Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak melemah pada perdagangan sesi I pagi di Jakarta. Pada menit kedua setelah pembukaan, indeks tercatat berada di level 5.191,55, turun 74,58 poin atau 1,42%. Pelemahan tersebut menunjukkan tekanan jual yang muncul sangat cepat pada awal perdagangan, setelah pasar saham domestik memulai sesi dengan pergerakan yang sempat menguat. Perubahan indeks dalam waktu singkat ini menjadi gambaran awal dinamika transaksi, ketika pelaku pasar merespons kondisi perdagangan dengan aksi jual. Namun, angka yang tercatat pada menit kedua hanya menggambarkan posisi indeks pada saat itu, bukan hasil akhir perdagangan sesi pertama ataupun penutupan pasar.
Sebelum tekanan tersebut terjadi, IHSG dibuka pada level 5.249,07. Pada awal sesi, indeks sempat bergerak naik dan mencapai 5.255,67, mencatatkan titik tertinggi sementara setelah pembukaan. Penguatan singkat itu kemudian berbalik arah, seiring indeks bergerak turun dan menyentuh titik terendah 5.190,31. Rentang pergerakan tersebut memperlihatkan perubahan arah yang cukup cepat pada perdagangan pagi. Dari titik tertingginya, IHSG kehilangan sebagian kenaikan awal, lalu berada di sekitar level terendah intrasesi. Dengan demikian, pembukaan yang sempat positif tidak bertahan lama, karena tekanan jual membawa indeks kembali turun ke bawah level pembukaan.
Aktivitas transaksi yang tercatat saat itu mencapai volume 18,41 juta lot, dengan nilai transaksi sebesar Rp779,84 miliar. Data tersebut melengkapi gambaran kondisi pasar pada awal sesi, ketika indeks melemah di tengah berlangsungnya perdagangan saham. Pergerakan IHSG menjadi perhatian karena perubahan indeks mencerminkan perkembangan harga saham secara keseluruhan, sementara volume dan nilai transaksi menunjukkan aktivitas yang berlangsung di bursa. Meski demikian, angka volume dan nilai tersebut merupakan catatan pada waktu pengamatan, sehingga masih dapat berubah ketika transaksi berlanjut. Pada tahap awal ini, fokus utama berada pada penurunan indeks dari posisi pembukaan dan pergerakan tajam titik tertinggi serta terendah sementara. Perdagangan sesi I masih berlangsung, sehingga kondisi pasar dapat berkembang mengikuti transaksi berikutnya.
Pada awal perdagangan, tekanan terhadap IHSG terlihat terutama dari pelemahan sejumlah sektor. Infrastruktur mencatat penurunan sebesar 2,4%, menjadikannya sektor dengan koreksi terdalam di kelompok yang disebutkan. Sektor teknologi juga bergerak melemah, dengan penurunan 1,3%, sementara sektor energi turun 0,7%. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa ketiga sektor sama-sama berada di zona negatif pada awal sesi, dengan infrastruktur mengalami penurunan paling besar. Angka-angka ini menggambarkan kondisi pada saat perdagangan baru berlangsung dan menjadi bagian dari tekanan yang membayangi indeks.
Sejumlah saham tercatat sebagai pemberat IHSG dalam perdagangan awal tersebut, yakni BBRI, BMRI, TLKM, BREN, dan MORA. Daftar ini mencakup saham-saham yang berkontribusi pada tekanan indeks, tetapi informasi yang tersedia tidak merinci besaran kontribusi masing-masing. Karena itu, pelemahan IHSG dapat dicermati bersama pergerakan saham-saham tersebut tanpa menyimpulkan faktor khusus yang menyebabkan setiap saham bergerak turun. BBRI dan BMRI tercatat bersama TLKM, BREN, serta MORA sebagai nama-nama yang menekan indeks pada awal sesi, menurut data perdagangan yang dirangkum.
Selain saham-saham tersebut, kelompok lain yang turut menekan indeks terdiri atas BBCA, AMMN, TPIA, MDKA, dan PGAS. Kehadiran saham-saham ini menambah daftar emiten yang bergerak sebagai pemberat IHSG pada awal perdagangan. Dengan demikian, tekanan indeks pada periode tersebut tidak hanya dikaitkan dengan sektor infrastruktur, teknologi, dan energi, tetapi juga tercermin melalui pergerakan sejumlah saham individual. Informasi yang tersedia sebatas mencatat nama-nama pemberat serta perubahan sektor, tanpa memberikan rincian penyebab pelemahan tiap emiten. Perkembangan selanjutnya dapat mengubah susunan saham dan sektor yang berkontribusi terhadap arah indeks sepanjang sesi, sehingga gambaran awal ini perlu dipahami sesuai waktunya.
