cuaca di puncak Gunung Lawu. Cuaca dapat memengaruhi kelayakan helikopter untuk terbang maupun kemampuan tim menjangkau titik sasaran, sehingga keputusan mengenai sorti berikutnya perlu menyesuaikan perkembangan keadaan. Pemantauan cuaca dan kondisi titik api menjadi bagian penting sebelum operasi dilanjutkan. Penanganan titik api yang tersisa dinilai penting agar api tidak berkembang dan memicu titik-titik baru di sekitarnya. Karena itu, penyiraman lanjutan direncanakan sebagai langkah untuk membantu menekan risiko penyebaran, dengan tetap mengikuti situasi cuaca dan koordinasi pihak terkait. Informasi tentang operasi berikutnya akan mengikuti hasil penilaian kondisi di lokasi, termasuk apakah penerbangan dapat dilakukan dengan aman dan memberi manfaat bagi pemadaman.

Untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Lawu, Ahmad Luthfi mengarahkan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Jawa Tengah, Dinas PUPR Karanganyar, serta Perhutani agar merancang pembangunan tandon atau embung air. Fasilitas penampungan tersebut diharapkan dapat menyediakan cadangan air yang mudah dimanfaatkan ketika kebakaran terjadi. Perencanaan perlu memperhatikan kondisi medan, akses menuju lokasi, serta kebutuhan petugas agar air dapat digunakan secara efektif dalam penanganan api. Ketersediaan sumber air di kawasan rawan kebakaran menjadi salah satu dukungan penting bagi upaya pemadaman, terutama ketika api muncul jauh dari permukiman atau akses jalan utama.

Arahan itu juga menekankan pentingnya koordinasi antarlembaga sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan. Dinas PUPR dan Perhutani perlu mempertimbangkan lokasi yang sesuai, fungsi tampungan, serta pemeliharaan fasilitas agar tandon atau embung tetap siap digunakan. Selain pembangunan sarana, kesiapan menghadapi kebakaran memerlukan langkah pencegahan yang melibatkan pihak-pihak yang memahami kondisi setempat. Dengan dukungan perencanaan yang matang, fasilitas air dapat menjadi bagian dari upaya mempercepat respons saat muncul titik api dan mengurangi risiko kebakaran meluas. Namun, keberadaan sarana tersebut perlu disertai kewaspadaan, pemantauan, dan tindakan cepat dari petugas maupun warga di sekitar kawasan.

Ahmad Luthfi turut mengimbau masyarakat agar meningkatkan kepedulian dan tidak melakukan tindakan yang dapat memicu kebakaran. Warga diminta tidak membakar sampah, membuang puntung rokok sembarangan, ataupun menyalakan api di kawasan hutan. Edukasi mengenai risiko kelalaian perlu disampaikan secara berkelanjutan supaya setiap orang memahami bahwa tindakan kecil dapat menimbulkan kebakaran yang sulit dikendalikan. Keterlibatan masyarakat dinilai penting karena warga memiliki kearifan lokal dan pengetahuan mengenai wilayah yang mereka jaga. Pengetahuan tersebut dapat mendukung pengawasan serta membantu menyampaikan informasi apabila terlihat asap atau api. Meski demikian, penyebab pasti kebakaran yang terjadi masih dalam penyelidikan kepolisian.

Baca juga: Komandan Lanud Sjamsudin Noor Perkuat Sinergi Penanganan Karhutla Kalsel dalam Rapat Evaluasi | Lanud Sjamsudin Noor Dukung Operasi Modifikasi Cuaca, Perkuat Upaya Penanganan Karhutla Kalimantan | Gerak Cepat, Babinsa dan Tim Gabungan Jinakkan Karhutla di Desa Tanjung Limau