TANGERANG, BANTEN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Banyak orang berharap dapat hidup hingga usia lanjut. Keinginan tersebut wajar, sebab umur panjang sering dipandang sebagai kesempatan untuk menikmati kehidupan, berkumpul bersama keluarga, serta menyaksikan perkembangan anak dan cucu. Namun, dalam pandangan Islam, panjang usia bukan satu-satunya ukuran keberuntungan. Nilai kehidupan tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah tahun yang dilalui, melainkan oleh bagaimana waktu tersebut digunakan dan ke arah mana langkah seseorang diarahkan.
Bertambahnya usia semestinya berjalan seiring dengan meningkatnya ketaatan kepada Allah dan bertambahnya amal saleh. Setiap tahun, bulan, dan hari yang diberikan merupakan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Karena itu, doa untuk memperoleh umur panjang hendaknya disertai permohonan agar diberi kekuatan, kesehatan, dan kemampuan untuk mengisinya dengan ibadah serta perbuatan yang bermanfaat. Usia yang terus bertambah tetapi tidak menghasilkan perbaikan akhlak dan amal dapat menjadi tanda bahwa kesempatan belum dimanfaatkan dengan baik.
Al-Habib Jindan bin Novel Salim Jindan, pengasuh Pondok Pesantren Al-Fachriyah, Tangerang, mengingatkan bahwa seseorang sebaiknya tidak hanya meminta umur panjang. Lebih dari itu, ia perlu memohon kemampuan untuk mengisi usia tersebut dengan amalan yang baik. Pesan ini menegaskan bahwa keberkahan hidup tidak selalu bergantung pada lamanya seseorang berada di dunia. Umur yang tidak terlalu panjang tetap dapat menjadi sangat berarti apabila dipenuhi amal saleh, keikhlasan, dan manfaat bagi sesama. Sebaliknya, usia panjang tanpa kebaikan dapat berubah menjadi musibah, karena semakin banyak waktu yang berlalu, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Oleh sebab itu, yang patut dikejar bukan sekadar tambahan usia, melainkan kualitas amal dalam setiap kesempatan yang diberikan.
Habib Jindan menjelaskan bahwa umat Nabi Muhammad memiliki keutamaan yang besar dalam kaitannya dengan kehidupan akhirat. Di bentuk keutamaan tersebut adalah banyaknya umat beliau yang akan menjadi penghuni surga. Namun, kabar tentang keluasan rahmat itu tidak semestinya dipahami sebagai alasan untuk meremehkan amal. Keutamaan sebagai umat Nabi justru membawa tanggung jawab untuk menjaga iman, memperbanyak kebaikan, dan menggunakan kesempatan hidup sesuai dengan tujuan penciptaan manusia.
Kehidupan di dunia merupakan ruang untuk menyiapkan bekal menuju akhirat. Setiap hari yang berlalu mengurangi jatah usia, sementara kesempatan untuk memperbaiki diri tidak selalu datang kembali. Karena itu, seseorang perlu menilai bagaimana waktunya digunakan: apakah untuk belajar, beribadah, bekerja secara halal, membantu sesama, atau membangun keluarga dengan tanggung jawab. Kegiatan yang bermanfaat tidak harus selalu besar, sebab amal sederhana yang dilakukan dengan niat baik dan konsisten tetap memiliki nilai di hadapan Allah.
Perjalanan menuju usia 40 tahun menunjukkan bahwa manusia telah melewati berbagai fase kehidupan. Masa kanak-kanak, remaja, masa pencarian jati diri, hingga kedewasaan semestinya membentuk pengalaman, kematangan, dan kesadaran. Setiap tahap usia memiliki peluang untuk diisi dengan kegiatan yang membangun, baik melalui ilmu, pengabdian, pekerjaan, maupun perbaikan akhlak. Bertambahnya umur seharusnya diikuti meningkatnya tanggung jawab, bukan sekadar perubahan angka dalam catatan kehidupan.
Habib Jindan juga mengingatkan agar waktu tidak dihabiskan untuk kesia-siaan, perkara yang tidak memberi manfaat, atau hal-hal yang tidak diperintahkan Allah. Hiburan dan aktivitas duniawi dapat memiliki tempat selama tidak melalaikan kewajiban, merusak hati, atau mengambil seluruh perhatian. Usia manusia relatif singkat dibandingkan perjalanan akhirat. Kesadaran terhadap nilai waktu perlu menjadi perhatian utama, sehingga setiap kesempatan dapat diarahkan untuk amal yang mendatangkan keberkahan dan menjadi bekal ketika kehidupan dunia berakhir.
