Paviliun BSI Maslahat Tampilkan Program Pemberdayaan dalam Pengalaman Interaktif

oleh -111 Dilihat
oleh

Jakarta | Paviliun Impact Showcase BSI Maslahat hadir di BSI International Expo 2026, yang berlangsung pada 23–25 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center. Kehadiran paviliun ini menjadi ruang bagi pengunjung untuk mengenal berbagai program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan BSI Maslahat, sekaligus memahami dampak yang tumbuh melalui pengelolaan dana sosial Islam. Alih-alih hanya menyajikan informasi secara satu arah, paviliun dirancang sebagai pengalaman interaktif dengan pendekatan “lihat, rasakan, dan alami dampaknya”. Pengunjung dapat menelusuri cerita di balik program, mengenali tahapan pelaksanaannya, dan melihat hasil yang dirasakan oleh masyarakat penerima manfaat.

Pendekatan tersebut sejalan dengan tema expo, “Buy Local Go Global”, yang menyoroti potensi produk dan pelaku lokal untuk berkembang serta menjangkau pasar lebih luas. Di paviliun, pemberdayaan dipaparkan sebagai proses yang menghubungkan potensi masyarakat dengan dukungan yang tepat, mulai dari penguatan kapasitas hingga terciptanya peluang ekonomi. Kisah para penerima manfaat memberi konteks pada proses tersebut, sementara informasi mengenai program membantu menjelaskan bagaimana perubahan dibangun secara bertahap. Dengan demikian, pengunjung tidak hanya melihat hasil akhir, tetapi juga memperoleh gambaran tentang kerja, kolaborasi, dan kebutuhan yang menyertai perjalanan pemberdayaan.

Paviliun ini juga mengenalkan peran zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ziswaf) sebagai instrumen yang dapat mendukung perubahan berkelanjutan. Pengelolaan ziswaf yang terarah memungkinkan dana sosial disalurkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat kemampuan mereka dalam jangka panjang. Melalui materi dan pengalaman di ruang pamer, pengunjung diajak memahami hubungan kontribusi, program, dan dampak yang dihasilkan. Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa dana sosial tidak berhenti pada bantuan sesaat, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian dan memperluas manfaat. Interaksi di paviliun memberi kesempatan untuk bertanya, mengamati, dan menyerap perspektif masyarakat, sehingga tujuan pemberdayaan terasa lebih dekat dan konkret bagi beragam pengunjung expo.

Rangkaian program yang ditampilkan di Paviliun BSI Maslahat bertumpu pada tiga pilar, yaitu Didik Umat, Mitra Umat, dan Simpati Umat, serta didukung pengembangan program wakaf. Ketiganya menggambarkan pendekatan pemberdayaan yang menyasar kebutuhan masyarakat secara beragam. Pengunjung dapat mengenali bagaimana dukungan pendidikan, penguatan usaha, kepedulian sosial-kemanusiaan, dan penyediaan fasilitas dasar saling melengkapi. Penyajian dalam pengalaman interaktif membantu memperlihatkan bahwa program tidak hanya berupa bantuan sesaat, tetapi juga dirancang untuk membuka peluang dan membangun kemandirian.

Melalui pilar Didik Umat, BSI Scholarship menjadi salah satu program yang memperluas akses pendidikan bagi generasi muda. Beasiswa ini tidak berhenti pada dukungan biaya, tetapi turut mendorong pembentukan karakter, kepemimpinan, dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi masa depan. Dengan kesempatan belajar yang lebih terbuka dan pendampingan pengembangan diri, penerima manfaat diharapkan dapat mengoptimalkan potensi serta berkontribusi bagi lingkungan. Pilar ini menempatkan pendidikan sebagai landasan penting dalam memperkuat kapasitas individu dan masyarakat.

Pilar Mitra Umat berfokus pada pemberdayaan ekonomi, termasuk pengembangan UMKM dan Gerobak Maslahat. Dukungan tersebut diarahkan untuk membantu pelaku usaha memperkuat kemampuan, meningkatkan produktivitas, dan bergerak menuju kemandirian. Pameran produk UMKM binaan memberi gambaran nyata tentang potensi lokal yang dapat dikembangkan menjadi usaha bernilai dan berdaya saing. Ragam produk yang ditampilkan juga menunjukkan bahwa pendampingan dapat membuka akses bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan hasil karya mereka kepada khalayak lebih luas.

Dalam pilar Simpati Umat, program “Satu Benang untuk Sade” mengangkat tradisi tenun suku Sasak di Nusa Tenggara Barat. Inisiatif ini mendukung pelestarian budaya sekaligus membantu menjaga penghidupan masyarakat setempat yang terkait dengan keterampilan menenun. Bersama program wakaf dan berbagai bentuk dukungan sosial-kemanusiaan, rangkaian tersebut mencerminkan upaya menjawab kebutuhan yang berbeda, mulai dari pendidikan dan ekonomi hingga layanan sosial serta fasilitas dasar. Dengan demikian, tiga pilar itu memperlihatkan pemberdayaan yang menghubungkan peningkatan kesejahteraan dengan penguatan potensi komunitas.

