KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Kelompok Tani Hutan (KTH) Cikondang di Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, berhasil memanen sekitar 70 ton kubis varietas Granova. Panen tersebut berasal dari lahan pertanian seluas 1,2 hektare yang dikelola oleh para petani setempat. Capaian ini menjadi salah satu hasil penting dalam pengembangan usaha pertanian masyarakat di kawasan Kamojang, khususnya melalui pemanfaatan teknologi dan inovasi yang mendukung produktivitas lahan.
Dari hasil panen itu, KTH Cikondang mencatat nilai penjualan sekitar Rp78 juta. Jumlah tersebut menunjukkan potensi ekonomi komoditas kubis sekaligus memperlihatkan bahwa pengelolaan lahan secara produktif dapat memberikan manfaat nyata bagi kelompok tani. Varietas Granova yang ditanam menghasilkan volume panen yang cukup besar dalam satu musim, sehingga memperkuat peran pertanian sebagai bagian dari kegiatan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Peningkatan hasil panen ini didukung oleh pemanfaatan Geothermal Organic Fertilizer atau Geo-Fert. Pupuk organik tersebut dikembangkan dan digunakan melalui kegiatan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Kamojang. Pemanfaatan Geo-Fert menjadi bentuk penerapan inovasi panas bumi dalam mendukung sektor pertanian, dengan menghubungkan pengembangan energi bersih dan peningkatan produktivitas masyarakat. Melalui dukungan tersebut, lahan KTH Cikondang dapat dimanfaatkan secara lebih optimal untuk budidaya kubis.
Keberhasilan panen sekitar 70 ton ini memperlihatkan hasil kolaborasi kelompok tani dan inisiatif pengembangan masyarakat yang dijalankan di kawasan Kamojang. Nilai penjualan Rp78 juta juga menjadi indikator bahwa inovasi berbasis sumber daya lokal dapat berkontribusi terhadap penguatan kegiatan ekonomi petani. Capaian KTH Cikondang sekaligus menegaskan peluang pemanfaatan pupuk organik berbasis panas bumi untuk mendukung pertanian yang produktif dan berkelanjutan.
Penggunaan Geo-Fert dalam budidaya kubis di Kamojang memberikan dampak ekonomi yang terlihat pada pengeluaran petani. Pupuk tersebut dimanfaatkan sebagai bagian dari pengelolaan limbah organik, sehingga bahan yang sebelumnya perlu ditangani dapat diolah menjadi produk yang digunakan kembali untuk kegiatan pertanian. Bagi petani kubis, pemanfaatan Geo-Fert membantu mengurangi kebutuhan pembelian pupuk dari luar. Penghematan biaya pembelian pupuk yang dicatat mencapai sekitar Rp20 juta. Nilai tersebut menjadi komponen penting dalam pengendalian biaya budidaya, terutama karena pupuk merupakan salah satu kebutuhan utama dalam proses penanaman hingga pemeliharaan tanaman.
Dampak penghematan ini tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya pengeluaran, tetapi juga menunjukkan pemanfaatan sumber daya secara lebih sirkular. Limbah organik tidak berhenti sebagai bahan buangan, melainkan diproses agar dapat kembali mendukung kegiatan pertanian. Dengan demikian, Geo-Fert menjadi penghubung pengelolaan limbah dan kebutuhan input budidaya kubis. Pemanfaatannya membantu petani mengurangi ketergantungan pada pembelian pupuk, tanpa mengubah fokus utama program, yaitu menyediakan bahan yang dapat digunakan dalam kegiatan pertanian.
Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho, menyatakan bahwa panas bumi juga dimanfaatkan untuk membantu masyarakat mengolah limbah organik menjadi produk yang dapat digunakan kembali dalam kegiatan pertanian. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pemanfaatan panas bumi tidak terbatas pada penyediaan energi, tetapi juga mendukung proses pengolahan bahan organik menjadi Geo-Fert. Dalam konteks petani kubis Kamojang, hasil pengolahan itu berkontribusi pada penghematan biaya pupuk sekitar Rp20 juta. Dampak ekonomi yang dapat dicatat dari penggunaan Geo-Fert adalah menurunnya kebutuhan belanja pupuk, sementara manfaat lainnya perlu dinilai berdasarkan data dan sumber yang tersedia.
Inovasi Geo-Fert berangkat dari pemanfaatan bahan organik yang diolah menjadi pupuk untuk mendukung produktivitas pertanian. Berbeda dari pupuk kimia, pupuk ini memanfaatkan material organik yang diproses melalui tahapan pengolahan dan pengeringan. Kunci efisiensinya terletak pada penggunaan ekses uap dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang dalam proses produksi.
Ekses uap tersebut memiliki suhu sekitar 60–70 derajat Celsius. Uap tidak digunakan untuk mengalirkan panas secara langsung ke lahan pertanian, melainkan dimanfaatkan sebagai sumber panas pada tahap pengeringan pupuk organik. Energi panas itu membantu mengurangi kadar air dalam bahan pupuk secara lebih cepat dan terkendali, sehingga bahan menjadi lebih siap untuk diproses serta digunakan.
Sebelum inovasi ini diterapkan, pengeringan pupuk organik dapat memerlukan waktu hingga sekitar 14 hari, terutama ketika prosesnya bergantung pada kondisi cuaca. Pemanfaatan panas dari ekses uap PLTP memangkas durasi tersebut menjadi kurang lebih 12 jam. Percepatan ini membuat proses produksi lebih efisien, mengurangi ketergantungan pada sinar matahari, dan membantu menjaga kesinambungan ketersediaan pupuk bagi petani.
Penggunaan panas bumi dalam konteks ini perlu dipahami secara tepat. Teknologi tersebut diterapkan pada proses pembuatan dan pengeringan Geo-Fert, bukan berarti seluruh kegiatan budidaya kubis berlangsung dengan panas bumi secara langsung. Setelah pupuk selesai diproduksi, petani tetap menggunakannya dalam tahapan budidaya sesuai kebutuhan lahan dan tanaman. Dengan demikian, inovasi ini mempertemukan pemanfaatan energi panas bumi dan pengelolaan bahan organik secara efisien, sekaligus menghasilkan pupuk yang mendukung pertanian di sekitar Kamojang.
Penerapan Geo-Fert dilakukan pada lahan kubis seluas 1,2 hektare di Kamojang. Dalam budidaya tersebut, sekitar 30 ton Geo-Fert digunakan untuk mendukung kebutuhan pemupukan tanaman. Penerapan ini menjadi bagian dari kegiatan Harepan, yaitu panen hasil bumi dari penerapan Geo-Fert yang dilaksanakan PGE Area Kamojang bersama masyarakat sepanjang September 2026.
Dalam pelaksanaannya, pupuk organik padat diberikan sebelum penanaman kubis. Pemberian tersebut dilakukan sebagai bagian dari persiapan lahan dan pemenuhan kebutuhan tanaman sejak awal masa budidaya. Setelah tanaman tumbuh, pupuk cair diaplikasikan secara berkala setiap 15 hari selama masa budidaya. Pola aplikasi ini diterapkan hingga tanaman memasuki tahap panen, dengan penggunaan pupuk mengikuti rangkaian kegiatan budidaya di lahan tersebut.
Hasil panen dari lahan seluas 1,2 hektare itu mencakup sejumlah kubis dengan bobot sekitar 6 kilogram per buah. Bobot tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan rata-rata kubis lokal yang berada di kisaran 3 kilogram per buah. Data panen tersebut disampaikan dalam rangkaian kegiatan Harepan yang memperlihatkan hasil bumi dari penerapan Geo-Fert melalui kerja sama PGE Area Kamojang dan masyarakat selama September 2026.

