Lombok | Pertamina Patra Niaga melalui Aviation Fuel Terminal Bandara Internasional Lombok menghadirkan Galeri Mina Tenun di Desa Sukarara, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Kehadiran fasilitas ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan budaya menenun yang telah lama menjadi identitas desa. Program tersebut dirancang untuk menghubungkan potensi perempuan penenun dengan akses pasar, pengembangan produk, serta kebutuhan dasar warga.
Galeri Mina Tenun memberikan ruang yang lebih layak bagi para penenun untuk menampilkan dan memasarkan karya mereka. Tidak hanya kain tenun tradisional, galeri ini juga mendorong pengembangan produk turunan yang memiliki nilai guna dan daya tarik lebih luas. Pendekatan tersebut membantu kerajinan lokal menjangkau wisatawan, pembeli dari luar daerah, serta konsumen yang menghargai produk berbasis budaya.
Manfaat paling nyata dirasakan melalui peningkatan pendapatan penenun. Setiap kain dapat memberikan penghasilan hingga Rp750 ribu, bergantung pada motif, ukuran, tingkat kerumitan, dan waktu pengerjaannya. Nilai tersebut membuka peluang ekonomi yang lebih baik bagi perempuan di Desa Sukarara, sekaligus memperkuat peran mereka dalam menopang kesejahteraan keluarga. Pendapatan dari menenun juga dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga secara lebih mandiri.
Program ini tidak berhenti pada penguatan usaha. Galeri Mina Tenun turut menghadirkan dukungan terhadap penyediaan air bersih berbasis energi terbarukan. Fasilitas tersebut menjawab kebutuhan dasar masyarakat dengan memanfaatkan sumber energi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Integrasi pemberdayaan ekonomi, pelestarian budaya, dan penyediaan air bersih menunjukkan bahwa program tanggung jawab sosial dapat memberi dampak yang saling melengkapi.
Dengan demikian, Galeri Mina Tenun menjadi sarana untuk memperluas kesempatan kerja, meningkatkan nilai produk budaya lokal, dan memperbaiki kualitas hidup warga. Kehadirannya juga memperkuat posisi Desa Sukarara sebagai salah satu sentra tenun yang mampu berkembang tanpa meninggalkan tradisi.
Desa Sukarara menghadapi persoalan sosial-ekonomi yang saling berkaitan. Sebagian purna pekerja migran Indonesia (PMI) kembali ke desa tanpa pekerjaan yang stabil setelah menyelesaikan masa kerja di luar negeri. Keterampilan dan pengalaman yang mereka miliki belum selalu terhubung dengan peluang usaha yang tersedia, sehingga pendapatan keluarga menjadi tidak menentu. Dalam situasi tersebut, pengembangan usaha berbasis potensi lokal, termasuk kerajinan tenun, menjadi pilihan penting untuk membuka sumber penghasilan baru. Namun, peluang itu perlu didukung pendampingan yang memadai agar masyarakat tidak hanya terlibat dalam produksi, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi yang lebih adil.
Di sisi lain, para penenun masih berhadapan dengan rendahnya nilai jual kain yang mereka hasilkan. Keterbatasan modal membuat mereka sulit membeli benang, pewarna, dan perlengkapan produksi secara mandiri. Kondisi ini mendorong ketergantungan pada pengepul sebagai sumber bahan baku sekaligus pembeli hasil tenun. Sebelum memperoleh pendampingan, posisi tawar penenun cenderung lemah. Sebagian bahkan hanya menerima sekitar Rp25.000 untuk setiap kain yang diselesaikan, meskipun proses pembuatannya membutuhkan waktu, ketelitian, dan keterampilan yang panjang. Pembayaran pengepul yang tidak selalu pasti turut membatasi kemampuan penenun melanjutkan produksi.
Dian Hapsari Firasati menjelaskan bahwa pemberdayaan masyarakat perlu berangkat dari kebutuhan nyata yang mereka hadapi, sekaligus memanfaatkan potensi daerah. Pendekatan tersebut berarti program tidak cukup hanya menyediakan pelatihan, melainkan juga perlu menjawab persoalan akses modal, pemasaran, penetapan harga, dan penguatan posisi tawar. Potensi tenun Sukarara dapat menjadi dasar untuk membangun kegiatan ekonomi yang melibatkan penenun dan purna PMI secara berkelanjutan. Dengan dukungan yang tepat, keterampilan lokal dapat berkembang menjadi produk bernilai tambah, sementara masyarakat memperoleh kesempatan meningkatkan pendapatan dan mengurangi ketergantungan pada pola kerja yang sebelumnya kurang menguntungkan.
