JAKARTA – Suasana berbeda terlihat di Hotel The Acacia, Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat, Minggu (7/6/2026). Sejak pagi, ratusan peserta dari berbagai daerah mulai memadati area registrasi untuk mengikuti Kongres III Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI). Pertemuan besar organisasi buruh tersebut tidak hanya menjadi ajang konsolidasi internal, tetapi juga menjadi ruang dialog terbuka antara kalangan pekerja, pemerintah, legislatif, dan aparat negara mengenai masa depan dunia ketenagakerjaan Indonesia.
Tema yang diusung dalam kongres kali ini, “Menangkan Politik Kelas Pekerja dan Bangun Kemandirian Ekonomi”, menjadi benang merah dari seluruh rangkaian agenda yang berlangsung. Sekitar 400 peserta hadir mengikuti kegiatan yang dijadwalkan berlangsung sejak pagi hingga malam hari.
Kehadiran sejumlah pejabat negara turut menjadi perhatian peserta. Di antara tamu undangan yang hadir terdapat Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor, serta sejumlah pimpinan organisasi serikat pekerja, organisasi tani, mahasiswa, dan kelompok masyarakat sipil lainnya.
Aktivitas di hotel mulai terlihat ramai sejak pukul 08.00 WIB ketika peserta melakukan registrasi. Sebagian peserta datang mengenakan atribut organisasi masing-masing. Di beberapa sudut ruangan tampak spanduk dan materi kongres yang menampilkan perjalanan perjuangan KPBI selama satu dekade terakhir.
Momen yang cukup menyita perhatian terjadi ketika Kapolri tiba di lokasi sekitar pukul 09.30 WIB. Kehadirannya disambut hangat peserta kongres yang sebagian besar merupakan pekerja dari berbagai sektor industri. Tidak sedikit peserta yang mengabadikan momen tersebut menggunakan telepon genggam mereka.
Acara pembukaan resmi dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Seluruh peserta berdiri saat lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan. Setelah itu, suasana berubah lebih emosional ketika lagu Internasionale dinyanyikan bersama oleh para peserta kongres.
Panitia kemudian menayangkan film dokumenter yang menggambarkan perjalanan KPBI selama sepuluh tahun terakhir. Film bertajuk “Satu Dekade: Bangkit Lawan Hancurkan Tirani” tersebut menampilkan berbagai dinamika perjuangan buruh di berbagai daerah, mulai dari aksi demonstrasi, advokasi kasus ketenagakerjaan, hingga proses pengorganisasian pekerja di tingkat akar rumput.
Ketua pelaksana kegiatan, Solihin, menjadi pembicara pertama yang memberikan sambutan. Dalam pidatonya, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan tamu undangan yang hadir.
Menurutnya, terselenggaranya Kongres III KPBI merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak yang selama ini terus mendukung perjuangan kaum pekerja. Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila dalam pelaksanaan kegiatan masih terdapat berbagai kekurangan.
Solihin menegaskan bahwa tema kongres yang diangkat tahun ini bukan sekadar slogan. Menurutnya, gagasan membangun kemandirian ekonomi dan memperkuat posisi politik kelas pekerja merupakan bagian dari cita-cita panjang gerakan buruh dalam memperjuangkan kesejahteraan anggotanya.
Setelah sambutan panitia, perhatian peserta tertuju kepada Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad. Dalam paparannya, Dasco menyinggung perkembangan pembahasan regulasi ketenagakerjaan yang selama ini menjadi perhatian berbagai organisasi buruh.
Ia menyebut proses penyusunan undang-undang ketenagakerjaan yang baru masih berjalan dan melibatkan berbagai unsur, termasuk serikat pekerja. Menurutnya, sinkronisasi sejumlah masukan dan kajian masih terus dilakukan sebelum nantinya dibawa ke tahap pembahasan lebih lanjut.
Dasco juga menyinggung persoalan pemutusan hubungan kerja atau PHK yang belakangan menjadi kekhawatiran di sejumlah sektor industri. Ia mengatakan koordinasi lintas lembaga akan terus diperkuat agar berbagai persoalan ketenagakerjaan dapat ditangani secara lebih cepat dan tepat.
Pernyataan tersebut mendapat perhatian serius dari peserta kongres. Isu PHK memang menjadi salah satu topik yang paling sering muncul dalam berbagai diskusi informal di sela kegiatan. Kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil dinilai masih memberikan tekanan terhadap dunia usaha dan berdampak pada kondisi ketenagakerjaan.
Sementara itu, Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor mengajak seluruh elemen pekerja untuk terus membangun komunikasi dengan pemerintah. Ia menilai masukan dari serikat pekerja tetap menjadi bagian penting dalam penyusunan berbagai kebijakan ketenagakerjaan.
Afriansyah juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pekerja, perusahaan, dan pemerintah. Menurutnya, hubungan industrial yang sehat hanya dapat tercipta apabila ketiga unsur tersebut mampu membangun komunikasi yang seimbang.
Dalam kesempatan yang sama, ia turut menyinggung perlunya pembaruan sejumlah regulasi yang dianggap sudah tidak sepenuhnya relevan dengan perkembangan zaman. Reformasi hukum, kata dia, perlu dilakukan agar berbagai aturan dapat menjawab kebutuhan masyarakat saat ini.