Harta, jabatan, dan popularitas tidak semestinya dijadikan tujuan utama dalam kehidupan. Ketiganya memiliki nilai apabila ditempatkan secara tepat, yaitu sebagai sarana untuk menjalankan tanggung jawab dan mendukung ibadah kepada Allah. Ketika kedudukan, kekayaan, atau dikenal banyak orang menjadi sasaran akhir, manusia berisiko mengukur keberhasilan hanya dari perkara duniawi. Padahal, kehidupan memiliki tujuan yang lebih mendasar daripada sekadar memperoleh pengakuan, kenyamanan, atau keunggulan di hadapan manusia.
Habib Jindan mengingatkan bahwa manusia hidup untuk beribadah kepada Allah. Adapun makan, bekerja, mencari nafkah, belajar, serta memenuhi kebutuhan sehari-hari dilakukan agar dapat menunjang pelaksanaan ibadah tersebut. Dengan pemahaman ini, aktivitas duniawi tidak berdiri sebagai tujuan yang terpisah, melainkan mengambil posisi sebagai pendukung bagi tujuan utama manusia. Harta dapat membantu seseorang menunaikan tanggung jawab, jabatan dapat digunakan untuk melaksanakan amanah, sedangkan popularitas semestinya tidak mengalihkan perhatian dari penghambaan kepada Allah.
Karena itu, meluruskan niat menjadi hal yang penting dalam setiap aktivitas. Suatu kegiatan duniawi dapat bernilai kebaikan apabila dilakukan dengan cara yang benar dan diarahkan untuk memperoleh rida Allah. Makan dilakukan agar tubuh memiliki kekuatan untuk beribadah, bekerja dan mencari nafkah dijalankan untuk memenuhi kebutuhan dengan cara yang dibenarkan, sedangkan belajar ditempuh agar kemampuan yang diperoleh dapat mendukung ketaatan. Nilai tersebut tidak semata-mata ditentukan oleh bentuk aktivitasnya, tetapi juga oleh tujuan dan cara pelaksanaannya. Niat yang lurus membantu manusia menjaga keseimbangan: menggunakan harta tanpa diperbudak olehnya, menjalankan jabatan tanpa menjadikannya kebanggaan, serta menerima perhatian manusia tanpa menjadikannya ukuran kemuliaan. Dengan demikian, urusan dunia tetap dijalani secara bertanggung jawab, tetapi arahnya tidak menyimpang dari ibadah dan pencarian rida Allah.
Panjang umur tidak dengan sendirinya menunjukkan keberuntungan. Jika waktu yang terus bertambah justru dipenuhi maksiat, kelalaian, dan amal buruk, keadaan tersebut patut dikhawatirkan. Bertambahnya hari seharusnya membuka kesempatan untuk memperbaiki diri, memperbanyak kebaikan, dan mendekatkan hati kepada Allah. Namun, apabila kesempatan itu berlalu tanpa perubahan, usia yang panjang dapat menjadi semakin berat untuk dipertanggungjawabkan.
Karena itu, setiap orang perlu mengevaluasi cara menggunakan waktu sehari-hari. Berapa banyak waktu yang benar-benar dipakai untuk beribadah? Seberapa sering berada di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah? Berapa banyak kesempatan yang digunakan untuk membaca Al-Qur'an, merenungi maknanya, dan mengamalkan petunjuknya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu seseorang melihat apakah waktunya membawa keberkahan atau hanya habis dalam kesibukan yang tidak memberi manfaat bagi kehidupan akhirat.
Habib Jindan menggambarkan bahwa setiap manusia menerima waktu yang sama, yaitu 24 jam dalam sehari. Akan tetapi, pemberian waktu tersebut belum tentu dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ada orang yang mengisi jam-jamnya dengan ibadah, ilmu, pelayanan kepada sesama, dan amal saleh. Ada pula yang menghabiskannya dalam kelalaian, hiburan berlebihan, atau perbuatan yang menjauhkan hati dari ketaatan. Kesamaan jumlah waktu tidak berarti kesamaan nilai di hadapan Allah.
Dengan demikian, ukuran keberkahan hidup bukanlah semata-mata berapa lama seseorang bertahan di dunia, melainkan bagaimana ia mengisi setiap bagian dari umurnya. Waktu yang singkat dapat bernilai besar apabila dipenuhi amal yang baik, sedangkan usia panjang dapat menjadi keadaan yang merugikan apabila terus digunakan untuk kemaksiatan. Setiap hari menjadi kesempatan untuk menilai kembali arah hidup, memperbaiki penggunaan waktu, dan menjadikan umur sebagai sarana memperbanyak amal yang mendekatkan diri kepada Allah.

