Medan | Nilai ekspor produk ekonomi kreatif Indonesia pada semester I 2026 tercatat mencapai US,75 miliar. Angka tersebut menjadi gambaran kinerja ekspor sektor ekonomi kreatif selama enam bulan pertama tahun ini. Jika dibandingkan dengan target tahunan sebesar US,85 miliar, capaian itu setara dengan 52,96 persen dari sasaran yang telah ditetapkan. Dengan demikian, nilai ekspor pada paruh pertama tahun ini telah melampaui separuh target untuk keseluruhan 2026. Perbandingan tersebut menunjukkan posisi capaian semester pertama terhadap target tahunan secara langsung, tanpa mengubah nilai dasar yang digunakan dalam penghitungan.
Target US$27,85 miliar menjadi acuan untuk melihat besaran ekspor produk ekonomi kreatif sepanjang satu tahun. Sementara itu, nilai US$14,75 miliar merujuk pada realisasi selama semester pertama. Selisih kedua angka tersebut adalah US$13,10 miliar. Nilai ini merupakan jumlah yang secara aritmetis masih perlu dicapai pada semester II agar total ekspor mencapai target tahunan. Penghitungan tersebut didasarkan pada pengurangan target tahunan dengan nilai yang telah tercatat, dan bukan proyeksi mengenai hasil akhir. Data semester pertama memberi gambaran tentang capaian hingga pertengahan periode tahunan.
Persentase 52,96 persen diperoleh dengan membandingkan nilai ekspor semester I dengan target tahunan. Dalam konteks pelaporan, angka persentase membantu menempatkan capaian nominal terhadap sasaran yang ingin dicapai. Informasi ini dapat digunakan untuk memahami sejauh mana target tahunan telah terpenuhi pada akhir Juni 2026. Namun, capaian tersebut hanya menggambarkan periode yang telah berjalan dan tidak dengan sendirinya menunjukkan besaran realisasi pada semester berikutnya. Nilai ekspor produk ekonomi kreatif Indonesia pada semester I 2026, target tahunan, serta persentase terhadap target merupakan tiga angka utama untuk membaca kinerja yang dilaporkan. Ketiganya menyajikan ringkasan kuantitatif mengenai ekspor ekonomi kreatif dalam periode tersebut.
Komposisi ekspor ekonomi kreatif Indonesia pada semester I 2026 menunjukkan bahwa fesyen menjadi subsektor dengan nilai terbesar. Berdasarkan data Kementerian Ekonomi Kreatif, ekspor fesyen tercatat mencapai US$8,99 miliar. Nilai ini menempatkan fesyen sebagai penyumbang utama dari total ekspor ekonomi kreatif sebesar US$14,75 miliar pada periode tersebut. Besarnya nilai ekspor mencerminkan posisi penting produk fesyen Indonesia di pasar internasional, meskipun angka agregat ini tidak menjelaskan secara terperinci jenis produk maupun negara tujuan ekspornya.
Subsektor kriya berada pada urutan berikutnya dengan nilai ekspor sebesar US$5,26 miliar, menurut data kementerian yang sama. Capaian tersebut menunjukkan bahwa produk kerajinan juga memiliki porsi besar dalam perdagangan luar negeri ekonomi kreatif. Kriya mencakup beragam hasil karya dan produk, tetapi rincian nilai untuk kategori yang lebih spesifik tidak tersedia dalam angka yang dipaparkan. Karena itu, informasi yang dapat dipastikan pada periode ini adalah nilai ekspor kriya secara keseluruhan, bukan besaran kontribusi setiap jenis produk di dalam subsektor tersebut.
Sementara itu, nilai ekspor kuliner tercatat sebesar US$0,43 miliar pada semester I 2026. Angka ini juga bersumber dari data Kementerian Ekonomi Kreatif dan melengkapi nilai yang dilaporkan untuk fesyen serta kriya. Data yang tersedia memberikan gambaran tentang tiga subsektor utama yang disebutkan, dengan fesyen mencatat nilai tertinggi, diikuti kriya dan kuliner. Namun, tidak tersedia rincian lengkap mengenai semua subsektor ekonomi kreatif dalam informasi tersebut. Oleh sebab itu, angka-angka ini sebaiknya dibaca sebagai nilai untuk subsektor yang dilaporkan, tanpa menyimpulkan besaran atau urutan kontribusi subsektor lain. Secara keseluruhan, data ini memperlihatkan besarnya nilai ekspor ketiga bidang tersebut dalam total ekspor ekonomi kreatif Indonesia selama enam bulan pertama 2026, sekaligus memberi dasar untuk membaca komposisi ekspor berdasarkan subsektor yang nilainya telah diumumkan secara resmi.
