IHSG Tertekan 1,31% pada Awal Perdagangan, Pasar Mencermati Sejumlah Sentimen Global

oleh -83 Dilihat
oleh
IHSG Tertekan 1,31% pada Awal Perdagangan, Pasar Mencermati Sejumlah Sentimen Global

Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak melemah tajam pada awal perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026. Berdasarkan data perdagangan hingga pukul 09.24 WIB, IHSG berada di level 5.858,52. Posisi tersebut turun 77,62 poin atau setara dengan 1,31% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level 5.936,15.

Tekanan terhadap indeks terlihat semakin dalam dibandingkan kondisi beberapa menit setelah pembukaan. Pada pukul 09.23 WIB, IHSG masih tercatat berada di level 5.871,03 atau melemah 1,10%. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual terus meningkat pada sesi awal, sehingga indeks bergerak lebih jauh dari level penutupan hari sebelumnya.

Sebelumnya, IHSG dibuka di level 5.914,98, turun 21,17 poin atau 0,36% dari posisi penutupan sebelumnya. Dengan demikian, pelemahan indeks bertambah secara bertahap sejak awal perdagangan hingga pembaruan data pada pukul 09.24 WIB. Perubahan ini menjadi perhatian pelaku pasar karena mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap saham-saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Pergerakan IHSG pada awal sesi tersebut berlangsung ketika investor mencermati sejumlah sentimen global yang berpotensi memengaruhi arah pasar domestik. Kondisi pasar internasional, perubahan persepsi terhadap risiko, serta respons investor terhadap perkembangan ekonomi global dapat menjadi faktor yang membentuk aktivitas transaksi. Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar biasanya memantau perkembangan indeks secara berkala untuk menilai apakah tekanan jual berlanjut atau mulai mereda.

Level 5.858,52 menjadi posisi sementara IHSG pada awal perdagangan dan masih dapat berubah mengikuti dinamika transaksi sepanjang sesi. Investor juga akan mencermati kekuatan permintaan dan penawaran saham, termasuk arah aliran dana serta respons pasar terhadap berbagai sentimen yang berkembang. Pergerakan berikutnya akan menentukan apakah indeks mampu mengurangi pelemahan atau justru melanjutkan tekanan hingga perdagangan berjalan lebih lanjut.

Setelah pembukaan perdagangan, IHSG sempat bergerak menguat dan mencapai level tertinggi di 5.918,29. Namun, kenaikan tersebut tidak berlangsung lama karena tekanan jual mulai terlihat pada menit-menit awal. Sekitar pukul 09.00 WIB, indeks turun ke area 5.890, menunjukkan bahwa pelaku pasar segera merespons perubahan sentimen dengan melepas sebagian sahamnya.

Pergerakan indeks kemudian sempat membaik secara terbatas. Sekitar pukul 09.03 WIB, IHSG memantul ke kisaran 5.913, meskipun penguatan itu belum cukup untuk mengembalikan posisi ke level tertinggi sebelumnya. Tidak lama berselang, tekanan jual kembali meningkat. Menjelang pukul 09.10 WIB, indeks berada di sekitar 5.873, mencerminkan berlanjutnya volatilitas pada awal sesi perdagangan.

Pelemahan berlanjut hingga sekitar pukul 09.12 WIB, ketika IHSG menyentuh titik terendah harian di 5.848,50. Posisi tersebut berjarak sekitar 70 poin dari level tertinggi yang dicapai setelah pembukaan. Sesudah menyentuh titik tersebut, indeks bergerak terbatas dalam rentang 5.870-5.880. Akan tetapi, pemulihan itu belum mampu bertahan karena indeks kembali tertekan ke area 5.850 menjelang pukul 09.24 WIB. Setelahnya, IHSG hanya naik tipis ke sekitar 5.859, menandakan bahwa pasar masih bergerak hati-hati dan belum menemukan arah penguatan yang solid.

Aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia meningkat cukup cepat pada awal sesi. Hingga pukul 09.24 WIB, volume transaksi tercatat mencapai 114,94 juta lot dengan nilai transaksi sebesar Rp2,36 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa jumlah saham yang berpindah tangan serta nilai dana yang terlibat telah bertambah signifikan dibandingkan catatan pada awal perdagangan.

Sebagai perbandingan, pada pukul 09.00 WIB volume transaksi masih berada di level 12,78 juta lot, sedangkan nilai transaksinya baru mencapai Rp264,6 miliar. Dalam kurun waktu sekitar 24 menit, volume perdagangan bertambah lebih dari 100 juta lot dan nilai transaksi meningkat sekitar Rp2 triliun. Perubahan ini menggambarkan pergerakan aktivitas pasar yang berlangsung dinamis sejak pembukaan sesi.

Peningkatan aktivitas tersebut berlangsung ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam tekanan. Dengan demikian, data perdagangan hingga pukul 09.24 WIB memperlihatkan bahwa tekanan pada indeks disertai dengan intensitas transaksi yang lebih tinggi dibandingkan kondisi pada pukul 09.00 WIB. Perkembangan volume dan nilai transaksi menjadi indikator penting untuk memantau respons pelaku pasar terhadap pergerakan harga saham pada awal sesi, meskipun angka-angka tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan faktor yang mendasari perubahan aktivitas. Investor dan pelaku pasar masih mencermati perkembangan IHSG serta sentimen yang memengaruhi perdagangan pada sesi berikutnya.

Tekanan terhadap IHSG pada awal perdagangan berlangsung ketika investor mencermati sejumlah perkembangan eksternal yang turut membebani sentimen pasar. Salah satu perhatian utama datang dari eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah. Kelompok Houthi dari Yaman melancarkan serangan rudal dan drone ke Arab Saudi pada Senin, 12 Oktober 2026. Sebelumnya, serangan rudal pada Sabtu menyebabkan 13 orang meninggal dunia dan lebih dari 300 orang terluka, sehingga Bandara Internasional Riyadh ditutup. Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi global, terutama karena Houthi menargetkan fasilitas minyak dan infrastruktur penting Arab Saudi.

Risiko itu semakin menjadi perhatian karena Selat Bab el-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran strategis dalam perdagangan minyak global. Di tengah ketegangan tersebut, Iran menawarkan diri sebagai mediator Houthi dan Arab Saudi. Uni Emirat Arab juga menyerukan penguatan kerja sama keamanan di negara-negara Teluk. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa Washington mempertimbangkan untuk bergabung dengan Arab Saudi dalam menyerang Houthi, meskipun hingga kini belum terdapat tanda-tanda operasi militer Amerika Serikat.

Ketegangan geopolitik tersebut ikut mendorong kenaikan harga minyak dunia pada perdagangan Senin. Harga minyak Brent meningkat US$1,93 atau 1,8% menjadi US$106,65 per barel, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) naik US$1,89 atau 2% menjadi US$93,74 per barel. Selain faktor energi dan geopolitik, Analis Phintraco Sekuritas Desy Erawati menyebut isu Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih membayangi IHSG. Pasar mencermati risiko penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market, serta prospek pencabutan pembekuan sejumlah perubahan indeks MSCI yang diproyeksikan berlangsung pada semester II-2027.

Baca juga: IHSG Mengalami Penurunan Signifikan pada Perdagangan Hari Ini | Gema Dentuman dari Anak Krakatau Jangkau Sejumlah Wilayah | Inisiatif Bank Syariah Nasional untuk Mendorong Ekosistem Perdagangan di Bandung