DVI Polda Kalsel Identifikasi 63 Korban Virgo Transport 8, Terbanyak Warga Jatim

oleh -489 Dilihat
oleh
DVI Polda Kalsel Identifikasi 63 Korban Virgo Transport 8, Terbanyak Warga Jatim

BANJARMASIN, KALIMANTAN SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan mencatat sebanyak 63 korban meninggal dalam kecelakaan kapal Virgo Transport 8 telah teridentifikasi. Dari jumlah tersebut, korban terbanyak berasal dari Jawa Timur, yakni 28 orang. Data ini menjadi perkembangan utama dalam proses identifikasi korban yang dilakukan oleh tim DVI Polda Kalsel.

Jumlah 28 korban dari Jawa Timur menempatkan provinsi tersebut sebagai daerah asal dengan korban teridentifikasi paling banyak. Keterangan itu disampaikan Kabid Dokkes Polda Kalsel Kombes Pol dr Much Sofwan di Banjarmasin pada Minggu, 4 Oktober 2026. Penyampaian data tersebut menegaskan bahwa proses identifikasi telah mencatat korban dari berbagai daerah, dengan Jawa Timur menjadi wilayah yang paling banyak tercatat.

Dalam perkembangan identifikasi korban kecelakaan kapal Virgo Transport 8, Tim DVI Polda Kalsel mencatat total 63 korban meninggal yang sudah teridentifikasi. Sebanyak 28 korban di antaranya diketahui berasal dari Jawa Timur. Angka tersebut menjadi bagian penting dari pembaruan informasi yang disampaikan kepada publik mengenai hasil kerja identifikasi. Keterangan Kombes Pol dr Much Sofwan di Banjarmasin pada Minggu, 4 Oktober 2026, memperjelas bahwa korban teridentifikasi dari Jawa Timur merupakan jumlah terbesar dibandingkan daerah asal lainnya yang tercatat dalam proses tersebut. Dengan demikian, data 28 korban dari Jawa Timur menjadi fokus utama dalam perkembangan terbaru identifikasi korban Virgo Transport 8.

Rangkaian identifikasi korban kecelakaan Virgo Transport 8 dimulai setelah jenazah para korban ditemukan dan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin. Setibanya di rumah sakit, setiap jenazah diterima untuk menjalani proses identifikasi oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan. Proses ini dilakukan secara bertahap dengan mencocokkan data yang tersedia agar identitas korban dapat dipastikan secara tepat.

Korban pertama yang berhasil dikenali dalam rangkaian tersebut adalah Reyner Fausta Yosilianto. Ia merupakan laki-laki berusia 22 tahun dan tercatat sebagai warga Malang, Jawa Timur. Kepastian identitas Reyner diperoleh melalui catatan sidik jari. Data tersebut menjadi dasar penting dalam menetapkan identitasnya secara resmi, sekaligus menandai keberhasilan awal proses identifikasi yang dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin.

Setelah identitas korban pertama dipastikan, Tim DVI Polda Kalsel melanjutkan pekerjaan terhadap jenazah korban lain yang diterima rumah sakit. Setiap proses identifikasi dilakukan berdasarkan data yang dapat digunakan untuk memastikan kecocokan identitas, termasuk catatan sidik jari apabila tersedia. Langkah tersebut menjadi bagian dari rangkaian kerja tim dalam mengenali para korban secara bertahap dan menyampaikan kepastian identitas kepada pihak terkait. Identifikasi terhadap Reyner Fausta Yosilianto menunjukkan bahwa proses pengenalan korban telah dimulai dengan metode pencatatan yang terukur, sebelum dilanjutkan pada korban-korban lainnya yang berada dalam penanganan rumah sakit.

Perkembangan proses identifikasi korban Virgo Transport 8 terus dilakukan secara bertahap oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan. Dari total 80 jenazah yang telah diterima Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin, sebanyak 63 jenazah berhasil dikenali. Angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar proses pencocokan identitas telah selesai, meskipun penanganan terhadap seluruh jenazah belum tuntas. Sebanyak 17 jenazah lainnya masih berada dalam proses identifikasi. Tahapan lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan setiap identitas ditetapkan berdasarkan data yang sesuai dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam proses identifikasi tersebut, tim menjalankan pemeriksaan terhadap berbagai data yang tersedia untuk mencocokkan jenazah dengan informasi keluarga. Sebagian proses juga meliputi pengiriman sampel DNA ke Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri di Jakarta. Pengiriman sampel itu menjadi bagian dari tahapan pemeriksaan ketika pencocokan data memerlukan analisis lebih lanjut. Dengan demikian, proses pengenalan terhadap 17 jenazah yang belum teridentifikasi masih berlangsung dan hasilnya menunggu penyelesaian pemeriksaan yang diperlukan. Setiap perkembangan dicatat secara bertahap agar jumlah jenazah yang telah dikenali dan yang masih dalam penanganan tetap terukur.

Berdasarkan daerah asal korban yang sudah teridentifikasi, jumlah terbanyak berasal dari Jawa Timur, yakni 28 orang. Berikutnya, korban asal Jawa Tengah tercatat 16 orang. Dari Kalimantan Selatan terdapat delapan orang, sedangkan dari Jawa Barat terdapat enam orang. Sebaran tersebut memperlihatkan urutan daerah asal korban yang telah dikenali oleh Tim DVI, dengan Jawa Timur menempati jumlah tertinggi, disusul Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Data itu hanya mencakup 63 jenazah yang telah berhasil diidentifikasi, sementara 17 jenazah lainnya masih menjalani proses pemeriksaan.

Proses identifikasi korban Virgo Transport masih terus dilakukan oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan. Hingga tahap ini, pekerjaan belum selesai karena masih terdapat 17 jenazah yang harus diidentifikasi. Setiap jenazah memerlukan pemeriksaan secara cermat agar data yang diperoleh dapat dicocokkan dengan informasi dari keluarga korban secara tepat.

Much Sofwan memohon agar keluarga korban bersabar menunggu proses identifikasi yang masih berlangsung. Ia menyampaikan bahwa tim tetap bekerja tanpa libur, termasuk pada Sabtu dan Minggu. Kesinambungan kerja tersebut dilakukan untuk mempercepat tahapan pemeriksaan sekaligus menjaga ketelitian dalam memastikan identitas setiap korban. Proses identifikasi tidak hanya bergantung pada satu pemeriksaan, tetapi juga memerlukan pencocokan data yang disampaikan oleh keluarga.

Setiap kali jenazah diterima, tim segera melakukan pemeriksaan dan mencocokkan data ante mortem dari keluarga. Data tersebut menjadi bagian penting dalam proses identifikasi karena digunakan untuk dibandingkan dengan temuan pemeriksaan terhadap jenazah. Dengan pola kerja yang berlangsung terus-menerus, tim berupaya menangani seluruh jenazah yang masih berada dalam proses identifikasi secara bertahap dan sesuai prosedur. Keluarga korban diharapkan terus menunggu informasi resmi serta memberikan data yang diperlukan ketika diminta oleh petugas. Much Sofwan kembali meminta keluarga bersabar selama seluruh tahapan pemeriksaan dan pencocokan data dijalankan. Pekerjaan tim masih berlanjut hingga 17 jenazah tersebut memperoleh hasil identifikasi yang dapat disampaikan kepada keluarga masing-masing.