Kabut Asap dan Kemarau Menekan Panen Sayuran Petani Pontianak

oleh -337 Dilihat
oleh
Kabut Asap dan Kemarau Menekan Panen Sayuran Petani Pontianak

KOTA PONTIANAK, KALIMANTAN BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 Oktober 2026, Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang bersamaan dengan musim kemarau, menekan produksi sayuran petani di Pontianak, Kalimantan Barat. Kondisi tersebut membuat tanaman tidak memperoleh sinar matahari yang cukup untuk tumbuh dan berkembang secara normal. Dampaknya dirasakan langsung oleh kelompok tani yang tergabung dalam tujuh gabungan kelompok tani (gapoktan) di wilayah Pontianak Utara.

Penurunan hasil panen terjadi secara drastis. Dalam kondisi normal, produksi sayuran para petani dapat mencapai sekitar 700 kilogram per hari. Namun, ketika kabut asap menyelimuti wilayah tersebut, hasil panen turun menjadi kira-kira 30 kilogram per hari. Artinya, produksi berkurang sekitar 95 persen dibandingkan keadaan biasanya. Penurunan ini tidak hanya mengurangi ketersediaan sayuran, tetapi juga berpotensi menekan pendapatan petani yang bergantung pada hasil kebun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Satura menjelaskan bahwa tanaman tidak tumbuh sebagaimana mestinya karena paparan matahari berkurang. Kabut asap yang pekat menghalangi cahaya, padahal sinar matahari dibutuhkan tanaman untuk mendukung proses pertumbuhan. Akibatnya, sayuran menjadi layu, kurang segar, dan dinilai kurang sehat. Ukuran tanaman juga lebih kecil karena perkembangannya terhambat, sehingga kualitas serta kuantitas hasil panen menurun bersamaan.

Situasi ini menunjukkan bahwa dampak karhutla dan kemarau tidak hanya berkaitan dengan kualitas udara, tetapi juga merembet ke sektor pertanian. Petani di Pontianak Utara harus menghadapi hasil kebun yang jauh di bawah kapasitas normal pada saat kebutuhan pangan tetap berjalan. Selama kabut asap dan minimnya hujan masih berlangsung, tanaman sayuran diperkirakan akan terus mengalami tekanan, sementara petani perlu menyesuaikan perawatan dan pengelolaan lahan dengan kondisi lingkungan yang tidak menentu.

Kabut asap dan kemarau memberikan tekanan langsung terhadap pertumbuhan sejumlah sayuran yang dibudidayakan petani di Pontianak. Tanaman yang paling terdampak lain pakcoy, sawi manis, sawi keriting, dan kangkung. Kondisi udara yang dipenuhi asap, berkurangnya intensitas cahaya, serta keterbatasan air membuat proses pertumbuhan tanaman tidak berlangsung optimal. Daun menjadi lebih kecil, batang tidak berkembang sebagaimana mestinya, dan ukuran tanaman cenderung kerdil ketika mendekati masa panen.

Selain tumbuh kerdil, tanaman juga lebih mudah layu, terutama pada siang hari ketika suhu meningkat dan kelembapan tanah cepat berkurang. Petani harus lebih sering melakukan penyiraman, tetapi ketersediaan air selama kemarau tidak selalu mencukupi. Perawatan tambahan tersebut belum tentu mampu memulihkan kondisi tanaman, karena paparan kabut asap dan panas berlangsung berulang. Akibatnya, sayuran membutuhkan waktu lebih panjang untuk mencapai ukuran yang layak dijual.

Samudi menggambarkan penurunan hasil tersebut melalui perbandingan produksi satu galang tanaman. Dalam keadaan normal, satu galang biasanya dapat menghasilkan belasan hingga sekitar 20 kilogram sayuran. Namun, ketika kabut asap melanda, hasilnya turun drastis menjadi sekitar 4-5 kilogram. Penurunan itu menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi petani bukan hanya keterlambatan panen, melainkan juga berkurangnya volume produksi dari lahan yang sama.

Kangkung menjadi contoh lain dari perlambatan tersebut. Tanaman yang biasanya sudah dapat dipanen dalam 18-20 hari kini memerlukan waktu lebih dari satu bulan. Perpanjangan masa tanam membuat petani tidak dapat mempertahankan jadwal panen seperti biasanya. Dampaknya, pasokan pakcoy, berbagai jenis sawi, dan kangkung ke pasar menjadi tidak menentu. Pada waktu tertentu jumlah sayuran berkurang, sementara permintaan tetap berjalan, sehingga kesinambungan distribusi dan pendapatan petani ikut terganggu.