Di Paviliun BSI Maslahat, pengenalan tenun Sade mengajak pengunjung memahami kisah yang terjalin di balik selembar kain. Pengalaman ini tidak berhenti pada motif, warna, atau keindahan hasil akhir, tetapi membuka ruang untuk melihat proses dan kehidupan para perajin. Setiap tahapan kerja membutuhkan keterampilan yang dipelajari, ketelitian dalam mengolah benang, serta kesabaran untuk menyelesaikan tenunan. Melalui pengenalan tersebut, pengunjung dapat melihat bahwa kain memuat pengetahuan yang diwariskan dan dijaga dalam keseharian. Tenun menjadi bagian dari identitas budaya sekaligus sumber penghidupan, sehingga apresiasi terhadap karya juga mencakup penghormatan kepada orang-orang yang membuatnya.

Perhatian pada proses membantu pengunjung membayangkan kerja yang tidak selalu tampak ketika kain sudah selesai. Perajin mengandalkan pengalaman dan ketekunan untuk menjaga kualitas, sembari meneruskan keterampilan kepada generasi berikutnya. Dengan memahami hubungan teknik, waktu, dan kehidupan komunitas, pengunjung dapat memandang tenun Sade sebagai praktik budaya yang terus hidup, bukan sekadar benda untuk dipamerkan. Cerita para perajin memperlihatkan bahwa pelestarian budaya bertumpu pada manusia, kesempatan untuk berkarya, dan penghargaan terhadap pengetahuan lokal. Pengalaman interaktif di paviliun memberi konteks bagi cerita itu, sehingga pengunjung memperoleh pemahaman lebih dekat tentang siapa yang menjaga tradisi dan bagaimana tradisi hadir dalam kehidupan mereka.

Pengalaman pemberdayaan juga memperkenalkan wakaf sumur sebagai ikhtiar untuk menjawab keterbatasan akses air bersih di sejumlah wilayah. Bagi masyarakat yang sumber airnya terbatas, ketersediaan sumur dapat mendukung kebutuhan sehari-hari dan mengurangi beban memperoleh air. Manfaatnya tidak hanya dirasakan pada saat pembangunan, tetapi dapat berlanjut selama sarana tersebut digunakan, dirawat, dan dikelola dengan baik. Di sini, wakaf dipahami sebagai bentuk kepedulian yang manfaatnya menjangkau masyarakat secara berkelanjutan. Cerita tentang air bersih melengkapi kisah para perajin: keduanya menempatkan manusia dan kebutuhan nyata sebagai pusat perhatian. Dengan menyampaikan proses serta dampak, paviliun mengajak pengunjung mengenali pemberdayaan sebagai upaya jangka panjang yang menghargai budaya, memperkuat kehidupan, dan membuka manfaat bagi komunitas.

Pengunjung dapat mencoba fasilitas virtual reality (VR) yang menghadirkan pengalaman menyaksikan pembangunan jembatan di kawasan Baduy, Kabupaten Lebak, Banten. Melalui simulasi imersif, proses pembangunan infrastruktur terasa lebih dekat dan mudah dipahami, sekaligus memperlihatkan tantangan yang dihadapi warga di wilayah dengan akses terbatas. Jembatan bukan sekadar penghubung antarlokasi. Infrastruktur ini dapat membantu mobilitas warga, memudahkan perjalanan untuk bersekolah, bekerja, memperoleh layanan kesehatan, serta membawa hasil usaha ke pasar. Pengalaman VR tersebut memberi gambaran tentang dampak nyata pembangunan yang dirancang sesuai kebutuhan masyarakat setempat. Dengan melihat situasi melalui sudut pandang warga, pengunjung diajak memahami bahwa akses yang lebih baik dapat membuka peluang bagi kegiatan sosial dan ekonomi, sambil tetap menghormati lingkungan serta nilai budaya masyarakat Baduy.

Paviliun juga menyediakan layanan konsultasi ziswaf, yaitu zakat, infak, sedekah, dan wakaf, bagi pengunjung yang ingin berdiskusi langsung. Konsultasi ini menjadi ruang untuk mengenal pengelolaan dana sosial Islam, memahami pilihan beramal sesuai kebutuhan dan kemampuan, serta mencari tahu program BSI Maslahat yang dapat didukung masyarakat. Informasi disampaikan agar pengunjung dapat mempertimbangkan bentuk kontribusi secara lebih terarah dan memahami bagaimana dana sosial dapat membantu pemberdayaan. Suasana paviliun dibuat lebih ramah melalui permainan interaktif berhadiah. Aktivitas ini memberi kesempatan bagi pengunjung untuk bersantai, berpartisipasi, dan mengenal berbagai pesan sosial dengan cara yang menyenangkan. Perpaduan teknologi, konsultasi, dan permainan menjadikan kunjungan terasa informatif sekaligus terbuka bagi berbagai kalangan, termasuk keluarga dan generasi muda.

Bambang menyampaikan bahwa pemberdayaan potensi lokal dapat menjadi fondasi agar.

Baca juga: Program POLIRAN, Aipda Reza Fajar A Beri Motivasi Warga Bojong Tingkatkan Keterampilan | Beri Kuliah Program Doktor Ilmu Hukum, Bamsoet Setuju Parliamentary Threshold 5 Persen, Dorong Terjadi Penyederhanaan Sistem Kepartaian dan Pemisahan Pilpres dan Pileg