Selain perkembangan domestik, pelaku pasar mencermati keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) sebagai salah satu sentimen global utama. Pengumuman kebijakan tersebut dijadwalkan pada Rabu waktu Amerika Serikat, atau Kamis (29/10) pukul 01.00 WIB. Setelah itu, Ketua The Fed Kevin Warsh akan menggelar konferensi pers pada pukul 01.30 WIB. Rangkaian agenda ini menjadi perhatian karena arah kebijakan moneter AS dapat memengaruhi pergerakan dolar, imbal hasil, dan minat investor terhadap aset di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Konsensus pasar memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,75%–4,00%. Perkiraan tersebut muncul setelah bank sentral menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September. Namun, keputusan suku bunga bukan satu-satunya hal yang diamati investor. Pernyataan Warsh mengenai perkembangan inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja akan dicermati untuk menilai apakah tekanan harga terus mereda atau masih membutuhkan respons kebijakan. Pelaku pasar juga mencari petunjuk tentang kemungkinan pengetatan lanjutan, meskipun keputusan berikutnya akan bergantung pada data dan evaluasi ekonomi yang tersedia.
Jika nada komunikasi The Fed lebih hawkish, atau mengisyaratkan suku bunga tinggi bertahan lebih lama maupun peluang kenaikan berikutnya, dolar AS berpotensi menguat. Perubahan ekspektasi tersebut dapat menekan aset berisiko, termasuk saham, ketika investor memilih instrumen yang dinilai lebih aman. Sebaliknya, apabila bank sentral menilai tekanan inflasi mereda dan tidak menekankan kebutuhan pengetatan tambahan, pasar dapat merespons lebih positif terhadap aset berisiko. Respons tetap bergantung pada rincian pernyataan dan konferensi pers, sehingga pelaku pasar kemungkinan berhati-hati sebelum mengambil posisi.
Bagi Indonesia, arah kebijakan AS relevan melalui pengaruhnya terhadap rupiah, arus modal asing, dan daya tarik Surat Berharga Negara (SBN). Sikap hawkish berpotensi memperkuat dolar serta mengubah pertimbangan investor asing dalam menempatkan dana di pasar domestik. Kondisi itu dapat menambah tekanan pada rupiah atau memengaruhi minat terhadap saham dan obligasi. Sebaliknya, sinyal bahwa tekanan inflasi mereda dapat membantu menjaga selera risiko dan mendukung aliran modal ke pasar berkembang. Karena itu, keputusan The Fed menjadi faktor eksternal yang patut dipantau bersama sentimen lokal saat IHSG bergerak pada awal sesi.
Lelang Surat Utang Negara (SUN) pada Selasa (27/10/2026) menunjukkan melemahnya minat investor terhadap surat utang pemerintah. Penawaran yang masuk tercatat Rp31,09 triliun, turun 52,1% dibandingkan lelang sebelumnya. Nilai tersebut menjadi yang terendah sejak November 2024, menandakan permintaan yang semakin terbatas di tengah tekanan pasar.
Tekanan juga terlihat pada imbal hasil. Yield rata-rata tertimbang SUN dengan tenor sekitar 10 tahun mencapai 7,54%, level tertinggi sejak November 2022. Angka itu naik 30 basis poin dalam dua pekan terakhir dan sekitar 147 basis poin dibandingkan posisi pada awal 2026. Pemerintah menyerap Rp20,65 triliun, lebih rendah daripada target indikatif sebesar Rp30 triliun.
Kombinasi penawaran yang merosot dan yield yang meningkat mengindikasikan tekanan pembiayaan pemerintah. Jika imbal hasil tetap tinggi, biaya penerbitan utang baru berpotensi ikut naik. Situasi ini turut memperkuat kekhawatiran pelaku pasar terhadap arus dana keluar atau outflow, sekaligus menambah tekanan pada saham dan rupiah. Bagi pasar domestik, sentimen tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat membatasi ruang penguatan IHSG, terutama ketika investor mencermati risiko pembiayaan dan pergerakan nilai tukar.
Dari luar negeri, data industri China memberikan gambaran yang lebih beragam.