Amerika Serikat menjadi negara tujuan utama ekspor produk ekonomi kreatif Indonesia pada semester I 2026, dengan nilai mencapai US$5,12 miliar. Nilai tersebut menempatkan pasar Amerika Serikat di posisi teratas di negara tujuan yang disebutkan. Capaian ini tercatat dalam periode ketika total ekspor ekonomi kreatif Indonesia mencapai US$14,75 miliar. Dengan demikian, Amerika Serikat menyumbang bagian terbesar dari nilai ekspor di ketiga negara tujuan utama dalam data tersebut.
Di posisi berikutnya, Jepang mencatat nilai ekspor produk ekonomi kreatif Indonesia sebesar US$0,82 miliar. Belanda berada di urutan setelah Jepang, dengan nilai US$0,74 miliar. Jarak nilai Amerika Serikat dan dua negara berikutnya terlihat cukup besar berdasarkan angka yang dilaporkan. Namun, ketiga negara tersebut sama-sama tercatat sebagai tujuan ekspor utama dalam data semester pertama 2026. Angka-angka ini menggambarkan sebaran nilai ekspor menurut negara tujuan yang disampaikan untuk periode tersebut.
Jika nilai ekspor ke Amerika Serikat, Jepang, dan Belanda dijumlahkan, totalnya mencapai US$6,68 miliar. Nilai gabungan tersebut merupakan bagian dari keseluruhan ekspor ekonomi kreatif sebesar US$14,75 miliar pada semester I 2026. Sisa nilai ekspor tercatat berasal dari tujuan lainnya, tanpa rincian negara yang disajikan dalam data ini. Rincian tiga pasar teratas tersebut memberikan gambaran tentang tujuan ekspor utama sekaligus menempatkan capaian nasional dalam konteks angka menurut negara. Data ini tidak dengan sendirinya menjelaskan alasan pemilihan pasar maupun perubahan perdagangan dari waktu ke waktu, tetapi menunjukkan nilai yang dicatat pada semester pertama 2026.
Nilai ekspor ekonomi kreatif Indonesia pada semester I 2026 mencapai US$14,75 miliar, memperlihatkan peran sektor ini dalam perdagangan nasional. Kontribusinya tercatat sebesar 10,96 persen terhadap total ekspor nasional. Angka tersebut menempatkan produk dan jasa kreatif sebagai bagian penting dari aktivitas ekspor, sekaligus menunjukkan peluang untuk memperluas pasar bagi pelaku usaha di berbagai subsektor. Capaian itu juga berlangsung seiring besarnya keterlibatan tenaga kerja dalam ekosistem ekonomi kreatif. Hingga September 2026, sektor ini menyerap 27,40 juta tenaga kerja, mencakup beragam profesi dan jenis usaha yang menghasilkan nilai tambah melalui kreativitas, inovasi, serta kekayaan intelektual. Dengan jangkauan pasar yang lebih luas, pelaku kreatif berpeluang mengembangkan usaha dan memperkuat kontribusi terhadap perekonomian.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyampaikan bahwa pemerintah berupaya memperluas jangkauan ekonomi kreatif Indonesia di pasar internasional. Upaya tersebut diarahkan agar pelaku dan produk kreatif semakin dikenal oleh calon pembeli, mitra, serta pemangku kepentingan di luar negeri. Perluasan akses pasar dinilai membutuhkan dukungan yang terhubung, mulai dari kesempatan memperkenalkan karya hingga pendampingan untuk memahami kebutuhan dan standar pasar tujuan. Karena itu, pemerintah menyiapkan sejumlah sarana promosi dan pengembangan kapasitas yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha. Dukungan ini juga membantu membangun koneksi bisnis, sehingga peluang yang muncul dari kegiatan internasional dapat ditindaklanjuti menjadi kerja sama konkret. Pemerintah mendorong keterlibatan pelaku dari berbagai subsektor agar manfaat akses tersebut tidak terbatas pada kelompok atau produk tertentu.
Sarana yang dikemukakan mencakup fasilitasi keikutsertaan dalam pameran internasional, termasuk World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026. Pemerintah juga menjalankan Program Akselerasi Ekspor Kreasi Indonesia (ASIK) untuk mendukung kesiapan pelaku dalam mengembangkan kegiatan ekspor. Selain itu, jejaring perdagangan diperkuat melalui Trade Expo Indonesia (TEI) 2026, yang menjadi ruang bagi pelaku usaha untuk bertemu calon mitra dan menjajaki peluang transaksi.
Baca juga: Menerima Kunjungan Persahatan Duta Besar Maroko untuk Indonesia, Bamsoet Dorong Peningkatan Kerja Sama Ekonomi Indonesia dan Maroko | Bamsoet Apresiasi Nikah Massal Bersama Perkumpulan Bumi Alumni UNPAD, Hadirkan Kepedulian Sosial dan Gerakkan Ekonomi Alumni