Namun sambutan yang paling banyak mendapat respons dari peserta adalah ketika Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo naik ke podium. Sejak awal pidato, suasana ruangan tampak lebih hidup. Beberapa kali tepuk tangan terdengar dari peserta yang memenuhi ruang utama kongres.
Listyo membuka sambutannya dengan menyapa para buruh dan pengurus KPBI. Ia mengaku senang dapat hadir langsung di tengah forum yang diikuti para aktivis dan pekerja dari berbagai daerah.
Dalam pidatonya, Kapolri menyoroti berbagai tantangan yang sedang dihadapi Indonesia, termasuk dampak kondisi ekonomi global terhadap sektor industri dan ketenagakerjaan. Menurutnya, upaya hilirisasi industri yang sedang didorong pemerintah harus mampu menghasilkan lapangan pekerjaan baru dan meningkatkan kualitas tenaga kerja nasional.
Ia menilai peningkatan kompetensi pekerja menjadi salah satu kunci agar Indonesia mampu bersaing di tengah perubahan ekonomi dunia yang berlangsung sangat cepat.
Di hadapan peserta kongres, Kapolri juga menyampaikan harapan agar revisi regulasi ketenagakerjaan yang sedang dibahas nantinya mampu memberikan perlindungan yang lebih baik bagi para pekerja.
Pernyataan tersebut langsung disambut tepuk tangan peserta. Sejumlah delegasi terlihat menganggukkan kepala ketika Kapolri menyinggung pentingnya pemenuhan hak-hak buruh dalam sistem ketenagakerjaan nasional.
Listyo juga berharap kongres yang berlangsung dapat melahirkan berbagai gagasan konstruktif yang bermanfaat bagi gerakan buruh Indonesia ke depan. Menurutnya, forum seperti ini memiliki peran penting dalam merumuskan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi pekerja.
Pandangan senada juga disampaikan Ketua KSPSI Muhammad Jumhur Hidayat. Dalam pidatonya, ia menyoroti hubungan antara negara dan masyarakat sipil dalam proses penyusunan kebijakan publik.
Jumhur menilai beberapa aspirasi kelompok pekerja dalam beberapa waktu terakhir mulai mendapatkan perhatian pemerintah. Ia mencontohkan sejumlah kebijakan yang berkaitan dengan pekerja sektor informal dan ekonomi digital sebagai bentuk respons negara terhadap tuntutan masyarakat.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Dewi Sartika, menekankan pentingnya membangun solidaritas antara gerakan buruh dan gerakan tani. Menurutnya, kedua kelompok tersebut menghadapi tantangan yang relatif serupa, terutama dalam menghadapi dampak perubahan ekonomi global.
Ia menegaskan bahwa perjuangan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat tidak dapat dilakukan secara terpisah. Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi salah satu kekuatan penting dalam mendorong perubahan kebijakan yang lebih berpihak kepada masyarakat.
Menjelang siang, rangkaian sambutan memasuki tahap akhir. Seluruh peserta kemudian menyaksikan pembukaan resmi Kongres III KPBI yang dilakukan oleh Ketua Umum KPBI, Ilhamsyah.
Dengan diketoknya pembukaan kongres, seluruh agenda organisasi yang telah disusun resmi dimulai. Tahapan berikutnya akan diisi dengan berbagai sidang organisasi, pembahasan program kerja, serta diskusi mengenai arah perjuangan KPBI untuk periode mendatang.
Tak lama setelah pembukaan resmi, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad meninggalkan lokasi kegiatan. Meski demikian, agenda kongres tetap berlanjut sesuai jadwal yang telah ditetapkan panitia.
Usai istirahat siang, peserta dijadwalkan mengikuti diskusi ketenagakerjaan yang mengangkat tema peluang lahirnya undang-undang perlindungan buruh di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Forum tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari unsur pemerintah, DPR, akademisi, hingga pimpinan organisasi buruh.
Pada malam hari, agenda kongres akan berlanjut dengan sidang organisasi yang membahas keabsahan peserta, pemilihan pimpinan sidang, penetapan tata tertib, serta penyusunan jadwal sidang lanjutan.
Hingga menjelang siang, situasi di lokasi kegiatan terpantau aman dan kondusif. Para peserta masih mengikuti rangkaian acara dengan tertib. Berbagai isu strategis yang berkaitan dengan perlindungan tenaga kerja, revisi regulasi ketenagakerjaan, ancaman PHK, hingga penguatan posisi politik pekerja diperkirakan akan menjadi fokus utama pembahasan selama kongres berlangsung.
Bagi kalangan buruh, Kongres III KPBI bukan sekadar agenda rutin organisasi. Forum ini menjadi ruang untuk merumuskan arah perjuangan di tengah berbagai perubahan ekonomi, politik, dan sosial yang terus berkembang. Di tengah tantangan tersebut, harapan akan lahirnya kebijakan yang lebih berpihak kepada pekerja menjadi salah satu aspirasi yang paling banyak mengemuka sepanjang jalannya kongres hari pertama.


Responses (3)