Galeri Mina Tenun menghadirkan skema produksi yang memberi dukungan lebih terarah kepada penenun di Sukarara. Dukungan tersebut dimulai dari fasilitasi bahan baku, sehingga penenun tidak harus menanggung seluruh kebutuhan produksi secara mandiri. Galeri juga menyediakan variasi motif yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Dengan pilihan desain yang lebih beragam, penenun memiliki acuan kerja yang jelas sekaligus kesempatan untuk menghasilkan kain dengan karakter berbeda.
Selain bahan dan motif, Galeri Mina Tenun menyediakan alat tenun gedogan bagi penenun yang membutuhkan sarana produksi. Fasilitas ini membantu menjaga keberlanjutan proses menenun, terutama bagi perempuan desa yang menjadikan keterampilan tersebut sebagai sumber penghasilan. Dukungan produksi diberikan dalam satu rangkaian, mulai dari penyiapan kebutuhan hingga kain selesai dikerjakan.
Perubahan penting juga terlihat pada pola pemasaran dan pembayaran. Sebelumnya, penenun perlu menunggu kain terjual kepada konsumen akhir sebelum memperoleh hasil produksi. Melalui galeri, penenun memperoleh kepastian pembayaran secara langsung setelah kain selesai diproduksi. Mekanisme ini membuat pendapatan lebih cepat diterima dan mengurangi ketidakpastian yang muncul ketika penenun harus memasarkan kain sendiri.
Skema tersebut berdampak langsung pada peningkatan pendapatan bersih penenun, yang dapat mencapai sedikitnya sekitar Rp750.000 untuk setiap kain. Nilai ini memberi dasar penghasilan yang lebih pasti bagi keluarga penenun. Pendapatan dari kegiatan menenun dapat membantu memperkuat kondisi keuangan keluarga, sementara akses terhadap pembayaran langsung meningkatkan kemandirian finansial perempuan yang terlibat dalam produksi.
Model Galeri Mina Tenun juga membuka alternatif usaha bagi purna PMI dan kelompok rentan di desa. Mereka dapat memanfaatkan keterampilan menenun melalui pola produksi yang memiliki dukungan bahan, motif, alat, serta kepastian pembayaran. Dengan demikian, kegiatan menenun tidak hanya bergantung pada penjualan langsung kepada konsumen, tetapi berkembang menjadi pilihan mata pencaharian yang lebih terstruktur bagi warga yang membutuhkan sumber pendapatan.
Program Galeri Mina Tenun di Sukarara tidak berhenti pada peningkatan pendapatan penenun. Inovasi yang dikembangkan juga diarahkan untuk menjawab persoalan ketersediaan air bersih, yang masih menjadi tantangan bagi warga Sukarara, terutama ketika ancaman kekeringan melanda sebagian wilayah Nusa Tenggara Barat. Kebutuhan air yang aman dan mudah diakses menjadi bagian penting dari penguatan kualitas hidup masyarakat, sehingga pemberdayaan ekonomi berjalan beriringan dengan penyelesaian persoalan lingkungan.
Dalam program tersebut, alat tenun bukan mesin dimodifikasi agar gerakan mekanis yang dihasilkan selama proses menenun dapat dikonversi menjadi energi listrik. Energi ini kemudian dimanfaatkan untuk mengoperasikan pompa air dan sistem filtrasi. Dengan demikian, aktivitas produksi kain tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga mendukung penyediaan air yang lebih layak bagi masyarakat. Teknologi sederhana tersebut memperlihatkan bahwa peralatan tradisional dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan baru tanpa menghilangkan fungsi serta nilai budaya yang melekat pada kegiatan menenun.
Dukungan energi turut diperkuat melalui pemanfaatan pembangkit listrik tenaga bayu dan pembangkit listrik tenaga surya dalam program tanggung jawab sosial dan lingkungan Pertamina Patra Niaga. Kombinasi sumber energi tersebut membantu menjaga operasional pompa dan sistem penyaringan secara lebih berkelanjutan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada sumber energi berbasis fosil. Pendekatan ini juga relevan bagi wilayah yang memiliki potensi angin dan sinar matahari cukup besar.
Dian menyampaikan bahwa inovasi sosial perlu menjawab kebutuhan nyata masyarakat, bukan sekadar menghadirkan teknologi baru. Ia berharap Mina Tenun memberikan manfaat berkelanjutan dari sisi ekonomi dan lingkungan. Program ini menegaskan bahwa pelestarian budaya, penguatan kelompok rentan, dan pemanfaatan energi ramah lingkungan dapat dibangun melalui sinergi yang saling mendukung untuk menciptakan kemandirian warga Sukarara.