Berkurangnya hasil panen akibat kabut asap dan kemarau turut memengaruhi pergerakan harga sayuran di Pontianak. Berdasarkan informasi yang diterima Satura, pasokan sawi dan sawi keriting yang tidak stabil mendorong harga di tingkat petani mencapai sekitar Rp40 ribu hingga Rp45 ribu per kilogram. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan harga normal, yang biasanya berada pada kisaran Rp8 ribu hingga Rp12 ribu per kilogram. Kenaikan terjadi ketika jumlah sayuran yang dapat dipanen tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar secara konsisten.

Namun, harga tinggi tidak serta-merta meningkatkan pendapatan petani. Ketika produksi menurun, volume sayuran yang tersedia untuk dijual juga sedikit. Dengan demikian, penerimaan dari setiap kilogram memang lebih besar, tetapi total hasil penjualan dapat tetap terbatas karena jumlah panen berkurang. Kondisinya berbalik saat pasokan melimpah. Harga sawi dan sawi keriting dapat turun hingga sekitar Rp3 ribu-Rp5 ribu per kilogram, sehingga petani menghadapi risiko pendapatan rendah meskipun hasil kebun lebih banyak. Satura menyebut harga mulai turun ketika kondisi sayuran berangsur membaik dan pasokan kembali meningkat.

Tekanan terhadap penghasilan juga dipengaruhi oleh biaya pengelolaan kebun. Samudi menyatakan, dalam kondisi tertentu, pendapatan dari kebun dapat mencapai lebih dari Rp1 juta per bulan. Meski demikian, angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan pendapatan bersih yang diterima petani. Biaya produksi, terutama pupuk yang semakin mahal, harus dibayarkan sebelum hasil penjualan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga atau modal tanam berikutnya. Selain pupuk, petani juga perlu menanggung pengeluaran untuk benih, perawatan, penyiraman, serta pengendalian hama. Karena itu, perubahan harga pasar dan hasil panen perlu dilihat bersama-sama untuk menilai kondisi ekonomi petani, bukan hanya berdasarkan tingginya harga jual pada waktu tertentu.

Selain kabut asap yang mengurangi intensitas cahaya, petani sayuran di Pontianak menghadapi persoalan lain selama kemarau dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla), yakni keterbatasan sumber air. Curah hujan yang rendah membuat parit, sumur, dan saluran air tidak selalu dapat diandalkan. Padahal, tanaman sayuran membutuhkan penyiraman lebih sering agar kelembapan tanah tetap terjaga dan pertumbuhannya tidak terhambat. Kondisi ini membuat petani harus mengatur penggunaan air secara ketat, terutama ketika persediaan mulai menipis.

Samudi menjelaskan bahwa penyiraman hanya dapat dilakukan jika air tersedia. Ketika sumber air berkurang, petani tidak bisa memenuhi kebutuhan tanaman sesuai jadwal, meskipun kondisi lahan sudah kering. Kekurangan air menyebabkan tanaman lebih mudah layu dan pertumbuhannya melambat. Di tengah situasi tersebut, petani juga menemukan serangan hama ulat setelah kondisi karhutla. Ulat merusak daun yang seharusnya berperan penting dalam proses pertumbuhan, sehingga kualitas dan jumlah hasil panen semakin sulit dipertahankan.

Gabungan kurangnya sinar matahari, keterbatasan air, serangan hama, serta tingginya biaya pupuk menambah tekanan terhadap pertumbuhan tanaman dan pendapatan petani. Pengeluaran meningkat karena petani perlu membeli sarana produksi, mencari sumber air, atau melakukan penanganan hama, sementara hasil panen belum tentu memberikan keuntungan yang sepadan. Samudi berharap asap dan kemarau segera berakhir agar sinar matahari kembali cukup dan ketersediaan air mendukung kegiatan di lahan. Menurutnya, tanpa matahari dan dalam kondisi banyak asap, sayuran tidak berkembang dengan baik, termasuk bagian akar tanaman. Pemulihan cuaca menjadi harapan penting agar tanaman dapat tumbuh normal dan petani kembali memperoleh hasil yang lebih baik.